Membidik 11

“Ki Lurah, apakah Anda berencana untuk menemui Ki Patih Mandraka?” tanya Agung Sedayu seraya lurus memandang bawahannya.
Wajah Ki Sanggabaya semakin mengungkap kesungguhan hatinya untuk segera melakukan tindakan nyata dengan menyerang pemukiman pengikut Raden Atmandaru, tetapi ia mengerti bahwa itu adalah serangan yang cukup bodoh. Atas pertanyaan Agung Sedayu, kemudian ia menjawab, “Pada awalnya saya berpikir seperti itu, Ki Rangga. Musuh yang tersembunyi, lawan yang tidak diketahui dan perubahan yang dapat terjadi setiap saat, itu semua menjadi alasan saya untuk menimbang lebih cermat.”
“Kemudian?” Untara mengelus keningnya yang tidak berkeringat.
“Kemudian saya pikir bahwa akibat buruk yang lebih besar akan muncul di Menoreh apabila mereka mengetahui keberadaan saya di Mataram. Sedangkan kita mengerti bahwa banyak lubang di sepanjang rantai keprajuritan,” Ki Sanggabaya berkata.
“Pembelotan atau lubang itu adalah pendapat yang muncul dari banyak gagasanselama kita bicara di sini. Jadi, aku pikir, engkau benar-benar ragu untuk pergi ke Mataram sekalipun telah dizinkan Agung Sedayu,” selidik Untara.
Ki Sanggabaya memandang ke bawah dengan sudut matanya. “Benar, Ki Tumenggung. Bayangan kekhawatiran semakin besar menguasai jalan pikiran saya.”
“Aku dapat mengerti keadaanmu, Ki Lurah,” kali ini Ki Widura angkat suara. “Berkaca pada kebakaran-kebakaran yang terjadi di dua tempat yang berbeda dan berjauhan meski dengan sasaran yang berlainan, itu seperti mengingatkan kita tentang kewaspadaan. Meski begitu, kewaspadaan bukan atau tidak dapat diartikan dengan pengintaian, menunggu dan menunggu.”
Agung Sedayu menebar pandang sebelum melanjutkan paparan jalan pikirannya. Ia masih menunggu orang-orang memberi pendapat tentang gagasan satu sama lain. Untara tidak membuang waktu dengan membiarkan Agung Sedayu setia mendekap rencananya. “Di Lemah Cengkar ada jalan pintas yang dapat membawa satu iring-iringan orang untuk tiba lebih cepat di Sangkal Putung.” Untara memberi keterangan yang ditujukan pada adiknya.
“Apakah saya melewatkan sesuatu?” Agung Sedayu memandang wajah kakaknya.
Untara menggeleng lalu katanya, “Tidak, karena jalan pintas itu terhitung masih baru. Para prajurit peronda dari Jati Anom menggunakannya sekitar dua atau tiga pekan terakhir ini.”
“Sungguh menarik!” seru Agung Sedayu. “Apabila jalan pintas itu dibuat oleh prajurit peronda, maka semestinya kita dapat mengetahui keberadaan mereka. Karena nalar saya mengatakan seharusnya kita telah mendengar gerak gerik mereka di sekitar jalan itu. Namun yang terjadi tidaklah demikian. Tidak selamanya nalar dapat mengamati sesuatu yang tengah atau telah berlangsung. Maksud saya begini, sekalipun jalan itu dibuat oleh para peronda maka Kakang juga mengetahuinya lebih awal lalu mengamankan keadaan di sekitarnya. Pengamatan Kakang sebagai tumenggung tentu mampu melihat ruang yang lebih luas dari sekedar jalan setapak.”
“Aku memang telah mendapatkan laporan dari mereka tetapi jalanan itu bukanlah jalan yang telah dapat dilalui sewajarnya. Sejauh engkau melintasinya hingga Sangkal Putung, menurut mereka pada saat itu, yang ada hanyalah ranting-ranting yang patah dan sedikit jejak kaki,” Untara kemudian memaparkan penemuan para peronda mengenai keadaan jalanan.
Selepas menyelesaikan kata-katanya, Untara menutupnya dengan pesan tegas, “Pengamanan dan pengamatan telah kami terapkan, namun ada kemungkinan dan mungkin hanya satu-satunya yang tersedia. Bahwa kita menghadapi lawan yang telah mengamati keadaan di sepanjang poros Jati Anom dan Sangkal Putung. Bila kita memang tidak dapat mengetahuinya, itu karena mereka telah melakukan pengintaian untuk masa yang cukup lama.”

“Pada masa seperti sekarang ini, pengintaian atau segenap yang ada pada kita tidak dapat menjadi penentu kemenangan,” kata Agung Sedayu yang cepat menanggapi pemikiran Untara. “Persoalan sebenarnya adalah kita tidak mengetahui kedudukan Raden Atmandau, dan kita sepakat tentang itu. Kemudian, kita juga tidak mengetahui jumlah orang-orang yang siap mengangkat senjata demi Raden Atmandaru. Apakah kita dapat membuat keduanya sebagai batasan?”
Tidak ada orang yang menolak kesimpulan Agung Sedayu. Seluruhnya menyatakan setuju meski tanpa kata-kata yang diucapkan. Walau terbit semacam kesangsian terhadap rencananya sendiri, namun Agung Sedayu meneguhkan niat bahwa bahaya selalu ada karena mereka adalah prajurit Mataram. Kekhawatirannya pada bahaya yang mengancam pasukan Mataram tidak akan lebih kecil dari musibah yang akan diterima oleh rakyat Jati Anom dan Sangkal Putung. Bahkan Mataram dapat saja menjadi lebur apabila ia mendengar suara-suara sangsi yang masih berteriak lantang di dalam hatinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *