Ki Suladra, lelaki yang mungkin seusia Ki Widura, benar-benar membuat senapati Mataram itu hampir kehilangan akal untuk dapat mengerti jalan pikiran musuhnya yang telah tumbang. “Kepuasan yang mengiringi kematiannya, apakah itu sangat berarti baginya? Aku tidak keberatan bila menganggap dirinya sebagai pemenang. Berapa lama ia berlatih agar dapat menahan kekuatan yang keluar dari mataku? Sebenarnya tidak ada perbedaan antara yang kalah dengan pemenang. Tetapi apapun itu, setidaknya aku telah melakukan yang terbaik untuknya.” Agung Sedayu segera menggali lubang dangkal lalu menimbunnya dengan bebatuan untuk menjadikannya sebagai tanda bagi orang yang melihatnya. Ia berjalan lebar untuk memeriksa keadaan adik seperguruannya yang juga menjadi kakak iparnya, Swandaru.

Namun tidak ada lagi tubuh Swandaru di tempat itu. Ia berkeliling dan menanyai satu demi satu orang-orang yang terkapar lemas, tetapi tidak mendapatkan jawaban. Sepenggal waktu telah berlalu dan Agung Sedayu tidak memperoleh keterangan yang dapat dijadikannya sebagai titik awal pencarian. Swandaru Geni sudah pasti diculik oleh pengikut Raden Atmandaru, Agung Sedayu menduga kuat dalam pikirannya. Dugaan itu menjadikannya berbeda pada malam yang telah berlalu sejengkal.

“Swandaru!” teriak Agung Sedayu. Ia mencoba mencari jejak yang dikiranya dapat memberi terang untuk menelusuri keadaan adik seperguruannya. Ia berloncatan, hilir mudik, ia kehilangan pegangan! Nanar mata Agung Sedayu sebelum ia memukul permukaan tanah hingga tembus sebatas siku! Di tengah kerubung gelap dan timpa suara binatang malam, ia melangkah lebar tetapi seolah tidak mempunyai tujuan. Dengus napasnya menjadi tidak beraturan. Agung Sedayu terlihat berbeda. Meski demikian hal itu tidak berlangsung lama. Orang kepercayaan Panembahan Senapati itu mampu menguasai kecamuk perasaannya. “Tempat ini begitu dekat dengan Sangkal Putung tetapi aku tidak mungkin datang ke sana tanpa Swandaru.” Maka selintas pikirannya membawa ke Jati Anom. Keterangan dapat digalinya melalui hubungan antar prajurit peronda dan mungkin petugas sandi akan turun tangan membantunya.

Agung Sedayu mengayun kaki dan begitu cepat ia berlari hingga terlihat seperti terbang di atas daun-daun kering serta ilalang. Ia memintas jalan yang lebih dekat daripada jalur yang biasa dilewatinya jika menunggang kuda. Yang dipikirkannya saat itu hanyalah secepat mungkin tiba di Jati Anom.

Ranting, akar yang melintang hingga dahan yang terjulur menyentuh tanah, sungguh, sama sekali tidak menjadi halangan yang berarti bagi Agung Sedayu. Sungai dan jurang-jurang pendek begitu mudah diterabas olehnya. Dalam pergerakannya yang lebih cepat dari kelebat burung sikatan, Agung Sedayu meraba semua kemungkinan yang terjadi terkait perkelahian di tepi kali Progo.

“Sejauh ini aku belum mendengar adanya suatu gerakan besar setelah Kedung Jati. Tetapi jika ada keberanian orang-orang asing itu membakar Tanah Perdikan, itu artinya bukan lagi sebuah kemungkinan,” gumam Agung Sedayu dengan suara yang hanya dapat didengarnya dari dalam hati. Ia mendongak sedikit, melirik langit yang bertempelan bintang dan itu bukan sesuatu yang dapat mengalihkan perhatiannya. Jika kitab gurunya lenyap dari Sangkal Putung, Agung Sedayu tidak dapat mengampuni dirinya sendiri. Ia akan melakukan segala cara untuk merebutnya kembali, sekalipun itu berarti ia akan melawan ajaran gurunya. Terlebih pada saat yang hampir bersamaan, Swandaru seolah ditelan bumi justru ketika ia berada di dekat adik seperguruannya.

Agung Sedayu tidak memiliki bahan pembicaraan apabila ia berhadapan dengan mertuanya, Ki Demang Sangkal Putung. Ia juga tidak mempunyai alasan untuk  Sekar Mirah dan Pandan Wangi. Bisa jadi Agung Sedayu telah kehilangan keberanian untuk kembali ke Tanah Menoreh.

Dua jurang pendek akan dilewatinya, tiga pategalan akan diseberanginya sebelum melintasi gardu jaga prajurit yang berada di ujung barat pedukuhan. Ia akan melintasi itu semua sebelum memasuki induk pedukuhan Jati Anom. Tetapi dalam waktu tempuh perjalanannya yang singkat itu, Agung Sedayu belum mendapatkan jawaban.

Sekelompok orang di bawah temaram lampu minyak telah terlihat oleh Agung Sedayu. “Mereka dalam keadaan siaga?” hatinya bertanya. Ia berhenti di ujung jalan lalu merunduk dan memperhatikan sekeliling orang-orang yang tengah berjaga.

Setelah ia dapat memastikan bahwa ia mengenali seseorang yang berada di antara sekelompok prajurit, Agung Sedayu menampakkan diri dengan berjalan di tengah jalan. Sebenarnya ia dalam keadaan tergesa, tetapi enggan memperlihatkannya di hadapan orang-orang yang ternyata adalah sekelompok prajurit Mataram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *