Siasat cerdas dan sederhana, pikir Ki Garu Wesi. Lalu ia berseru pada Sabungsari, “Prajurit, engkau tentu telah mengerti bahwa hidup mati seorang prajurit ada di ujung senjata atau sebuah perkelahian. Karena memang seperti itulah seorang prajurit dilatih berbagai keerampilan olah kanuragan.”

Keturunan Ki Gede Telengan ini tidak segera menanggapi kata-kata Ki Garu Wesi, meski ia tidak dapat menyalahkan namun Sabungsari juga tidak dapat membenarkan pendapat Ki Garu Wesi. Kemudian ia berkata dengan rasa hormat, “Setiap orang mempunyai penilaian yang mungkin juga tidak dapat dibenarkan atau disalahkan, Kiai. Anda dapat berkata seperti itu dan saya juga punya pendapat yang bertolak belakang, tetapi hanya ada satu kata yang berlaku di medan peperangan.”
Ki Tunggul Pitu dan Ki Garu Wesi tertawa kecil bersamaan. Kata Ki Tunggul Pitu kemudian, “Penutup yang sempurna dari seorang prajurit Mataram. Aku pikir engkau lebih pantas menyandang pangkat sebagai tumenggung jika dibandingkan dengan Untara.”
“Maaf, Kiai. Saya tidak pernah berpikir lebih baik dari siapa pun. Tidak,” sahut Sabungsari yang telah merendahkan tubuhnya. “Ki Tumenggung Untara dan Ki Rangga Agung Sedayu adalah orang yang berada di lapisan yang setara dengan Ki Patih Mandaraka. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai kelebihan yang luar biasa. Dan aku? Aku adalah prajurit Mataram sebagaimana teman-temanku yang lain.” Sabungsari menunjuk Ki Panuju dan teman-temannya yang terluka.
“Baiklah, Ki Sanak berdua,” lanjut Sabungsari namun ia tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Ki Tunggul Pitu telah meluncur deras padanya dengan gemuruh serangan seperti angin prahara.
Sedangkan Ki Garu Wesi masih berdiri dan mengawasi jalannya perkelahian yang mendadak mulai berubah sangat tajam.
Sabungsari harus berkelahi dengan segenap ilmunya. Ia merambah bagian puncak ilmunya dengna cepat. Tidak ada pilihan lain bagi Sabungsari selain mengalahkan Ki Tunggul Pitu. Ia tahu bahwa memenangkan perkelahian bukanlah hal yang mudah, apalagi Ki Tunggul Pitu telah menunjukkan jika ia adalah lawan yang sulit ditaklukkan. Dari awal. Ya, sedari permulaan perkelahian, Ki Tunggul Pitu bukan saja merepotkan Sabungsari dengan serangan-serangan yang tajam, tetapi ia juga memperlihatkan pertahanan yang sukar untuk dibongkar.
“Aku tengah berhadapan dengan orang sekuat Ki Rangga.” Itu adalah perasan Sabungsari saat mendapati kemampuan tinggi yang ada dalam diri Ki Tunggul Pitu.
Namun Sabungsari sangat menyadari bahwa Agung Sedayu bukanlah Ki Tunggul Pitu. Agung Sedayu bukan orang yang dapat memanfaatkan kelemahan lawan sebagai jalan untuk membunuh, maka dengan jalan pikiran semacam itu, Sabungsari paham bahwa lawannya akan segera menghukumnya dengan kematian jika ia gagal menutup celah pertahanan.

Di bagian lain, Ki Widura tidak lagi melontarkan cambuk dengan ledakan yang menggelegar. Bahkan, ia lebih mempunyai kemiripan dengan Kiai Gringsing pada saat itu. Bunyi ledakan cambuk semakin halus, tetapi di balik itu, ada kekuatan sangat hebat yang mampu memutus jaringan pembuluh darah. Namun yang menjadi lawan Ki Widura adalah orang berilmu tinggi dari Merbabu. Ki Hariman perlahan-lahan dapat mengembangkan olah geraknya. Ia mempunyai keyakinan kuat bahwa ia akan dapat mengalahkan pengganti Kiai Gringsing . Perkelahian semakin sengit dan membahayakan meski belum dapat dikatakan akan berakhir dengan kematian. Benturan-benturan kekuatan yang berlawanan itu dapat melumat isi kepala dan berakhir pada kelumpuhan secara menyeluruh. Maka dengan demikian, keduanya semakin berhati-hati meski mereka telah memasuki perkelahian yang semakin sulit dicerna dengan akal sehat.
Getar kekuatan yang berhamburan dari dua tenaga cadangan sanggup menggapai orang-orang yang berada di tepi sungai. Setiap kali angin berhembus dan membawa kekuatan dua orang yang berkelahi itu, maka orang-orang dapat merasakan rasa perih menyusup pada tulang belulang mereka.
Prajurit-prajurit Mataram dan para penggembala pun bergeser lagi lebih jauh. Walau mereka tidak lagi berkubang dalam pertarungan hidup mati, tetapi bahaya lain dapat menyergap mereka secara tiba-tiba. Dan itu adalah belitan kekuatan cadangan orang-orang yang tengah bertempur dapat mengakibatkan kelumpuhan bagi mereka. Bukan lagi kulit yang merasakan angin panas, tetapi juga tulang-tulang yang seolah diremas oleh jari-jari raksasa yang tidak terlihat.
Walaupun lawannya berkelahi dengan tangan kosong, Ki Widura tidak dapat berbuat ceroboh. Ia paham itu! Meski tidak mempunyai rasa gentar terhadap kekuatan Ki Hariman, paman Agung Sedayu tetap memberi pengakuan bahwa lawannya memang luar biasa. Ia melihat cara Ki Hariman menahan gempurannya. Sekutu Ki Tunggul Pitu ini dengan trengginas memapas setiap lecutan Ki Widura, menyambut tiap ledakan, meredam segala hentakan lawannya dengan jari terkepal, bahkan tenaganya mampu menyusup hingga siku Ki Widura. Setiap kali mereka membenturkan kekuatan, maka Ki Widura selalu merasakan kesemutan pada sikunya walau sesaat. Ini menjadi tanda bagi pemangku Perguruan Orang Bercambuk bahwa orang-orang berkepandaian tinggi berada di sekeliling Raden Atmandaru.
“Bila orang-orang dengan kemampuan seperti ini datang meluruk Mataram, tentu bukan perkara mudah,” desah hati Ki Widura, “mereka bukan orang yang berwatak serampangan seperti pengikut Ki Saba Lintang. Mereka memiliki ketenangan, kecerdasan dan kepandaian yang cukup tinggi. Bahkan apabila mereka benar-benar seimbang dengan Agung Sedayu, tentu saja itu tanda bahaya bagi Mataram. Jati Anom atau Tanah Perdikan akan membara. Api yang mungkin lebih besar dari Ki Tambak Wedi atau Tohpati akan mendatangi Mataram.”
Perhatian Ki Widura telah terbelah. Seharusnya ia tidak boleh berbagi perhatian. Ki Hariman adalah pemangsa yang memiliki kesabaran di luar batas kewajaran. Meski ia mengerti bahwa perkelahian secara umum dapat dimenangkan oleh kelompoknya, tetapi Ki Hariman adalah pemburu tulen. Ia bahkan mulai melakukan atau membuat tata gerak yang tidak dapat diduga arah perkembangannya. Dalam waktu itu, ketika Ki Widura tidak lagi berpusat perhatian, ujung tumit Ki Hariman nyaris mematahkan tulang rahang musuhnya.
Meskipun Ki Widura dapat menghindari bahaya tetapi loncatan surutnya menjadi awal petaka baginya. Langkah mundur Ki Widura yang bertujuan menghindari tendangan Ki Hariman, justru semakin membuka pertahanannya.
“Tidak dapat tidak. Ia harus mati!” desis tajam Ki Hariman.
Menurutnya, kematian Ki Widura adalah jalan terbaik untuk memukul mundur para prajurit Mataram yang masih segar bugar. “Mereka pasti melaporkan kematian orang bercambuk ini pada Untara, tapi apa peduliku? Lalu apakah mereka masih punya nyali untuk mengeroyokku dan dua sekutuku? Hanya orang dungu yang akan berlaku seperti itu,” desahnya dalam hati, “kitab Kiai Gringsing telah berada di tanganku dan aku memperoleh gambar kasar tentang kedalaman ilmu orang bercambuk. Agaknya itu sudah cukup buatku untuk menyudahi perkelahian ini.” Ki Hariman telah menentukan pemberhentian terakhir bagi Ki Widura. Maka ia merayap sangat cepat menuju puncak ilmunya.
“Orang bercambuk!” dingin dan ketus menebar dari suara Ki Hariman. “Aku yakin engkau tidak pernah keluar dari pedukuhan kecil ini untuk menguji kedalaman ilmu yang diwariskan oleh Kiai Gringsing. Dan nasibmu memang sangat beruntung saat kau dengan gagah berani mengambilku sebagai lawan.”
“Tetapi,” lanjutnya, “aku bukan orang yang dapat mengampuni kelemahan lawan. Aku belum pernah meninggalkan lawanku dalam keadaan hidup seperti Ki Tunggul Pitu yang membiarkan prajurit tua itu bernapas lebih lama.”
“Aku adalah seorang prajurit, Ki Sanak,” sahut Ki Widura di bawah dentam perkelahian. “Aku telah mengarungi keganasan alam ketika Jipang melepaskan anak panah ke wilayah ini. Bagiku, kematian adalah peralihan dari penyesalan. Dengan kematian, aku akan menebus semua kesalahan.”
“Dungu!” geram Ki Hariman. Ia terperanjat dengan perubahan yang terjadi mendadak dalam olah gerak musuhnya. Tandang Ki Widura meningkat luar biasa. Walaupun kedudukan tidak lagi seimbang, tetapi Ki Widura menunjukkan kegigihan yang tidak terukur. Ia mempertahankan kedudukannya yang terakhir, maka yang terjadi kemudian adalah ujung cambuknya mulai memercikkan api!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *