Jati Anom Obong 45-46

Sayoga tidak lagi dapat berkata-kata, ia menunduk lalu tenggelam dalam kubang indah yang bernama kasih sayang. Ujung matanya menjadi basah namun ia tidak malu untuk membiarkannya mengalir. “Mengalirlah jika kau mau.”
Sadar jika mereka berdua tengah menjadi perhatian orang-orang, Ki Wijil mengangkat kepalanya lalu, ”Jika Ki Gede memberi saya izin untuk sebuah pekerjaan, biarkan saya dan Empu Wisanata yang membersihkan rumah.”
“Tidak!” sahut seorang perempuan yang kemudian berjalan keluar dari kegelapan. “Empu Wisanata, silahkan meluruskan tulang punggung. Biarkan aku yang menggantikan Empu untuk menegenyahkan mereka.”
“Mbokayu Pandan Wangi,” desis kagum Sayoga pada perempuan cantik yang berdiri di dekat tempatnya duduk.
Pandan Wangi berpaling padanya lalu mengangguk. Katanya, “Engkau benar-benar luar biasa! Sesaat lagi keadaanmu akan membaik. Para pengawal akan menemanimu ke pedukuhan induk.” Ternyata Pandan Wangi tidak datang seorang diri, ia membawa serta Sukra dan dua pengawal yang lebih tua usianya dari Sukra.
Ki Sarjuma tertawa keras kemudian sambil terbahak, ia berkata, “Kau katakan bersih-bersih rumah? Apakah kalian mengira tengah berburu dua ekor tikus sawah yang menyusup masuk rumah kalian?” Ia melompat maju, Ki Malawi berdiri di belakangnya dengan sikap waspada.
Ki Sarjuma meneruskan, “Baiklah, kami dapat menerima kata-kata itu. Tetapi perlu kalian mengerti jika dalam waktu yang mungkin dua langkah dari terbit matahari, tanah perdikan akan rata dengan tanah.”
KI Gede melangkah lebih dekat lagi, ia berkata, “Kami telah mendengar pergerakan pengikut Panembahan Tanpa Bayangan. Kami sedang bersiap memberi sambutan hangat pada pemimpin kalian.”
Meledak tawa Ki Malawi mendengar ucapan Ki Gede Menoreh. “Mana mungkin? Bagaimana kalian akan menemui pemimpin kami dengan sebuah nyala api setinggi pohon kelapa? Ki Gede, aku tahu bencana yang melanda pedukuhan induk. Aku harus jujur mengatakan, kami berdua adalah orang yang membakar pasar-pasar kalian.”
Dengan dada terangkat, Ki Malawi melanjutkan, ”Dan kalian semua, orang Menoreh, telah berkumpul di tempat ini. Kemarilah, kami akan mengulurkan tangan dengan senang hati.”
KI Gede mengangkat sebelah tangannya, nada wibawa menebar dari kalimat yang ia ucapkan, “Kami tidak sedang menangkapmu. Bahkan sebaliknya, kami akan membiarkan kalian pergi. Menangkap kalian di tempat ini bukan cermin jiwa yang menjadi semangat kami. Pergilah dan katakan pada Raden Atmandaru jika seluruh rakyat Tanah Perdikan Menoreh telah bersiap menyambutnya.”
“Sombong sekali!” desis geram Ki Sarjuma. “Api akan kembali melanda tanah ini, Ki Gede!” Ia harus katakan itu keras-keras meski ia bertanya dalam hati. KI Sarjuma merasa harus memiliki lebih banyak mata. Ia melirik pada Ki Malawi yang ternyata juga menyimpan pertanyaan di balik bola matanya.

“Kau berhak berkata apa saja tentangku dan tanah ini. Kami tidak melarangnya karena kami tahu dalam sepekan atau dua pekan lagi tanah ini akan kembali terbakar seperti yang sudah-sudah di masa lalu.
“Kami adalah orang yang tidak melampaui angan-angan, Ki Sanak. Banjir dan kebakaran selalu menjadi jalan bagi kami untuk berbuat lebih baik dan lebih maju. Peperangan telah kami lalui, berulang kali, ratusan kali dan kami terlalu sering kehilangan anggota keluarga, harta benda, sawah-sawah yang rusak dan sebagainya.
“Tetapi saya tegaskan lagi, kami adalah orang yang berpikir sederhana. Kami berdiri dan berjalan dengan mata melihat sekeliling agar kami mudah mengerti. Membangun kembali tanah kelahiran kami dengan pengalaman pahit yang kini telah menjadi harta yang tidak ternilai bagi kami.” Ki Gede diam sejenak. Dengan penuh tekanan ia berkata, “Kami berperang dalam kesederhanaan.”
Sambil mengibaskan tangan, Ki Sarjuma berkata dengan nada seperti orang kehilangan jati diri, “Baiklah, baiklah, terserah yang kalian inginkan. Kalian ingin berperang? Kami akan berikan kesempatan itu. Kalian ingin kematian? Kami akan tunjukkan cara sederhana yang dapat kalian mengerti. Sekumpulan burung gagak tengah terbang berputar-putar di atas tanah kalian dan… satu kebahagiaan adalah menyaksikan mereka mencabik daging orang yang kalian sayangi!”
Dengan sekali lompat Ki Sarjuma telah menghilang, begitu pun dengan kawannya. Suasana menjadi hening sebelum Ki Gede berkata, “Kita kembali ke pedukuhan induk. Lupakan keresahan dan tinggalkan saja rasa itu di tempat ini. Saya akan mengatakan semuanya jika saatnya tiba.”

******
Sewaktu Sayoga berkubang dalam gelombang perkelahian melawan Ki Sarjuma dan Ki Malawi, Agung Sedayu tengah menghadapi pilihan sulit. Riuh perbincangan orang-orang yang memusuhinya jelas terdengar olehnya.
“Seperti yang kita lihat, anak demang Sangkal Putung itu sudah tidak lagi mempunyai daya untuk menepis seekor kecoak. Dan kita juga mengerti jika Swandaru mempunyai harga mahal di mata orang-orang Mataram,” ucap Ki Mandira.
Namun Ki Prayoga menebar ancaman, “Menculik Swandaru bukan tujuan kita di Jati Anom. Kalian bisa saja membawanya pergi dari tempat ini tetapi aku tidak dapat membiarkan kalian.”
“Jangan menjadi picik, Ki Prayoga!” tukas Ki Mandira, “pengetahuan Swandaru tentang isi kekuatan Tanah Perdikan dan Mataram adalah kebutuhan utama kita semua. Bahkan, Anda dapat menyerapnya dengan baik jika mampu membuatnya bicara.”
KI Prayoga merenungi kalimat kawannya. Ia dapat menerima pertimbangan Ki Mandira tetapi harga dirinya sebagai orang yang mempunyai kepandaian di atas rata-rata menolak gagasan konyol. “Mengorek keterangan dari Swandaru tidak perlu menunggu di sebuah tempat. Kita bisa lakukan di tempat ini selagi saudra iparnya terikat perang tanding dengan Ki Suladra,” katanya, “kita dapat berpikir bahwa penculikan itu baik dan mungkin merasa bangga dengan itu, tetapi, itu berlawanan dengan keinginan Panembahan.”
“Kita sudahi perdebatan ini!” ucap Ki Mandira yang diikuti yang lain dengan kata ‘setuju’. Ia berpaling pada kawan-kawannya, kemudian berjalan lebih dekat pada Ki Prayoga, lalu pelan ia berkata, “Ki Prayoga, kita tidak berada di dalam sebuah sumur. Kita tidak berada di dasar sebuah kolam keruh tetapi kita berada di puncak sebuah bukit. Kita dapat memandang lebih jauh dengan memaksanya bicara. Bukan saja tentang taksiran kekuatan yang ada di Jati Anom dan Tanah Perdikan, tetapi kemampuannya.
“Bagimu mungkin ini terdengar palsu namun kita menaruh harapan besar bahwa Kanjeng Panembahan benar-benar akan mewujudkan mimpinya. Merebut Mataram. Dan persiapan kecil akan kita lakukan dengan menyeret pria gemuk ini ke suatu tempat.”
Ki Prayoga melihat kebenaran di balik kata-kata Ki Mandira tentang masa depan dan ketidakmampuan mereka dalam mengelola satu wilayah yang luas. Sesaat ia merasa kasihan pada dirinya sendiri yang tidak berbekal pengetahuan tentang tata kelola sebuah wilayah. Lalu ia menyetujui siasat itu, namun hatinya berkata, ‘Aku adalah orang rendahan di hadapan Kanjeng Panembahan, maka seusai pekan yang ditentukan itu lewat, Swandaru adalah budak terbaik yang pernah aku miliki. Aku juga dapat menempatkan istrinya di sisiku. Kabar yang aku dengar secara pasti mengatakan bahwa Pandan wangi adalah perempuan yang cantik. Oh ya, tentu saja menyerap wawasan Swandaru dengan menjaminkan istrinya sebagai pendampingku adalah rencana cemerlang.’
Sebagai lelaki yang berumur cukup dan mempunyai ilmu sangat tinggi sudah tentu mudah bagi Ki Prayoga mengendalikan diri. Tetapi kali ini ia membiarkan hasratnya menguasai akal sehat. Pikirannya sibuk dengan bayangan molek sekujur Pandan Wangi telah memenuhi ruang hatinya meski ia belum pernah bertemu dengannya.
Lamunannya terganggu sewaktu telinganya mendengar umpatan kawan-kawannya. Ki Prayoga berpaling pada sumber suara dan ia melihat Swandaru tengah mengalami derita yang hebat. Tubuh Swandaru tak luput dari tendangan, kaki yang menginjak dan pukulan-pukulan mengenai wajahnya. Ki Prayoga berseru, “Bagaimana kalian dapat menyesap pengetahuannya jika ia mati sekarang?”
“Aku telah mendengar perbuatannya pada Wigati,” sahut seseorang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *