Dan Ki Panuju menjawabnya dengan lecutan sandal pancing yang disusul putaran cambuk yang mengalir tanpa henti seperti banjir bandang. Namun ia lebih berhati-hati menghadapi Ki Garu Wesi yang seperti sengaja dengan mengeluarkan kemampuan secara bertahap.
Namun Ki Garu Wesi telahmenyesuaikan diri. Ia benar-benar mengubah arah dan olah geraknya. Setiap kali Ki Panuju menyerangnya dan selalu disertai ledakkan yang memekakkan telinga, Ki Garu Wesi selalu menggeser kakinya selangkah demi selangkah agar terus menerus menghadap lawannya dari depan. Maka jarang sekali Ki Panuju mendapatkan tempat terbaik dari samping maupun belakang musuhnya. Ia tidak lagi berlari, memutari lawannya atau meloncat panjang dan itu disebabkan oleh tulang pundaknya yang makin menyiksa.
“Orang ini sangat tangguh dan gila,” kata Ki Panuju di dalam hatinya. “Ia selalu mendapatkan tempat di depanku. Sungguh menyulitkan karena geliat cambuk semakin terbatas! Aku akan tersudut. Betapapun aku mengerahkan seluruh kemampuan namun sentuhannya pada bahuku ternyata mampu mengubah keadaan.”
Ki Panuju mencoba untuk mengamati keadaan hatinya dengan cermat, meski ia tengah bertarung hidup mati melawan Ki Garu Wesi. Ia menyadari rasa sakit yang mendera tulang pundaknya benar-benar membuatnya kewalahan untuk mengimbangi kecepatan gerak musuhnya. Namun menyerah itu bukan pilihan kata yang baik dalam hidup Ki Panuju. Ia bahkan tidak mengenal makna dari kata itu.
“Jika akhirnya aku harus mati dalam perkelahian ini, mungkin saja ia benar,” kembali Ki Panuju berucap dalam hati. Namun kali ini ada nada bimbang yang memberi warna. “Aku mati lalu dilupakan oleh orang. Tetapi itu juga tidak sepenuhnya benar. Bahkan mungkin ia sedang mempengaruhi keadaanku.”
Dan Ki Panuju telah membuat satu persiapan untuk menghentak seluruh ilmunya. Ia kembali menjadi seorang lelaki yang kokoh dan tangguh. Maka dari itu, ia mengabaikan rasa perih yang menggerogoti ulang lengannya. Seluruh petunjuk Ki Widura telah diikutinya dengan baik, tenaga cadangan dari jalur Perguruan Orang Bercambuk yang terbina dan tersimpan di dalam dirinya, mulai menyalur setiap jengkal senjatanya.

Di dalam batas lingkaran itu, KI Garu Wesi dan Ki Panuju telah berada di lapis terbaik kemampuan masing-masing. Air yang mengalir di sela kaki mereka pun menjauh, Seolah ada dinding yang tidak terlihat mata wadag telah membatasi arena perkelahian dua lelaki berkemampuan dahsyat ini. Para penggembala dan prajurit yang terluka bergeser menjauhi tepi sungai ketika udara aneh menerpa wajah mereka. Ya, terasa aneh bagi mereka karena kerap berubah. Panas silih berganti dengan angin dingin. Terlebih ketika permukaan sungai tak lagi memantulkan sinar bulan yang belum sepenuhnya bulat purnama.
Tetapi perubahan dan perkembangan yang terjadi di sekitar tempat Ki Panuju tidak dapat dipantau oleh Sabungsari. Ia masih berada dalam kebimbangan. Sabungsari sesekali melirik pertempuran itu sambil meladeni serangan gencar Ki Tunggul Pitu. Sepintas pengamatan yang dilakukannya telah memberi satu kesimpulan bahwa Ki Panuju tidak dapat menguasai perkelahian. Harapan yang dimiliki oleh Sabingsari adalah lawan Ki Panuju akan membuat kesalahan. Namun ia sadar bahwa harapan itu semestinya tidak perlu ada. Sabungsari mengerti keadaan seluruhnya. Lawan Ki Panuju bukan orang yang baru saja berkelahi beradu dada.
“Bahkan, jika ia termasuk orang kepercayaan Raden Atmandaru sudah tentu kemampuannya berada di batas puncak kanuragan,” gumam Sabungsari dalam hatinya
Namun apabila Ki Garu Wesi tidak tergesa-gesa mengakhiri perlawanan Ki Panuju, yang terjadi kemudian dudah dapat dipastikan. Ki Panuju akan terbelenggu dalam kesulitan walau pun ia telah mendapatkan kelonggaran yang sangat lapang. Keadaan anak buahnya telah mendapat jaminan untuk selamat. Mereka telah berada di tempat yang aman dari bahaya gemuruh perkelahian yang semakin seru.
“Mungkin lawan Ki Panuju tidak akan melakukan kesalahan, tetapi keadaan Ki Panuju sama sekali tidak berada di tempat yang menguntungkan,” hati Sabungsari kembali berkecamuk. Segala kemungkinan dapat terjadi dan kematian dapat saja menimpa salah satu dari kedua orang yang tengah beradu nyawa. Mungkin Ki Panuju, mungkin juga lawannya.

Ki Panuju yang telah berada di puncak kemampuannya ternyata masih berpikir untuk menawarkan jalan damai. Ia telah mengetahui keadaan secara menyeluruh. Ia mengenal Sabungsari dan Ki Widura. Maka ia berkata pada Ki Garu Wesi, ”Ki Sanak. Saya tahu Anda adalah orang berilmu tinggi dan mempunyai martabat yang tidak dapt dipandang remeh siapa pun juga. Saya pikir, jika kita berhenti untuk berkelahi maka Mataram akan mengungkapkan terima kasih dengan anugerah yang sangat besar.”
KI Garu Wesi meloncat surut. Ia tidak mengira jika lawannya akan mengeluarkan kata-kata yang bertolak belakang dengan tandang yang tengah ia keluarkan. Walau terkejut tetapi Ki Garu Wesi juga merasa geli. Ia tertawa keras.
“Ini gila!” kata Ki Garu Wesi. “Bagaimana engkau menawarkan sebuah kedudukan agar aku menyerahkan diri pada kalian. Tidak. Aku telah mengorbankan harga diriku pada perkelahian ini.”
“Harga diri? Menyerah? Ki Sanak, saya tidak meminta Anda untuk menyerah.”
Ki Panuju merunduk sementara ujung cambuknya mulai bergetar. Tenaga cadangan Ki Panuju segera mengalir deras melalui telapak tangannya. Ujung cambuk menggeletar di atas tanah, sedangkan tangkainya masih berada dalam genggam Ki Panuju. Dengan maksud mengacaukan perhatian Ki Garu Wesi, lurah Mataram itu berkata, “Yang menjadi akhir dari perkelahian ini adalah ketiadaan. Ki Sanak, saya menganggap Anda sebagai saudara dalam satu naungan ilmu kanuragan. Maka sudah sepatutnya seorang saudara mendengarkan ucapan saudaranya yang lain.”
“Diamlah, Ki Lurah,” sambut Ki Garu Wesi dengan derai tawa. “Aku tidak dapat mati jika itu masih berada dalam anggapanmu. Seperti itulah, aku tidak akan pernah menyerah. Lalu bagaimana kau dapat memintaku menyerah pada Mataram sementara engkau masih bergelimang bujuk rayu dalam otakmu?”
“Mengapa engkau masih saja berusaha memberontak, Ki Sanak?” seru Sabungsari dari seberang lingkaran dengan tiba-tiba. Sejumlah orang terperangah. Tentu saja itu mengejutkan karena ia terlibat perkelahian yang tak kalang sengit dengan Ki Tunggul Pitu.
“Gandrik!” umpat Ki Tunggul Pitu saat Sabungsari meloncat surut. “Anak iblis!” serunya ketika dadanya seperti diremas oleh jari-jari yang kokoh dan sekuat besi. Ia belum pernah menghadapi ilmu seperti yang dimilik Sabungsari, bahkan Agung Sedayu pun belum menggunakan kekuatan mata saat menghadapinya. Meski demikian, Ki Tunggul Pitu telah mendengar kehebatan Agung Sedayu, hanya saja ia tidak menduga bahwa Sabungari ternyata menyimpan kekuatan yang sejenis.
Dalam waktu itu, tandang Ki Garu Wesi semakin menggetarkan. Ki Panuju semakin terdesak meskipun ia telah mengeluarkan segenap kemampuan yang diserapnya dari Perguruan Orang Bercambuk. Meski kecepatan Ki Garu Wesi belum menanjak tinggi sehingga gerak tubuhnya masih dapat dilihat oleh mata biasa, tetapi olah kedua tangannya benar-benar luar biasa. Kedua lengannya berputar, menebas dan memukul dengan rentetan yang nyaris tiada henti. Sedangkan pergerakan tangan Ki Garu Wesi selalu menimbulkan prahara dan membawa kekacauan yang dahsyat.
Begitu hebat gerak tangan Ki Garu Wesi yang dilambari kekuatan cadangan, maka setiap ayunan selalu disertai semburat benda dari dasar sungai yang dangkal itu. Lontaran pasir dan kerikil dari bagian sungai seolah memiliki mata yang dapat membidik sasaran. Hempasan benda-benda itu menerjang Ki Panuju dengan kecepatan tinggi dan kekuatan yang luar biasa. Maka Ki Panuju tidak dapat sekedar menghindar atau menangkisnya dengan putaran cambuk yang menjadi selubung tubuhnya. Ki Panuju berloncatan menjauh, ia tidak memperoleh kesempatan untuk balik menyerang. Bahkan ledakan-ledakan yang kerap keluar dari ujung senjatanya, pada mulanya, sudah tidak lagi terdengar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *