“Perkelahian ini akan berakhir tidak lama lagi.” Pikiran Sabungsari telah mendahului hasil yang belum terlihat. Ia dapat membuat perkiraan itu setelah mengetahui kedudukan Ki Widura yang juga sama payah dengannya. “Apapun rencana Ki Rangga, tentu itu bukan hal mudah untuk melewati ini semua. Ketiga orang asing ini seakan tidak mengalami penurunan tenaga atau kemampuan.”
Sabungsari paham dengan keadaan yang tengah berlangsung. Sekuat apapun Agung Sedayu, setajam apapun daya pikirnya, maka keduanya seolah belum cukup untuk membendung gempuran tiga orang pengikut Raden Atmandaru. Malah bisa jadi, aku dan mereka berdua akan menghabiskan malam di sini. Atau bisa juga akhir napas pun akan terjadi di tempat ini, pikir Sabungsari.
Sebuah hantaman keras datang melanda Sabungsari. Tubuhnya terpental, melayang ke samping dan itu justru membuatnya semakin dekat dengan Agung Sedayu.

Sedangkan Ki Garu Wesi sendiri ketika melihat lawannya terapung di udara, seketika gejolaknya untuk membunuh Sabungsari kian menggelepar. Sorot mata buas memancar dahsyat darinya. Di dalam pikirannya, adalah keadaan terbaik mengakhiri hidup Sabungsari sebelum senapati muda ini menyentuh tanah, sebelum kembali bangkit dan melakukan serangan balik atau membangun pertahanan, sebelum semua orang paham dengan keadaan yang terjadi.
“Kematian yang tidak terduga karena serangan kecil selalu menjadi kejutan yang mematikan!” kata Ki Garu Wesi dalam hati. Ia mengabaikan kata curang yang mungkin ditujukan padanya. Yang pasti, pada saat itu, telah datang peluang baginya untuk membunuh keturunan Ki Gede Telengan. Kebanggaan tinggi, penghormatan dari orang lain, dan keagungan akan tersemat di pundaknya apabila banyak orang mendengar bahwa Ki Garu Wesi mengakhiri perlawanan seseorang yang sanggup melumat batu cadas melalui sorot mata.
Seringai bengis terurai dari bibir Ki Garu Wesi. Ia mengikuti angan-angannya sendiri!
Seketika dua kaki Ki Garu Wesi menjejak kuat-kuat. Ia meluncur sangat deras melebih kecepatan burung sikatan. Bila orang biasa memandang pergerakan itu maka tubuh Ki Garu Wesi seolah-olah menghilang dalam selimut malam. Pakaian lurik yang dikenakan olehnya telah berbalur warna hitam yang pekat.

Dalam waktu itu, Agung Sedayu telah berada lebih dekat. Dua atau sekali loncatan panjang akan menempatkan dirinya berada di tempat jatuh Sabungsari. Namun kecepatan Ki Garu Wesi benar-benar luar biasa. Tidak ada waktu untuk membuat pertimbangan atau perhitungan, yang ada hanya Sabungsari akan terbunuh atau selamat. Itu saja.
Apabila Agung Sedayu melepaskan lawannya dan memilih untuk menyongsong Ki Garu Wesi , maka Ki Tunggul Pitu berada dalam keadaan bebas. Dan itu akan membahayakan dirinya karena trisula kembar milik musuhnya masih meraung dahsyat meski tidak lagi bebas untuk menyerang.
“Ujung senjata orang ini terlalu dekat denganku. Ia cukup cerdas dengan selalu menghindari benturan senjata,” gumam Agung Sedayu. Kehebatan ilmu Ki Tunggul Pitu belum berkurang walau pun ia terdesak dan berada di bawah tekanan dahsyat Agung Sedayu. Ujung trisula sangat kuat melepaskan udara panas dan jika suami Sekar Mirah ini tidak mempunyai ilmu kebal yang tinggi, tentu kulit Agung Sedayu akan melepuh dan silang menyilang jalur merah akan memenuhi tubuhnya. Pancaran ilmu yang lebih kuat dan lebih buas daripada yang dimiliki Ki Ajar Tal Pitu. Walaupun cambuk senapati Mataram ini belum dapat menggoyang pertahanan Ki Tunggul Pitu, namun Agung Sedayu mengerti bahwa ada kematian apabila ia membenturkan senjatanya. Trisula Ki Tunggul Pitu dapat memanaskan helai cambuknya, dan jika itu terjadi, maka satu trisula lainnya akan menggedor ilmu kebalnya secara langsung.
Tetapi pilihan lainnya tidak juga menjadi jalan keluar yang menenangkan. Nyawa Sabungsari dapat dipastikan akan melayang dan terbang di antara kabut malam.
Agung Sedayu telah menentukan cara untuk mengakhiri perkelahian. Ia telah merancang dengan singkat untuk gelar yang diperkirakan dapat menghambat pergerakan tiga orang pengikut Raden Atmandaru. “Ini harus dipaksakan!” tekad Agung Sedayu.
Di luar dugaan, di luar perkiraan atau perhitungan orang yang mengenal Agung Sedayu, senapati pasukan khusus ini melontarkan cambuknya, ia membidik Ki Tunggul Pitu dengan cambuk yang tiba-tiba menjadi kaku dan kokoh!

“Luar biasa!” desis Ki Tunggul Pitu. “Cambuk itu dapat berubah menjadi sebatang tombak! Orang ini sangat mengerikan!”
Kekuatan tenaga cadangan Agung Sedayu telah mengubah cambuknya yang bersifat lemas menjadi kaku seperti tombak pendek Ki Gede Menoreh. Sedikit orang yang dapat melakukan perubahan seperti itu. Selain Pangeran Benawa, Agung Sedayu adalah orang kedua di Mataram yang memiliki kekuatan sangat mengerikan. Ki Juru Martani tidak pernah dikabarkan mempunyai ilmu semacam itu, begitu pula Panembahan Senapati. Jika ada orang yang mendahului mereka berdua, mungkin hanya Jaka Tingkir yang mampu membuat daun menjadi kaku, sekaku keping tembaga yang terlontar sebagai senjata rahasia.
Maka Ki Tunggul Pitu segera memapas senjata Agung Sedayu. Ia tidak mempunyai waktu untuk mengelak atau menjauh. Kedudukannya tidak memungkinkan untuk bergerak lebih lincah. Benturan keras tidak terhindarkan lagi.
Sungguh luar biasa!
Gelegar ledakan menggema dahsyat, mengguncang isi dada dan bahkan seperti menghantam dan meremas jantung orang yang mendengarnya. Air sungai memuncrat tinggi, lebih tinggi dari tubuh Ki Tunggul Pitu dan air tidak lagi terasa dingin. Percikan air tiba-tiba menjadi sangat panas ketika menyentuh kulit lawan Agung Sedayu.
“Bukan main,” desisnya. “Air ini dapat membuat kulit orang biasa melepuh!” Ki Tunggul Pitu terdorong dua atau tiga langkah surut. Kembali ia membelalakkan mata!
Hampir bersamaan dengan benturan senjatanya dengan cambuk milik Agung Sedayu, Ki Garu Wesi pun menemui dinding tebal. Sekujur tubuh Ki Garu Wesi telah dilambari tenaga cadangan yang luar biasa. Kecepatan terbangnya bahkan mampu menyibak permukaan sungai dan seharusnya Sabungsari mati terbunuh meski telapak tangan Ki Garu Wesi belum menggapainya.
Adalah Agung Sedayu yang menyongsong serangan Ki Garu Wesi dengan telapak tangan terbuka. Ilmu yang dilatihnya di bawah pengawasan Ki Jagaraga dan Ki Gede Menoreh akhirnya menemui tantangan yang sangat berat.
Yang terjadi sebelum itu adalah cambuk Agung Sedayu meluncur dengan kecepatan yang sulit dinalar, menembus udara dengan raungan suara yang sangat garang, suara yang melebihi dengung seribu lebah yang keluar dari sarang. Gelombang suara yang dihasilkannya telah lebih dahulu menghantam Ki Tunggul Pitu hingga kedua lututnya bergetar!
“Wong edan!”
Ki Tunggul Pitu merasakan dadanya seperti menerima batu yang terlepas dari pelontarnya, dan dalam waktu bersamaan juga harus menahan berat tubuhnya yang seolah meningkat berlipat-lipat. Itu terjadi karena tenaga cadangan Agung Sedayu begitu dahsyat memancar dari senjatanya.
“Jika ini adalah angin dari tenaganya, lalu bagaimana dengan kekuatan inti dari kegilaan yang dimilikinya?” Ki Tunggul Pitu membuat perhitungan singkat, lebih cepat dari mata mengerjap, ia memilih menjatuhkan diri ke samping, lalu melepaskan satu trisula untuk membelokkan arah senjata Agung Sedayu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *