Ki Panuju yang berkelahi tanpa senjata dapat merasakah kedahsyatan ilmu lawannya yang luar biasa. Benturan ilmu seolah tidak dirasakan oleh lawannya. Kadang kala Ki Panuju tiba-tiba merasakan seluruh kulit tangannya menjadi keras dan kaku. Sering kali ia harus menahan rasa nyeri walau mereka tidak sedang berbenturan.
“Jangan ragu untuk mengeluarkan senjatamu, Ki Sanak!” seru Ki Garu Wesi setelah melihat berulang kali sorot keheranan keluar dari mata Ki Panuju.
“Aku seorang prajurit Mataram, atas alasan apa aku berkelahi sementara engkau bertangan kosong?” sahut Ki Panuju. “Itu memalukan!”
“Sudahlah, Ki Lurah. Ini bukan masalah memalukan atau tidak, tetapi apakah engkau dapat terus hidup atau di tempat inilah engkau akan dikenang,” tukas Ki Garu Wesi. Lalu ia menambahkan, “Itupun jika mereka masih dan ingin mengingatmu.”
Di saat seperti itu, Ki Panuju tiba-tiba teringat sebuah ilmu yang dikabarkan telah dikuasai dengan baik oleh Agung Sedayu. Sejenis ilmu yang mungkin sama dengan milik Ki Garu Wesi. Walau demikian, Ki Panuju tidak merasa sedikit ringan. Ia tidak ingin dihinggapi perasaan telah mengenali ilmu lawannya. Bahkan atas pertimbangan tertentu yang diputuskan secepat kilat, ia kemudian setuju dengan ucapan musuhnya.
“Kekerasan tidak dapat selamanya dilawan dengan kekerasan pula.”

Tetapi dalam waktu kurang dari sekejap mata, musuh Ki Panuju telah menghentak serangannya lebih dahsyat. Sambaran telapaknya dapat menyentuh bagian pundak Ki Panuju meski hanya sentuhan ringan tetapi berakibat luar biasa. Dorongan tenaga inti yang keluar dari ujung jari Ki Garu Wesi mampu menghempas Ki Panuju hingga beberapa langkah surut.
Ki Panuju tidak lagi berkeinginan untuk mengambil jarak. Sebentang jarak yang tercipta dirasakan cukup olehnya untuk membalas serangan Ki Garu Wesi. Namun sedikit gangguan telah ia dapatkan. Tulang pundaknya serasa terbakar dan seolah retak karena benturan yang sangat keras, padahal jemari Ki Garu Wesi hanya menyentuh sedikit. Mungkin lebih tepat jika dikatakan mirip dengan belaian.
Tiba-tiba derai tawa Ki Garu Wesi nyaring terdengar. Sambil menunjuk serombongan orang yang menuruni tebing, ia berkata, “Lihatlah, tampaknya engkau segera mendapatkan bantuan. Tetapi aku serahkan padamu tentang perkelahian ini. Apakah kau ingin meneruskan perang tanding atau meminta mereka untuk bergabung bersamamu? Itu tidak menjadi masalah buatku.”
Ki Garu Wesi segera merendahkan kedua lututnya. Ia bersiap dengan segala kemungkinan yang dapat terjadi.
“Ki Sanak, aku adalah orang Mataram!” Ki Panuju mengurai cambuk yang membelit pinggangnya. Seuntai cambuk dengan ujung sebuah belati kecil telah terjuntai hingga menyentuh permukaan sungai dangkal itu.
Sorot mata Ki Garu Wesi seketika berubah. Gemuruh dadanya makin bergolak. Dugaan pun muncul dalam benaknya, “Mungkin ia bukan murid Perguruan Orang Bercambuk tetapi bisa jadi ia telah mendapatkan sentuhan dari gurunya. Dan bila dugaanku benar, maka setidaknya aku akan mendapat bayangan kasar dari seluruh isi kitab itu.”

Ledakan menggema keras dan cukup mengagetkan hewan ternak dari para penggembala. Ki Panuju luput memperhatikan kehadiran para penggembala, dan tentu saja bunyi ledakan itu seketika mengacaukan gelar para gembala. Mereka berhamburan mengejar dan mengendalikan kerbau serta lembu yang berlarian ke segala arah. Tetapi dengan bantuan orang-orang yang menyertai Sabungsari dan Ki Widura, sekawanan ternak yang resah dengan ledakan pun dapat dikendalikan. Sementara di sisi lain, kekacauan itu memberi keuntungan besar bagi Ki Tunggul Pitu dan Ki Hariman. Satu demi satu penggembala terlempar dari lingkar perkelahian, dan keduanya mulai menguasai keadaan.
Meski pada awal pergulatan, kedua orang asing ini tampak kewalahan namun mereka akhirnya mampu menguasai pertempuran yang tidak seimbang dalam jumlah. Keunggulan ilmu mereka yang jauh di atas para gembala serta Ki Panuju yang terlibat perang tanding, akhirnya menjadikan kedudukan tidak lagi seimbang meski perlawanan gembala masih demikian sengit.
Tetapi kedatangan Sabungsari dan Ki Widura membuat jalannya pertempuran kecil itu kembali menjadi sengit. Kegesitan Ki Widura seolah tidak terpengaruh oleh usianya yang menapak senja. Ia segera mengikat salah seorang dari tiga pendatang, Ki Hariman. Perkelahiannya melawan Ki Hariman secara singkat telah meningkat tajam walau keduanya masih bertangan kosong. Sementara Sabungsari sigap menghadang laju Ki Tunggul Pitu yang memburu para gembala.

Dalam waktu singkat, tanpa diperintah atau dibicarakan lagi karena telah melihat bantuan yang datang, kawanan gembala mengundurkan diri dari gelanggang. Kedudukan mereka diambil alih oleh prajurit Mataram. Mereka berjajar memenuhi tepi sungai sambil memberi perawatan pada gembala lain yang terluka.
Dentum halus yang keluar dari ujung cambuk memberi tanda tersendiri bagi Ki Garu Wesi. Kemampuan Ki Panuju dalam penggunaan cambuk dalam perkelahian itu membuat Ki Garu Wesi berkata, “Ki Lurah, sebaiknya kau tidak berkelahi denganku seorang diri.”
“Aku telah salah menilainya sejak awal,” gumam hati Ki Panuju, “ia tidak seperti sedang menyembunyikan ilmu. Orang ini hanya berusaha menjaga keseimbangan dalam perkelahian ini. Lalu apa yang menjadi tujuannya dengan tidak berusaha mengalahkan dari awal?”
Tanpa sebuah aba-aba, tiba-tiba Ki Garu Wesi melayang, melesat deras dengan kedua kaki merapat pada lambungnya dan kedua lengan membentang seperti rajawali terbang. Sekilas pertahanannya terbuka lebar, bahkan dapat disebut sebagai kelemahan yang ditunjukkan dengan terang. Namun Ki Panuju tidak ingin terpancing. Sebaliknya ia menganggap olah gerak lawannya adalah sebuah jebakan agar ia menyerang bagian atas Ki Garu Wesi, maka ia memilih meloncat ke samping.

Tetapi di luar dugaannya, Ki Garu Wesi mendadak menjejakkan kakinya lalu memutar tubuh dengan dua lengan yang kemudian berputar-putar, menyerang bagian dada dan kepala Ki Panuju. Angin pukulan terdengar menderu-deru seolah angin prahara tengah melanda tempat mereka bertarung. Sungguh, pertarungan yang luar biasa! Cambuk Ki Panuju berusaha menutup gerak laju Ki Garu Wesi, tetapi selalu tertahan angin yang beriring menyertai kibas lengan lawannya. Walau demikian lurah prajurit Mataram ini mampu, dengan tangkas, mengimbangi kedahyatan ilmu pengikut Raden Atmandaru. Kelebat keduanya semakin sulit diikuti mata biasa.
Para gembala dan prajurit yang telah menepi tidak dapat mengucap kata selain seruan kagum. Termasuk Sabungsari dan Ki Widura yang berulang kali saling tukar pandang. Mereka telah menilai sekilas kedudukan perkelahian sebelum masing-masing terikat pertarungan di bagian lain. Lambat laun keduanya mengerti bahwa perkelahian telah berat sebelah.

“Apakah sebaiknya aku harus memasuki gelanggang mereka?” tanya Sabungsari di dalam hatinya. Ia dapat menilai kemampuan orang yang menjadi lawan Ki Panuju. “Jarak kemampuan mereka meski tidak terlalu jauh tetapi Ki Panuju akan menemui kesulitan dan itu dapat membunuhnya.”
Namun Sabungsari tidak dapat terlalu lama merenungi keadaan rekannya sesama prajurit, Ki Tunggul Pitu tidak memberinya banyak kesempatan. Lawan Sabungsari cepat bergeser maju memburunya dengan serangan-serangan yang sangat liar dan ganas.

Pada saat itu kembali suara Ki Garu Wesi kembali menggema, “Ki Lurah, apakah engkau tidak merasa sayang dengan dirimu sendiri? Tinggalkan perkelahian ini selagi aku memberimu kesempatan untuk menarik napas.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *