Sekalipun ia gagal menjaga keseimbangan, Ki Widura tetap bersikap tenang. Bahkan cukup tenang apabila dilihat dari gencarnya serangan Ki Hariman yang mengepungnya dari delapan penjuru angin. Pada waktu itu Ki Widura tidak melihat banyak kesempatan untuk membalas serangan tetapi ketenangannya yang cukup dalam justru menjadikan musuhnya lebih waspada.
“Ia bertarung dengan tenaga seperti arus bawah sungai,” gumam Ki Hariman dalam hatinya.
Demikianlah ketika ujung cambuk Ki Widura meledak di udara, setiap kali itu pula percik api terlontar menyambar Ki Hariman. Kelincahan Ki Widura tidak lagi terlihat, ia hanya bergeser selangkah demi selangkah untuk menghadang gelombang serang musuhnya. Meski bahaya semakin tajam mengancam nyawanya, Ki Hariman seolah bergeming dalam mengatasi serangan balik Ki Widura. Memang tidak ada pilihan bagi Ki Widura selain menyerang. Ia tidak lagi dapat mengandalkan serangan balik atau gerak tipu yang dapat menjebak lawannya. Sepenuhnya Ki Widura, meski tata geraknya semakin terbatas, masih berusaha membalas serangan dengan serangan.
Menyerang adalah pertahanan dan cara mengulur waktu yang terbaik, pikir Ki Widura.
Maka dengan begitu, Ki Hariman tidak dapat mendesaknya lebih jauh atau memberinya kelonggaran, Kedua orang ini sama-sama berusaha menjaga keadaan masing-masing.
“Aku tidak dapat membiarkan perkelahian ini berlangsung semalam suntuk,” kata Ki Hariman pada dirinya sendiri, “tetapi mendesaknya dengna mengikuti caranya berkelahi untuk saat ini agaknya juga sulit dilakukan. Aku akan memaksanya mengikutiku.”
Sekejap kemudian senjata Ki Hariman berupa tombak pendek tiba-tiba meluncur dari bawah lengannya. Senjata yang berukuran kurang lebih sama dengna milik Ki Gede Menoreh itu memancarkan gelombang panas yang tidak dapat diperkirakan. Ketinggian ilmu Ki Hariman mungkin sulit dicari tandingannya, itu tampak dari angin panas yang terdorong keluar dari ujung senjatanya.
Pakaian Ki Widura mendadak terbakar dan robek pada bagian dalam, sayatan memanjang terlihat jelas pada kain di bawah lengannya, ia tersentak!
“Ujung senjata itu masih tiga jengkal dariku, lalu ketajamannya telah menembusku? Luar biasa!” batin Ki Widura walaupun ia masih menyimpan penasaran tentang asal senjata. Ki Widura tidak melihat gerak Ki Hariman saat mengeluarkan senjata tetapi tiba-tiba tombak pendek itu keluar dari bawah lengan kanannya.
Sejenak kemudian rencana Ki Hariman dapat berjalan sesuai kehendaknya. Lecutan cambuk yang menebas mendatar, memotong silang dan sesekali mematuk tajam telah dihadapi oleh putaran tombak yang bergulung-gulung. Ki Hariman begitu tangkas memainkan senjatanya. Angin panas datang bergelombang tiada henti setiap kali ia menggerakkan tombak pendeknya. Udara sekeliling Ki Widura dirasakan olehnya seperti duri yang melayang. Kulit Ki Wdura seperti ditusuk dengan ribuan duri setiap kali ia menerima hembusan angin yang datang dari senjata Ki Hariman.
Panas dan menusuk!
Depan dan belakang!
Kiri dan kanan!

Nyaris tidak ada tempat atau udara yang tidak menyakiti Ki Widura. Ke banyak arah ia bergerak, ke setiap penjuru ia menggeser kaki, di situ selalu ada tembok duri yang menghadang. Ki Widura berusaha keras meningkatkan daya tahan tubuhnya. Ia menahan semua rasa sakit yang mendera kulitnya, namun hal itu membuat serangannya jauh menurun.
“Ki Widura telah jatuh. Ia akan roboh sesaat lagi.” Sabungsari sekilas mengamati lingkar perkelahian yang tidak jauh dari tempatnya berkelahi melawan Ki Tunggul Pitu. Pada saat Sabungsari tengah berpikir keras mencari jalan untuk menyelamatkan Ki Widura, tiba-tiba sekelebat bayangan telah mendahului jalan pikirannya.
Ki Garu Wesi!
Teman seperjalanan Raden Atmandaru ini tiba-tiba datang merangseknya. Lelaki bertubuh sedang dengan rambut tipis tumbuh di dagunya ini memasuki gelanggang tanpa aba-aba. Ki Tunggul Pitu segera memberinya ruang, walau sebelumnya ia tidak suka dengan kemauan Ki Garu Wesi, tetapi ia dapat mengerti alasan temannya itu.
“Tentu saja semakin lama perkelahian ini berlangsung, Untara akan membawa seisi barak untuk meringkus kami semua, dan bila itu terjadi maka dapat dipastikan bahwa kami adalah orang paling bodoh di seluruh tanah Jawa. Kejayaan yang aku impikan akan musnah sebelum waktunya tiba.” Ki Tunggul Pitu tidak keberatan, agaknya seperti itu, bahkan ia berulang melemparkan pasir dengan kakinya pada bagian wajah Sabungsari.
Kelebat bayangan Ki Garu Wesi benar-benar menggiriskan!
Ia berloncatan menyambar, mematuk dan menghujani Sabungsari dengan serangan yang bergelombang seperti badai prahara. Saat itu, di tengah gelanggang, prajurit muda Mataram ini merasa seolah terkungkung di dalam dinding tebal yang bergerak untuk menghimpitnya.
Serangan Ki Garu Wesi menggedor pertahanan Sabungsari dengan cara yang lebih dahsyat dari Ki Tunggul Pitu. Sedangkan di bagian lain, kekuatan ilmu Sabungsari yang telah berhimpun di balik kedua mata seketika berbalik arah. Ki Tunggul Pitu yang menjadi bidikan telah tertutup oleh serangan ganas Ki Garu Wesi. Sulit, sangat sulit apabila Sabungsari memaksakan serangan melalui pandangan mata, sebab pada waktu itu ia harus terus menerus bergerak untuk menghindar, menjauh, atau sesekali melepas serangan balik pada Ki Garu Wesi. Sementara Ki Tunggul Pitu semakin gencar melontarkan pasir dan kerikil melalui kedua kakinya pada Sabungsari.
Benda-benda padat berukuran kecil itu telah berubah menjadi butiran besi yang dapat menembus kulit Sabungsari. Lontaran tenaga cadangan Ki Tunggul Pitu bahkan mampu menembus permukaan cadas batu hitam di tepi sungai. Seruan terkejut terdengar dari tepi sungai ketika hamburan kerikil mengeluarkan suara ledakan saat menyentuh sebongkah batu cadas.
Ledakan yang juga didengar oleh Sabungsari, maka ia kini semakin berhati-hati melawan dua orang berkepandaian tinggi itu.

Di lingkaran lain.
Ki Widura semakin membuktikan kekuatan hatinya. Ia sepenuhnya telah siap menghadapi segala kemungkinan. Ayah Glagah Putih ini sama sekali tidak berusaha menghindari benturan, bahkan sebaliknya, meskipun tidak dapat dikatakan bahwa ia selalu mencoba adu hantam tenaga. Orang yang dulu menjadi kepala prajurit di Sangkal Putung ini berkelahi dengan perhitungan-perhitungan yang cermat. Ditopang pengalaman panjang dan pemahaman yang cukup baik pada jalur ilmu Orang Bercambuk, Ki Widura, untuk sementara waktu, masih mampu menjaga jarak dari keganasan senjata Ki Hariman.
Meskipun pertarungan kian menjadi sengit, tetapi tidak seperti itu yang dirasakan oleh Ki Widura. Ia mengerahkan segenap kekuatan bukan untuk membunuh Ki Hariman. Ia memandang perkelahiannya sebagai jalan bakti untuk Jati Anom, Mataram dan segenap orang di sekelilingnya.

Hal yang berbeda terjadi dalam diri Ki Hariman.
Pengikut Raden Atmandaru ini merasa wajib untuk membunuh Ki Widura. Kematian paman Agung Sedayu akan memudahkan jalan baginya untuk menyelami isi kitab Kiai Gringsing. “Jika orang ini begitu tangguh dan sulit dikalahkan, lalu bagaimana denganku?” pikir Ki Hariman. Ia mempunyai kesimpulan dalam pikirannya, bahwa ilmu Ki Widura bukan sepenuhnya berlandaskan jalur Kiai Gringsing, meski demikian kekuatan yang ditunjukkan benar-benar merupakan milik lapisan orang yang berada di jajaran tinggi.
“Tentu saja murid Kiai Gringsing mempunyai kelengkapan yang lebih baik,” batin Ki Hariman yang semakin gencar dan tajam mengurung Ki Widura.
Ki Hariman bukan orang seperti KI Garu Wesi yang masih memberi kesempatan Ki Panuju untuk bernapas. Ki Hariman telah membekukan hatinya. Gejolak perasaannya hanya dipenuhi cara meningkatkan kepandaian atau ilmunya. Selain itu, tentu saja, ganjaran dan pangkat yang tinggi dari Raden Atmandaru apabila mereka berhasil merebut Mataram dari Panembahan Hanykrawati.
Pertimbangan kemanusiaan atau sedikitnya rasa kasihan telah menghilang dari sanubari Ki Hariman. Pria yang bersih dari kumis dan bulu lainnya ini tidak menampakkan sebagai orang yang kejam. Bahkan setiap orang yang melihatnya akan mengira jika Ki Hariman adalah orang yang mudah bergaul dan ramah. Tidak akan ada orang yang berpikir bila orang ini akan menghabisi lelaki renta seperti Ki Widura, meski dalam gelanggang perkelahian.
Tetapi Ki Widura bukan orang yang biasa menujukkan dirinya untuk dikasihani. Sebaliknya, dalam pertarungan itu, Ki Widura menunjukkan ketinggian harga diri dan martabatnya. Sekalipun kulitnya telah terkoyak, darah telah semburat membasahi pakaiannya dan tenaga yang kian melemah, Ki Widura tetap mampu mempertahankan wibawanya sebagai singa Jati Anom. Tidak banyak kesempatan baginya untuk membalas serangan atau sekedar menghadang ujung tombak Ki Hariman, tetapi lawannya benar-benar menggencarkan serangan-serangan yang dahsyat dengan ragam gerak yang luar biasa.
Ki Widura sekali-kali terpental lalu terjatuh. Namun ia selalu cepat bangkit dan meneruskan perkelahian meski lawannya datang dengan badai yang ganas.

“Semuanya mundur!” gelegar suara yang berbarengan dengan sekelebat bayangan memasuki wilayah sungai. Lelaki itu datang dengan kekuatan yang nyaris tidak terlawan, ketika menghentak senjata untuk melindungi Sabungsari dari tendangan Ki Tunggul Pitu yang mengarah pada dadanya.

“Agung Sedayu!” desis Ki Tunggul Pitu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *