Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 42 – Pagi yang Sunyi di Jantung Mataram

Gerbang Keraton tampak dari kejauhan. Prajurit jaga sudah berganti saat pagi belum benar-benar pulih. Sebagian prajurit berdiri tegak menghadapkan wajah ke jalan yang memotong dan melintas di sekitar alun-alun. Ketika melihat seorang penunggang kuda mendekat, mereka mengubah sikap menjadi cukup waspada.

Agung Sedayu menahan kudanya di depan gerbang.

Prajurit jaga tahu bahwa orang itu tidak datang dari Kepatihan tapi dari arah persawahan

“Tahan, Ki Sanak,” ucap penjaga ramah tapi tegas.

Agung Sedayu menghentikan langkah lalu berdiri tenang seakan menyerahkan diri untuk diperiksa lebih dalam.

“Maafkan saya, Ki Sanak,” suara Agung Sedayu terdengar rendah.

“Kelihatannya Ki Sanak datang dari jauh,” ucap penjaga gerbang.

Agung Sedayu mengangguk. “Saya dari Tanah Perdikan Menoreh.”

Jawaban itu membuat prajurit jaga mengerutkan kening seakan sudah tahu perkembangan yang berlangsung di Tanah Perdikan Menoreh. Dia mengamati Agung Sedayu dengan seksama. Meski pakaian tamu itu tampak kusam oleh debu perjalanan, tapi sorot mata dan ketenangan sikapnya seperti menjadi penegasan ada sesuatu yang tersembunyi di sana.

“Maaf,” ucap prajurit itu kemudian. “Dapatkah Ki Sanak memperkenalkan diri?”

“Saya, Agung Sedayu.”

Prajurit itu menatap seperti ingin tidak percaya. Benarkah orang di hadapannya itu bernama Agung Sedayu? Yang katanya berhasil memimpin penumpasan kaum pemberontak di Gunung Kendil dan membunuh Raden Atmandaru?

Meski dipandang dengan raut wajah yang memancarkan kejanggalan, Agung Sedayu tetap bersikap tenang.

Seorang prajurit yang lebih banyak diam kemudian mendekat, lalu bertanya, “Ki Sanak, apakah ada sesuatu yang dapat kami kenali? Maaf, bukan karena tidak percaya tapi ini pelaksanaan tugas.”

Agung Sedayu tersenyum ramah, lalu mengangsurkan benda kecil, lencana logam bergambar khusus—tanda umum keprajuritan Mataram.

Dua prajurit jaga itu bertukar pandang, lalu saling mengangguk.

“Saya laporkan dulu pada lurah kami,” ucap prajurit yang berusia agak muda.

“Saya akan menunggu,” kata Agung Sedayu meyakinkan.

Tidak lama dari penyerahan lencana, seorang lelaki yang mungkin berusia lebih sedikit dari Agung Sedayu tampak berjalan keluar dari biliknya yang berada di belakang gardu jaga.

Lurah prajurit itu mengembalikan lencana dengan sikap hormat. “Maaf, Ki Rangga,” katanya pelan. “Kami menjalankan jaga sebagaimana mestinya.”

Agung Sedayu menerima kembali lencananya lalu menyimpannya. “Terima kasih, Ki Lurah.”

 Gerbang Keraton tampak kokoh tapi sikap para prajurit memperlihatkan suasana cair tanpa mengesankan sikap abai. Kesiagaan yang tertata pada pagi hari seakan dapat mencegah kebisingan tidak menyusup masuk ke jantung Mataram itu.

Lurah prajurit mengantarkan Agung Sedayu menuju tempat yang biasa digunakan prajurit berkedudukan tertentu untuk menunggu izin menghadap Sunan Agung maupun petinggi yang lain.

“Mohon bersabar, Ki Rangga. Waktunya terlalu pagi untuk menerima tamu tanpa pemberitahuan,” kata lurah prajurit itu dengan nada berbeda.

“Saya mengerti.”

Sejenak kemudian, lurah prajurit itu meninggalkan Agung Sedayu sendirian, sementara dirinya menuju ke tempat para pelayan dalam melakukan persiapan. Lurah prajurit itu meminta agar pelayan dalam segera mengeluarkan hidangan sebagai pendamping masa tunggu.

Pada waktu itu, Agung Sedayu membiarkan tubuh dan pikirannya untuk menyesuaikan diri dengan keadaan.

Beberapa saat setelah lurah prajurit kembali ke gardu jaga, seorang pelayan dalam yang usianya mungkin sepantaran dengan Sukra berhenti sejenak, memberi hormat singkat, lalu berkata pelan, “Ki Rangga, mohon maaf. Sinuhun dan Pangeran Purbaya akan menerima setelah matahari naik sedikit.”

Agung Sedayu sedikit merendahkan tubuh sambil berkata, “Saya dapat mengerti.”

Beberapa saat berlalu.

Seorang pelayan istana muncul membawa nampan kecil berisi minuman hangat. Pakaiannya sederhana, potongannya rapi tapi tidak mencolok. Wajahnya biasa—terlalu biasa untuk lingkungan seperti ini.

Pelayan itu menunduk sopan. “Silakan, Ki Rangga,” ucapnya setelah menempatkan makanan dan minuman secara patut di atas meja.

Agung Sedayu mengangguk. “Terima kasih, Ki.”

Tapi dia tidak segera mengambil hidangan itu. Ada sesuatu yang terasa aneh pada cara pelayan itu saat berjalan maupun berdiri. Meski begitu, Agung Sedayu tetap pada sikapnya yang mapan di tempat duduk.

Pelayan itu mundur setengah langkah. Saat berbalik, ujung kakinya berputar dengan sudut kecil yang nyaris tak terlihat, tapi keseimbangan tetap sempurna bila sesuatu terjadi di belakangnya. Dia berjalan pergi kemudian menghilang di balik pintu samping. Langkahnya ringan dan nyaris tidak bersuara. Kakinya menapak tenang sementara sorot matanya menyimpan sesuatu yang disembunyikan dalam.

Cara berdiri dan berjalan itu tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Banyak yang sama persis tapi hampir serupa ketika tidak banyak desir yang ditimbulkan. Perhatian Agung Sedayu pun sedikit tersita untuk pengamatan itu.

Beranda samping itu agak tersembunyi dari hiruk pikuk halaman depan. Angin bergerak pelan, membawa bau tanah basah dan dedaunan yang belum lama disiram hujan. Gerak langkah yang terdengar agak berat datang dari bagian dalam bangunan induk.

Agung Sedayu berpaling, kemudian melihat Pangeran Selarong berjalan mendekat padanya dengan wajah yang cukup tenang sekaligus menyiratkan kehangatan. Senapati Mataram itu lantas menyambut kedatangan putra raja Mataram itu lalu berhenti beberapa langkah, merendahkan tubuh,kemudian kembali berdiri tenang dengan tangan terjalin di depan.

“Paman Purbaya memanggil pulang karena keamanan Sangkal Putung sudah dalam kendali,” ujar Pangeran Selarong.

“Pangeran Purbaya selalu mendapatkan laporan yang tepat guna,” sahut Agung Sedayu dengan suara datar tapi setiap kata sudah ditimbang sebelum diucapkan.

Setelah bertukar kata untuk bertanya keadaan masing-masing, Pangeran Selarong memandang lurus pada Agung Sedayu lalu berucap, “Saya tidak melihat Ki Swandaru sama sekali sejak beliau keluar dari Watu Sumping.”

Agung Sedayu tidak langsung memberi tanggapan. Pandangannya mengikuti arah mata angin seolah sedang memanggil ingatan agar tepat ketika disampaikan.

“Saya bertemu dengannya,” katanya pelan, “ketika dia menempuh arah yang seolah menjadi tanda dia akan pergi meninggalkan Sangkal Putung.”

Pangeran Selarong mengangkat alis. “Meninggalkan Sangkal Putung ketika kekacauan belum terselesaikan.”

Putra raja Mataram itu kemudian diam. Angin berdesir mereka lalu menyapa daun-daun pisang di samping beranda. “Swandaru pergi dengan kehendaknya sendiri,” gumamnya lalu menarik napas panjang.

Seorang pelayan muda muncul dari sisi dalam bangunan induk. Langkahnya cepat tapi tidak tergesa-gesa, kehadirannya cukup pantas diketahui tanpa membuat orang terkejut. Dia berhenti dua langkah di belakang Pangeran Selarong, menunduk dalam-dalam, lalu memberi isyarat singkat dengan tangan terlipat di dada.

“Pangeran,” ucapnya lirih, “Sinuhun dan Pangeran Purbaya berkenan menerima Ki Rangga Agung Sedayu.”

Pangeran Selarong mengangguk satu kali. Tidak ada kelegaan yang memancar dari paras wajahnya dan juga tidak ada tekanan. Dia berpaling pada Agung Sedayu. Tatapan mereka bertemu sekilas, lalu Pangeran Selarong melangkah lebih dulu.

Agung Sedayu mengikuti, setengah langkah di belakang. Jarak itu tidak kebetulan. Langkah mereka menyusuri lorong dalam dengan derap tegap yang nyaris sama, tapi tidak sejajar. Pangeran Selarong di depan, Agung Sedayu sedikit tertinggal, tangan tetap terjalin, kepala tegak dan wajahnya tenang.

Lorong itu membawa mereka masuk ke ruang pertemuan.

Yang terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.

Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;

Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Demikian pemberitahuan. Terima kasih.

Pantulan matahari pagi menyusup dari sisi samping, memantul lembut pada lantai dan menyentuh sebagian dinding. Cahaya di dalam terasa ramah diterima mata.

Dinding-dindingnya gelap. Kayu tua yang menyimpan usia dan keputusan-keputusan besar. Warna itu seolah dapat menyerap suara dan membuat batasan bagi setiap kata yang akan terucap harus dipilih karena tak ada ruang untuk menerima kesalahan.

Ruang pertemuan itu penuh dengan wibawa yang memancar dari Sunan Agung dan Pangeran Purbaya sangat kuat.

Ruang itu bukan tempat untuk mencari kesalahan atau menjatuhkan hukuman, tapi udara di dalamnya seakan mempunyai kekuatan tersembunyi untuk menghimpit dada seseorang hingga terasa sesak. Sikap duduk Sunan Agung terasa seperti keanggunan yang mewah. Di sisi lain, kehadiran Pangeran Purbaya adalah garis ketegasan yang menjadi pembeda; lebih tajam, lebih terukur dan keberadaan yang tidak dapat dijelaskan.

Pada waktu itu, Pangeran Selarong tetap melangkah maju, membawa Agung Sedayu mendekat, lalu berhenti pada jarak hampir lima langkah—cukup dekat untuk saling mendengar tanpa perlu meninggikan suara hingga terdengar seperti bentakan. Di titik itu, Pangeran Selarong menoleh sebentar, memperhatikan keadaan Agung Sedayu.

Setelah menghaturkan hormat pada Sunan Agung dan Pangeran Purbaya, dia mundur selangkah, berbalik, dan meninggalkan ruangan. Pintu tidak ditutup keras—hanya bunyi halus kayu bertemu kayu.

Agung Sedayu berdiri sambil berteman ketenangan yang mengisi seluruh isi ruang hatinya di hadapan dua pusat wibawa Mataram. Dia tidak bicara sebelum diizinkan untuk itu. Tubuhnya tegak, sikapnya terbuka tapi tidak menantang.

Sunan Agung menggeser pandangan pada arah cahaya yang memantul ke dinding, kemudian beralih lurus pada Agung Sedayu.

“Perjalanan yang tidak terlalu melelahkan bagi Ki Rangga,” kata Sunan Agung pelan. “Saya harap Ki Rangga tidak banyak mengalami gangguan sepanjang perjalanan.”

“Demikianlah, Sinuhun. Yang Maha Sempurna senantiasa menyertai Sinuhun, keluarga, kerabat dan Mataram,” ucap Agung Sedayu singkat lalu mengangguk.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 6 – Ki Argajaya Menemui Pangeran Purbaya

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 35 – Awal Kehendak Besar di Ringinlarik

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 31 – Perkelahian yang Melelahkan

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.