Jati Anom Obong 41-42

Sepasang mata Empu Wisanata mencoba menembus kepekatan malam untuk mencari keberadaan para pengawal Menoreh. Lontar napas lega lancar berhamburan dari rongga dadanya sewaktu ia menangkap pergerakan lemah,s etelah memperhatikan keadaan Ki Malawi yangsepertinya tidak tertarik lagi meneruskan perkelahian, Empu Wisanata menghampiri para pengawal.

“Empu!” lemah seorang pengawal berkata. “Apakah memang siluman hutan ini terlibat dalam perkelahian itu?” Ia menunjuk Sayoga dan Ki Sarjuma.

Senyum menghias raut muka Empu Wisanata, seraya menggeleng, katanya, “Bahkan tidak ada siluman yang mendekati anak muda itu.”

Pengawal Tanah Perdikan beringsut mencoba membenahi letak tubuh masing-masing. Perawatan singkat diberikan oleh Empu Wisanata. Betapa ia menjadi terkejut karena luka-luka kecil dan memar telah memenuhi tubuh para pengawal. Dengan mata terpicing, ia berkata lirih, “Jarak mereka sebenarnya cukup jauh, tetapi lontaran tenaga dan serpihan tajam ini masih sanggup menyentuh kulit para pengawal. Tentu ini dapat terjadi ketika kekuatan yang tersimpan telah memegang kendali  para petarung.”

Nyatanya Sayoga memang berkelahi seperti tidak ada lagi napas dalam sekejap mata di depan. Tekadnya telah bulat tetapi keajaiban yang terjadi memang di luar perkiraan setiap orang.

Ki Sarjuma sadar jika ia berada dalam keadaan genting. JIka ia mendekat, tubuhnya dapat berpusing terhisap kibas pedang lawannya. Namun jika ia menjauh selangkah, senjata Sayoga dan lambaran tenaga Serat Waja akan datang menghantamnya. Lebih keras dari debur ombak yang menabrak tebing karang.

Maka Ki Sarjuma kembali menerapkan tata gerak yang tidak beraturan. Ia seperti orang yang kehilangan akal. Ia menjauh, melambai, mendekat dan sekali-kali memancing Sayoga dengan gerakan-gerakan yang menghina. Namun di balik gerakan yang aneh dan jauh dari susila, ia menyiapkan pukulan jarak jauh yang sanggup membelah tubuh Sayoga jika lawannya yang muda usia itu memasuki jangkauan serangnya!

Ia dapat mengukur kekuatan yang dilepaskan oleh Sayoga. Setiap desing pedang kayunya dapat mendorong Ki Sarjuma hingga terhuyung. Tenaga hisap dan daya dorong terus mengitari Sayoga, pusaran angin ini mengganggu rencana Ki Sarjuma yang telah menghimpun tenaga pada pergelangan tangan hingga ujung jarinya.  MEskipun tidak mencakup waktu yang lama, tetapi Ki Sarjuma telah bergeser letak hatinya. Ia diliputi keresahan. Gulungan pedang kayu Sayoga seperti tidak mempunyai celah untuk ditembus. Bahkan dengan cara cemerlang, Sayoga mampu menjaga jarak dengannya.

Permainan pedang Sayoga yang membawa akibat munculnya dua kekuatan yang bertolak belakang akhirnya memaksa musuhnya menjauh.

‘Apakah siluman hutan ini tidak ada yang tergerak hatinya untuk membantuku?’ hati Ki Sarjuma konyol berdesis menghibur perasaannya sendiri. Ia tersenyum sendiri lalu melirik Ki Malawai yang berjalan pelan mendekat padanya. Sejenak mereka beradu pandang dalam sekejap. ‘Apa yang tengah ia pikirkan? Ia berhenti dari perang tanding melawan orang tua itu. Bagaimana bisa terjadi?’.

Sekalipun ia berkelahi dengan tandang yang sangat hebat, pengalaman dan wawasan Sayoga masih belum cukup untuk dikatakan matang. Ia tidak mengurangi gempurannya yang datang bertubi-tubi. Sayoga mengabaikan ajaran dasar ayahnya untuk tetap menjaga keseimbangan. Sayoga berada di puncak kemampuannya dan telah melupakan segalanya. Dalam pikirannya hanya terpancang sebuah kata, berakhir. Ia memang ingin mengakhiri pertarungan ini dengan satu keadaan yang akan membuat tamat seluruhnya. Ia tidak mengerti alasan dua orang musuhnya yang tiba-tiba mengeroyoknya tanpa dalih yang jelas, dan itu menambah geram hatinya. Kedatangan Empu Wisanata dan pengawal Menoreh pun tidak membuat keadaan menjadi lebih baik menurutnya.

Menurut Sayoga, perbuatan dua orang itu seperti sebuah penghakiman tanpa perbuatan, kesimpulan tanpa pendengaran.

‘Aku tidak perlu lagi menganggap mereka ada karena aku pun telah tiada!’

Tetapi Sayoga lupa dan memang ia telah melupakan banyak perihal. Serat Waja belum secara sempurna dikuasainya!

Pusaran angin yang menghempas ke segala penjuru menjadi tanda kekuatan Sayoga sebenarnya. Daya hisap dan udara yang kuat mendorong saling menutup celah. Keduanya seperti dua sisi tajam sebilah pedang, Sama-sama berbahaya. Tetapi Ki Sarjuma telah berada di puncak kemampuan. Ia dapat merasakan segala sesuatu yang terjadi di balik perkembangan Sayoga.Ki Sarjuma telah menetapkan jarak yang cukup aman baginya dari gempuran lawannya yang tangguh lagi berusia muda.

“Anak iblis! Ia sama sekali tidak mempunyai rasa takut. Bahkan terhadap kematian yang hanya seujung hidungnya, ia benar-benar tidak peduli,’ batin Ki Sarjuma mendesis. Di balik rasa kagumnya, orang kepercayaan Panembahan Tanpa Bayangan ini menyimpan kegembiraan. Tetapi ia mampu menahan diri, ia tahu kekalahan akan melibas apabila kedudukan hatinya bergeser setapak.

Sewaktu Ki Malawi berjalan ke arah Ki Sarjuma, Empu Wisanata tidak melepaskan pandang matanya. Ia tetap bersiaga atas kemungkinan yang dapat terjadi namun, meski demikian, lelaki yang berusia kurang lebih sepantaran dengan Ki Jayaraga tidak dapat menuang perhatian penuh. Keadaan pengawal Menoreh yang terluka di bagian dalam masih membutuhkan sentuhannya. 

Penguasaan ilmu yang belum sempurna menjadikan Sayoga kurang peka terhadap serangan yang mungkin akan datang melanda pertahanannya.  Ia menganggap udara dingin yang menyentuh kulitnya berasal  dari gerakan Ki Sarjuma. Pada mulanya hawa dingin itu tidak mempengaruhi Sayoga yang kokoh dalam bentengnya, dan ia masih berloncatan menyerang, menyambar Ki Sarjuma dengan kekuatan yang sama sekali belum berkurang. Tetapi semakin lama ia merasakan ada tekanan dari udara dingin yang bahkan mulai membentuk kepulan kabut.

‘Orang ini tidak terlihat sedang mengerahkan satu serangan diam-diam. Lalu darimana udara dingin ini memancar?’ Sayoga tidak dapat meneliti keadaan sekelilingnya meski hatinya diliputi rasa penasaran. Sedikit ia memalingkan mata, jemari musuhnya akan mudah memisahkan bagian tubuhnya.

Perubahan yang terjadi pada perkelahian Sayoga ternyata lepas dari pengamatan Empu Wisanata. Ia memang sesekali memperhatikan Ki Malawi tetapi jarak mereka cukup jauh. Satu bentangan yang tidak memungkinkan bagi Empu Wisanata untuk melihat gerak gerika kecil Ki Malawi. Ia melihat kumpulan kabut tipis terlihat melayang sejengkal di atas tanah. Dugaannya itu berasal dari gesekan hawa tenaga antara Sayoga dan Ki Sarjuma yang benar-benar beradu sangat dahsyat!

Sekejap ia melihat kubang tanah yang cukup besar. Dalam hatinya, ia masih sulit mengerti alasan Sayoga melepaskan tenaga cadangan yang sangat besar hanya untuk membendung serangan Ki Sarjuma. ‘Aku harap ia mengerti betul arah pukulannya,’ pikir Empu Wisanata.

Sebenarnya Sayoga memang sengaja melepaskan inti tenaga cadangan untuk menyambut angin tajam Ki Sarjuma.  Dari letak kedudukannya, Sayoga dapat merasakan kulitnya mengeluarkan darah karena hawa tenaga Ki Sarjuma yang berayun di antara udara malam. Hanya angin pukulan yang menyentuh Sayoga tetapi darah mulai menitik keluar. Oleh sebab itu, Sayoga segera mendorong lebar telapak tangannya sambil menghentak tanah yang dipijaknya, menyalurkan serangan melalui tanah dan udara secara bersamaan!

‘Mungkin ini satu-satunya cara mengatasi angin yang sangat mengerikan ini!’ pikir Sayoga sewaktu melepas serangan jarak jauh.

Dalam waktu itu, di tengah kesibukannya merawat para pengawal, Empu Wisanata berkata sambil bangkit berdiri, “Kalian dapat menjaga diri, aku kira begitu. Ramuan dan jalan darah kalian telah berangsur kembali menjadi wajar. Tetapi, aku minta kalian benar-benar menjauh dari tempat ini. Oh, tidak! Kalian laporkan kejadian ini pada Ki Gede. Katakan semuanya dengan singkat lalu kembalilah kemari.” Ia lekat memandang Ki Malawi dengan sikap berdiri yang kokoh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *