Walau demikian, Ki Tunggul Pitu sadar bahwa senapati khusus Mataram ini tidak akan ragu memisahkan nyawanya dari badan. Maka, demi hasrat yang telah menduduki puncak langit, Ki Tunggul Pitu menarik dua trisula kembarnya yang tidak lebih panjang dari belati. Orang yang pernah berkelahi dengan Agung Sedayu di Tanah Perdikan ini sebenarnya jarang mengeluarkan senjata, tetapi ia mempunyai kesan khusus terhadap ketinggian ilmu Agung Sedayu.
Trisula kembar yang berwarna kuning kemerahan itu segera meraung-raung dan membungkus sekujur tubuh Ki Tunggul Pitu, melindunginya dari badai yang dikirim dari putaran cambuk Agung Sedayu.
Namun hanya sebentar saja perkelahian itu berlangsung sedemikian hebat. Keadaan Sabungsari dan Ki Widura tidak cukup layak untuk membuat kedudukan menjadi seimbang, atau setidaknya mereka berdua dapat menahan gempuran lebih lama. Kepayahan dan kedodoran adalah dua hal yang dialami oleh dua orang Jati Anom itu. Mereka telah terluka dan nyaris tumbang pada perang tanding sebelumnya, dan kini, dengan kehadiran Agung Sedayu, mereka harus kembali membuktikan diri bahwa Jati Anom tidak mudah ditaklukkan. Tetapi pengalaman serta wawasan Ki Garu Wesi dan Ki Hariman menjadi sebab yang menghalangi tekad dua orang dekat Agung Sedayu itu.

Sebenarnya Agung Sedayu telah membuat rencana khusus dalam menghadapi tiga orang Raden Atmandaru. Senapati khusus Mataram ini menyadari keunggulan yang dimiliki lawan-lawan mereka. “Meski pun aku dapat mengikat salah seorang dari mereka, tetapi dalam lingkar pertempuran yang lebih luas, aku kira ini bukan keadaan yang menguntungkan,” pikir Agung Sedayu ketika ia memerintahkan orang-orang Jati Anom untuk mundur.
Agung Sedayu pun mengakui kesalahannya atau kekeliruan kecil yang ternyata membawa akibat berbahaya. Ia bukan orang yang ceroboh namun keputusannya untuk mengikat Ki Tunggul Pitu dalam perkelahian satu lawan satu telah menyulitkan Ki Widura dan Sabungsari. Ia harus membenahi keadaan agar siasatnya dapat berjalan sesuai rencana.
Dengan demikian Agung Sedayu semakin meningkatkan serangan. Lebih gencar, lebih tajam dan berkekuatan penuh! Ia berusaha mengarahkan Ki Tunggul Pitu lebih dekat dengan Sabungsari. Maka perubahan pun terjadi. Agung Sedayu menggeser telapak kakinya sesuai susunan yang pernah dilihatnya dalam gua ketika ia mendapati lukisan tentang jalur ilmu Ki Sadewa. Peralihan ini membuat Ki Tunggul Pitu harus menyesuaikan diri. Sejauh pengalamannya dalam olah kanuragan, Ki Tunggul Pitu harus mengakui bahwa kisaran kaki Agung Sedayu seolah tidak seimbang dengan putaran cambuknya.

“Ini bukan olah gerak yang tidak beraturan. Senapati ini bukan orang gila yang berjalan semaunya sendiri. Tetapi…” kata Ki Tunggul Pitu dalam benaknya, “benarkah ia memang sengaja melakukan sesuatu yang tidak seimbang. Tidak, bukan semacam itu. Tetapi…hey, ilmu apakah ini?”
Ki Tunggul Pitu terkejut ketika Agung Sedayu membelakanginya namun ujung cambuk justru seolah mempunyai mata dan berusaha mematuk keningnya. Yang terjadi sebenarnya adalah serangan Agung Sedayu tiba-tiba berubah seolah menjadi alur serangan yang kacau. Ketika ia menghadapkan punggung pada Ki Tunggul Pitu, lecut cambuknya mendadak melesat dari sela kedua kaki dan membentur pertahanan lawannya. Kadang kala serangan cambuk datang dari atas kepala Agung Sedayu pada sat ia menghadapkan tubuh ke samping. Maka dengan demikian Ki Tunggul Pitu benar-benar dikacaukan oleh sikap tubuh lawannya yang seolah tidak sejalan dengan setiap serangan yang dilancarkan.
“Ini ilmu iblis!” geram Ki Tunggul Pitu. “Bagaimana ia dapat melepas serangan sedangkan ia tidak melihat sama sekali?”
Bila diamati dan perkelahian mereka tergelar di atas hamparan pasir, maka telapak kaki senapati pasukan khusus Mataram ini seakan-akan sedang mengukir tulisan atau huruf. Kedua kaki Agung Sedayu kadang berputar satu lingkaran penuh lalu menyilang, ada kalanya satu kaki tiba-tiba memotong bidang yang telah ia lukis di dasar sungai dangkal itu. Namun karena pertarungan dahsyat itu terjadi di sungai dengan kedalaman sebatas mata kaki, maka setiap kisaran gerak kaki Agung Sedayu akan lenyap oleh aliran air.
Dan begitulah Agung Sedayu. Ia bergerak ke kiri namun ujung cambuknya berputar lalu menghantam melalui sisi sebaliknya. Ketika ia meloncat surut, Agung Sedayu dengan tangkas memindahkan tangkai cambuk ke tangan kiri lalu memukul pertahanan sebelah kiri Ki Tunggul Pitu. Pada saat ia menerjang, justru Agung Sedayu menjadikan tangkai cambuk sebagai ujung yang dilecutkan! Peralihan senjata, pergeseran kaki dan perubahan tata serangan yang ia lakukan, sungguh, membuat Ki Tunggul Pitu menjadi gelisah. Setiap upayanya melepaskan diri dari cengkeraman Agung Sedayu selalu menemui batu cadas. Setiap arah yang ia tuju maka selalu saja Agung Sedayu tiba-tiba berada di hadapannya. Bagi Ki Tunggul Pitu, pada saat itu, Agung Sedayu adalah peranakan dedemit yang mampu menggandakan wujud lebih dari sepuluh orang! Lalu tanpa disadari olehnya, Ki Tunggul Pitu telah berada dalam kendali Agung Sedayu. Ia semakin dekat ke arah lingkaran perkelahian Sabungsari yang semakin tidak seimbang. “Aku sedang bertarung dengan siluman yang menunggu sungai ini!” geram Ki Tunggul Pitu ketika ia berulang-ulang menemui jalan buntu.

Ki Tunggul Pitu semula mengira bahwa kekuatannya setara dengan Agung Sedayu, dan pikiran seperti itu muncul dari pertemuannya pertama di rumah musuhnya itu, di Menoreh. Sedangkan pada malam yang direncanakan untuk menghabisi Sabungsari, ia seolah sedang berhadapan dengan sosok tidak dikenal yang mengambil wujud Agung Sedayu. Siluman? Setan? Dedemit atau genderuwo? Semua gelap baginya. Maka Ki Tunggul Pitu merasa bahwasanya ia harus membuat penilaian baru, karena senapati Mataram itu berkelahi dengan cara yang berbeda. Kekayaan unsur gerak dari gabungan jalur-jalur ilmu yang ada dalam diri Agung Sedayu telah menjadikan pertarungan kian mendebarkan.
Maka Ki Tunggul Pitu benar-benar mengerahkan segala daya dan wawasannya. Ia tidak berkelahi seperti seekor singa buas yang lapar, tetapi sebuah pertahanan yang luar biasa tengah diperagakan olehnya. Namun demikian, sekalipun Ki Tunggul Pitu masih dapat menjaga tubuhnya dari ujung cambuk Agung Sedayu, ia harus menahan tekanan berat serangan Agung Sedayu. Tidak ada jalan lain baginya selain menggeser langkah ke arah Sabungsari.

Dalam waktu itu, telapak kaki Agung Sedayu seakan lekat karena terhisap oleh daya kekuatan yang tidak kasat mata dan berasal dari balik dasar sungai. Tapak kakinya tidak sekalipun terangkat dasar, apalagi hingga terlihat keluar dari permukaan sungai. Walau begitu susunan langkahnya benar-benar menyudutkan lawannya. Agung Sedayu seolah mengerti jalan pikiran musuhnya sehingga ia dapat menutup semua jalur keluar dari tekanan.
“Inikah puncak isi kitab itu?” gumam Ki Tunggul Pitu dalam hatinya. Lalu ia membantahnya sendiri karena nalar Ki Tunggul Pitu masih menuntut hentak tenaga yang lebih kuat dan dahsyat.
Sabungsari telah menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan Agung Sedayu yang memperlihatkan gelagat akan memasuki lingkar perkelahiannya. Sabungsari dapat melihat pergeseran itu meski ia dalam keadaan yang jauh dari kata menguntungkan. Bahkan sangat jauh karena ia berulang-ulang menyilangkan tangan di depan dada untuk menghalangi kaki musuhnya yang menjulur sangat cepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *