Bergegas bangkit seorang yang dituakan oleh para pengawal lalu diikuti oleh ketiga rekannya, sedikit tertatih mereka meninggalkan gelanggang pertarungan dahsyat di awal malam. Cahaya bulan tak cukup sampai untuk menyerang perjalanan mereka, sedikit bintang yang menempel di dasar langit tetapi mereka mengenal sangat baik tanah wilayah itu maka jalan pintas segera menjadi tujuan utama. Meski jalan mereka cukup lambat karena akibat getaran-getaran dahsyat belum sepenuhnya menyingkirkan, tubuh mereka segera lenyap di sebuah jalan setapak menurun. Mereka menyusuri anak sungai yang mempunyai jalur lintas di belakang pedukuhan induk. Para pengawal akan tiba di rumah Ki Gede Menoreh dalam waktu seukuran rebusan singkong.

Pada waktu itu, Empu Wisanata telah tajam mengamati peningkatan kabut yang masih setinggi mata kaki tetapi semakin pekat dan tebal. Kerapatan unsur-unsur pembentuk kabut atau asap putih itu mampu menghambat gerak lincah Sayoga. Kedua matanya menyipit.
“Tetapi aneh! Mengapa lawan Sayoga seolah tidak terpengaruh?” Empu Wisanata tidak ingin pikiran buruk datang menjebaknya, ia menepis jauh, “Ketinggian ilmunya akan membatasi gerak-geriknya. Mustahil lawan Sayoga berbuat curang,” Ia bertambah heran ketika musuh Sayoga tak kunjung meningkatkan serangan, sedangkan menurut pendapatnya Ki Sarjuma mendapat satu keuntungan besar. Lalu Empu Wisanata menoleh pada Ki Malawi dan ia mendapat jawaban.
Di tengah perkelahian Sayoga merasa kedua kakinya seolah lengket, ia kesulitan menggeser dua telapaknya. Walau berat ketika diangkat namun Sayoga mengabaikannya, ia berpikir panjang dan cukup baik, penyesuaian. Gerak kakinya mengikuti daya yang ia kerahkan saat menggeser, satu siasat yang dianggap orang lain sebagai awal perubahan. Keadaan akan dikuasai oleh musuh Sayoga, begitu pikir orang. Ki Sarjuma dan Ki Malawi beranggapan demikian, bahkan Empu Wisanata.
“Kepulan putih ini sangat dingin. Ia seperti ribuan temali yang berserakan di mana-mana. Tidak ada ruang kosong untuk menjejakkan kaki. Ini sungguh gila. Sangat gila!” Bola mata Sayoga masih mengikuti gerak Ki Sarjuma. Namun dari sudut di bawah kelopak ia tahu jika kepulan asap yang dingin dan sedang membelit kakinya adalah jalan utama menuju negeri orang mati. Kini ia mencoba mengarahkan tenaga hisap Serat Waja ke bagian bawah, lalu mengangkatnya sedikit, diarahkan pada Ki Sarjuma.
Percobaan pertama, berhasil! Kabut dapat didorongnya pada pinggang lawannya. Kabut itu begitu mudah disibak oleh Ki Sarjuma dengan sekali kibas lengannya. Dalam hatinya ia mengakui keuletan dan keberanian Sayoga untuk mencoba menggedor dengan ilmu yang bukan miliknya. Tetapi pada usaha yang kedua, Sayoga merasakan jika kepul asap putih itu seolah mempunyai bobot ratusan kati! Dengan segenap daya ia mencoba menghisap seperti usaha pertama namun gagal.
Ia kerahkan segenap tenaga untuk mendorongnya namun kabut itu seolah memiliki mata. Ia berbalik dan menyambar dada Sayoga seperti jilatan api yang berkobar.
Sayoga dapat mengelak dengan mencondongkan tubuh ke samping. Ketenangan tak lagi betah berlama-lama mendampinginya. Sayoga tanpa mengurangi tekanan ayunan pedang, perlahan-lahan mulai berayun dalam kebingungan. Ia mencoba menerka maksud Ki Sarjuma yang tak kunjung datang menyerangnya. Sayoga sadar sepenuhnya jika ia berada dalam kedudukan yang tidak lagi menguntungkan.
Wajah Ki Sarjuma membeku ditambah sorot mata yang dingin maka Sayoga seperti melihat mayat yang dibangkitkan. Tidak ada gurat perasaan yang tersirat dari bagian muka Ki Sarjuma, tiada seringai senyum bengis yang sebelumnya masih terlihat menghias bibirnya.

“Apakah dunia telah berhenti berputar?” bisik hati Sayoga.

Empu Wisanata dengan wawasan dan pengalamannya telah dapat menduga akhir dari pertarungan. Orang, yang mendapat kehormatan dari Ki Gede Menoreh untuk tinggal di Tanah Perdikan dengan anugerah sebidang tanah yang cukup luas, ini dihinggapi rasa bimbang. Sekejap ia merasa ragu dengan keputusannya.
“Ini pertarungan yang tidak adil!” katanya dalam hati. “Tetapi jika aku menyerang Ki Malawi, maka kepulan itu akan berubah menjadi gumpalan yang menghancurkan dada Sayoga. Bukan pekerjaan mudah jika menyesaikan masalah dengan tiba-tiba memasuki perkelahian. Walau pun mereka telah berlaku curang, namun aku tidak dapat membiarkan anak itu meregang nyawa!”
Ia berpikir keras. Sekejap kemudian, Ki Sarjuma menyadari keanehan terjadi pada dirinya. Ia terlilit oleh angin panas yang tidak datang perlahan dan meningkat secara pelan. Mendadak sekujur tubuhnya telah berada di dalam gelombang udara panas yang berputar mengelilinginya.
“Setan! Engkau curang, Pak Tua!” seru Ki Sarjuma dengan mengembangkan telapak kanan ke arah Empu Wisanata.

Tetapi sebelum benturan keras terjadi antara tenaga Ki Sarjuma dan Empu Wisanata, satu bayangan berkelebat memasuki gelanggang perkelahian dengan cahaya putih yang bergulung-gulung membungkus tubuhnya. Angin yang keluar dari putaran senjatanya mampu menyibak kabut putih yang berada di sekitar Sayoga. Untuk sesaat kepulan putih itu menjadi tirai yang menutup kedatangan lelaki bersenjata tombak pendek. Ketika asap mulai tipis, seorang lelaki dengan rambut sebahu tiba=tiba berdiri dengan punggung menghadap Sayoga. Pakaian sederhana yang ia kenakan tidak mengurangi kemegahan yang kuat memancar dari seluruh bagian dirinya. Sorot matanya menerangi lingkungan sekitar yang telah terbungkus gelap yang pekat.
“Ki Gede!” kata Empu Wisanata penuh hormat namun setitik pertanyaan terbit dalam benaknya. ‘Begitu cepat? Dalam waktu ini, belum seharusnya para pengawal tiba di rumah beliau.” Namun itu tidak lagi menjadi penting karena orang yang ia harapkan telah berada di tempat perkelahian.
Di tempat lain, Sayoga membungkukkan badan meski dari arah belakang pemimpin tertinggi Tanah Perdikan Menoreh itu. Kedatangan Ki Gede Menoreh menjadi kejutan besar bagi Ki Malawi dan Ki Sarjuma, walau begitu mereka tetap memperlihatkan sikap yang cukup tenang. Bahkan mereka berdua pun memberi salam hormat sebagaimana yang dilakukan oleh Sayoga.
“Selamat malam, Ki Gede,” getar bibir Ki Sarjuma menerobos udara malam. Tidak ada kesan gentar ataupun yang aneh di balik nada sapa lelaki yang telah membakar pasar pedukuhan induk. Sementara Ki Malawi dengan senyum yang aneh mencoba beradu pandang dengan Ki Argapati.
“Selamat datang , Ki Sanak berdua di Tanah Perdikan,” kata Ki Gede kemudian. Ia bergeser dua tiga langkah maju lebih dekat dengan dua orang yang menyapanya. “Sangat tidak elok jika saya menerima kedatangan tamu dengan cara yang tidak pantas seperti ini… Di tepi hutan dan pertemuan ini menjadi menarik karena diawali dengan sebuah latihan keras.” Ki Gede menyapukan pandangan ke seluruh arah.
“Tanah Perdikan selalu menyimpan kejutan, Ki Gede,” sahut Ki Malawi, “seorang anak muda berkemampuan tinggi kembali lahir dari tanah ini. Aku harap lelaki muda itu akan menjadi sebuah tanda yang diharapkan oleh banyak orang.” Seringai tajam menjadi penutup kata-kata Ki Malawi.

Namun Ki Gede mengabaikan Ki Malawi, begitu juga orang-orang yang lain. Mereka menimpakan perhatian pada Sayoga yang tengah berbincang dengan seseorang yang lebih tua darinya.
“Ayah,” Sayoga berkata dengan bibir bergetar. Ki Wijil telah berada di sampingnya dengan satu sentuhan lembut pada pundaknya.
“Aku melihat semuanya meski tidak mengikutimu dari awal perkelahian,” bisik Ki Wijil, “dan engkau benar-benar mengalami kemajuan yang tidak dapat aku bayangkan sebelumnya, Ngger. Marilah, aku periksa keadaanmu.” Mereka beringsut mundur, selangkah, lima, tujuh langkah dari tempat semula.
Lekat Sayoga menatap wajah ayahnya, kemudian ia bertanya, “Bagaimana Ayah datang ke sini? Bukankah seharusnya Ayah masih berada di pedukuhan?”
“Aku mengikuti perasaan, Ngger. Ketika aku melihat seekor rajawali terbang melintasi langit pedukuhan, aku tahu, sepertinya aku tahu jika harus pergi menuju ke Tanah Perdikan. Persiapan para pengawal telah dilaksanakan dengan baik oleh Ki Jagabaya, dan Ki Bekel mengizinkan aku meninggalkan pedukuhan. Bahkan Ki Bekel akan tiba di tempat ini barang empat atau lima hari lagi.”
“Hanya itu?”
“Hanya itu.”
“Melihat seekor burung besar terbang?”
Ki Wijil mengangguk, ia tersenyum kemudian katanya, “Jika sebuah tali telah terikat erat,walau dalam jarak yang sangat jauh, bentang samudera tidak akan dapat memutus sebuah hubungan. Ketika darahku mendidih dan dagingku terluka, aku tahu jika ada sesuatu yang sedang menimpa ibumu atau anakku. Aku dapat mengetahuinya karena engkau adalah darah dagingku.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *