(Bondan Lelana) – Ki Cendhala Geni – 5

Keindahan alam yang dilewati mereka berdua serta kesejukan udara telah mengalihkan perhatian Bondan. Ken Banawa yang memahami semangat anak muda ini hanya menghela nafas. Dia mengetahui bahwa di Alas Cangkring ada orang linuwih yang pilih tanding. Ken Banawa sudah memperhitungkan resiko paling buruk karena jika dugaannya benar maka esok hari mungkin akan bertemu dengan Mpu... Continue Reading →

Lanjutan Api di Bukit Menoreh 397 – 6

Sementara itu beberapa ratus tombak di sebelah barat alun-alun, kedua petugas sandi yang baru datang dari Mataram telah melakukan pengamatan di lingkungan mereka. Mereka menyewa rumah itu dari seorang penduduk selama beberapa bulan. Keduanya mengaku berasal dari Pegunungan Sewu dan sedang menjajagi kemungkinan untuk berdagang di Panaraga. Sejenak kemudian, Madyasta datang memasuki regol halaman dan... Continue Reading →

Lanjutan Api di Bukit Menoreh 397 – 5

"Angger, kau sudah berada cukup jauh dalam melangkah di jelajah orang-orang berilmu tinggi dalam olah kanuragan. Selain ilmu kebal dan serangan melalui sorot mata, kini kau mampu mengolah watak panas menjadi. seperti cahaya matahari yang terhalang mendung," berkata Ki Waskita. Ki Jayaraga menambahkan kemudian," namun itu tidak berarti engkau tidak tak tertandingi. Mungkin ada satu... Continue Reading →

Lanjutan Api di Bukit Menoreh 397 – 4

Sebenarnyalah Pangeran Ranapati telah kembali ke rumah yang ditinggalkannya. Sejenak ketika ia tiba di rumah yang disediakan Pangeran Jayaraga, utusan Mas Panji Wangsadrana telah memintanya untuk bertemu di pendapa kadipaten. Meski belum banyak dikenal oleh prajurit yang sedang bertugas jaga, Pangeran Ranapati tidak menemui kesulitan memasuki regol kadipaten karena ditemani oleh utusan Mas Panji Wangsadrana.... Continue Reading →

Sarung Kumal, Sarungku Sayang

Suep yg merasakan sensasi luar biasa setelah menikmati pemandangan indah, memutuskan untuk berendam di sebuah sendang yang terletak di ujung pedukuhan. Untuk beberapa lama dia berendam, lantas ia merasakan tubuhnya terasa bugar. Ketika ia keluar dari sendang ternyata sarungnya yang kumal dan lusuh sudah tidak berada di tempat dia meletakkan tadi. Dia berseru : woiii...siapa... Continue Reading →

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑