Lanjutan Api Di Bukit Menoreh 397/6-7

Dengan kening berkerut, Ki Gede mencoba mengingat-ingat tentang sosok Ki Bagaswara. Rasanya Ki Gede pernah mendengar nama itu di satu masa yang lalu. Sementara itu Ki Waskita seakan-akan melihat suatu pertanda yang menggelayuti Tanah Perdikan Menoreh. Jantungnya seperti membeku ketika isyarat itu menggores dinding jantungnya. Meski demikian, Ki Waskita dapat menyembunyikan kesan buram yang dilihatnya namun Ki Gede tetap dapat merasakan getaran yang terjadi pada diri Ki Waskita. Akan tetapi Ki Gede berusaha menahan diri untuk tidak bertanya ketika pandangan tajam Ki Gede menangkap perubahan kesan pada raut wajah Ki Waskita meski barang sejenak.

“Marilah, Ngger. Persilahkan Ki Bagaswara naik ke pendapa,” berkata Ki Gede kemudian.

Selanjutnya Ki Bagaswara disertai Sukra telah berada di pendapa. Setelah saling bertanya tentang keselamatan masing-masing dan keadaan dalam perjalanan, Ki Gede berkata, ”Baiklah Puguh dan Sukra. Silahkan kalian berdua menemui Prastawa untuk sekedar melanjutkan pesan-pesan yang tadi aku katakan.”

Lalu mereka berdua segera meminta diri dan melangkah panjang menuju rumah Prastawa.

Kemudian Ki Bagaswara berkata, ”Sepertinya baru kemarin aku bertamu di rumah Ki Gede. Dan agaknya Ki Gede semakin ramah dan bermurah hati menerima orang tua yang mulai pikun ini.” Senyum pun mengembang diantara mereka.

Lalu sejenak kemudian, ”Sebenarnyalah aku baru saja kembali dari lawatan ke timur. Kemudian beberapa hari yang lalu aku tiba di padepokan lalu aku merasa bahwa menemui Ki Gede akan dapat membuat beberapa persoalan akan menjadi jernih. Terlebih lagi kehadiran Ki Waskita agaknya akan semakin mempercepat persoalan menjadi jernih,” Ki Bagaswara berhenti sejenak.

Dengan berhati-hati ia melanjutkan, ”Dalam lawatan ke timur itu aku telah menyaksikan persiapan-persiapan yang sedang dilakukan oleh seseorang yang menyebut dirinya sebagai Pangeran Ranapati. Orang itu mengaku sebagai putra mendiang Panembahan Senapati.”

Kedua orang yang duduk di depannya terhenyak mendengarkan kisah Ki Bagaswara. Dalam bayangan kedua orang yang disegani di tanah perdikan apa yang dikatakan oleh Ki Bagaswara memang berada di luar perkiraan sebelumnya. Mereka tidak mengira bila secepat itu Pangeran Ranapati membuat persiapan. Sebenarnyalah mereka menduga Pangeran Ranapati akan mempersiapkan diri setidaknya satu dua bulan di depan. Keduanya terdengar menghembuskan nafas panjang setelah perasaan masing-masing telah terendap. Sejenak keduanya saling berpandangan.

“Aku tidak mengira orang itu, kita sebut saja seperti pengakuannya, Pangeran Ranapati akan dengan cepat melakukan persiapan. Apakah meningkatnya kedatangan orang-orang asing ke tanah ini ada ikatan dengan persiapan itu, Ki Waskita?” bertanya Ki Gede.

“Dugaan semacam itu dapat saja berkembang, Ki Gede. Akan tetapi aku kira Ki Gede telah melakukan sikap yang benar dengan memerintahkan para pengawal lebih waspada dan berhati-hati,” jawab Ki Waskita.

“Apakah kiai akan bermalam di tanah perdikan barang semalam dua malam?” Ki Gede mencoba menelusuri kemungkinan yang terjadi dengan berharap Ki Bagaswara dapat bertemu dengan Agung Sedayu.

“Aku berterima kasih dengan penawaran Ki Gede. Karena agaknya aku memang membawa persoalan yang rasanya sulit diuraikan dengan singkat,” berkata Ki Bagaswara.

Ki Gede lantas memanggil seorang dari dalam rumahnya untuk kemudian meminta orang itu mempersiapkan gandok bagian kiri bagi Ki Bagaswara.

“Bagaimana persiapan itu dimulai dengan pengamatan yang dilakukan kiai?” bertanya Ki Waskita.

“Dalam lawatan ke timur, aku mengunjungi sanak yang berada di sana. Nah, dia bercerita kepadaku bahwa banyak orang pengikut Pangran Ranapati terbagi dalam kelompok-kelompok kecil melakukan perjalanan menuju lereng Merapi yang sebelah timur,” berkata Ki Bagaswara.

“Menurut pengamatan yang kiai lakukan, apakah sanak Ki Bagaswara dibawah pengaruh Pangeran Ranapati?” bertanya Ki Waskita kemudian,” sama sekali bukan bermaksud mencurigai sanak Ki Bagaswara. Aku kira gerak Pangeran Ranapati seharusnya tidak tergesa diungkapkan seperti Perguruan Kedung Jati ketika berada di Demak.”

Untuk sesaat Ki Bagaswara merasakan kecurigaan yang tersirat dari ucapan Ki Waskita. Meski demikian sebagai seorang yang berwawasan luas serta pengalaman yang telah masak maka Ki Bagaswara dapat memaklumi pertanyaan Ki Waskita. “Agaknya Tanah Perdikan Menoreh telah memiliki pengalaman panjang terhadap pusaran yang ada di sekitar tahta Mataram,” gumam Ki Bagaswara dalam hati.

“Tidak, Ki Waskita,” kata Ki Bagaswara, ” ia justru terlibat dalam persiapan itu dengan paksaan. Ia terpaksa ikut menyediakan perbekalan bagi kelompok-kelompok yang berangkat dari pedukuhannya.”

“Oh, syukurlah dengan demikian,” Ki Gede dan Ki Waskita pun menarik nafas lega karena dengan begitu Ki Bagaswara tidak akan terperosok ke dalam persoalan rumit dalam keluarganya.

“Kemudian yang membuatku resah adalah kelompok-kelompok ini telah membuat pedukuhan kecil di dekat padepokan Pangeran Ranapati,” kata Ki Bagaswara dengan wajah gelisah. Sinar matanya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. Raut wajahnya membayangkan kegelisahan akan segera mencekam rakyat di sekitar pedukuhan yang baru dibuat itu.

“Berarti mereka mengambil jalan memutar. Mereka tidak melintasi Tanah Menoreh,” berkata Ki Gede seperti berkata kepada dirinya sendiri

“Agaknya Pangeran Ranapati telah berhitung dengan tidak menampakkan diri di depan Mataram,” kata Ki Gede selanjutnya.

“Benar kata Ki Gede,” Ki Waskita berkata, ”menyeberangi Tanah Perdikan Menoreh sudah barang tentu akan menjadi perhatian pasukan khusus yang dipimpin angger Agung Sedayu. Akhirnya dengan demikian, usaha mereka akan terpotong sebelum dapat tumbuh berkembang.”

Ki Bagaswara menundukkan kepala untuk sesaat. Ketika dia mendengar nama Agung Sedayu disebutkan maka ada seperti bayangan yang menggores jantungnya. Terbayang seorang anak muda yang berkemampuan tinggi dan dengan berani menghadapi Ki Tumenggung Prabadaru. Meski demikian agaknya Ki Bagaswara sedang berpikir tentang keinginannya yang akan disampaikan kepada Ki Rangga. Untuk itulah Ki Bagaswara akan mendengarkan pertimbangan Ki Gede Menoreh, Ki Waskita dan Ki Jayaraga sebagai orang tua yang dihormati oleh Ki Rangga Agung Sedayu.

“Agung Sedayu,” desis Ki Bagaswara di luar sadarnya.

Sambil menoleh Ki Waskita dan Ki Bagaswara, Ki Gede bertanya, ”Apakah Ki Bagaswara berkeinginan bertemu dengan angger Agung Sedayu?”

”Sebaiknya seperti itu,Ki Gede,” kata Ki Waskita.

Kata Ki Gede, ”Baiklah, jika demikian aku akan mengutus orang untuk memanggilnya kemari. Tentu dia akan senang dapat bertemu dengan kiai. Nah, sementara itu kiai dapat beristirahat sekedarnya dan menikmati panasnya matahari tanah ini.”

Ki Gede mempersilahkan kedua tamunya itu untuk beristirahat dan ia sendiri bergeser ke dalam menuju biliknya. Agaknya Ki Waskita telah berketetapan untuk berada di rumah Ki Gede sambil menunggu Ki Rangga Agung Sedayu yang rencananya akan diundang ke rumah Ki Gede menjelang malam nanti.

***

Sebenarnyalah Pangeran Ranapati telah kembali ke rumah yang ditinggalkannya. Sejenak ketika ia tiba di rumah yang disediakan Pangeran Jayaraga, utusan Mas Panji Wangsadrana telah memintanya untuk bertemu di pendapa kadipaten.

Meski belum banyak dikenal oleh prajurit yang sedang bertugas jaga, Pangeran Ranapati tidak menemui kesulitan memasuki regol kadipaten karena ditemani oleh utusan Mas Panji Wangsadrana.

“Pangeran, kita telah memasuki pusaran mendekati Pangeran Jayaraga. Sejauh ini usaha kita masih belum dapat dikatakan berhasil. Aku ingin mengingatkan, agar Pangeran mulai memberi bahan-bahan untuk mengaburkan pengamatan Pangeran Jayaraga,” kata Mas Panji membuka percakapan.

Setelah menatap mata Mas Panji, Pangeran Ranapati menundukkan kepala. Ia berkata dalam hatinya,”orang ini benar-benar gila. Justru akulah pendorong rencana agar Pangeran Jayaraga bersedia menjauh dari Mataram.”

“Lalu bagaimana penilaian kakang terhadap keadaan di sekitar Pangeran Jayaraga?” berkata Pangeran Ranapati.

“Aku telah memberi pendapat kepadanya untuk melakukan pergeseran senapati. Sementara itu Pangeran tidak perlu merubah jalur perintah yang telah ada,” kata Mas Panji. Kemudian katanya, ”selain itu aku telah menemukan Ki Kebo Langit dan Eyang Kalayudha. Mungkin Pangeran pernah mendengar nama-nama itu?”

“Ki Kebo Langit?” desis Pangeran Ranapati keheranan. Keningnya berkerut lalu katanya,” orang yang telah kalah dari Agung Sedayu. Dan kau menaruh harapan kepada orang itu.”

“Kemampuannya sudah pasti akan mengalami peningkatan sejak kekalahannya dari Agung Sedayu,” berkata Mas Panji.

“Dan Agung Sedayu sudah barang tentu tidak akan berdiam diri dalam masa yang panjang itu,” gemeretak gigi Pangeran Ranapati terdengar ketika ia mengatupkan bibirnya.

“Baiklah, kita tinggalkan barang sejenak orang yang bernama Ki Kebo Langit itu. Sekarang aku minta Pangeran mengamati orang yang bernama Kalayudha. Di pesisir selatan Madiun, orang itu sudah cukup tua dan telah dikenal sebagai pengembara pinunjul dan berkemampuan tinggi,” kemudian Mas Panji melanjutkan,”dahulu ia sempat menjadi senapati Tumenggung Prabadaru. Akan tetapi ia kemudian meninggalkan kesatuannya beberapa saat sebelum pecah perang Pajang.”

“Lalu?” tanya Pangeran Ranapati.

“Ia telah bertemu denganku dan bersedia membantu perjuangan Pangeran,” jawab Mas Panji.

“Apakah ia mempunyai pamrih dan ingin mengadakan perjanjian denganku? Atau ia mempunyai maksud yang lain dengan tawaran bantuan itu?” Pangeran Ranapati dengan nada tinggi.

Lalu Mas Panji menjawabnya dengan datar,” sudah barang tentu ada yang ia inginkan.”

“Sebutkan!” desak Pangeran Ranapati yang mulai kehilangan kesabaran.

“Ia berpesan kepadaku agar anaknya dapat diberi surat kekancingan untuk Pucangombo sebagai Tanah Perdikan. Surat kekancingan itu juga memasukkan pesisir selatan Sudimoro. Namun sebelumnya, ia juga ingin anaknya dapat berada dalam deretan senapati yang akan dipimpin Pangeran,” kata Mas Panji.

“Gila! Permintaan gila yang pernah aku dengar!” seru Pangeran sambil meletakkan kedua tangannya diatas kepala. Sesekali ia mengusap mukanya seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak salah mendengar. Ia mengerti jika wilayah yang diminta Eyang Kalayudha ini sangat luas. Ditambah permintaan bagi anaknya agar dijadikan sebagai senapati pilihan.

“Aku belum melihat kemampuan Eyang Kalayudha dan anaknya, Mas Panji,” berkata Pangeran setelah gejolak dalam dadanya mulai mereda.

“Pangeran jangan melihatnya sebagai potongan kecil begitu saja. Penilaian yang lebih mendalam dapat kita lakukan. Jika mereka memang dibutuhkan menghadapi Mataram maka perjanjian itu dapat saja terjadi.”

“Baiklah, aku bukanlah ksatria. Aku akan siapkan jalan keluar begitu kita menduduki Mataram.”

Untuk beberapa saat mereka terdiam. Bayangan tahta Mataram seakan-akan terpapar jelas memenuhi gelapnya malam. Masing-masing tenggelam dalam gambaran yang tidak terungkap untuk sementara waktu.

Tiba-tiba seorang perwira muda berlari memasuki regol halaman. Para penjaga regol keheranan dan mereka juga tidak menghentikan perwira itu.

“Kakang Mas Panji,” kata perwira itu terengah-engah. Nafasnya terdengar seakan-akan berebut keluar dari lubang hidungnya.

Serentak Pangeran Ranapati dan Mas Panji Wangsadrana berdiri dan melangkan menuju tangga pendapa.

”Hei! Ada apa?” bertanya Mas Panji lalu ia menuruni tangga pendapa.

Perwira itu diam sejenak sekedar mengatur pernafasannya. Kemudian katanya, ”Aku tidak melihat kegiatan apapun di rumah Pangeran Ranapati.”

Mas Panji menoleh ke Pangeran Ranapati yang keheranan mendengar perwira muda itu.

“Katakanlah,” kata Mas Panji. Lantas diceritakan olehnya bahwa ia tidak melihat orang-orang yang biasa berada di dalam rumah itu. Ia menuturkan tidak ada orang yang berjaga di regol halaman rumah, selain itu juga tidak terlihat lampu minyak menyala dari dalam rumah.

Dengan mata terbelalak, Pangeran Ranapati terdiam sesaat. Ia merasakan seakan jantungnya berhenti berdetak. Dalam hatinya, ia berkata, ”Orang-orangku pergi sudah tentu dengan sebuah landasan nalar. Akan tetapi mereka itu orang-orang yang dungu.”

“Marilah Pangeran. Kita harus melihat keadaan rumah Pangeran,” kata Mas Panji seperti menyadarkan Pangeran Ranapati dari lamunannya. Mas Panji membawa satu dua pengawal di rumahnya lalu berlima mereka menaiki kuda ke rumah Pangeran Ranapati.

Rumah itu dalam keadaan gelap gulita. Pangeran Ranapati memacu kudanya lebih cepat seakan-akan terbang diatas jalan. Sejenak kemudian ia meloncat turun dari kuda dan berlari ke ruang dalam. Sesekali berteriak memanggil nama pengikutnya. Ia mengumpat dengan kata-kata kasar dan kotor ketika tidak ada satu orang pun menjawabnya.

“Kita nyalakan lampu,Pangeran,” kata Mas Panji yang sudah berada dalam ruangan. Satu lampu kemudian menyala dan Mas Panji memeriksa satu satu bilik yang ada di dalam rumah.

Seorang pengawal yang telah menyalakan lampu terkejut ketika sebuah dingklik terbang di atas kepalanya. Agaknya Pangeran Ranapati tidak mengekang dirinya lagi hingga kemudian ia menumpahkan amarah seperti topan prahara.

Dalam pada itu, terdengar seseorang dari dalam bilik berseru kepadanya,”Pangeran, ada empat orang terikat disini!”

Pangeran Ranapati dengan langkah panjang menghampiri pemilik suara. Ketika ia memasuki bilik maka ia melihat empat orang kepercayaanya dalam keadaan terikat kaki,tangan dan mulut mereka.

“Dasar iblis! Siapa yang melakukan ini?” bertanya Pangerang dengan mengguncang tubuh salah satu pengikutnya. Dengan mengulang pertanyaan, Pangeran Ranapati melepaskan buntalan kain yang menyumpal mulut pengikutnya.

“Ranti,pangeran” kata pengikutnya menjawab pertanyaan Pangeran.

“Ranti?” kata Pangeran bernada tinggi.

“Siapakah Ranti, Pangeran?” Mas Panji bertanya dengan kerut berkening. Seingatnya hanya ada satu perempuan di dalam rumah yaitu Nyi Kantill.

“Ya. Ranti. Perempuan yang baru saja tiba di rumah ini beberapa hari sebelum pemilihan senapati. Aku tidak mengira ia dapat mengalahkan keempatnya,” jawab Pangeran Ranapati dengan bertolak pinggang dan menundukkan kepala.

“Kalian benar-benar tidak berguna. Dasar dungu!” Pangeran Ranapati memaki-maki sebisanya sambil memukuli empat pengikutnya.

“Ampun, Pangeran!” kata para pengikutnya.

“Cepat kejar mereka. Jika perempuan itu ternyata petugas sandi Mataram, maka akan aku bunuh kalian semua!” geram Pangeran Ranapati dengan tatap mata yang menyala-nyala.

Serentak keempatnya bangkit dan mengambil kuda di halaman belakang.

“Kakang, aku dengan sebagian orang akan menuju ke barat. Lalu mengambil arah kanan setelah simpang empat,” kata Pangeran Ranapati.

Sejenak kemudian sembilan orang itu telah keluar dari halaman rumah Pangeran Ranapati.

***

Pada malam Rara Wulan bertempur dengan keempat pengikut Pangeran Ranapati, Glagah Putih berusaha menyentuh perasaan serta nalar orang-orang yang ada di halaman depan.

“Mungkin saja wujud wadag Pangeran Ranapati memang meyakinkan bila ada yang percaya pengakuannya. Akan tetapi jika Ki Sanak sekalian berkenan menggunakan penalaran, aku kira Ki Sanak sekalian akan !enolaknya,” berkata Glagah Putih.

“Anak muda, memang mudah berkata seperti itu. Tapi kau tidak mengalami sendiri segala kesulitan yang kami alami di tanah kami,” berkata seseorang dari mereka yang mulai mengepung Glagah Putih dan Rara Wulan.

Glagah Putih berusaha tersenyum, lalu,” Ki Sanak, segala kesulitan yang kita hadapi bukanlah karena selalu disebabkan orang lain. Akan tetapi kita yang lebih dahulu melakukan penilaian. Kami berdua adalah pengembara hingga tlatah Demak. Kami telah melihat satu pedukuhan berada dalam kekeringan. Lalu ki bekel bergerak untuk mengangkat air dari sungai terdekat, maka kemudian sawah di pedukuhan itu mendapatkan air yang cukup.” Glagah Putih mengenangkan sebuah pedukuhan ketika berdua melakukan pengejaran terhadap Ki Saba Lintang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *