KKG – Jati Anom Obong 5-7

Sayoga yang menyimpan karunia terpendam dalam dirinya segera menyesuaikan diri dengan gelombang serang berbahaya dari Ki Sarjuma serta Ki Malawi. Walaupun ia tidak memiliki ilmu selain Serat Waja dan hanya menerima turunan dari perguruan ayahnya, tetapi Sayoga mampu mengembangkan dan menjadikan keduanya berpadu. Gerakan Sayoga menjadi sulit diduga sekalipun pijak kakinya masih belum beranjak dari dasar gerakan perguruan Ki Wijil.

Langit kemudian mencurahkan air yang cukup deras. Pertarungan yang tidak sepadan pun berlangsung semakin sengit. Ciprat lumpur sesekali berubah menjadi senjata rahasia di tangan Ki Malawi yang terkadang memukulkan senjatanya ke permukaan tanah yang becek. Setiap percik lumpur mendatangkan rasa pedih setiap kali mengenai bagian tubuh Sayoga. Menyadari bahaya yang mengancam dirinya, Sayoga bergeser mendekati bagian yang pepohonan tumbuh lebih rapat. Ia menggunakan batang pohon sebagai tempat untuk mengurangi tekanan dua orang lawannya.

“Berasal darimanakah ilmu yang kau miliki, anak muda?” seringai bengis terlihat dari wajah Ki Sarjuma yang memburu Sayoga di sela pepohonan.

“Mata yang tak pernah terbuka telah nyata menjadi beban bagimu, Ki Sanak!” sahut Sayoga seraya melempar ranting pada lawannya.

“Aku belum pernah menemui seorang pun yang seusia dirimu dari perguruan besar tapi mampu menahanku sejauh ini,” tukas Ki Sarjuma tanpa mengurangi terjangan. Gelombang serang Ki Sarjuma yang begitu hebat sebenarnya berada di atas kemampuan Sayoga untuk mengimbanginya. Tetapi kecerdasan Sayoga yang mampu menggeser lingkar pertarungan ke bagian yang rapat pepohonan teah menempatkan satu kesulitan tersendiri bagi Ki Sarjuma.

“Benar katamu, Ki Sarjuma!” sahut Ki Malawi yang kemudian membentak nyaring mengulurkan rantai bermata trisula pada Sayoga. “Anak ini ternyata harus dibinasakan lebih cepat.”

Sayoga tertawa pendek. Ia melenting dan berloncatan dari dahan ke dahan, dari ranting ke ranting dan tak jarang ia menyusup di antara sela pepohonan. “Berapa kali Ki Sanak berdua mengulang kata-kata itu?”

“Sombong!” geram Ki Sarjuma yang masih tidak mau mengakui bahwa Sayoga ternyata telah menjadi lawan yang cukup liat. “Aku tidak bermain kata-kata, anak sial!”

“Aku tidak akan menyesali apa yang akan terjadi,” kata Sayoga yang tangkas menahan gempuran Ki Sarjuma, ”kalian akan menyesal karena telah menghadangku hari ini!”

Sayoga kini telah sepenuhnya telah melambari seluruh bagian tubuhnya dengan Serat Waja. Sedikit ia meloncat surut, Sayoga mulai menerjang Ki Malawi yang lebih dekat dengannya. Arus serangan Sayoga begitu kuat dan cepat hingga ujung pedang kayunya nyaris menyentuh kening Ki Malawi.

Ki Malawi menjatuhkan diri dan bergulingan menjauh, keinginan Sayoga untuk memburunya terhalang oleh pusaran senjata Ki Sarjuma yang begitu keras menerjangnya. Ki Malawi seperti minyak yang tersulut api ketika pakaiannya berlepot lumpur. Rasa malu luar biasa mendera Ki Malawi. Ia merasa terhina karena harus berkotor kain justru ketika harus melawan seorang anak muda yang belum berpengalaman tinggi dalam pertarungan. Ki Malawi meloncat bangkit lalu serta merta turut mengurung Sayoga dengan putaran rantainya.

Tidak banyak yang dapat dilakukan Sayoga selain menghindar dan berloncatan menjauh dari gelombang serang Ki Sarjuma dan Ki Malawi yang semakin meningkat sengit. Dua orang pengikut Raden Atmandaru ini sudah tak lagi memperhatikan keadaan dalam diri mereka masing-masing. Keduanya seperti teringat oleh sebuah pesan dari pemimpin mereka di Kademangan Mangunreja bahwa imbalan besar bagi setiap tertangkapnya penyusup dari Mataram.

Dalam waktu itu, Sayoga sudah tak lagi melakukan percobaan untuk keluar dari tekanan berat yang melanda dirinya. Sayoga lebih banyak mengamati olah gerak lawan-lawannya dan mengamati celah kelemahan dari masing-masing lawannya walaupun ia harus banyak berloncatan menghindar, sesekali ia berlari memutari satu dua pohon untuk mengelak serangan Ki Sarjuma dan Ki Malawi.

“Apakah kau takut dengan kematian?” bertanya Ki Sarjuma. ”Jika seperti itu, menyerahlah! Aku akan mengampuni dan membawamu ke hadapan Panembahan kami. Lalu hadiah yang sangat besar akan menanti kami bila kami katakan bahwa kau adalah penyusup yang dikirimkan oleh Mataram.”

“Kalian benar-benar telah kehilangan akal sehat!” seru Sayoga saat Ki Sarjuma menyerangnya dengan ganas dan beringas. Ia kembali berloncatan lalu sekali-kali balas menyerang dengan melemparkan apapun yang dapat ia raih..

Ki Malawi menyahut kemudian, ”Aku akan mencincang tubuhmu dalam keadaan sadar, anak sialan! Bagiku, sudah tak ada lagi ampunan untukmu!”

“Aku tidak akan memberi kalian satu kemudahan,” lengking Sayoga sambil memutar pedang kayu bergulung-gulung menutup seluruh bagian tubuhnya,”Bahkan, kalian tidak akan pernah dapat bertemu kembali dengan pemimpin kalian.”

“Tentu ini akan menjadi peristiwa yang menyenangkan,” sahut Ki Malawi memapas serangan Sayoga,”Melihatmu menggeliat dan meronta akan membuat pekerjaan ini semakin menantang.” Buas sorot mata Ki Malawi menyapu pandang. Dalam waktu kurang dari sekejap, Ki Malawi menjulurkan rantai bermata trisula menembus pertahanan Sayoga. Loncatan panjang ke samping dilakukan Sayoda dengan dibarengi tebasan pedang kayu menyambar Ki Sarjuma.

Meskipun ia bertarung melawan dua orang, Sayoga mencoba memberi tekanan tanpa henti pada keduanya. Tetapi kedua lawannya bukanlah orang yang baru mendalami olah kanuragan dalam waktu yang singkat. Mereka telah melalui masa-masa sulit dalam penempaan diri. Pengembaraan yang mereka lakukan telah memperkaya unsur gerakan Ki Sarjuma dan Ki Malawi.

Ki Sarjuma selangkah surut untuk menghindari tebasan pedang kayu Sayoga yang meskipun tumpul namun tidak kalah berbahaya dengan pedang tajam. Ki Sarjuma menyadari ancaman yang timbul jika satu bagian tubuhnya harus menerima sentuhan pedang kayu Sayoga. Bagian dalam tubuhnyadapat remuk redam oleh hantaman pedang berlambar ilmu Serat Waja. Dengung pedang kayu terdengar menggetarkan gendang telinga, Sayoga tangkas memburu Ki Sarjuma yang tidak berada dalam kedudukan yang cukup baik.

Namun ketika ia mengulang terjangannya, Sayoga mendapat tekanan dari Ki Malawi. Rantai terjulur menggapai Sayoga dan nyaris menggapai kening Sayoga yang sigap merendah. Serangan Ki Malawi tidak berhenti begitu saja, ia mendapatkan kesempatan yang dianggapnya cukup baik untuk menghimpit Sayoga dalam gulungan rantainya. Dalam pada itu, Ki Sarjuma segera melakukan penyesuaian dengan gerak terjang Ki Malawi. Keduanya kini bertempur berpasangan dengan serasi dan saling menutupi celah-celah pertahanan mereka. Kekuatan dan kecepatan Sayoga sudah tak lagi dapat diremehkan oleh dua pengikut Raden Atmandaru. Bahkan lambat laun, Sayoga pun mengubah dasar olah geraknya untuk memperkuat pertahanannya.

Sayoga hanya merasa harus dapat mengimbangi arus serangan Ki Sarjuma dan Ki Malawi yang datang bergelombang. Putaran belati panjang Ki Sarjuma terus menerus memotong langkah Sayoga setiap kali ia berkelit atau menghindar. Kelenturan Sayoga secara berulang membantunya untuk melepaskan diri dari kejaran belati Ki Sarjuma.

Bergantian saling mematuk, kedua senjata Ki Malawi dan Ki Sarjuma terus menyerang bersama-sama.  Kedua senjata mereka terus menerus menyambar, menebas silang. Sayoga terus berloncatan dan sekali-kali membenturkan pedang kayunya untuk memotong serangan lawan. Dan seperti air bah yang melanda sebuah kademangan, dua gelombang serang itu terus mengalir dan mengejar Sayoga.

Serangan yang datang bertubi-tubi itu semakin rapat membungkus Sayoga. Kelebat belati dan patuk ujung rantai Ki Malawi semakin dekat menggapai Sayoga.

“Tidak ada lagi pilihan,” desis Sayoga dalam hatinya.

Demikianlah, perkelahian itu semakin meningkat ketika Sayoga mengungkap tenaga cadangan yang ada dalam dirinya. Tata gerak Sayoga mulai membingungkan kedua lawannya. Bertapa Sayoga seringkali mengubah kecepatan geraknya tiba-tiba menjadi lambat. Namun dalam pada itu, di balik lambatnya pergerakan Sayoga, kedua lawannya terasa seperti membentur tebing karang setiap kali senjata mereka beradu dengan pedang kayu Sayoga.

Maka Sayoga telah berubah begitu menakutkan pada pandangan Ki Sarjuma dan Ki Malawi. Tetapi keduanya adalah orang yang tangguh dan telah mengarungi berbagai ilmu dalam pengembaraan maka kedua orang itu pun masih mampu menempatkan diri sebagai pasangan yang sukar dikalahkan oleh Sayoga. Mereka bekerja sama dengan baik. Bahkan sepertinya telah timbul semacam pengertian dalam kerja sama itu. Setiap kali Sayoga bergerak lambat, maka salah satu dari lawannya akan berulang kali membenturkan senjatanya dengan pedang kayu Sayoga. Dan seorang yang lain akan menyerang dari bagian yang berbeda.

Dengan demikian, maka perkelahian itu pun menjadi semakin membahayakan. Setiap orang mulai mengerahkan segenap kemampuannya dan udara pun mulai terasa hangat saat tenaga cadangan mulai terungkap perlahan. Tidak ada lagi yang menjadi pertimbangan ketiga orang yang terlibat dalam pertarungan di tepi hutan sebelah menyebelah dengan Tanah Perdikan Menoreh.

“Selangkah lagi aku akan menapaki Tanah Perdikan,”desis Sayoga dalam hatinya. “Aku harus dapat keluar dari tekanan ini.”

Maka satu-satunya pilihan bagi Sayoga adalah memenangi pertarungan itu. Namun sebaliknya, kegeraman Ki Sarjuma dan Ki Malawi semakin menjadi-jadi tatkala Sayoga ternyata sangat liat dan sulit ditundukkan.

Putaran pedang kayu Sayoga semakin cepat dan deras menebas kedua lawannya bergantian. Bahkan tak jarang lengan Ki Sarjuma tergetar kesemutan setiap kali berbenturan dengan pedang kayu Sayoga. Tetapi tidak mudah bagi Sayoga untuk mendesak salah satu dari dua lawannya, mereka berasal dari sumber ilmu yang berbeda. Walaupun berbeda akar perguruan, tetapi kerja sama yang terjalin cukup lama telah menjadikan kedua orang itu saling mengerti dan saling mengisi. Terkadang Ki Sarjuma bergerak liar dan tidak terkekang pada ilmu perguruannya, namun pada saat yang lain ia begitu rapi tertata. Sementara Sayoga sendiri untuk mengimbangi keliaran gerak yang acap kali dimunculkan oleh lawan-lawannya, ia tak segan menjumput tanah basah lantas dilemparkannya ke arah lawan.

Sayoga tidak ingin bergantung pada satu jenis senjata, ia merasa harus mampu mengambil manfaat dari  keadaan sekitar baik sebagai senjata maupun alat pertahanan. Keunggulan jumlah lawannya akhirnya dirasa berat oleh Sayoga. Keduanya terus menerus menyerang dari arah yang berbeda dalam kesempatan yang berbeda pula. Meskipun Sayoga mampu memanfaatkan celah pepohonan dan tanah basah, namun upaya itu belum cukup untuk menahan laju serangan yang semakin ganas dan liar.

Secara terus menerus Sayoga mengulang perbuatannya dan ia menuai hasil yang diharapkan olehnya. Ki Sarjuma dan Ki Malawi mulai terlihat kesulitan mengendalikan diri. Mereka seolah kehilangan pengamatan setiap kali Sayoga melempar tanah basah, batu, ranting lalu menyusup di antara pepohonan kemudian tiba-tiba menyerang dengan hebat. Pada tiap kesempatan untuk menyerang, Sayoga semakin meningkatkan kecepatannya. Pedang kayunya berputar-putar menyelubungi salah satu dari lawannya bergantian. Sesekali ia meraih sebatang ranting untuk dijadikan senjata berpasangan dengan pedang kayu yang telah tergenggam erat olehnya. Dan tak jarang ranting itu tiba-tiba dilontarkan dengan tenaga cadangan.

Sementara itu, Ki Sarjuma dan Ki Malawi pun membalas serangan Sayoga tak kalah cepatnya. Bahkan satu dua ujung trisula Ki Mawali yang meluncur dari rantai besi mampu menembus pertahanan Sayoga. Sekalipun belum mengenai bagian tubuh yang berbahaya, tetapi kulit yang tergores mulai mengucurkan darah. Kelebat belati panjang Ki Sarjuma mencecar tiada henti mematuk kedua kaki Sayoga yang lincah bergerak dengan cepat. Sekali kaki Sayoga tergores ujung belati tajam Ki Sarjuma, namun pada saat yang bersamaan ia mampu menetak pedang kayunya pada bahu lawannya.

Belati Ki Sarjuma terpental ketika ia mengerang panjang pada saat bahu sebelah kanannya seperti remuk terhantam tenaga cadangan yang terungkap dari Serat Waja. Sorot mata Ki Sarjuma tiba-tiba berubah menjadi aneh, ia seperti benar-benar kehilangan pengamatan atas dirinya sendiri. Maka Ki Sarjuma menerjang Sayoga lebih sengit dari sebelumnya. Cepat ia meraih kembali senjatanya dengan tangan kiri dan menerjang Sayoga dengan serangan yang tidak lagi terukur. Meski begitu, belati Ki Sarjuma terayun dan mematuk dengan kekuatan yang bergelombang lebih dahsyat.

“Apa yang sebenarnya mereka pikirkan?” desis Sayoga dalam hatinya menyaksikan perubahan demi perubahan yang terungkap dari gerak dua lawannya.

Sebenarnya yang terjadi adalah kedua lawan Sayoga telah mengubah secara keseluruhan tata gerak dari awal pertempuran yang tidak seimbang. Ki Malawi lebih banyak berloncatan tak terarah namun senjatanya tetap mengarah pada bagian yang mematikan dari tubuh Sayoga. Demikian pula Ki Sarjuma dengan belati yang tak lagi bergulung-gulung mengepung gerak mangsanya yang masih berusia muda. Ki Sarjuma banyak melakukan tusukan-tusukan berseling dengan lecut rantai Ki Malawi yang berulang kali mengeluarkan ledakkan yang menggetarkan gendang telinga.

Pada saat seperti itu, Sayoga yang masih belum mempunyai banyak pengalaman beradu tanding dengan cepat mengalami kemunduran yang luar biasa. Kedudukan seimbang yang sempat ia pertahankan kini mulai berat sebelah. Sedikit demi sedikit pertahanan Sayoga jebol oleh arus seranga yang tidak henti mengguncang daya tahannya. Tetapi Sayoga telah menerima tempaan dari ayahnya, Ki Wijil, tentang bagaimana menjalani kehidupan tanpa harus membiarkan keadaan jiwa terguncang tetap dapat bersikap tenang. Ketenangan Sayoga inilah yang membuatnya terus dapat melepaskan diri dari belit serangan dua orang pengikut Raden Atmandaru.

“Apakah iblis telah mempunyai anak sepertimu, Anak Muda?” bentak nyaring Ki Malawi yang semakin geram dengan keliatan Sayoga.

“Bertanyalah itu pada ibumu, Ki Sanak!” Lontaran segenggam tanah basah yang lurus mengarah pada wajah Ki Malawi menutup jawaban Sayoga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *