Padepokan Witasem
Api di Bukit Menoreh, Agung Sedayu, Kiai Gringsing, cerita silat
Bab 2 Jati Anom Obong

Jati Anom Obong 25

Kedua orang itu sama-sama melihat dan mengetahui bahwa kedua benda itu belum berbenturan! Namun keping logam telah pecah menjadi dua dan ujung cambuk Swandaru bergetar hebat. Dan Swandaru sendiri terdorong mundur dua langkah. Ia merasa kesemutan di bagian lengan hingga siku. Berulang kali ia menatap wajah Ki Suladra dengan rasa tidak percaya. Swandaru masih menganggap Ki Suladra adalah orang yang mengeroyoknya dengan kemampuan yang setara dengan Sekar Mirah. Tetapi sekarang Ki Suladra telah berubah begitu hebat.

“Apakah orang ini sejenis siluman? Bagaimana ia dapat mengubah kekuatannya sehingga sangat jauh perbedaannya dengan tenaga yang ia kerahkan ketika masih berkelahi secara keroyokan? Sulit dipercaya tetapi aku telah melihatnya sendiri!” gumam Swandaru pelan.

Pendapat Ki Suladra tidak jauh berbeda dengan Swandaru. ”Jika murid yang termuda sudah sedemikian tinggi kemampuannya, lalu bagaimana dengan kitab gurunya? Pertanyaan besar akan muncul bila aku harus menghadapi Agung Sedayu. Ki Prayoga telah membujur kaku. Sedangkan ia adalah orang kepercayaan Panembahan Tanpa Bayangan. Tetapi pilihan Panembahan memang tidak selalu benar. Ia memang melakukan kesalahan dengan mengabaikan keberadaanku. Kini aku tidak peduli lagi dengannya, aku sepertinya jatuh hati pada kitab Kiai Gringsing. Dengan menguasai isi kitab itu, aku punya keyakinan akan mampu menggeser kedudukannya sebagai orang nomer satu.”

Di bagian lain, Agung Sedayu perlahan mengayun langkah mendekati lingkar pertarungan adik seperguruannya. Ia tidak dapat menahan diri ketika melihat orang-orang terkapar dan menggeliat kesakitan. Ia merendahkan tubuh bertumpu pada dua lututnya, memeriksa keadaan orang yang terdekat dengannya. Lalu katanya, ”Luka-lukamu terlalu banyak mengeluarkan darah, Ki Sanak.”

loading...

“Menyingkirlah! Aku tidak membutuhkan bantuanmu.”

“Baiklah, kau dapat menikmati waktu yang tersisa. Engkau dapat merenungi hidupmu sebelum malam melewati pertengahan.”

“Jangan menakutiku, Agung Sedayu!”

“Tidak. Aku berkata sebenarnya karena aku mempunyai pengetahuan tentang pengobatan, termasuk meringankan beban lukamu.”

“Kau akan membunuhku.”

“Itu dapat aku lakukan sekarang jika aku mau. Tapi, baiklah, aku akan menemui temanmu yang memang membutuhkan pertolongan dan masih memiliki keinginan untuk hidup.”

“Setan alas!”

Agung Sedayu beranjak pergi. Demikianlah satu demi satu didatanginya dengan tawaran untuk pengobatan.

“Engkau Agung Sedayu?” seseorang membentaknya.

“Benar.”

“Apa yang kau inginkan dari kami? Menyerahkan diri setelah kau bantu kami dengan kesembuhan?”

“Jangan berpikir sempit, Ki Sanak. Sebagai kakak seperguruan dari orang yang kalian keroyok, aku mempunyai hak untuk membunuh kalian. Tetapi aku bukan manusia tanpa hati. Aku akan menolong kalian karena seperti itulah guru kami mengajarkan.”

“Tetapi engkau adalah seorang senopati Mataram. Dengan berlindung di balik topeng menolong, lalu kau masukkan ramuan yang dapat menghilangkan kesadaran. Kemudian esok pagi, kami telah berada di dalam bilik khusus di kotaraja. Tidak! Lebih baik kami kehilangan darah dan mati di tempat ini.”

Seseorang melambaikan tangan, ia mengerang, ”Itu keputusanmu, tapi bukan keputusanku. Ki Mandira, jika kau ingin mati, segera lakukan. Aku akan meminta senopati Mataram itu untuk menolongku. Aku percaya padanya, meski aku akan membunuhnya setelah aku mendapat kesembuhan.” Ia mengalihkan pandangan pada Agung Sedayu, ”Tentu kau mendengarku, Agung Sedayu. Aku tidak merasa berhutang budi atau berhutang nyawa padamu. Ingat, kau datang dan menawarkan bantuan. Bukan kami yang meminta bantuanmu, tetapi sekarang aku yang memintamu untuk menolongku. Sekali lagi, aku tidak akan pernah merasa berhutang nyawa padamu.”

Tidak ada perubahan sinar muka Agung Sedayu.Ia tetap bersikap tenang, sedikit bergeser setapak maju kemudian, ”Tidak akan ada yang menuntutmu membalas budi atau bahkan sekedar ucapan terima kasih. Karena dengan sikap yang baru kau tunjukkan tadi, aku tidak segan membunuhmu berulang kali.” Suara Agung Sedayu terdengar datar dan tidak menyiratkan kemarahan. Murid pertama Kiai Gringsing ini benar-benar telah mampu mengendalikan gejolak hati dalam suasana panas pertempuran. Agung Sedayu lantas menyingsingkan lengan dan kedua tangannya cekatan menangani luka-luka sebagian pengeroyok Swandaru.

Di lingkar perkelahian Swandaru dan Ki Suladra kembali terjadi pergumulan dahsyat. Terjangan Ki Suladra datang membadai. Kedua tangannya menggenggam senjata yang mirip dengan Ki Sumangkar, guru Sekar Mirah. Seuntai rantai kecil dengan trisula terikat pada kedua ujungnya. Swandaru menghadapi lawan yang memiliki gaya bertarung dan kekuatan yang seimbang!’

Wedaran Terkait

Jati Anom Obong 9

kibanjarasman

Jati Anom Obong 8

kibanjarasman

Jati Anom Obong 70

kibanjarasman

Jati Anom Obong 7

kibanjarasman

Jati Anom Obong 69

kibanjarasman

Jati Anom Obong 68

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.