Jati Anom Obong 47-48

“Siapakah dia?” tanya Ki Prayoga.
“Keluargaku, maka aku kira cukup adil rasanya dengan tendangan seperti ini,” tukas orang itu sambil menendang dada Swandaru cukup keras. Swandaru meringkuk. Lututnya semakin rapat dengan bagian perut. Ia tidak dapat melihat wajah para penyiksanya dan tidak lagi mendengar suara Agung Sedayu. Segala sesuatu menjadi gelap baginya. Swandaru pingsan.

Dentam jantung Agung Sedayu hampir tidak terdengar karena tertimbun gemuruh aliran darah yang memenuhi rongga dadanya. Pilu dirasakan olehnya saat melihat tubuh Swandaru menjadi sasaran keganasan orang-orang yang melampiaskan kekesalan atau sakit hati padanya. Namun Agung Sedayu tidak dapat berbuat banyak untuk membubarkan kerumunan seterunya. Jelas didengar olehnya, serasa begitu, hatinya berkata, “Kemenangan bukanlah waktu ketika seseorang keluar dengan kepala tegak dari gelanggang. Kekuatan yang tercermin dari penguasaan olah kanuragan tidak dapat mengalahkan segalanya. Ini adalah ujian sebenarnya ketika engkau bertarung hidup mati pada saat saudaramu akan berkalang tanah!”
Tiba-tiba Agung Sedayu terseret arus bimbang dan tenggelam dalam keraguan. Watak dasar Agung Sedayu seketika meluap dan membanjiri setiap pembuluh darahnya. Keadaan pelik yang dihadapinya membuat murid Kiai Gringsing ini menjadi gamang dalam setiap gerakan. Dalam kurun waktu panjang, Agung Sedayu telah keluar dari bayangan gurunya tetapi pada waktu itu, di tepi Kali Progo, Agung Sedayu terhempas kembali memasuki alam yang samar. Keraguan.
Ketajaman nalar Agung Sedayu telah diakui banyak orang dan menjadi kelebihan tersendiri baginya, tetapi untuk keluar dari keadaan sulit ini, ia harus mampu mengubah segalanya menjadi jernih.
“Aku tidak dapat bertahan lama dengan keadaan seperti ini,” pikir Agung Sedayu, “tetapi mungkinkah aku dapat mengeluarkan puncak ilmu cambuk dan pandangan mata dalam waktu bersamaan? Menyelamatkan Swandaru dan diriku sendiri bukanlah perkara mudah! Tetapi aku tidak dapat berkubang terlalu lama di tempat ini dengan keraguan!”
Agung Sedayu telah memutuskan!

Udara panas kembali menyelubungi tubuhnya ketika ia mengetrapkan ilmu kebal. Dengan pesat ia mendorong seluruh kemampuan untuk melapisi tubuh dengan kekebalan yang setara dengan Tameng Waja atau Lembu Sekilan. Cambuk telah terjuntai dan pandang mata Agung Sedayu lekat menatap Ki Suladra.
Bulan telah mengambang meski sepotong kecil, mungkin seperempat bagian saja yang terlihat.
Ki Suladra berdiri di atas lutut yang setengah menekuk, tubuhnya condong ke samping, lalu diam membeku. Ia telah mendengar tentang kehebatan sorot mata Agung Sedayu, kali ini sebuah kesempatan menggelar kemungkinan menabrakkan ilmunya dengan kekuatan lawan. Tanpa keraguan Ki Suladra membalas pandang Agung Sedayu. Keduanya kokoh memijak bumi.
Ketegangan kian kuat menghasilkan letupan kecil di dalam darah, sementara orang-orang telah menghentikan siksaan pada Swandaru, lalu mengalihkan perhatian pada pertarungan dua kekuatan raksasa yang nyaris tanpa tanding.
Cambuk Agung Sedayu telah bergetar pada ujungnya meski masih menyentuh tanah. Ki Suladra tahu jika satu kekuatan sangat besar tengah mengalir pada setiap bagian cambuk dan akan bermuara di ujungnya. Sedangkan senjata Ki Suladra sengaja digeletakkan tanpa perhatian meski seutas rantai masih erat berada dalam genggam Ki Suladra.
Walau tidak ada atau belum ada gerakan dari dua orang yang tengah bersiap meledak tetapi udara begitu cepat bergerak. Mendadak muncul angin ribut yang sebenarnya berawal dari dua hawa tenaga yang saling mendorong, saling menolak serta saling melibas. Agung Sedayu mengerti jika lawannya sama sekali tidak gentar dengan kekuatan yang muncul dari sepasang matanya.
“Mungkinkah ia mempunyai ilmu sejenis?” Seberkas ingatan melayang pada Ki Gede Telengan yang terkejut dengan kemampuan Agung Sedayu. Hanya saja, pada waktu sekarang, Agung Sedayu berada pada kedudukan sebagai Ki Gede Telengan.
Dalam waktu itu selarik sinar yang menjadi andalan Agung Sedayu seolah menemui jalan buntu. Seberkas cahaya Agung Sedayu yang dapat meruntuhkan tebing cadas kini menjadi tanpa daya. Kekuatan sangat besar mampu menghalangi lesatan sinar Agung Sedayu. Sekalipun telah terbit setitik nyala di dua bola matanya, tetapi ia kesulitan mendorongnya keluar. Sebuah dinding baja yang tak kasat mata seolah menghalangi pancaran kuat ilmu Agung Sedayu untuk keluar dari bola matanya. Bahkan Agung Sedayu merasakan dadanya seperti diremas oleh jari-jari bertenaga raksasa!
“Jelas sudah ketinggian ilmu orang ini, bukan tidak mungkin ia berada selapis atau lebih di atasku. Maka dengan begitu, kematianku dan Swandaru segera tiba.” Agung Sedayu menarik napas panjang sambil mengatasi segumpal serangan yang memukul dadanya. Perlahan daya juang murid Kiai Gringsing ini menguncup menuju layu lalu mati. “Jangan bodoh, Agung Sedayu!. Tidak ada alasan untuk mati di tangan orang itu.” Ledak kekuatan hatinya dari tempat lain datang mengejutkan dirinya.
Hempasan rasa kejut memicu kembalinya semangat Agung Sedayu. Walau sebelumnya ia telah siap menerima segala akibat dari perang tanding, tetapi ia menemukan kembali kesadaran dalam dirinya bahwa ia belum mencoba puncak ilmu yang tertulis di dalam Kitab Kiai Gringsing. Senapati pasukan khusus Mataram ini mengalihkan kebuntuan yang dialaminya menjadi tenaga pendorong untuk mencari jalan lain. Di balik keraguan dan kecenderungan untuk kesiapan bertarung hingga akhir, Agung Sedayu lebih memilih untuk bertahan di penghujung waktu.
“Keberanian dalam perang tanding bukan berarti hidup tidak berguna lagi. Kematian adalah sebuah akibat ketika kekuatan ilmu telah menyentuh titik puncak. Dan di atas itu semua adalah keberanian untuk tetap menjaga kehidupan.” Suara hati Agung Sedayu menyeruak permukaan telaga kanuragan.
“Apa yang bisa aku katakan mengenai kekuatan Agung Sedayu? Aku telah menutup jalan keluar di matanya bahkan tenagaku dapat mengempiskan semangatnya lalu..? Aku adalah Ki Suladra dan aku tidak ingin mati di tempat ini. Jika ada yang harus mati, biarlah Agung Sedayu yang membujur kaku!” tekad Ki Suladra di tengah deru penasaran yang membuncah.

Bulan masih jauh dari tempat tenggelam. Sangat jauh ketika ilmu KI Suladra mulai meremas bagian dalam tubuh Agung Sedayu. Tiba-tiba ia merasa seperti menyentuh kehampaan. Segumpal tenaga inti yang melindungi bagian dalam tubuh lawannya mendadak hilang!
Ki Suladra tidak mengerti perubahan yang sedang terjadi. JIka semula ia merasakan seperti memeras lumpur basah, kini jemarinya hanya bersentuhan dengan udara kosong, namun ia tidak menyerah! Ki Suladra menghentak ilmunya lebih tinggi tetapi keadaan masih belum berubah. Seisi rongga dada Agung Sedayu berubah menjadi ruang kosong.
“Apakah memang ada ilmu yang dapat memindahkan jantung ke tempat lain?” Ki Suladra mengernyitkan kening tanpa melepas tatap matanya yang masih beradu pandang dengan Agung Sedayu. Ia tidak melihat perubahan pada raut wajah lawannya. Ia melipat tangannya di dada lalu mengembangkannya lagi sejajar di depan, diikuti kaki sebelah bergeser mundur. Bola mata Ki Suladara seolah membesar dan terlihat seperi akan menelan tubuh Agung Sedayu bulat-bulat. Gelegak hasrat Ki Suladra semakin membakar jiwanya, ia merasa sangat bergairah mendapati kenyataan bahwa lawannya benar-benar sangat sulit ditundukkan. Dalam waktu itu Ki Suladra berada di puncak rasa puas.
“Mengalahkan senapati Mataram ini adalah puncak bukit kenikmatan. Membunuh Agung Sedayu harus dapat dihindari karena aku dapat mengalahkannya tanpa harus membuatnya mati.” Semangat yang berkobar dan keinginan untuk hidup lama di atas kemenangan telah membakar seluruh urat Ki Suladra. Kekuatannya meningkat berlipat-lipat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *