Kehidupan dalam Bingkai Sastra

Ki Cendhala Geni

terbit setiap hari Senin

2018-02-02_17-14-55-434

Adalah Ki Cendhala Geni yang menjadi lawan utama dalam episode Ki Cendhala Geni. Seorang tokoh besar yang cukup disegani di pesisir selatan Pulau Jawa. Dari lereng Merapi hingga Gunung Raung menggemakan kebesaran namanya.
Peran serta Gajah Mada, yang masih berusia muda, dapat mempersingkat kekuasaan Ki Cendhala Geni yang sempat menduduki kota. Pembagian tugas antara Bondan dan Gajah Mada yang dibantu Ki Pagawal serta Ki Nagapati telah mempersingkat kekuasaan Ki Cendhala Geni di Kahuripan.

Pergerakan Bondan yang membayangi prajurit Majapahit telah membatasi ruang gerak Ki Cendhala Geni yang juga ingin mengembalikan kejayaan Kerajaan Kediri.
Sedangkan di lain pihak, kematian Lembu Sora dan Gajah Biru telah memberikan luka yang cukup dalam bagi para prajurit yang setia pada keduanya. Permintaan yang diajukan pada Sri Jayanegara untuk memulihkan nama baik keduanya selalu berujung penolakan. Penolakan ini kemudian menjadi sebab dikepungnya kotaraja oleh pasukan Ki Nagapati yang sebelumnya membantu pembebasan Kahuripan dari pemberontak.
Pada akhirnya usaha Ki Cendhala Geni untuk mengacaukan keamanan di Majapahit akhirnya tertiup angin segar. Ki Sentot Tohjaya menjadi daya tarik bagi Ki Cendhala Geni untuk ikut bergabung dalam pasukan Ki Sentot di Bulak Banteng yang semakin kuat . Bondan dan Gajah Mada kembali bekerja sama untuk memadamkan gelora yang disebabkan oleh Ki Sentot Tohjaya.

Selengkapnya dapat diikuti di  ⇒⇒⇒⇒⇒⇒ Ki Cendhala Geni 

atau di  ⇒⇒⇒⇒⇒⇒ Bondan Lelana

 

Bara di Borobudur

dijadwalkan terbit antara hari Rabu sampai Sabtu dengan dua kali tayang dalam seminggu

cropped-img_20180124_182436_516.jpg
                                                                Sinopsis Bara di Borobudur                                                     

Kehadiran Bondan di Pajang telah membuka mata Bhre Pajang. Setelah berkenalan dengan Jalutama, putra Ki Argajalu pemimpin Tanah Perdikan Menoreh, Bondan mulai melangkah sesuai pesan gurunya. Keamanan Pajang mulai dipulihkan oleh Patih Brang Wetan yang dibantu Ken Banawa dan Ki Banyak Abang.

Atas saran Ra Pagawal, Ki Gede Menoreh meminta bantuan ahli senjata untuk membuat sebatang tombak. Ki Gede Menoreh berencana memberi hadiah tombak dari Plered sebagai sebuah pertanda penuh arti bagi Sri Jayanegara.

Selengkapnya dapat diikuti di  ⇒⇒⇒⇒⇒⇒ Bara di Borobudur

Panembahan Tanpa Bayangan

diterbitkan secara berkala ( 1 atau 2 x seminggu antara Selasa – Rabu – Kamis)

PVKsg1516701009
Sinopsis Panembahan Tanpa Bayangan

Raden Atmandaru yang mengaku sebagai putra Pangeran Banawa kini menghimpun kekuatan di Kademangan Mangunreja. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, seusai Pemberontakan Panaraga yang berhasil dipadamkan Pangeran Jayaraga/ Raden Mas Julik, kekuatan dari Mangunreja mulai merambat mendekati Mataram melalui Deyangan.

Kawasan perbukitan Menoreh yang berada di sebelah barat pusat kerajaan Mataram pun kemudian menjadi pintu masuk untuk merebut kekuasaan dari Panembahan Hanyakrawati.

Kegelapan semakin membayang ketika Panembahan Hanyakrawati meninggal di Alas Krapyak dan kelengahan Mataram menjadi sebab hilangnya tombak pusaka Kanjeng Kiai Plered dari Gedung Perbendaharaan Keraton. Semua peristiwa itu menjadikan Sarjiwa semakin dalam melibatkan dirinya.  Sarjiwa tanpa mengenal lelah terus menempa diri.

Selengkapnya ikuti di ⇒⇒⇒⇒⇒⇒   Panembahan Tanpa Bayangan

sugeng-rawuh1

Didukung oleh:

cropped-bekam-penyakit-convertt-coba-upload.jpg

serta sumbangsih berupa :

  1. Pulsa dengan nominal seikhlasnya ke nomor 0818 0877 6640 (XL) atau
  2. Transfer ke rekening Bank Mandiri nomor 142 000 456 6286 a.n Roni Dwi Risdianto

Kritik dan Saran : risdianto.roni@yahoo.com

 

Selamat Menikmati Cerita Silat Klasik Nusantara

 

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑