Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 2 – Pandan Wangi Gugat

Putri Ki Gede Menoreh ini memandang ke arah barisan pasukan, mencari satu wajah yang dikenalnya. Jika Agung Sedayu ada di sana, dia ingin melihat matanya—mencari celah keraguan, atau justru menemukan kepastian yang lebih menakutkan. Namun yang terlihat hanya seragam, senjata, dan ketertiban yang terlalu rapi untuk sebuah duka.

Pandan Wangi melepas kepergian Ki Gede dari regol kediaman. Setelah iring-iringan pasukan khusus menghilang di kelokan tajam, dia memutar tubuh, menuju pendapa. Dalam waktu itu, Pandan Wangi tahu bahwa hari ini bukan tentang air mata dan kesedihan segenap orang Menoreh. Ini adalah hari yang kegelapannya mampu menutup seluruh pancaran sinar matahari.

Perempuan tangguh, yang sangat baik menjalankan tugas sebagai kepala keamanan Pedukuhan Jagaprayan dan membuktikan diri sangat pantas diperhitungkan di medan perang, mengepalkan tangan. Jika kebenaran disembunyikan hari ini, dia akan mencarinya esok. Jika nama-nama besar berusaha menutupinya, dia akan menyebutnya satu per satu lalu melawan dengan sangat keras bersama seluruh pengawal di Perbukitan Menoreh.

Ayahnya mungkin telah pergi, tetapi keberanian masih menyala dalam dadanya.

Penaklukan Panarukan menempatkan perang bukan sebagai ledakan keberanian, melainkan rangkaian keputusan yang saling menekan. Penaklukan Panarukan hadir bukan sekadar wilayah yang direbut, tetapi simpul kepentingan, harga diri, dan perhitungan politik yang tidak memberi ruang bagi kesalahan kecil. Setiap langkah maju menyimpan risiko, setiap kemenangan menyisakan utang darah.

arya penangsang, pangeran benawa, silat pajang, demak

Novel ini bergerak di antara strategi, ketegangan batin, dan akibat yang tidak selalu bisa dipilih. Tidak semua tokohnya yakin, tidak semua perintah terasa benar, namun roda sejarah tetap berputar tanpa menunggu keraguan manusia.

Penaklukan Panarukan  membaca penaklukan sebagai proses yang melelahkan, dingin, dan sering kali sunyi. Bukan kisah tentang yang paling berani, tapi yang sanggup menanggung akibat paling lama.

Siang merambat naik dengan langkah tergesa seolah matahari pun ingin ikut campur dalam perkara manusia. Kebisingan di Bukit Menoreh tidak juga surut; justru berubah bentuk. Jika pagi dipenuhi bisik dan langkah tertahan, siang menghadirkan suara-suara yang lebih lantang—perbantahan dan penyangkalan, kabar angin yang mulai menemukan arah, dan tatapan-tatapan yang tak lagi menunduk.

Kinasih berdiri tak jauh dari Pandan Wangi. Sejak kabar itu tersebar, dia memilih berada di sana, di jarak yang cukup dekat untuk mendengar, namun cukup jauh untuk tidak tampak mencampuri. Wajahnya tenang, seperti air telaga yang permukaannya nyaris tak beriak. Namun di balik ketenangan itu, ada keyakinan yang teguh—keyakinan pada satu nama: Agung Sedayu.

Bagi murid Nyi Banyak Patra ini, Agung Sedayu bukan sekadar senapati. Kinasih adalah orang yang merawat—jika tidak dianggap sebagai penyelamat nyawa—setelah rangga Mataram itu tersusupi tenaga asing Kyai Plered. Berangkat dari masa perawatan di Pajang, perjalanan hingga hari itu, Kinasih tahu Agung Sedayu adalah ukuran tentang keputusan yang seharusnya diambil: tegas, terukur, dan selalu didahului pertimbangan yang lebih luas daripada kepentingan diri.

Sejak melihatnya pertama kali di Slumpring, Kinasih berusaha belajar memercayai keputusan lelaki itu, bahkan ketika keputusan itu menyakitkan. Kepercayaan itu tumbuh tanpa diminta, berakar dalam-dalam, dan di suatu titik, berubah menjadi sesuatu yang lebih halus, lebih rapuh—benih rasa yang tak pernah berani diucapkan. Apakah karena pandangan pertama atau imbal balik dari perlakuan yang pertama?

Kinasih tahu batas. Dia tahu tempat berdiri, duduk dan melangkah. Kinasih memilih menyimpan rasa itu seperti menyimpan pusaka: dibersihkan dalam diam, dijauhkan dari tatapan, dan tidak pernah dipamerkan. Cukup baginya jika dia percaya. Cukup baginya jika mampu berdiri di sisi keputusan Agung Sedayu, meski tak selalu di sampingnya.

Namun hari ini, hari ketujuh sejak kedatangan Agung Sedayu, kepercayaan diuji.

Pandan Wangi, yang sejak pagi menahan amarah dan duka, akhirnya berkata dengan suara yang tak lagi sepenuhnya terjaga. “Jika jasad ayahku disembunyikan,” ucapnya, menatap lurus ke arah pengawal yang menjaga kediamana, “berarti ada sesuatu yang ingin ditutupi. Dan jika pasukan khusus yang memerintahkan, aku tak bisa tidak memikirkan orang-orang yang berada di baliknya.”

Nama itu tidak disebutkan, namun bayangannya terlalu jelas.

Kinasih mendengar dengan sikap tenang, tapi gejolak hatinya tidak dapat dihentikan. Udara menegang. Ucapan Pandan Wangi jatuh seperti batu ke permukaan air pada tengah malam, menimbulkan gelombang yang menjalar cepat. Kinasih merasakan dadanya mengencang. Dia tahu arah tudingan. Seandainya dibiarkan, keraguan dapat menjelma menjadi tuduhan.

“Nyi,” kata Kinasih lalu mengangkat wajah. Suasana sekitar mereka begitu sepi. Orang-orang tampak berlalu lalang di jalan sambil sekali-kali mengarahkan pandangan ke rumah Ki Gede Menoreh.

Pandan Wangi menatap padanya. Suara Kinasih tidak keras tapi jelas. Ada keteguhan di sana, sesuatu yang membuat roda pedati berhenti bergerak.

“Ki Rangga belum diketahui keberadaannya,” lanjut Kinasih. “Seandainya semua ini adalah akibat dari keputusan beliau, Ki Rangga tidak pernah menempatkan keinginan di atas setiap keputusannya. Jika ada larangan hari ini, pasti ada alasan yang sangat kuat. Mungkin seperti rincian sebab wafat Panembahan Hanykrawati. Saya berada di sana dan turut dalam pertempuran, tapi saya tidak dapat mengetahui segala yang terjadi di dalam pesanggrahan.”

Sorot mata tajam yang tergenang basah air kedukaan yang belum sempat mengalir menjadi air mata. “Alasan?” ulangnya. “Alasan apa yang lebih besar daripada hak seorang anak melihat ayahnya untuk terakhir kali?”

Kinasih tidak mundur.

“Keamanan,” jawabnya singkat. “Dan ketertiban. Bukit Menoreh dalam ancaman dan kita paham satu percikan dapat menghanguskan segalanya.”

 “Keamanan siapa?” Pandan Wangi menyela. “Ketertiban untuk siapa? Siapa melindungi siapa? Apa yang menjadi bahaya?”

Lontaran pertanyaan menembus sunyi, memecah udara lalu menggantung. Kinasih merasakan getaran halus di tangannya, namun dia tetap berdiri tegak. “Untuk semua,” katanya akhirnya. “Termasuk Anda.”

Nada itu bukan untuk merendahkan, bukan pula memerintah dan menggurui. Jawaban itu muncul dan terdengar seperti keyakinan yang telah lama diasah.

Waktu mengapung perlahan. Seandainya ada orang lain mungkin dia akan mengangguk pelan, seolah menemukan pegangan kemudian menunggu kelanjutan.

Pandan Wangi menatap Kinasih lebih lama. Di balik kemarahannya, ada rasa heran. Kinasih tinggal di rumahnya beberapa hari terakhir: dia pasti bicara dengan Ki Gede dan Agung Sedayu serta banyak orang lain. Sejauh itu, Pandan Wangi mengenal Kinasih sebagai perempuan yang jarang menonjolkan diri, yang lebih sering menjadi pendengar daripada pembicara. Namun hari ini, dia tegas untuk membuat pembelaan secara benderang dan tanpa keraguan.

“Tidak ada sesuatu yang tiba-tiba diucapkan tanpa dasar pengetahuan dan pengalaman,” ucap Pandan Wangi pelan tapi setiap kata mengandung tekanan. “… dan pemahaman.”

Darah Kinasih seakan berhenti berdesir.

Murid tunggal Nyi Banyak Patara itu  diam sejenak. Pertanyaan memang tidak menuju langsung pada Agung Sedayu, tapi sayapnya tidak dapat dikekang tali. Benih yang selama ini disimpan rapi tiba-tiba terasa seperti beban di dada. Pemahaman menjadi anak kunci..

“Saya yakin karena melihat,” jawab Kinasih akhirnya. “Berkali-kali. Ki Rangga kerap membuat keputusan yang lebih berat baginya daripada bagi orang lain.”

“Dan kau mempercayainya sepenuh itu?” Pandan Wangi mendesak. “Bahkan hari ini?”

“Saya, Nyi,” kata Kinasih. Satu kata. Tegas. Tanpa celah.

Keheningan menyusul. Angin melintas, membawa bau tanah dan dedaunan. Pandan Wangi menghela napas, lalu tersenyum tipis. Kelegaan dan kecemasan yang dapat membuatnya terluka. “Kalau begitu,” katanya perlahan, “biarkan aku bertanya satu hal, Kinasih.” Pandan Wangi menatap lurus. “Apakah kau membelanya karena keyakinan… atau karena sesuatu yang jauh lebih dalam dari pada itu?”

Pertanyaan itu menghantam tepat di pusat ketenangan Kinasih. Untuk sesaat, dunia terasa menyempit. Dia ingin menjawab dengan cepat kemudian menutup pintu itu rapat-rapat. Namun kata-kata tidak segera datang. Yang ada hanyalah kesadaran bahwa perasaannya, yang selama ini aman dalam diam, kini berdiri di ambang terbuka.

“Saya…” Kinasih berhenti. Menelan ludah. “Apa pun jawabannya, itu tidak mengubah siapa dan bagaimana Ki Rangga Agung Sedayu,” katanya akhirnya. “Dan tidak mengubah kenyataan bahwa menuduh tanpa bukti hanya akan menambah luka.”

Pandan Wangi mengangguk pelan. “Mungkin,” katanya. “Atau mungkin justru di sanalah kebenaran sering bersembunyi—di balik keyakinan dan rasa.”

Pandan Wangi berpaling, meninggalkan Kinasih dengan pertanyaan yang tak terjawab sepenuhnya. Di dadanya, duka dan kecurigaan bercampur, membentuk tekad yang kian mengeras. Sementara Kinasih berdiri mematung, menyadari bahwa hari ini, bukan hanya Bukit Menoreh yang bising. Hatinya pun ikut bergemuruh—antara setia pada keyakinan, dan jujur pada rasa yang tak pernah berani disebutnya.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 33 – Gaung Keras dari Gunung Kendil

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 26 – Menjelang Laga Pamungkas Gunung Kendil

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 16 – Serangan Fajar Hari Sembilan

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.