Rencana – 2

“Aku telah bertemu dengan Mpu Badandan dan berbicara tentang persoalan ini. Dan mungkin saat ini Panarukan telah siap menjadi benteng terakhir kita semua,” lanjut Gagak Panji kemudian.
“Bagus! Kalian berhasil menjalankan rencana sebagaimana yang telah kita rundingkan,” kata Pangeran Parikesit. Ia berkata lagi, ”Raden Trenggana tentu mengira sangat mudah menundukkan wilayah-wilayah yang berada di dekatnya. Tetapi ia mungkin tidak mendapat laporan sandi jika kita telah mengosongkan separuh kekuatan di setiap kadipaten. Kita telah mendengar kasak kusuk jika Raden Trenggana akan memaksa Panarukan dan Blambangan mengakui kekuasaannya. Tentu saja, sejak saat ini kita harus memikirkan beberapa langkah untuk mengurungnya di Panarukan.”
Raut wajah Ki Tumenggung Arya Senguruh menunjukkan ke-bimbangan. Kemudian ia mengatakan,”Masih belum jelas bagiku tentang persoalan ini secara menyeluruh.
“Pertama, kita setuju untuk tidak menentang Raden Fatah. Dan itu telah kita lakukan seperti pesan Ramanda.
“Kedua, kita setuju untuk tidak mengusik ketenangan pewaris tahta. Dan itu juga kita telah melakukannya.
“Namun sekarang, kita berkumpul disini untuk menempatkan anak itu pada kedudukan semestinya. Bukankah yang seperti itu berarti kita telah mengusik urusan antar pewaris Demak Bintara?”

“Kakang Senguruh, harap jangan salah untuk mengerti. Arya Penangsang adalah pewaris sah Demak Bintara. Dan satu tambahan penting adalah Pangeran Trenggana memaksa saudara-saudara kita di sebelah timur untuk mengakuinya sebagai seorang prabu,” Ki Tumenggung Prabasena bangkit berdiri dan memberi penjelasan.
“Benar apa yang kau katakan. Memang sejak Ramanda melepas singgasana Majapahit, banyak saudara kita yang tidak menentang Demak Bintara dan juga tidak mengakuinya,” Ki Tumenggung Arya Senguruh agaknya mulai mengerti arah pertemuan yang mereka adakan itu.
“Nah, sekarang Pangeran Trenggana menggunakan kekerasan agar kita mengakuinya. Lalu? Kita bersikap seolah menyetujuinya dan takluk padanya. Sementara Kakang telah mengosongkan kekuatan di setiap kadipaten agar tidak ada darah dan nyawa yang sia-sia,” Ki Tumenggung Prabasena melanjutkan lagi,”Dan itu berarti kita semua akan berkumpul di Panarukan untuk memintanya mengembalikan kekuasaan pada keturunan Raden Kikin.”
Kemudian Gagak Panji bangkit berdiri dan memotong pembicaraan. Ia mengatakan, ”Jika memang Paman Parikesit berencana untuk mengumpulkan kekuatan di Panarukan, aku sarankan sebaiknya Kakang Arya Dipa harus segera menempatkan petugas sandi di Jepara dan satu dua orang untuk menjadi penghubung. Sementara aku sendiri akan mengamati keadaan di Tuban. Lalu kita membagi kekuatan kita sendiri melalui jalur darat.”
Ki Arya Senguruh menatap tajam Gagak Panji yang telah mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Kemudian ia menoleh Pangeran Parikesit lalu, ”Jika ia menolak?”
“Kita jadikan ia sebagai tawanan. Dan memaksa seluruh wilayah Demak Bintara menobatkan Arya Penangsang sebagai raja,” jawab Pangeran Parikesit, ”Gagasan Angger Gagak Panji dapat kalian pertimbangkan. Karena aku telah mendengar jika Jepara memang mulai membangun banyak kapal.”

Waktu demi waktu merambat hingga tak terasa telah bergulir tiga purnama sejak pertemuan di Tuban. Dalam suatu pertemuan di kraton Demak, Raden Trenggana lantang berkata, ”Demak telah kehilangan wibawa dan kedaulatannya saat banyak wilayah di daerah Timur melepaskan diri.” Mata Raden Trenggana bersinar kilat melihat orang-orang yang duduk di hadapannya. Para senapati dari seluruh tingkatan prajurit berkumpul dalam satu ruangan saat itu.

Kemudian dengan penuh semangat ia melanjutkan, ”Pasuruan, Surabaya, Wirasaba hingga lereng Penanggungan telah kembali mengakui kekuasaan Demak sebagai penerus Majapahit. Dan sekarang ini, aku katakan pada kalian jika Panarukan adalah pintu permulaan menuju Blambangan.” Pesan-pesan kemudian ia sampaikan secara menyeluruh. Tak lama kemudian ia membubarkan pertemuan agung yang dihadiri semua pemimpin prajurit dari berbagai tingkatan.

Menjelang senja di sebuah rumah, seorang senapati bertanya pada kerabatnya yang datang dari lembah Sungai Brantas, ”Bagaimana kita dapat mengakui kekuasaan mereka? Sementara raja mereka tidak mendapatkan pengesahan dari kita semua.”

“Kakang Arya Dipa, tentu saja ia akan melakukan usaha untuk menundukkan saudara-saudara kita di wilayah timur. Dalam dugaanku, raja ini membutuhkan pengakuan sebagai penerus kekuasaan leluhur kita,”  kerabatnya berkata-kata dengan tegas dan penuh keyakinan.

“Lalu, apakah yang akan kau rencanakan?” tanya Senapati Arya Dipa.

“Seperti yang pernah dikatakan oleh Paman Parikesit ketika kita semua bertemu di Tuban. Tentu kau masih ingat pertemuan tiga atau empat purnama yang telah lewat,” kata Gagak Panji mengingatkan.

“Tentu saja,” berkata Arya Dipa.

“Aku akan segera kembali ke timur. Akan aku katakan apa-apa yang Kakang katakan padaku saat ini. Sementara itu, mungkin aku akan meminta para adipati untuk mengumpulkan kekuatan di Panarukan,” Gagak Panji  menjawab lalu mengurai rencananya dengan singkat. Berulang kali dahi Arya Dipa berkerut karena ia berpikir keras untuk mengerti kerumitan rencana Gagak Panji. Meski begitu ia mengakui ketajaman nalar Gagak Panji.

Keesokan harinya rencana itu dijabarkan lebih dalam oleh Gagak Panji. Ia berkuda beriringan dengan Arya Dipa mengitari barak pasukan Demak yang dipimpin Arya Dipa. Tidak ada seorangpun yang menaruh kecurigaan atas kehadiran Gagak Panji, karena Gagak Panji mempunyai kedudukan tersendiri sebagai pengajar gelar dan siasat perang meskipun ia bukan bagian dari prajurit Demak.  Kemudian Arya Dipa menghentikan kudanya lalu bertanya, ”Dan bilakah kau akan berangkat ke timur?”

“Saat matahari mulai tergelincir, aku akan keluar dari kotaraja,” jawab Gagak Panji kemudian, ”dua orang prajuritmu akan aku bawa serta sebagai pendamping dan tanda agar dapat keluar dari wilayah Demak dengan aman.”

“Baiklah, rencana itu harus mendapatkan kajian ulang bila kau telah tiba di Tuban,” Arya Dipa berkata pada kerabat dekatnya itu.

Seperti yang telah direncanakan oleh Gagak Panji, mereka berkuda pelan meninggalkan Demak menuju ke arah timur. Angin datang kencang menerpa tubuh mereka. Setapak demi setapak mereka  semakin menjauhi Demak. Matahari semakin tenggelam hingga nampak separuh dari wujudnya seperti hilang dalam lautan.  Untuk beberapa saat mereka berdiam diri terpaku diatas punggung kuda masing-masing. Sesekali dua orang prajurit bawahan Ki Tumenggung Arya Dipa saling berpandangan tanpa berkata-kata, sementara Ki Rangga Gagak Panji seolah berada di sebuah dunia yang berbeda. Ia seperti tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Gagak Panji sebenarnya sedang merenungkan tentang kemungkinan yang akan dia hadapi bila telah bertemu dengan Adipati Tuban.

Tiba-tiba ia menarik kekang kudanya, lalu katanya, ”Kita berhenti di tempat ini.” Gagak Panji melompat turun dan menuntun kudanya ke sebuah pohon siwalan. Ia mengikat kudanya di sana lalu berbaring di atas hamparan rumput yang sedikit menjorok jauh agak dalam. Dua orang prajurit Demak kemudian mengikutinya, lalu kata salah seorang dari mereka, ”Senapati, aku akan berburu makanan.”

“Tidak perlu! Kau ambil kantung di sisi kiri lambung kuda. Ki Tumenggung Arya Dipa telah menyiapkan untukmu,” Gagak Panji menarik napas dalam-dalam kemudian ia bangkit dan bersandar pada sebatang pohon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *