Bagi orang-orang Jati Anom, kedatangan Agung Sedayu adalah kejutan yang menjadi berkah. Mereka mengerti kedudukan pertempuran yang tidak seimbang. Mereka melihat Ki Widura dan Sabungsari mengalami tekanan hebat, bahkan kematian hanya berjarak seujung jari dari leher keduanya. Oleh sebab itu, dada mereka kini serasa lebih lapang untuk menghirup udara malam.
Sedangkan ketiga orang pengikut Raden Atmandaru tidak menunjukkan perubahan pada raut wajah mereka. Kemunculan Agung Sedayu bukan sebuah halangan yang harus dihindari. Walau tersentak karena ujung cambuk Agung Sedayu mendadak muncul lalu berusaha menebas pergelangan kakinya, Ki Tunggul Pitu justru bersorak gembira dalam hatinya.
“Aku sangat senang melihatmu ada di tempat ini, Agung Sedayu,” kata Ki Tunggul Pitu, “tidak ada kebahagiaan lain bagiku selain membuatmu menderita lalu mati perlahan.” Ia menarik mundur serangan tapi mengalihkannya pada lawan yang baru datang, namun Ki Garu Wesi tidak berhenti karena Agung Sedayu. Ia cepat mengambil langkah memutar, lalu menyusup pertahanan Sabungsari yang lemah di bagian kanan. Kepalan tangannya menyentuh bagian tubuh di bawah ketiak. Sabungsari terpental, tubuhnya terlontar, sedikit melayang lalu terkapar dua langkah dari tempatnya semula.

Agung Sedayu tidak dapat membendung hantaman Ki Garu Wesi, karena Ki Tunggul Pitu menghujaninya dengan tendangan memutar yang datang bertubi-tubi. Sekilas Agung Sedayu memandang keadaan Sabungsari. Tapi ia tidak dapat mendekati kawannya itu, Agung Sedayu terhalang oleh derasnya hujan serangan Ki Tunggul Pitu.
Malam menjadi sedikit lebih pekat ketika senapati pasukan khusus ini berada di ambang bimbang.
“Apakah Sabungsari dapat menggerakkan tubuh?” Agung Sedayu bertanya pada dirinya sendiri. Sekilas ia melihat keadaan Sabungsari yang rata dengan aliran sungai. Wajah Sabungsari terbenam! Walau begitu, kemudian ketajaman penglihatan Agung Sedayu menyatakan bahwa dada lurah prajurit jati Anom itu masih bergerak.
“Air akan membuatnya bangkit kembali,” kembali Agung Sedayu bergumam tanpa suara. Tidak membutuhkan wakltu lama untuk menunggu kelanjutan dari harapan Agung Sedayu. Sabungsari terbatuk dan itu pertanda bahwa ia masih hidup.
Bersamaan dengan pengamatannya pada Sabungsari, Agung Sedayu terus menerus memutar cambuk dan embentuk selubung pertahanan yang sangat rapat dan ketat. Seperti air huja yang jatuh menimpa atap, seperti itu pula serangan gencar Ki Tunggul Pitu terpental. Tetapi keadaan itu bukan satu keuntungan bagi AGung Sedayu. Ia harus menimbang keselamatan orang-orang Jati Anom yang berjajar di tepi sungai.
“Apakah engkau bermaksud untuk menuntaskan pertemuan kita di Menoreh, Ki Rangga?” bertanya Ki Tunggul Pitu.
Tapi Agung Sedayu mengabaikan ucapan musuhnya, ia meloncat surut lalu berpaling pada orang-orang Jati Anom dan berkata, “Kalian sebaiknya menjauh dan meninggalkan tempat ini.”
“Ki Rangga,” agak memaksakan diri ketika Ki Panuju menyahutinya, “perkelahian mereka belum selesai. Lagipula keluar dari pertempuran bukan bagian dari keprajuritan.”
“Maaf, Ki Lurah. Saya mengerti tapi sekarang bukan saat yang baik untuk berbeda pendapat,” kata Agung Sedayu menegaskan sikapnya. Kembali ia memandang orang-orang Jati Anom lalu bersuara lantang, “Aku minta kalian meninggalkan tempat ini. Masalah ini bukan sekedar hidup mati Ki Widura maupun Sabungsari. Pulanglah, kembalilah dan Ki Untara akan menjelaskan pada kalian.”

Sebenarnya Ki Panuju setuju dengan keputusan Agung Sedayu, namun demikian, ia juga merasa heran atas perintah mundur tersebut. Dalam pengamatannya, sebenarnya mereka dapat bertahan untuk melawan ketiga orang pengikut Panembahan Tanpa Bayangan. “Jika prajurit yang baru datang bersama Sabungsari dikerahkan lalu ditambah KI Rangga sendiri, maka sebenarnya tidak ada alasan untuk kembali ke barak. Ki Untara sudah pasti akan mengirim bantuan susulan.” Ki Panuju menggerakkan kaki dengan hati berat.
Dan pemikiran Agung Sedayu sudah tentu berbeda dengan Ki Panuju. Pertimbangan Agung Sedayu adalah Ki Widura dan Sabungsari akan dapat menemaninya dan memberi perlawanan seimbang. “Meski kedudukan paman dan Sabungsari berada di bawah telapak kaki seekor gajah, namun kerja sama akan membuat perbedaan,” demikian isi pikiran Agung Sedayu. Maka keselamatan para gembala dan prajurit menjadi perihal utama yang dipikirkannya.
Perhitungan Agung Sedayu tidak benar-benar masak dan ia sangat menyadari keadaan Sabungsari serta Ki Widura. Tetapi ia tidak ada jalan lain yang sanggup mengulur waktu hingga Ki Untara datang ke arena pertempuran.

Sementara itu, Ki Garu Wesi telah melepas ikatannya dengan Ki Widura. Ia telah merasa unggul dan memang Ki Garu Wesi bukan lawan yang sepadan bagi Ki Widura. “Apabila orang ini adalah bagian dari Perguruan Orang Bercambuk, maka sebenarnya ia tidak memalukan. Usia telah menjadi penghalang baginya untuk menjejak pada lapisan lebih tinggi,” batin Ki Garu Wesi. Lantas dengan kehadiran Agung Sedayu, Ki Garu Wesi telah memutuskan untuk membiarkan Ki Widura bergabung bersama keponakannya.
Dari belakang punggung Agung Sedayu, Sabungsari telah bangkit dan kembali menata gerak dasarnya. Ia memberi tanda ada anak buahnya serta penggembala agar lekas meninggalkan wilayah sungai. Sedikit ia mendongak dan sinar rembulan tidak cukup terang untuk menyinari mereka. Setipis cahaya bulan, setipis itu pula hati Sabungsari menghadapkan wajah pada saat itu. Ia dapat mengerti perintah Agung Sedayu yang meminta orang-orang menjauh, dan ia juga tahu kemampuan Agung Sedayu serta Ki Widura. “Tetapi aku tidak cukup waktu untuk mengukur tiga perusak Jati Anom,” kata hati Sabungsari. Sedangkan ia sendiri nyaris roboh oleh Ki Tunggul Pitu.

Malam telah menghamparkan selubungnya, dan di bawah gerimis cahaya bulan tampak enam orang berdiri dalam jarak tak beraturan. Agung Sedayu melihat Ki Widura sedikit jauh terpisah darinya dan Sabungsari. Kedudukan Ki WIdura sangat riskan dan berada di ujung ranting yang rapuh. Apabila benturan terjadi, maka Ki Widura akan mudah dikepung oleh dua orang yang berada di hadapannya, Ki Garu Wesi dan Ki Hariman.
Enam orang itu hanya saling memandang tetapi kekuatan yang tidak kasat mata telah bergelora sangat hebat. Keinginan, semangat dan besarnya hasrat untuk keluar sebagai pemenang benar-benar membakar dada tiga pengikut Raden Atmandaru. Sementara tiga orang yang menjadi lawan mereka berada di ambang keraguan yang nyaris tanpa batas. Ki Widura seperti dapat mendengar suara hati keponakannya dan Sabungsari. Dari jarak yang seukuran selemparan batu kali, Ki Widura bersuara dengan tegas, “Kali ini mungkin kita akan mati tanpa ada saksi, setelah itu mereka dapat membakar tubuh kita. Lalu padukuhan ini yang menjadi sasaran berikutnya. Agung Sedayu, engkau tahu itu!
“Kita akan meninggalkan orang yang sebenarnya sedang menunggu kabar selamat dan mungkin harapan mereka tidak akan pernah terwujud. Sabungsari, Agung Sedayu, tidak ada lorong yang mengerikan melebihi sejengkal jarak dengan kematian. Tidak ada harapan yang lebih baik selain membiarkan matahari kembali terbit setiap hari.”
Ki Widura menutup kata-katanya dengan lecutan cambuk yang berdentum perlahan namun menghantam isi dada Ki Garu Wesi yang berada dalam jarak paling dekat dengannya. Sekejap kemudian perkelahian yang bukan perang tanding telah meledak! Ledakan yang benar-benar keras, sangat keras!

Ibarat perebutan mangsa antar dua kelompok serigala kelaparan. Agung Sedayu menerjang Ki Tunggul Pitu dengan putaran cambuk yang bergulung-gulung. Ia mendatangi lawannya dengan rasa gamang yang telah pecah. Agung Sedayu telah meletakkan Sekar Mirah, Tanah Perdikan dan setiap orang mendapat tempat dalam hatinya pada sebuah relung di hatinya. Oleh sebab itu, ia dapat mengendalikan seluruh tenaga dan melontarkan badai dengan cara yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Pada waktu itu, lecut cambuk Agung Sedayu bahkan tidak mengeluarkan suara sama sekali. Mendesis pun tidak!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *