Pandan Wangi memandang lurus pada lawan bicaranya, kemudian berkata, “Aku harap kau menyadari bahwa dengan memasuki pedukuhan, maka besar kemungkinan seseorang tidak dapat kembali pulang. Walau demikian, engkau tak perlu merasa khawatir dan gelisah dengan kematianmu. Aku yakin hidupmu lebih berharga dibandingkan kematianmu.”
Pangeran Mataram itu melengos sambil berkata, “Pengulangan kata yang tidak perlu. Lagipula, aku tidak menganggap itu sebagai ancaman.”
“Ya karena aku memang bukan ancaman,” sahut Pandan Wangi dengan senyum tipis. “Jika kau gentar, tentu banyak orang yang akan kecewa padamu. Anggaplah itu kemurahan hatiku dengan memberimu pilihan.”
“Sungguh, kau benar-benar pandai bicara,” ucap pangeran Mataram itu.
“Tuan Muda,” kata Pandan Wangi. “Aku bukan orang yang tidak tahu tata krama tapi kami adalah tuan rumah. Jadi, aku sengaja mengabaikan permintaan atau pertanyaanmu untuk mengenal dirimu.”
“Baiklah,” sahut pangeran Mataram, “waktu sudah banyak terbuang dengan percuma. Aku di sini sekarang. Aku adalah Pangeran Selarong, putra mendiang Panembahan Hanykrawati.”
Pandan Wangi menanggapi dengan biasa saja. Tidak ada ungkapan terkejut dari sikap maupun wajahnya. Bahkan dia sama sekali tidak merasa cemas atau gelisah dalam hatinya. Dengan nada yang terdengar cukup tenang, Pandan Wangi berkata, “Dalam urusan apakah Mataram mengutus seorang pangeran datang ke pedukuhan kecil ini bersama pasukan lengkap?
“Kau ini tidak tahu atau pura-pura saja?” tanya Pangeran Selarong dengan sedikit gusar. “Kami di kotaraja sudah mengetahui keputusanmu untuk menghukum mati setiap orang yang dicurigai sebagai kaki tangan kelompok pengacau keamanan.”
“Itu bagus, sangat bagus,” potong Pandan Wangi. “Tapi hukuman itu tidak ada kaitan dengan orang-orang di kotaraja.”
“Sebaliknya, keputusan itulah yang membawaku datang ke tempat ini dengan sejumlah orang bersenjata,” ucap Pangeran Selarong. “Atas nama raja, aku memerintahkanmu untuk melepaskan beberapa orang.”
Pandan Wangi menarik napas, lalu berkata, “Beberapa orang yang kau maksudkan itu, apakah prajurit yang menyamar atau kerabat kalian?”
“Pandan Wangi,” ucap Pangeran Selarong dengan penuh tekanan. “Aku dapat saja menangkapmu dengan alasan mengulur waktu atau melawan kehendak raja, lalu menghukum semua orang yang terlibat atau mendukungmu. Aku katakan sekali lagi dan itu adalah perintah bagi setiap orang yang mendengar. Bawa aku ke tempat tahanan lalu lepaskan beberapa orang.”
“Tidak semudah itu, Pangeran,” kata Pandan Wangi tegas. “Kami belum mendapatkan keterangan yang bermanfaat bagi pedukuhan dari mereka. Terlepas dari latar belakang atau jati diri masing-masing tahanan, pedukuhan ini sedang mengusahakan yang terbaik bagi orang-orang yang tinggal di dalamnya. Saya harap Pangeran dapat mengerti.”
Setelah berpikir cepat, Pangeran Selarong kemudian berucap, “Kau dapat melepas para tahanan yang aku inginkan, lalu aku menggantikan mereka sebagai jaminan.”
“Penawaran yang menarik,” kata Pandan Wangi. “Tapi jika aku setuju, maka langkah itu dapat menjadi alasan para pembesar di kotaraja untuk membuat pedukuhan ini rata dengan tanah.” Putri pembesar Tanah Perdikan itu kemudian memandang jauh ke belakang Pangeran Selarong, lantas berucap, “Aku tidak melihat adanya keterangan tambahan dari Pangeran terkait dengan pergerakan Raden Atmandaru. Pangeran, Anda tidak mempunyai sedikit pun pengetahuan mengenai usaha mereka di sekitar pedukuhan ini. Itu adalah perbedaan antara Anda dan para prajurit sandi yang sedang berada di dalam tahanan. Saya yakin Anda cukup memahami keadaan ini.”
Nyatalah bagi Pangeran Selarong bahwa perempuan yang sedang berhadapan dengannya bukanlah orang yang mudah ditekan atau diancam. Bahkan seandainya dia memaksa, maka Pandan Wangi pun tak akan segan memberi perlawanan yang pasti lebih cadas. Kekerasan memang bukan jalan terbaik untuk membujuk Pandan Wangi. Dia bukan orang bodoh yang mudah digoyang perasaan dan pikirannya, pikir Pangeran Selarong. Seperti yang dikatakan Pandan Wangi, keadaan saat itu memang cukup genting dan dapat berakibat buruk bila dia memaksa masuk dengan senjata. Selain itu, para pemberontak pasti sedang menyaksikan dan mendengar percakapan mereka lalu memanfaatkan asap dan air keruh untuk mendapatkan keuntungan tambahan. Pandan Wangi cukup cerdas menyampaikan maksudnya, puji Pangeran Selarong dalam hati. Maka putra Panembahan Hanykrawati ini pun merasa butuh waktu agak lama untuk mencari jalan agar dapat masuk ke pedukuhan tanpa kekerasan.
Pada saat yang berdekatan dengan percakapan antara Pandan Wangi dan Pangeran Selarong, Agung Sedayu dan dua pengiringnya sudah mendekati wilayah Pedukuhan Jagaprayan dari arah yang berbeda. Setelah mengamati keadaan yang membentang di depannya, Agung Sedayu dapat menilai tingkat penjagaan yang dilakukan para pengawal pedukuhan.
“Cukup sulit bagi kita lolos dari pengawasan lawan,” ucap Agung Sedayu.
Ki Plaosan kemudian berkata, “Bagaimana jika saya masuk dari jalan yang semestinya?”
“Apakah Ki Lurah yakin tidak mendapatkan kesulitan dari pengawal pedukuhan?” tanya Agung Sedayu.
Meski ada keraguan pada sorot matanya, Ki Lurah Plaosan menjawab, “Saya rasa itu bisa dilakukan walau kekhawatiran Ki Rangga memang beralasan.”
Sebenarnya Agung Sedayu dapat melihat bahwa permintaan Ki Lurah Plaosan cukup masuk akal. Andaikata pengawal pedukuhan tidak mengizinkannya masuk, itu bukan masalah baginya. Hanya saja, keberadaan lurah Mataram di sekitar regol pedukuhan akan menjadi perhatian kelompok Raden Atmandaru. Meski Ki Plaosan tidak cukup dikenal banyak orang, tapi masih ada kemungkinan para pesuruh lawan – terutama yang berasal dari Kepatihan atau Kraton – dapat mengenalinya. Selain itu, Agung Sedayu sendiri pun belum menemukan cara lain yang dapat menjauhkan mereka bertiga dari pengintaian lawan. Pemimpin pasukan khusus ini merasa harus membuat pertimbangan yang matang setelah memperhatikan sikap para pengawal. Dari tempat pemberhentian itu, mereka bertiga dapat melihat para pengawal mengawasi sekaligus juga mengatur pedati yang berisi berbagai benda milik pedagang ataupun petani. Pengawal pedukuhan tidak tampak sembrono dalam tugas mereka. Sekalipun perintah-perintah diucapkan dengan nada rendah tapi ketegasan tercermin jelas dari sikap mereka.
“Mereka cukup berhati-hati dan waspada. Sekalipun kita tidak mendengar bentakan, tapi kepatuhan orang-orang sudah memberi gambaran nyata tentang hubungan mereka,” ucap Agung Sedayu. “Melewati penjagaan tentu bukan perkara mudah.”
“Cukup mengundang rasa ingin tahu, ucap Ki Lurah Plaosan. “Bagaimana Nyi Pandan Wangi melakukan pendekatan sehingga para pengawal dapat bersikap seolah-olah tidak sedang terjadi sesuatu?”
Agung Sedayu dan seorang lagi mengangguk tapi tidak mengucap kata.
Sejenak kemudian suasana sunyi menghampiri mereka bertiga, Agung Sedayu memandang jalanan menurun dan pedukuhan yang terhampar hijau di depan mereka. Beberapa tempat menarik perhatiannya karena cukup tepat dijadikan sebagai gardu pantau. Sementara di ujung turunan jalan terlihat sekitar empat pengawal sedang mengawasi lingkungan sekeliling mereka. Agung Sedayu dapat melihat kedudukan para pengawal yang terlindung samar tanaman.

“Ki Lurah,” ucap Agung Sedayu. “Kita tidak tahu kedudukan Pandan Wangi pada saat ini. Dia bisa berada di mana saja. Pandan Wangi tentu sudah memikirkan kemungkinan bahwa Mataram akan mengirim utusan untuk menemuinya. Jadi, berpencar adalah langkah yang harus kita tempuh untuk melewati penjagaan ketat ini. Saya dan Ki Lurah tentu segera menjadi pusat perhatian dan pengamatan sekalipun kita berdua masuk dengan cara menyamar, kecuali kita menyelinap melalui pekarangan atau petegalan yang menjadi batas pedukuhan.”
Ki Lurah Plaosan mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari kegiatan yang berada di bawah mereka.
“Tapi saya pikir seandainya pengikut Raden Atmandaru atau pengawal pedukuhan mengenali salah satu atau kita bertiga seluruhnya, itu belum tentu juga menjadi kerugian buat kita. Mereka tidak mengenali kita itu memang keuntungan, tapi kita juga tidak menanggung kerugian. Jadi, ini rencana saya, Anda berdua masuk dari regol utara. Kita masuk terang-terangan. Orang-orang Raden Atmandaru mungkin sudah menduga siapa saya, tapi mungkin mereka juga tidak mengira bahwa kita berasal dari kelompok yang sama,” kata Agung Sedayu.
Ki Lurah Plaosan kembali mengangguk sambil mengerling pada arah matahari, kemudian berkata, “Matahari semakin tinggi.” Lurah Mataram ini seolah mendesak halus Agung Sedayu agar segera menyusun siasat.
“Ki Lurah,” ucap Agung Sedayu sambil menghadapkan wajah pada dua pengiringnya. Kemudian dia memberi arahan pada Ki Lurah Plaosan bila seandainya bertemu dengan Pandan Wangi. Orang di samping lurah Mataram itu turut mendengarkan dengan seksama. Kemudian Agung Sedayu berkata, ”Keadaan masih samar dan penuh ketidakpastian, maka rencana saya tidak menjamin keberhasilan.”
“Kami mengerti,” sahut dua pengiring Agung Sedayu serempak.
