Dan pada saat itu Ki Garu Wesi berpikir bahwa kemenangan kecil di Jati Anom ini akan menjadi landasan baginya meraih tampuk lebih tinggi. Ia jujur mengakui dalam hatinya bahwa selama ini merasa dipinggirkan oleh Raden Atmandaru. Mereka berdua memang bukan baru berkenalan karena keduanya adalah teman lama dalam pengembaraan. Ki Garu Wesi, meski sering meragukan perkataan Raden Atmandaru tentang asal usul dirinya, mempunyai rasa hormat tinggi pada kawannya ini.
Suatu ketika.
“Aku tidak ingin ada pertumpahan darah di tanah yang mulia ini,” kata Raden Atmandaru padanya, “namun ayah tidak memberiku pilihan.”
“Saya tidak mengerti maksud kata-kata Anda,”
“Semua putra ayah mempunyai hak yang sama, dan sebenarnya apa yang ingin aku katakan padamu adalah sebuah rahasia. Mungkin bisa menjadi berita besar,” kata Raden Atmandaru dengan suara bergetar. Walau sorot matanya masih terlihat setenang permukaan air laut di pagi hari, tetapi air mukanya kesulitan menutup gejolak hatinya. Ki Garu Wesi melihat perubahan itu tetapi ia tidak berkata sedikit pun.

Sejenak Raden Atmandaru berdiam diri kemudian ucapannya berlanjut, “Ayah memilih kakang Mas Jolang yang berusia lebih muda daripada aku yang lahir pada waktu senja. Namun aku sendiri tidak pernah menerima atau merasakan sedikit dari yang semestinya. Ki Garu Wesi, aku adalah putra Panembahan Senapati dari seorang perempuan di sebelah selatan Mangir.”

“Rasa terkejut hinggap di dalam hati Ki Garu Wesi meski sesaat. Bagaimana aku dapat percaya keterangan darinya? Sedangkan aku baru mengenalnya beberapa tahun belakangan ini. Raden Atmandaru, aku tetap menerimamu sebagai teman baik setelah jarak pengembaraan ini membentang cukup panjang bagi kita berdua,” Ki Garu Wesi membatin. Keheningan segera mendatangi mereka. Masing-masing larut dalam pikiran yang mungkin tidak akan dapat dipertemukan. Kemudian kata Ki Garu Wesi, “Raden. Saya tidak pernah bertanya tentang asal usul Anda, bahkan saya merasa terhormat karena mempunyai teman perjalanan seperti Anda. Setiap langkah yang kita tempuh, setiap perkelahian atau setiap kali kita melerai sebuah pergumulan, saya dapat melihat martabat yang tersemat pada Anda. Hingga suatu kali saya berpikir atau tepatnya mempunyai pertanyaan, apakah Anda adalah salah seorang dari orang-orang berkedudukan tinggi di Mataram? Kecerdasan Ki Patih Mandraka sepertinya telah mendapatkan ganti, saya pikir Anda memang pantas untuk menjadi patih di tanah ini.
”Berdua. Ya, berdua. Saya akan membantu dengan seluruh yang ada dalam diri ini agar Anda benar-benar berada pada kedudukan itu. Sebagai patih. Ya, sebagai Patih Mataram.” Namun, harapan itu telah beralih menuju ruang yang lebih besar. Ki Garu Wesi harus mengulang janji ketika Raden Atmandaru mengangkat diri sebagai orang yang berkedudukan sama dengan Panembahan Hanykrawati.

Selintas kenangan itu memacu degup jantung Ki Garu Wesi untuk mengerahkan segenap kepandaiannya. Ia tidak mempunyai alas an yang lebih besar selain janji yang pernah diberikannya pada Panembahan Tanpa Bayangan, Raden Atmandaru. Pada saat itu ia sempat malu pada dirinya sendiri yang tergoda untuk merebut Kitab Kiai Gringsing dari tangan Ki Hariman. Namun setelah melihat tandang hebat Ki Panuju, melihat sisi yang tidak tampak dari raga Ki Panuju, maka Ki Garu Wesi memancang tekad untuk kembali pada janjinya, kesetiaan tanpa batas pada Raden Atmandaru.

“Ini adalah peluang walau harus berakhir dengan kematian. Membunuh atau terbunuh. Kehormatanku bukan pada ketinggian ilmuku tetapi janjiku, kata-kataku dan perbuatanku. Meski mereka akan mengatakan aku sebagai pengkhianat, berkata tentang aku yang berbuat jahat. Itu urusan mereka. Aku mempunyai pandangan yang tidak mungkin dapat mereka terima,” suara hati Ki Garu Wesi berkata lantang. Walau sedikit kesal dengan keputusan Raden Atmandaru yang memintanya bergabung dengan Ki Hariman untuk merebut kitab ilmu dari guru Agung Sedayu, Ki Garu Wesi merasakan sedikit ketenangan setelah kenangan itu melintasi ruang hatinya.
“Aku harus dapat menyelesaikan kekacauan ini walaupun kitab itu tidak akan singgah padaku. Kepentingan Raden Atmandaru jauh lebih besar dari sebuah kitab yang mungkin hanya bermanfaat bagi yang mengerti isinya. Setelah itu? Apa yang aku lakukan setelah menguasai seluruh ilmu Perguruan Orang Bercambuk? Apakah aku akan menjadi orang yang paling diburu oleh seluruh prajurit Mataram dan orang-orang linuwih? Bodoh! Aku adalah Ki Garu Wesi, kebanggaan dan kehormatan Raden Atmandaru ada di pundakku,” tekad Ki Garu Wesi semakin kuat dan membara lebih hebat.

Ketegangan meningkat tajam saat Ki Panuju mengubah dasar olah geraknya yang dipenuhi unsur ilmu Perguruan Orang Bercambuk. Ia tidak lagi terlihat seperti lurah prajurit yang berkelahi dengan ilmu bela diri yang diajarkan pada prajurit-prajurit Mataram. Dalam pandangan Ki Garu Wesi, Ki Panuju kini tak ubahnya seperti murid pertama dari suatu padepokan.
“Sepertinya tidak ada lagi jalan keluar selain membunuh orang ini. Tentu saja itu sangat disayangkan karena prajurit ini memiliki kemampuan hebat. Tetapi jika aku tidak mengalahkannya, lalu apa yang harus aku perbuat?” Ki Garu Wesi menggeram. Pikirannya dipenuhi dengan kebulatan tekad untuk segera mengakhiri perlawanan Ki Panuju. Ia harus dapat melakukannya sebelum bala bantuan Jati Anom datang ke gelanggang perkelahian.
Apabila ia mati dalam perang tanding melawan Ki Panuju, maka sebenarnya ia telah mengerti bahwa tidak akan ada orang yang kehilangan dirinya. Dan itu berarti tidak pernah ada kenangan atau segala sesuatu untuk mengingatnya sebagai orang yang pernah menjalani kehidupan. Tetapi jika ia dapat memenangkan pertarungan atau bahkan mengalahkan semua orang di situ, hasil akhir telah dapat diduga : penghargaan akan diberikan pada Ki Hariman yang berhasil membawa kitab Kiai Gringsing. Berpikir tentang itu, kemarahan dalam hatinya pun meledak! Ki Garu Wesi menelan seluruh rasa pahit, sedih, nelangsa lalu menggabungkan semua perasaannya menjadi satu kata : marah!

Namun ia telah memutuskan untuk tidak menjadikan orang lain sebagai tertuduh atau menganggapnya sebagai penyebab kemarahannya. Tidak! Ini bukan tentang Raden Atmandaru atau kesalahanku memilih jalan hidup. Ini tentang kehormatan dan kepercayaan orang meski ia tidak pernah menganggap kehadiran dan keberadaanku, geram hatinya makin memuncak.
Lingkungan sekitar perkelahian seolah merasakan gelombang kemarahan Ki Garu Wesi yang memancar dahsyat dari sela-sela jemari tangannya. Ia seperti menghisap seluruh kekuatan yang ada di sekitarnya. Ia merasa tenaganya semakin berlipat-lipat.
“Sial!” lengking suara Ki Panuju memecah gelombang kemarahan yang mulai menebar di sekelilingnya.
Dalam waktu itu, Ki Panuju tengah mengolah unsur yang diserapnya dari Ki Widura maupun barak prajurit sebelum angin panas menerpa pertahanannya. Perkembangan yang terjadi berikutnya adalah setiap langkah dari gerakan Ki Panuju menjadi landasan kuat yang mampu membatasi gerak laju lawannya.
Ki Panuju berpacu dengan gelap yang seolah makin cepat merambat tanah Jati Anom.
Semenjak perang tanding itu dimulai, Ki Panuju sebenarnya tidak bertarung sepenuh hati. Tiba-tiba ia merasa kehilangan sebuah pilar yang selama ini dijadikannya sandaran kokoh. Maka dari itu Ki Panuju, sepanjang pertempuran berlangsung dan di tengah-tengah kesibukannya memberikan aba-aba, terus menerus mencari pilar itu di kedalaman hatinya
“Aku hanya seorang prajurit? Lalu siapakah mereka yang setiap hari bertemu dan bertukar kata denganku?” Ki Panuju bertanya dalam hatinya. “Mereka bukan patung atau orang-orang lemah, bahkan mereka adalah sumber kekuatanku selama ini. Tetapi mengapa saat ini aku hanya merasa seolah perkelahian ini hanya sebatas tugas seorang prajurit?”
Ia telah kembali!
Kecintaannya pada Jati Anom dan semua orang yang hidup di dalamnya telah kembali. Ketegasannya ketika melatih para penggembala dan kelembutannya saat berada di tengah sawah juga telah kembali. Beragam jenis ilmu perlahan melebur di setiap pembuluh darah dan berpencaran ke segala bagian yang teraliri oleh darah Ki Panuju.
Pada saat kedua orang itu telah menemukan titik ledak yang menjadi alasan kuat untuk menopang pandangan hidup selama ini, maka mereka dengan keyakinan penuh telah meledakkannya.
Perkelahian menjadi semakin sengit. Ki Garu Wesi benar-benar menebar kengerian bagi lawan-lawannya yang masih dapat menyaksikan pertarungan mereka. Setiap kali ujung tangannya melewati batu sebesar kepala kerbau, maka yang terjadi adalah serpihan cadas ikut beterbangan mengikuti arah kibasan tangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *