Jejak di Balik Kabut

Jejak di Balik Kabut 6 – Usaha Menghentikan Keranda Terbang

“Tidak,” sahut Ki Pituhu, “tentu ada yang berkhianat di antara orang-orang kita. Pada saatnya kita akan mengetahuinya. Tetapi sekarang, kita akan membabat mereka seperti membabat batang ilalang.” suara Ki Pituhu itu pun meninggi, “keinginan kakang Kebo Lorog akan terlaksana. Bukankah kakang ingin membantai mereka?”

Kebo Lorog pun menggeram. Sementara itu, orang-orang yang menimbun barang-barang hasil kejahatan yang disembunyikan itu sudah hampir selesai. Namun dalam pada itu, orang-orang padukuhan memang telah mengepung kuburan itu. Ki Bekel yang semula berada di tempat keramaian bersama beberapa orang anak muda yang berpakaian serba hitam, telah berada di tempat itu pula. 

Dalam ketegangan yang mencengkam, terdengar suara Adeg Panatas menggetarkan udara malam yang dingin, “Kebo Lorog. Kau tidak mempunyai kesempatan lagi. Menyerahlah. Kau dan orang-orangmu sudah dikepung.”

“Siapa yang telah mencoba untuk membunuh diri disini?” geram Kebo Lorog. “Aku datang bersama banyak orang. Jauh lebih banyak dari orang-orangmu.” “Jika kau ingin membunuh diri, jangan kau bawa orang-orang yang tidak bersalah. Biarlah mereka pergi sebelum mereka terbujur mati di kuburan ini.” “Kami datang untuk menangkapmu. Menghentikan petualanganmu. Namamu yang menakutkan itu harus berakhir di sini.”

“Katakan, siapa kau. Kenapa kau datang dan memperalat orang-orang padukuhan yang dungu itu? Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan dan dengan siapa mereka berhadapan.”

“Kami sadar sepenuhnya terhadap tugas kami kali ini. Selama ini kami dengan hati-hati mengamati permainan keranda terbangmu yang menarik itu. Orang-orang beberapa padukuhan yang lain telah benar-benar dicengkam ketakutan. Karena itu, sudah waktunya permainan kasarmu itu dihentikan.”

“Siapa kau?” teriak Kebo Lorog. Suaranya menggeletar mengguncang dedaunan. Gemanya terdengar susulmenyusul bersahut-sahutan. Jantung orang-orang padukuhan yang mengepung kuburan itu telah tergetar pula. Teriakan Kebo Lorog itu terdengar seperti panggilan maut dari lubang-lubang kubur yang bertebaran di kuburan itu.

Tetapi terdengar Adeg  Panatas tertawa pendek. Katanya, “Kebo Lorog. Kau ingin menakut-nakuti kami?”

“Kau belum menjawab. Siapakah kau?”

“Namaku Adeg Panatas. Aku juga penghuni padukuhan itu. Memang sudah agak lama aku pergi. Tetapi sekarang aku sudah kembali.”

“Kau memang berani. Kau sebut namamu yang tidak akan pernah aku lupakan.”

“Kenanglah namaku. Jika kau sempat hidup untuk waktu yang lebih panjang, aku berharap bahwa kita akan bertemu lagi.” Kebo Lorog menggeram.

Sementara Adeg Panatas berkata selanjutnya, “Kebo Lorog. Kenapa kau tidak mempertimbangkan kemungkinan yang lebih baik? Menyerah, misalnya.”

“Anak iblis kau!” Ki Pituhu berteriak, “kau harus mati. Tetapi kau akan menjadi orang terakhir yang kami bantai malam ini agar kau sempat melihat bagaimana tetangga-tetanggamu mati sia sia di kuburan Ini.”

Adeg Panatas tertegun sejenak ketika ia mendengar suara yang lain. Tetapi Adeg Panatas yakin, bahwa orang pertama itulah yang bernama Kebo Lorog. “Siapa pula kau ini Ki Sanak?” bertanya Adeg Panatas.

“Persetan dengan pertanyaan itu. Tetapi bersiaplah. Aku akan melumpuhkanmu dan memberi kesempatan kepadamu melihat korban kesombonganmu itu.”

“Aku atau kau yang akan menyesali kejadian ini.”

“Cukup!” bentak Kebo Lorog, “Bersiaplah. Kami akan mulai membantai orang-orang dungu itu.”

Adeg Panatas pun segera memberi isyarat kepada Ki Jagabaya, agar para bebahu segera disiapkan. Mereka akan menebar dan mempimpin kelompok-kelompok laki-laki dan anak-anak muda dari padukuhan. Bahkan ada di antara mereka bekas prajurit yang sudah terbiasa bermain dengan senjata pula. Ki Jagabaya yang tanggap akan isyarat itu pun segera menghubungi para pebahu untuk segera mempersiapkan diri.

Di antara mereka yang mengepung kuburan itu adalah Paksi Pamekas. Ia telah pernah berada di antara anak-anak muda padukuhan yang telah dikenalnya dengan baik. Selama ia berada di padukuhan itu dan selama Adeg Panalas mempersiapkan perlawanan lerhadap Kebo Lorog, maka Paksi sudah berada di antara anak-anak mudanya. Tetapi Paksi sama sekali tidak menunjukkan kelebihannya. Ia berusaha untuk berada pada tataran yang sejajar dengan anak-anak muda padukhan itu.

Malam itu, Paksi menjadi gelisah. Seorang di antara para perampok itu sebelumnya telah menemuinya dan bahkan berusaha untuk membunuhnya. Orang itu mengatakan kepadanya, bahwa ia sudah mengetahui bahwa Paksi telah melihat rahasia yang tersembunyi di kuburan ini. Tetapi nampaknya para perampok itu masih juga melakukan kesalahan, sehingga mereka telah terkepung oleh orang-orang padukuhan. “Atau yang mereka lakukan itu justru sebuah jebakan?” pertanyaan itu telah mengganggu perasaan Paksi. Jika benar para perampok itu telah menjebak Ki Bekel dan Adeg Panatas serta orang-orang padukuhan, maka keadaannya akan menjadi sangat buruk, karena para perampok itu tidak lagi dapat mengendalikan diri. Paksi memang menyesal, kenapa ia tidak berterus-terang bahwa seorang di antara para perampok itu telah menyadari bahwa rahasia mereka telah diketahui. Tetapi menilik sikap dan pembicaraan antara Adeg Panatas dan Kebo Lorog, agaknya tidak tersirat, bahwa Kebo Lorog telah mengetahui bahwa kemungkinan seperti itu akan terjadi. Tetapi Paksi tidak dapat sekedar berangan-angan.

Malam itu orang-orang padukuhan yang dipimpin langsung oleh Ki Bekel dan adiknya, Adeg Panatas telah berhadapan dengan para perampok yang seorang di antaranya adalah Kebo Lorog itu sendiri.

Dalam pada itu maka Ki Jagabaya pun telah memerintahkan para bebahu untuk bergerak. Anak-anak muda yang berada disisi lain telah mulai memasuki kuburan yang gelap. Mereka berjalan di antara batu-batu nisan yang terbujur membekuk Beberapa ekor burung malam yang terkejut berterbangan menggoyang dedaunan.

Kebo Lorog pun kemudian telah berteriak, “Jika orang-orang dungu itu habis kita bantai, bukan salah kita. Merekalah yang datang menyerahkan leher mereka. Karena itu, jangan ragu-ragu.”

Perintah itu tidak perlu diulangi. Mereka sudah merasa terlalu lama menunggu. Darah mereka telah mendidih didalam jantung. Apalagi mereka mengetahui bahwa orang-orang yang mengepung kuburan itu sudah mulai bergerak masuk. Jumlah para perampok itu memang tidak terlalu banyak. Tetapi mereka adalah orang-orang yang garang yang sudah terlalu akrab dengan senjata, darah dan kematian. Sambil berloncatan, para perampok itu telah berteriak-teriak dan mengumpat-umpat. Suaranya menggelepar menggetarkan batu-batu nisan. Jantung orang-orang padukuhan itu memang tergetar. Teriakan-teriakan itu membuat mereka menjadi ngeri.

Untuk beberapa saat, beberapa orang anak muda justru bagaikan telah membeku. Tetapi beberapa orang bekas prajurit yang ada di antara mereka sama sekali tidak menjadi gentar. Meskipun mereka telah mengundurkan diri karena umur mereka telah melampaui batas umur seorang prajurit, namun bagi mereka pengabdian tidak terhenti sampai batas yang ditentukan itu.

Menghentikan kejahatan adalah satu di antara tugas yang diembannya tanpa mengenal batas waktu. Seorang di antara bekas prajurit itu sempat berteriak, “Sayang bahwa selama ini aku tidak percaya terhadap keranda terbang itu, sehingga aku tidak pernah berminat untuk membuktikannya.”

“Belum terlambat,” sahut kawannya, juga bekas seorang prajurit, “kita masih berkesempatan untuk menghentikan mereka.”

Sejenak kemudian, maka pertempuran pun tidak dapat dihindarkan. Seperti yang telah dipesankan kepada anakanak muda padukuhan, maka mereka tidak bertempur seorang-seorang. Mereka harus berada didalam kelompokkelompok kecil untuk melawan orang-orang yang memiliki pengalaman yang jauh lebih luas dalam olah senjata dan bahkan seolah-olah sudah tidak berjantung lagi. 

Adeg Panatas ternyata memenuhi janjinya. Dengan sigap ia meloncat langsung menghadapi Kebo Lorog. Dengan sadar, Adeg Panatas ingin menguji kemampuan orang yang namanya sangat ditakuti orang itu. Ki Pituhu yang sudah siap untuk bertempur pun telah menyerangnya. Sementara Ki Jagabaya tidak menunggu lagi. Ia pun segera berhadapan dengan orang yang bertubuh tinggi tegap, pengiring Kebo Lorog ketika ia datang ke rumah Ki Pituhu. Namun Ki Jagabaya itu dengan segera terdesak oleh lawannya. Tetapi seorang bebahu yang melihat kesulitan itu segera melibatkan dirinya membantu Ki Jagabaya, sehingga dengan demikian, orang itu harus bertempur melawan dua orang. Tetapi orang itu benar-benar orang yang tangguh. Meskipun Ki Jagabaya bertempur bersama seorang bebahu, ternyata bahwa keduanya masih mengalami kesulitan. Keduanya pun telah terdesak pula. Untunglah bahwa seorang bebahu yang lain melihatnya. Dengan sigap ia pun menempatkan dirinya dalam lingkaran pertempuran itu. Dengan demikian, bertiga Ki Jagabaya mulai dapat menunjukkan perlawanan yang berarti.

Sementara itu, Ki Bekel pun telah bertempur dengan sengitnya. Ki Bekel yang dimasa mudanya banyak menempuh pengembaraan serta menimba ilmu itu, telah mengejutkan Ki Pituhu. Ia tidak mengira bahwa seorang dari padukuhan itu ternyata memiliki ilmu yang mapan dan sanggup mengimbangi ilmunya. Dengan demikian, maka Ki Pituhu harus mengerahkan kemampuannya untuk menundukkan lawannya. Tetapi Ki Bekel pun telah meningkatkan kemampuannya pula, sehingga tidak mudah bagi Ki Pituhu untuk mengalahkannya.

Sementara itu, hampir di segala sudut kuburan telah terjadi pertempuran. Orang-orang padukuhan yang hampir tidak mempunyai pengalaman bertempur memang agak canggung ketika mereka harus benar-benar mengayunkan senjata mereka. Sementara itu para perampok menjadi sangat marah karena mereka telah terjebak. Namun lawan terlalu banyak. Orang-orang padukuhan itu bermunculan dari balik nisan. Mereka mengacu-acukan senjata mereka. Seakan-akan di setiap langkah, para perampok itu menjumpai ujung senjata yang teracu ke dadanya. Karena itu, meskipun mereka mempunyai pengalaman yang luas, namun menghadapi lawan yang berlipat ganda, rasa-rasanya mereka menjadi berdebar-debar pula.

Dalam pada itu, Kebo Lorog yang marah telah berhadapan dengan Adeg Panatas, adik Ki Bekel yang belum lama kembali dari perantauan, berguru untuk mendapatkan ilmu yang tinggi. Kebo Lorog memang menjadi heran. Bahwa di sebuah padukuhan ia akan menjumpai seorang yang berilmu tinggi. Bahkan dapat mengimbanginya. Karena itu, maka Kebo Lorog itu pun telah menghentakkan ilmunya untuk memaksa lawannya dengan cepat dapat dikalahkannya. Kebo Lorog yang menyadari lawan demikian banyaknya, berusaha untuk tidak terikat dengan seorang lawan saja. Ia Ingin menghancurkan kalau tidak dalam arti kewadagan, keberanian orang-orang padukuhan itu. Dengan demikian, maka mereka akan menjadi ketakutan. Tetapi tidak sia-sia Adeg Panatas berguru bertahun-tahun. Ternyata Kebo Lorog yang sangat ditakuti itu masih dalam tataran yang mungkin dapat diimbanginya.

Dalam pada itu, Paksi dengan sengaja tidak bertempur dalam kelompok-kelompok kecil bersama anak-anak muda itu. Sejak semula Paksi memang tidak bergabung kedalam kelompok yang mana pun. Meskipun ia berada di lingkungan anak-anak yang pada waktu itu sedang mempersiapkan diri untuk melawan para perampok, namun karena Paksi bukan anak muda dari padukuhan itu, nampaknya Paksi mendapat keleluasaan untuk memilih, apakah ia akan bertempur bersama anak-anak muda itu atau tidak.

 Namun, sebenarnyalah Paksi tidak berdiam diri. Meskipun ia berdiri di tempat yang terpisah, di sela-sela beberapa batang pohon kamboja, ia telah bertempur melawan para parampok itu. Seorang perampok yang bertubuh pendek, tetapi tubuhnya nampak kekar dan kuat, harus dilawannya tanpa bantuan orang lain. Tetapi Paksi Pumekas itu telah membawa bekal dari rumahnya, Ia adalah salah seorang murid terbaik dalam perguruannya. Selebihnya, Paksi termasuk anak muda yang disegani di antara kawan-kawannya dalam setiap permainan yang keras. Kakinya yang sering dipergunakannya untuk binten, seakan-akan telah mengeras. Sementara kebiasaannya bermain gulat di pasir tepian membuat tubuhnya menjadi lentur. Karena itu, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama, maka justru Paksi telah melumpuhkan lawannya. Ketika kakinya yang terayun deras sekali, tepat mengenai ulu hati lawannya, maka lawannya itu pun segera jatuh tersungkur sambil mengerang kesakitan. Paksi sudah siap untuk membunuh orang itu. Tetapi ia menjadi ragu-ragu. Ketika terdengar orang itu merintih, Paksi justru telah meninggalkannya. Namun dalam pada itu, seorang yang lain telah meloncat menghadapinya. Paksi tidak begitu menghiraukan, siapakah yang berdiri di hadapannya. Yang penting baginya, ia harus melumpuhkannya. Sejenak kemudian, keduanya telah terlibat dalam perkelahian yang sengit. Namun dalam pada itu, Paksi pun tertegun-tegun menghadapi lawannya yang kedua itu. Beberapa kali serangannya telah gagal. Lawannya itu seakan-akan tahu benar, apa yang akan dilakukannya. Bahkan kemudian Paksi menjadi semakin heran, bahwa unsur-unsur gerak lawannya itu kadang-kadang memiliki ciri dan watak yang sama dengan unsur geraknya sendiri.

 “Aneh” berkata Paksi di dalam hatinya. Tetapi ia tidak mau terpengaruh. Paksi menduga, bahwa secara kebetulan, orang itu menguasai unsur-unsur gerak yang sama dengan unsur gerak pada ilmunya. Namun semakin lama, maka Paksi semakin mengenali lawannya. Matanya yang sudah terbiasa di dalam kegelapan di sela-sela batang kamboja itu mulai mengenali wajah lawannya. Orang itu adalah orang yang cacat.yang pernah bertempur melawannya di bulak persawahan. Yang berkata kepadanya, bahwa ia sudah mengerti bahwa Paksi sudah melihat rahasia yang disembunyikan oleh para perampok itu.

Agaknya orang itu pun menyadari, bahwa Paksi mulai mengenalinya. Karena itu, maka orang itu pun berkata, “Kita bertemu lagi anak muda. Kau termasuk orang yang sangat berbahaya, karena kau adalah orang yang pertama kali mengetahui rahasia kami.”

“Tetapi kenapa Kebo Lorog tidak mengetahui, bahwa ia bersama para pengikutnya telah terjebak disini, termasuk kau?” Orang itu tertawa perlahan-lahan. Kakinya berloncatan di antara batu-batu nisan. Dengan garangnya orang itu justru telah mendesak Paksi sambil berkata, “Kami sama sekali tidak merasa terjebak, karena kami sudah mengetahui, bahwa kalian berusaha menjebak kami malam ini.”

Kisah Terkait

Jejak di Balik Kabut 8 – Penyelesaian Masalah Perampokan Keranda Terbang

kibanjarasman

Jejak di Balik Kabut 4 (Jilid 1)

kibanjarasman

Jejak di Balik Kabut 1

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.