Jati Anom Obong 51-52

Di Jati Anom.
“Kita telah menerima banyak laporan dari petugas sandi yang berkeliling di sekitar Tanah Perdikan,” Ki Untara berhenti sejenak. Tatap matanya belum beranjak dari punggung para petani yang berjalan meninggalkan barak pasukannya. Kemudian katanya, “Sejumlah orang yang terbagi dalam kelompok-kelompok kecil telah memasuki Menoreh.” Ia mengerutkan kening sambil menunggu Sabungsari mengucap kata-kata. Namun orang ditunggunya untuk bersuara masih terlihat tengah memijat kening.
Lalu Untara berkata lagi, “Aku tidak ingin kita terlambat melakukan pencegahan. Tetapi apabila mereka tahu pergerakan Mataram, bisa jadi dan boleh jadi, mereka menjadi buta dalam menyerang. Seperti pembakaran pasar dan pemukiman. Keadaan semacam itu tentu sangat mudah mereka lakukan.”
Sabungsari mengangguk, dia mengerti alasan pemimpinnya namun satu atau dua ganjalan tiba-tiba muncul dalam hatinya.” Dan di mana mereka menempatkan diri? Tentu bukan sesuatu yang mudah dilakukan oleh orang yang tidak terlatih. Menyembunyikan sekelompok orang dalam jumlah besar walau terpisah? Sedikit orang yang dapat mengatur siasat seperti itu. Ki Patih Mandraka, Raden Atmandaru dan Ki Untara adalah sebagian kecil orang yang mampu melakukannya. Dua nama adalah sebuah kemustahilan jika berbalik punggung. Sedangkan Raden Atmandaru telah jelas letak kaki dan tangannya, tetapi siapa orang yang berada di bawah kendalinya?” gumam hati Sabungsari menggema dalam kesunyian yang menghampiri mereka berdua.

“Aku pikir kau mengerti dan mungkin telah mempunyai dugaan mengenai keberadaan orang-orang itu di Menoreh,” tatap tajam Ki Untara beserta kalimat yang ia katakan dengan tegas mampu menembus dada Sabungsari.
Wajar jika ia seolah mengerti isi pikiranku karena memang seperti itulah cara berpikir seorang prajurit yang berpangkat tumenggung, pikir Sabungsari sambil membenahi duduknya. Kemudian ia berkata, “Anda benar, Ki Tumenggung. Saya sudah menyusun sebuah pengamatan tetapi sepenuhnya belum dapat diungkapkan dengan jelas.”
“Adakah engkau tengah menanti sesuatu?”
Sabungsari mengangguk. “Laporan yang disampaikan oleh para petani seolah menjadi pembenaran dari sebuah firasat atau dugaan, ya tepatnya sebuah dugaan.”
“Katakanlah.”
“Bukan kebetulan,” sahut Sabungsari, “atau…saya pikir tidak mungkin ada kebakaran yang terjadi bersamaan dengan perkelahian di rumah Ki Rangga Agung Sedayu tanpa disengaja. Dugaan saya adalah ada penggerak yang mumpuni hingga kita mendapatkan berita bahwa Ki Rangga bergeser menuju Sangkal Putung bersama Ki Swandaru. Dan tentu saja, segalanya adalah serba mungkin.”
Meskipun telah mempunyai perkiraan mengenai jalan pikiran anak buahnya, tetapi Untara memilih untuk menunggu. Adalah lebih baik jika ia mengungkap isi pikirannya sendiri. Sabungsari harus mampu membuat kerangka yang runut dalam setiap siasat jika ia telah memikirkan itu, pikir Ki Untara.
Sejauh tinjauan Ki Untara terhadap kemampuan Sabungsari maka sejauh itu pula ia telah menganggap Sabungsari telah meniti jalan yang tepat pada jalur keprajuritan. Bahkan muncul semacam keyakinan dalam hati Ki Untara tentang masa depan anak buahnya yang sepantaran usia dengan Agung Sedayu atau lebih muda sedikit.
Kalimat Sabungsari yang menggantung sudah pasti akan mengundang Tanya jika ada orang lain selain mereka berdua. Dan rupanya Sabungsari memang sengaja tidak melanjutkan kalimatnya. Ia berhenti ketika selintas pikiran terbit dalam benaknya.

“Ki Tumenggung,” kata Sabungsari kemudian, “Apabila Ki Rangga mengejar hingga menyeberangi Kali Progo, itu dapat dipastikan ada alasan yang sangat kuat. Dan saya pikir, itu bukan sekedar kebakaran atau perkelahian yang terjadi di Menoreh.”
“Semacam keraguan berada di hatimu, Anak Muda,” tegas Ki Untara setelah melihat sorot mata Sabungsari.
Prajurit tangguh itu mengangguk lalu ia bertanya, “Adakah sesuatu yang sangat berharga bagi Ki Rangga Agung Sedayu selain keluarga dan Mataram?”
“Apakah engkau menduga jika benda itu adalah kitab Kiai Gringsing?”
Tiba-tiba pokok bahasan mereka beralih saat seseorang berderap cepat dengan raut wajah sungguh-sungguh.
“Paman!” desis Ki Untara, “mungkin beliau telah mendengar kejadian di sungai.”
Sabungsari mengangguk ketika melihat Ki Widura berkuda memasuki halaman rumah Ki Untara. Jarak Ki Widura hanya sebentang tanah lapang yang menjadi batas rumah Untara dengan jalan besar, tetapi jarak yang sebenarnya sangat singkat untuk ditempuh dengan kuda itu tidak dapat dirasakan oleh paman Agung Sedayu. Ia merasa seperti menempuh perjalanan panjang untuk jarak selemparan anak panah itu. Wajah gelisah Ki Widura terlihat jelas saat berada lebih dekat dengan Untara. Keresahan tidak dapat ia sembunyikan dari dua pandang tajam senapati Mataram yang duduk di beranda. Ki Widura memang telah mendengar kabar perkelahian antara beberapa prajurit Mataram yan g dibantu oleh para penggembala dengan tiga orang asing. Mungkin ia telah mengetahui latar belakang perkelahian. Mungkin ia telah mengerti alasan kehadiran tiga orang asing di Jati Anom. Atau mungkin ia mengetahui sebab-sebab lain yang tidak diketahui oleh Ki Untara dan Sabungsari.

Sementara keadaan di barak pasukan Mataram saat itu tidak begitu banyak mempunyai kesibukan, meski beberapa orang terlihat hilir mudik namun mereka adalah anak buah Sabungsari yang tengah bersiap menuju sungai.
“Tampaknya kalian tengah bersiap menuju ke sana,” berkata Ki Widura setelah ia duduk di samping kiri Ki Untara.
“Apakah kami tidak menunjukkan sebuah kecepatan yang seharusnya ada di dalam setiap pasukan?”
Ki Widura mengerutkan kening, kemudian berkata, “Tidak. Cukup memadai karena orang-orang asing itu bukan tiga orang pengacau biasa.”
Sabungsari menegakkan punggungnya sambil berkata, “Apakah Ki Widura sudah meninjau keadaan Ki Panuju? Oh, maaf, bukan maksud saya seperti itu, tetapi tentang penyebab kekacauan.” Raut wajah merah sedikit menghias Sabungsari ketika ia menyadari pertanyannya yang salah.
Namun Ki Widura mengerti maksud dari lurah prajurit yang berusia di bawah Agung Sedayu itu, ia memberi jawaban kemudian, “Aku belum melihat suasana perkelahian, tetapi aku dapat membayangkan ketangguhan mereka. Engkau tentu mengerti, bahwa para peronda dan Ki Panuju bukan sekumpulan prajurit yang mudah ditaklukkan dengan dua puluh orang lapis pertama sebuah padepokan, tetapi, perkelahian itu telah berlangsung cukup lama.”
“Benar, bahkan terlalu lama apabila kita melihatnya dari segi jumlah,” sahut Untara seraya menengok kesiapan prajuritnya. Lalu, “Baiklah, mereka telah bersiap.” Ki Untara berpaling pada wajah pamannya dengan satu permintaan yang terbungkus dalam satau tatap mata.
Ki Widura menarik napas seraya bangkit dari tempatnya duduk. “Aku akan menemani Sabungsari.”
Sekejap kemudian Ki Untara telah melepas Ki WIdura, Sabungsari dan lima orang prajurit berkemampuan khusus meski tidak dapat dibandingkan dengan keahlian pasukan khusus yang dipimpin Agung Sedayu. Walaupun begitu, penguasaan ilmu mereka sudah berada di dalam lapis kewajaran untuk ukuran pasukan yang berjumlah cukup besar.

Pohon-pohon rindang telah menghalangi cahaya matahari yang masih berhasrat menjangkau permukaan sungai sewaktu beberapa penggembala telah tumbang. Mereka belum mati namun perkelahian telah meningkat semakin tajam ketika susunan gelar mulai timpang.
KI Garu Wesi benar-benar terperangah dengan kemampuan Ki Panuju, tetapi ia tidak berusaha menghindar atau mengalah untuk setiap serangan. Bahkan menurutnya, Ki Panuju adalah lawan yang sangat menarik. Maka perkelahian hidup mati itu dipandangnya sebagai satu kegembiraan. Keteguhan Ki Panuju mempertahankan ciri khusus laga prajurit seperti siraman minyak yang membakar gelora tandang Ki Garu Wesi.
Benturan kekuatan terjadi berulang kali, setiap kali salah seorang dari mereka menyerang maka lawannya akan menerima serangan dengan terbuka.
Pukulan beradu pukulan, tendangan bertukar tendangan.
Ketika seorang menjauh maka lawannya akan berkisar untuk menutup langkah pergerakannya. Saat mereka terpental karena benturan, maka cukup sekejap untuk kembali saling melibat dan membelit dengan kekuatan raksasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *