Rencana – 4

Gagak Panji tertawa geli dalam hatinya mendengar Bajang Saloka berkata-kata. Tetapi ia pun dapat melihat kebenaran di balik ucapan pemimpin penyamun itu.

“Ki Bajang Saloka,” kata Gagak Panji kemudian. Ia bergeser maju selangkah lalu katanya, ”Kau akan meneruskan perkelahian ini atau akan meninggalkan kami semua? Aku menunggu jawaban tegas darimu, bukan debat tiada ujung.”

Wajah Ki Bajang Saloka menjadi merah karena marah dan malu. Kemudian ia memutar tubuhnya sambil berkata, ”Ingatlah oleh kalian pada hari ini. Aku akan kembali menjadikan Lasem seperti bara.”

Beberapa prajurit bergerak akan menyerangnya, namun Gagak Panji melambaikan tangan meminta mereka membiarkan Ki Bajra Saloka pergi meninggalkan mereka. Dengan raut wajah kebingungan, mereka menuruti perintah Gagak Panji. Kemudian Ki Lurah bertanya, ”Maafkan aku, Ki Rangga. Bagaimana Ki Rangga melepasnya pergi?”

“Supaya ia dapat mengatakan kejadian hari ini pada orang yang lebih tinggi darinya. Dan supaya mereka tahu jika Lasem tidak berdiri sendiri. Ia tentu mendengar jika aku adalah rangga dari Jipang. Satu dua gebrakan yang aku lakukan tentu akan membawa kesan yang berbeda baginya,” jelas Ki Rangga Gagak Panji. Kemudian Gagak Panji meminta mereka cepat merawat yang terluka dan mengusulkan pada Ki Lurah untuk segera kembali ke Lasem.

“Dengan membawa beberapa orang yang terluka termasuk kawanan Ki Bajra, aku kira kita baru akan dapat tiba di seberang hutan pada malam hari,” kata Ki Lurah.

“Aku kira akan lebih aman kita bermalam di tempat ini, Ki Rangga. Sedikit tempat persembunyian tentu akan dapat menolong kita dibandingkan jika kita berjalan melewati hutan. Kelompok Ki Bajra mempunyai pemukiman yang tidak jauh dari tempat ini. Hanya satu kebetulan saja kami bertempur melawan mereka di tempat lapang ini,” kemudian Ki Lurah menceritakan awal mula terjadinya pertemuan kelompok yang dipimpinnya dengan kawanan Ki Bajra Saloka.

Gagak Panji menarik napas panjang, kemudian,”Baiklah. Kita bermalam disini.”

Mereka akhirnya menyebar di tanah yang tidak begitu lapang. Tugas pun dibagi untuk mereka. Beberapa prajurit mendapat tugas dari pemimpin kelompoknya untuk mengobati temannya yang terluka. Sebagian ditugaskan untuk menguburkan satu dua prajurit yang gugur kemudian merawat mayat-mayat anak buah Ki Bajang Saloka. Sementara beberapa lainnya memasuki hutan untuk sekedar berburu kelinci atau binatang yang dapat dimakan malam itu.

Matahari begitu bulat terlihat dan berwana merah membara saat kelompok prajurit Lasem itu duduk melingkar. Agaknya pemimpin kelompok prajurit itu sedang memberikan arahan yang diperlukan untuk melewati malam di hutan yang termasuk dalam kekuasaan para penyamun. Dalam keadaan itu Gagak Panji duduk bergabung di deretan prajurit berpangkat rendah, ia menolak duduk berdampingan dengan lurah prajurit.

“Silahkan Ki Rangga untuk memberi perintah dan pesan pada kami semua, karena Ki Rangga adalah prajurit tertinggi dalam kelompok ini sekalipun Ki Rangga bukan prajurit Lasem,” berkata lurah prajurit.

“Tidak, Ki Lurah Sanggamurti. Sekalipun aku mengenakan pakaian prajurit Jipang, namun aku dalam keadaan bebas tugas,” jawab Gagak Panji.

“Apakah Ki Rangga dalam tugas sandi atau penyamaran?” tanya Ki Lurah Sanggamurti.

Gagak Panji tertawa kecil lalu katanya,” Ki Lurah, dengan pakaian yang jelas menunjukkan aku adalah prajurit sudah tentu aku tidak berada dalam tugas-tugas yang kau sebutkan. Namun aku mengenakan pakaian ini agar tidak terjadi salah paham di setiap wilayah yang akan aku lewati, sementara Tuban masih beberapa hari perjalanan lagi.”

Ki Lurah Sanggamurti pun tertawa lega karena ia menyadari jika keadaan di sekitar Lasem hingga Tuban seperti bara dalam sekam. Setidaknya, menurut pikiran Ki Sanggamurti, Ki Rangga Gagak Panji tidak akan mengalami kesulitan melewati setiap gardu penjagaan yang ada di setiap batas kademangan-kademangan di wilayah Lasem. Lalu ia memerintahkan anak buahnya untuk duduk melingkar dan mulai memberikan pesan dan arahan.

Ki Rangga Gagak Panji mengangguk-angguk kecil mendengar perintah Ki Sanggamurti pada anak buahnya untuk tidak menyalakan api. Ia menyetujui gagasan itu karena bahaya masih mengintai mereka karena Ki Bajang Saloka yang ia biarkan begitu saja kembali ke kelompoknya.

Gelap mulai perlahan merayapi kawasan di lereng Argopuro, langit begitu gelap dan angin kencang bertiup. Sesekali terlihat petir menyambar di angkasa namun hujan tak juga kunjung membasahi tanah.

Ki Lurah Sanggamurti yang duduk berdekatan dengan Ki Rangga Gagak Panji tengah dirundung keraguan. Sebenarnya ia ingin bertanya satu dua persoalan akan tetapi ia masih belum yakin dengan Ki Rangga yang boleh jadi berada di pihak yang berlawanan dengannya. Beberapa kali ia menghela napas, dan Gagak Panji bukannya tidak mengetahui suasana yang dialami Ki Sanggabaya akan tetapi ia memilih untuk berdiam diri.

Dalam pada itu, akhirnya Ki Lurah Sanggamurti memberanikan diri kemudian ia bertanya,”Ki Rangga, apakah Ki Rangga akan singgah menemui Adipati Lasem?”

“Aku tidak mempunyai rencana untuk bertemu dengan Kakang Adipati,” jawab Gagak Panji pendek.

Ki Sanggabaya merasa sudah tidak dapat menemukan jalan lain untuk berbicara banyak hal dengan Gagak Panji, kemudian ia berdiam diri.

Tiba-tiba Gagak Panji berkata,” tetapi aku akan menemui Ki Tumenggung Bajra Lodaya. Tentu saja aku akan mengatakan padanya jika aku telah bertempur dengan anak buahnya yang tangguh di medan pertempuran.”

Ki Lurah Sanggamurti menganggukkan kepala dan sedikit merasa longgar dalam dadanya. Ternyata orang yang sedang berbicara dengannya itu agaknya mengenal pemimpin mereka. Namun ia masih menjaga diri dari apa-apa yang ingin ia tanyakan. Ia berdesis dalam hatinya,” Setidaknya malam ini dengan kehadiran Ki Rangga Gagak Panji, keselamatan anak buahku lebih terjaga. Aku harus berterima kasih padanya untuk itu.”

“Ki Rangga, aku berterima kasih atas bantuan yang Ki Rangga berikan pada kami saat menghadapi kelompok Ki Bajang Saloka. Jika Ki Rangga tidak segera turun tangan, tentu akan jatuh korban yang lebih banyak di pihak kami,” kata Ki Lurah Sanggamurti merendah.

“Ah, lupakanlah. Aku hanya melakukan apa yang sudah sewajarnya dilakukan oleh seorang prajurit. Terlebih kalian semua adalah orang baik, jadi aku kira sudah seharusnya memberi bantuan sebatas yang dapat aku lakukan bagi kalian,” desah Gagak Panji.

Mendengar kata-kata Gagak Panji, Ki Lurah Sanggamurti mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian ia meminta diri untuk mengatur para prajuritnya untuk berjaga dan ia juga mempersilahkan Ki Rangga Gagak Panji untuk mengambil istirahat terlebih dahulu.

“Silahkan Ki Lurah. Aku akan beristirahat di tempat ini, kita akan bergantian mengawasi keadaan,” jawab Ki Rangga setelah Ki Lurah Sanggamurti menyampaikan maksudnya.

Sepeninggal Ki Lurah Sanggamurti, Gagak Panji merebahkan diri di atas rumput dan mencoba memejamkan mata. Gelap semakin pekat dan cahaya petir sesekali menerangi keadaan sekitar tempat mereka bermalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *