Jati Anom Obong 49-50

Hanya sekejap, bahkan kurang dari sekejap!
Keadaan sekitar mereka menjadi porak-poranda oleh cambuk Agung Sedayu yang tiba-tiba menggelepar, membelah udara, berayun sendal pancing dengan ledakan yang tidak terdengar oleh telinga namun mempunyai kemampuan merusak!
Keduanya membenturkan serangan ketika dada mereka akan meledak. Mereka merasa telah tiba waktunya untuk mengeluarkan puncak ilmu masing-masing. Gelegar dentum hanya sebuah desah seperti bunyi dedaunan yang bergesek tetapi menebar kerusakan yang hebat. Dua pohon tumbang dengan pokok terbelah menjadi dua. Hempas tenaga sanggup mengobrak-abrik orang-orang yang berkumpul di sekitar tubuh lemas Swandaru. Tubuh mereka bergoyang-goyang, mereka merunduk, beberapa di antaranya bahkan harus meratakan tubuh dengan tanah. Salah seorang dari mereka, mungkin berkemampuan paling rendah, terpelanting!
Saat itulah Ki Suladra melayang tinggi, melampaui batas atas tenaga yang terhentak keluar dari lecut cambuk, ia menyerang dengan sunyi! Tidak ada pekik atau teriakan dari mulutnya, tidak ada seruan yang ditahan, tidak ada sesuatu selain senyap!
Agung Sedayu kembali menggetarkan cambuk ketika musuhnya meluncur deras ke arahnya. Tubuh Ki Suladra berputar seperti roda pedati ketika mengepak tangannya, sorot mata Ki Suladra tajam menghunjam Agung Sedayu. Senapati Mataram ini terdorong mundur setapak akibat kekuatan dahsyat yang memancar keluar dari pandangan mata lawannya. Sedangkan ia sendiri mengalami kebuntuan untuk menghentak ilmu yang terhimpun di balik kelopak matanya.
Diam-diam Agung Sedayu memuji ketinggian ilmu Ki Suladra yang memang sangat dahsyat. “Orang ini menyimpan gunung berapi di dalam bola matanya.”
Melalui cambuknya, Agung Sedayu mengerahkan segala kekuatan, seluruh bagian dirinya berderap menuju ujung senjatanya. Mencari jalan keluar untuk meledak pada saat yang tepat. Jarak mereka semakin dekat, Agung Sedayu membidik kepala musuhnya. Tangan Ki Suladra kokoh menghantam ujung senjata Agung Sedayu.
Gelegar ledakan terjadi lebih kuat, tenaga mereka berhamburan ke segala arah. Tercipta kubangan melingkar sedalam dua kali mata kaki, kubangan yang cukup luas untuk membaringkan dua tubuh lelaki dengan memanjang lurus, pada tanah yang di sekitar Agung Sedayu. Sejumlah tanaman yang berusia muda tercabut dari akarnya dan terseret pusaran tenaga cadangan dua orang berkepandaian tinggi ini. Sebatang pohon mengalami patah pada setengah bagian atasnya.
Satu sapuan mata akan mendapatkan kesan bahwa lingkungan itu telah porak poranda oleh angin topan yang sangat hebat.
Agung Sedayu terpental, bergulingan lalu terhenti belasan langkah dari tempatnya semula. Sedangkan tubuh Ki Suladra memantul, melayang dan menabrak batang pohon sebelum ia jatuh tertelungkup.
Agung Sedayu bergegas bangkit, duduk lalu mengamati sekitarnya. Dari kedudukannya sekarang ia mendapati Ki Suladra tidak dapat bergerak, bahkan ketajaman mata murid Kiai Gringsing ini melihat jika dada musuhnya telah berhenti. Ia juga melihat orang-orang yang berencana menculik Swandaru telah tumbang meski tubuh mereka sesekali bergerak tetapi itu bukan bahaya bagi Swandaru. Mereka menderita luka-luka bagian dalam. Kecuali Ki Sawentar. Ia lenyap.

Sejenak ia mengatur napas, mengalirkan tenaga dengan mendorong aliran darah agar lebih lancar, lalu bangkit berdiri. Agung Sedayu menghampiri Ki Suladra dengan dada bergetar. “Sedikit saja, mungkin hanya berjarak seukuran rambut, aku telah bersentuhan dengan maut. Aku tidak dapat membandingkannya dengan Tumenggung Prabandaru atau tiga bajak laut, tetapi kemampuannya menahan serangan dari dua mataku adalah penguasaan yang nyaris tak tertandingi,” kata Agung Sedayu pada dirinya. Ia berjongkok, membalik badan Ki Suladra dan masih ada satu satu napas dari lubang hidung lelaki yang berkelahi dengannya dengan cara mengagumkan.
“Ki Suladra,” desah Agung Sedayu perlahan, “Anda memang orang luar biasa. Adalah kejadian yang menggetarkan hati saya ketika harus melawan orang dengan kemampuan seperti Anda, tetapi jalan hidup sering menyatakan yang berbeda.”
Ki Suladra menatap Agung Sedayu setajam sembilu. Ia menggerakkan bibir namun tidak ada kata yang terucap. Agung Sedayu mengangkat kepalanya sedikit, lalu Ki Suladra setelah bersusah payah mengumpulkan sisa tenaga, akhirnya dapat berkata, “Bertahun-tahun aku berlatih dan aku berhasil menahan sinar matamu. Tetapi aku melupakan satu hal penting. Engkau adalah orang bercambuk. Aku tidak ingin mengaku kalah karena kekalahanku disebabkan oleh cambukmu. Meski begitu, dengan kematian ini, aku telah berhasil mengalahkanmu, Agung Sedayu.”
Seutas senyum mengembang di bawah malam yang meremang, kepala Ki Suladra terkulai di pangkuan Agung Sedayu. Wajahnya membeku, begitu pula Agung Sedayu. Untuk sesaat ia tidak dapat berpikir. Kesadaran murid Perguruan Orang Bercambuk ini seolah hilang dalam sekejap.

Suara burung kedasi menegur Agung Sedayu agar ia kembali sadar pada kedudukannya. Senapati pasukan khusus Mataram segera bangkit, beranjak memeriksa lingkungan sekitar gelanggang perang tanding.
“Swandaru?” Nama itu segera mengisi ruang batinnya saat ia gagal menemukan tubuh suami Pandan Wangi. Agung Sedayu memperhatikan satu demi satu orang yang terkapar di sekelilingnya.
“Ke mana temanmu membawa adikku pergi?” setapak kaki murid Kiai Gringsing berada di dada Ki Mandira yang terkapar.
“Berbahagialah, Senapati Pasukan Khusus. Adik seperguruanmu tidak lagi menjadi pesaing yang harus kau perhitungkan,” seringai licik melebar pada bibir lelaki setengah abad itu.
“Ia adikku,” desis tajam Agung Sedayu.
Sekali Ki Mandira terbatuk. “Ia adalah orang yang akan mengunggulimu dari segi ilmu perguruan Kiai Gringsing. Ia terlibat rencana dalam pembakaran di Tanah Menoreh. Dan kau harus tahu bahwa Swandaru adalah pengatur siasat terbaiknyang aku kenal.”
Agung Sedayu menatap erat kedua manik mata Ki Mandira dalam gelap. Ia menarik kakinya turun. Sambil duduk di atas tumitnya, Agung Sedayu menyimak penuturan Ki Mandira. Ia berkata,” Beri aku uraian yang jelas sehingga menjadi terang bagiku jika Swandaru adalah seorang pemegang belati yang bersembunyi.”
Ki Mandira tidak percaya dengan kata-kata Agung Sedayu. Meski terdengar suara Agung Sedayu yang penuh penekanan dan meyakinkan bahwa ia telah percaya, tetapi Ki Mandira merasa belum cukup. Katanya,”Aku tidak mudah engkau bodohi, tikus Mataram. Bagaimana mungkin kau tidak tahu gerak tingkah adik seperguruanmu sendiri?”
“Ki Sanak. Aku bukan pengasuh Swandaru. Bukan orang yang mendapat tugas dari Panembahan Hanyakrawati untuk mengawasinya sepanjang hari. Justru aku mendapatkan semacam pencerahan ketika kau bicara tentang Menoreh,” Agung Sedayu berkata dengan tangan terkepal. Bibirnya bergetar dengan suara yang seperti menahan gemuruh bising di balik rongga dadanya. ” Banyak kejanggalan yang tergelar sebelum peristiwa itu terjadi. Pengawasan ketat para pengawal menjadi kendur seolah terbuai oleh ketenangan yang dirasa begitu lama. Kau mungkin telah mendengar bahwa tidak ada satu pun kejahatan yang terjadi di sana sampai kebakaran itu terjadi,” gumam Agung Sedayu.
“Betul. Kalian sangat piawai mengendalikan ketenteraman Tanah Perdikan.”
“Kemudian tidak ada petugas sandi Mataram yang mengetahui rencana jahat itu. Kami, oh, bukan tetapi aku telah terlewat mengenai keadaan itu.” Agung Sedayu memandang tanah basah di bawah kakinya ketika hatinya berkata sendiri.
Ki Mandiri tajam menyorot wajah lawan bicaranya yang mengeraskan rahang. Ia mencoba menggerakkan tubuh, kemudian bibirnya bergerak, “Mulailah untuk belajr menerima kegagalan, Agung Sedayu. Kebakaran pasar induk dan perkelahian yang terjadi di tempat ini adalah tanda bahwasanya engkau tidak mampu. Mungkin sebangsal dalih akan kau gunakan untuk mengelabui mata orang-orang, tetapi kenyataan adalah kenyataan. Dan sekarang, sebaiknya engkau bersiap untuk mati perlahan.” Ia memaksa diri untuk tertawa. Menghempaskan gejolak perasaannya melampaui puncak Merapi dan Ki Mandira tergagap lalu mati.
Tidak ada yang dapat diperbuat oleh suami Sekar Mirah selain menatap mata kosong tanpa cahaya yang membeliak di dekat kakinya. Sehampa tatap mata Ki Mandira, Agung Sedayu terkulai ketika separuh hatinya lenyap bersamaan dengan hilangnya Swandaru Geni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *