Sampai Jumpa, Ken Arok!8

“Dan aku lebih suka jika menyingkir dari jalanan. Kau tentu tidak akan suka, lalu membenci dirimu sendiri sepanjang hidupmu saat kau melihat ini,” sahut Mahendra sambil memperlihatkan sepotong emas yang berbentuk lingkaran, yang mempunyai ciri tertentu, dan hanya dimiliki oleh orang-orang yang mempunyai hubungan khusus dengan istana.
Toh Kuning menggelengkan kepala, katanya, ”Nah, berikan itu padaku!” Ia bergeser setapak maju lalu berkata lagi, ”Setiap pedagang yang melewati Alas Kawitan telah aku wajibkan untuk meninggalkan emas atau benda berharga lainnya sebagai hadiah bagiku. Karena itu kau harus tahu bahwa Alas Kawitan telah berada dalam kekuasaanku. Alas Kawitan bukan wilayah kekuasaan Kediri. Aku adalah raja di Alas Kawitan.”
Orang-orang Mahendra berseru kaget lalu menertawakan ucapan Toh Kuning yang mereka anggap sebagai perkataan orang gila. Bahkan para pengikut Ki Ranu Welang juga terbahak-bahak mendengar celoteh Toh Kuning.
Mahendra bertepuk tangan. “Kau bernyali besar. Namun kau sedang berhadapan dengan Mahendra, saudara angkat Mahesa Wunelang pemimpin prajurit Kediri yang sangat ditakuti oleh orang-orang sepertimu,” kata Mahendra tanpa turun dari punggung kuda.
“Oh Mahesa Wunelang?” seru Toh Kuning dengan sikap seolah tak percaya pada Mahendra. Ia memutar tubuh dan berkata pada orang-orang di sekitarnya, ”Kalian dengar itu? Mahesa Wunelang agaknya telah menjadi senjata pamungkas.
“Hei, sejak kapan Mahesa Wunelang berubah wujud menjadi sebilah keris? Oh ya tentu saja ada keris yang bernama Mahesa Wunelang.”
Lalu tiba-tiba Toh Kuning menggerakkan kaki dan sebutir batu kecil melayang dengan cepat menyerang Mahendra. Mendadak batu kecil itu meledak saat melayang di udara ketika Mahendra mengangkat telapak tangan menyambut serangan kecil yang diluncurkan oleh Toh Kuning.
Pertunjukan telah diawali oleh Toh Kuning, maka dengan begitu ia dapat mengukur kekuatan Mahendra.
“Ah!” berseru Toh Kuning lalu, ”tentu saja saudara angkat Mahesa Wunelang mempunyai ilmu yang setara. Tetapi Mahesa Wunelang tidak berada di sini untuk melindungi saudaranya yang menjadi orang kepercayaan Raja Kediri. Dan tentu saja Mahesa Wunelang akan marah padamu jika kau tidak menghargai permintaan seorang raja sepertiku.” Toh Kuning menepuk dada. Ia telah berhitung dengan waktu jika Ken Arok dan Ki Ranu Welang telah berada lebih dekat dengan tempat itu. Maka, mendadak Toh Kuning berteriak keras memberi perintah untuk menyerang rombongan Mahendra. Sebelum mulutnya terkatup, Toh Kuning telah melesat deras untuk memberi tekanan pertama pada Mahendra.
Mahendra ringan melompat dari punggung kuda dan menyambut serangan Toh Kuning.
Sekejap kemudian lontaran anak panah datang bertubi-tubi dari sekeliling rombongan dan menjatuhkan beberapa pengawal Mahendra. Sementara dari kedua sisi tikungan, orang-orang Ki Ranu Welang berloncatan menerjang rombongan saudagar itu. Dalam waktu singkat terjadi hiruk-pikuk yang semakin lama semakin riuh. Teriakan yang saling membentak di antara kedua kelompok itu semakin rapat bersahutan.
Sejalan dengan suara-suara gaduh yang memenuhi udara, ketegangan semakin memuncak ketika pukulan dan tendangan mulai menyentuh tubuh setiap orang.
Para pengikut Mahendra melakukan perlawanan sangat ketat. Bagi mereka, harta benda dan barang dagangan para saudagar memiliki nilai yang lebih mahal daripada nyawa mereka sendiri. Kepercayaan adalah pegangan hidup tertinggi. Andaikata mereka ingin, satu-dua perhiasan atau segantang bahan pokok dapat mereka selipkan di balik baju mereka.
Tetapi mereka adalah orang yang dikirim oleh ratu langit, demikian Mahendara menyebut anak buahnya. Dengan nilai jiwani tinggi yang diajarkan oleh Mahendara, semangat tempur anak buanya selalu berada di lapisan puncak. Mereka belum pernah merasa gentar dan surut meski berhadapan dengan jumlah perampok lebih banyak dan lebih lengkap persenjataannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *