Matahari Majapahit 3-4

Sementara itu, pada sore hari di kediaman seorang Dharmaputera, Mpu Nambi, Ken Banawa telah tiba dengan pakaian lengkap sebagai seorang perwira.
“Sebelumnya, aku ingin mengetahui pendapatmu tentang kemelut di Sumur Welut,” Mpu Nambi membuka pembicaraan.
“Tuan, saya tidak dapat mengatakan bahwa semua yang terjadi di wilayah itu adalah kejahatan biasa. Kegiatan mereka terlalu sering dan makin meresahkan. Laporan dari petugas sandi pun menguatkan apabila para perusuh itu bukan orang biasa. Mereka mempunyai keterampilan seperti prajurit.” Ken Banawa menarik napas panjang setelah memberi tanda tentang sikap yang akan diambilnya jika ia mendapat wewenang penuh dari Mpu Nambi.
Pembantu dekat mendiang Kertarajasa Jayawardhana lekat menatap wajah Ken Banawa. Mpu Nambi telah mempunyai rencana khusus tetapi ia ingin mendengar terlebih dahulu pendapat senapati kepercayaannya ini.
“Lantas, menurut laporan para telik sandi dan kesimpulanmu yang terakhir, apakah cukup kita melakukan satu serbuan pasukan khusus?”
“Seseorang telah mendahului kita, Tuan.”
Kedua alis Mpu Nambi bertaut, ia sedikit terkejut ketika Ken Banawa mengatakan itu. Kemudian katanya, ”Ini perintah Sri Jayanegara yang diberikan padaku secara rahasia, lalu bagaimana ada orang tahu? Baiklah. Apakah orang yang kau maksudkan itu akan menyebarkan perintah ini?”
“Tidak!” jawab cepat Ken Banawa, ”Ia bukan berasal dari lingkungan istana ini. Seorang keponakan Nyi Retna. Ia bernama Bondan, murid Resi Gajahyana.”
Sedikit lega dapat dirasakan oleh Mpu Nambi, lantas ia menyusulkan pertanyaan lagi, ”Bagaimana kau dapat memercayainya?”
“Ia telah memberi bukti kesetiaan dan pengorbanan yang luar biasa. Kematian Wiratama telah mendapatkan jawaban melalui sebuah perang tanding yang terjadi antara Bondan dengan pembunuh Wiratama.” Ken Banawa berhenti sekejap, kemudian ia melanjutkan, ”Bondan adalah saksi kunci pembunuhan itu dan ia menuntut balas dengan menyematkan diri sebagai seorang duta Majapahit.”
“Ia terlalu gegabah!”
“Benar, Tuan. Saya tidak mengingkari kenyataan. Tetapi Bondan bersama saya saat itu.”
“Ini terlalu mudah jika aku tidak menganggapnya sebagai suatu kebetulan.” Setelah merenung sejenak, Mpu Nambi berkata, ”Aku dapat menerima keteranganmu. Peristiwa itu biarlah tetap diketahui oleh banyak orang sebagaimana seperti sekarang yang tersebar.”
Mpu Nambi berdiam diri sejenak sambil menatap lurus Ken Banawa. Walau ia sedikit merasa tidak tenang namun nama Resi Gajahyana dapat menjadi sebuah tanda khusus. Lalu tanya Mpu Nambi, ”Apakah Bondan mendapatkan wewenangmu untuk bertindak di luar kewajaran?”
“Tidak! Saya perintahkan dirinya untuk menunggu bala prajurit datang memasuki wilayah Alas Cangkring. Bahkan, saya melarangnya untuk menemui Ki Lurah Guritna. Kehadiran Bondan adalah telinga dan mata saya untuk saat ini di daerah perondaan Ki Lurah Guritna.”
“Aku dapat melihatmu begitu percaya pada anak itu. Bahkan mungkin kepercayaan yang sangat tinggi telah kau berikan padanya,” kata Mpu Nambi kemudian. “Ken Banawa, aku memintamu untuk membawa sekelompok prajurit untuk berangkat ke Sumur Welut dalam waktu dekat. Dan aku juga minta kepadamu untuk merahasiakan hal ini seperti yang diminta oleh Sri Jayanegara.”
“Saya sedang mendengarkan, Tuan.”
“Aku ingin menanyakan satu hal yang masih menggangguku.”
“Silahkan, Tuan.”
“Jika anak itu adalah murid Resi Gajahyana, apakah itu berarti pasukanmu akan mendapat kekuatan besar?”
“Saya telah menyaksikannya berkelahi. Saya melihat kekuatan dan kecepatan yang ada dalam dirinya, dan memang itu akan menjadikan kami lebih kuat.”
“Maka, dengan begitu, jadilah kalian satu kelompok yang tangguh!”
“Dengan sepenuh hati, Tuan.”
Usai pembicaraan tertutup di antara mereka, Ken Banawa keluar meninggalkan ruangan, menuju barak pasukannya di sebelah utara kedia-man Mpu Nambi.

Menjelang senja, Ken Banawa berbincang dengan seorang lelaki muda berpangkat perwira di tempatnya bertugas. “Ra Caksana, kita harus mengadakan beberapa persiapan untuk penyergapan.”
“Saya mendengar Anda, Tuan,” sahut Ra Caksana sigap. ”Kapan penyergapan itu kita laksanakan?”
“Tidak dalam waktu lama. Aku sedang menunggu keterangan dari Ki Lurah Guritna. Tetapi kau juga harus tahu jika Bondan telah menuju ke sana. Aku memintanya untuk membantu penggerebekan ini.”
Ra Caksana mengangguk. “Mungkin kehadirannya akan mengerek naik semangat teman-teman yang lain. Meski ia belum berpengalaman.”
“Aku tahu,” Ken Banawa melanjutkan, ”Ia membutuhkan pengalaman ini untuk perlu mempelajari hal mendasar dari tugas-tugas sandi.”
“Saya tidak dapat menanggapi itu karena sekilas ia memang pantas menjadi seorang petugas sandi, tetapi saya sedikit khawatir dengan ketahanan dirinya. Apakah ia akan dapat menjaga kendali yang ada di tangannya?” Ra Caksana melanjutkan pertanyaannya setelah diam untuk beberapa lama.
“Aku harus mengakui ketajaman jalan pikiran Bondan,” pikir Ra Caksana, ”tetapi ini adalah perjalanan menyambut bahaya.”
“Ki Lurah belum memberikan keterangan yang mendekati keadaan sebenarnya,” suara Ken Banawa memecah lamunan Ra Caksana. Lalu, ”Mereka mungkin kesulitan mendekati pemukiman para penyamun itu. Menurut laporan dari petugas sandi, sebenarnya telah diketahui letak pemukiman para penyamun. Mereka berada cukup jauh di dalam hutan randu.”
Ra Caksana mengangguk. Kemudian, “Saya pikir bahwa lebih baik kita berangkat secepat mungkin meski belum banyak keterangan yang kita peroleh.”
“Alasan?”
“Maafkan saya, Tuan! Menurut saya, kita belum mengetahui orang di dalam barisan ini yang dapat berbalik arah menjadi seorang pengkhianat. Maka sebelum berita ini menyebar, sebaiknya kita berangkat menjelang tengah malam dengan beberapa kelompok agar tidak memancing perhatian orang dan Ki Banawa dapat segera tentukan titik berkumpul.
“Kita semua tahu bahwa setiap kali ada rencana untuk mengejar orang-orang jahat, maka selalu ada kebocoran yang berakibat mereka semakin menjauh dari jangkauan kita,” Ra Caksana berkata sambil memicingkan mata.
Ken Banawa mengalihkan pandangannya, menerawang sebuah candi yang berada di selatan barak prajurit. Dalam hatinya, ia mengakui kebenaran kata-kata anak buahnya. Pengejaran maupun penumpasan sejumlah gerombolan penjahat sering kali tidak membawa hasil yang diharapkan. Seseorang atau beberapa orang telah mengabarkan gerakan prajurit pada mereka. Berulang para prajurit sering mendapati pemukiman atau bangunan kosong ketika penyergapan dilakukan.
“Itu adalah kesulitan kita yang lain.” Ken Banawa mendesah napas panjang. “Kedudukan kita sama sekali tidak menguntungkan jika ditinjau dari segi keamanan. Kita tahu penyebabnya tetapi kita tidak mampu menguak tabir yang menutupinya.”
Sambil berjalan menjauh dari pintu bilik, Ken Banawa melanjutkan kata-katanya, “Baiklah. Kita berangkat malam ini dan kemungkinan kita akan berkumpul di Wedoroanom besok siang.
“Siapkan pasukan berkuda. Lakukan penyamaran dan kita berpencar. “Mungkin kita tidak akan bertemu dengan Bondan, Ra Caksana. Meskipun aku telah memberitahunya tempat berkumpul di Wedoroanom. Namun begitu aku juga mencemaskan jika ia hanyut dalam suasana di daerah itu dan bergerak sendiri. Semoga itu tidak terjadi dan Bondan mampu bersabar menunggu kedatangan kita.”
“Saya pun berharap demikian. Bagaimanapun juga Bondan masih membutuhkan waktu untuk mengendalikan diri.” Ra Caksana telah mendengar banyak tentang Bondan dari orang-orang di lingkungan rumah tempat tinggal kerabatnya.
“Baiklah, segera siapkan pasukanmu!” Ken Banawa mengulang perintah, ”Kita berangkat tengah malam nanti. Sementara itu aku perintahkan dua penghubung untuk menyampaikan pesan ini pada Ki Guritna, supaya ia segera menyesuaikan diri.”
“Baik!”
Keduanya lantas berpisah dan mengadakan beberapa persiapan yang diperlukan hingga saat penyergapan ditentukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *