Padepokan Witasem
Bab 2 Jati Anom Obong

Jati Anom Obong 53

Kemudian kata Ki Garu Wesi, “Raden. Saya tidak pernah bertanya tentang asal usul Anda, bahkan saya merasa terhormat karena mempunyai teman perjalanan seperti Anda. Setiap langkah yang kita tempuh, setiap perkelahian atau setiap kali kita melerai sebuah pergumulan, saya dapat melihat  martabat yang tersemat pada Anda. Hingga suatu kali saya berpikir atau tepatnya mempunyai pertanyaan, apakah Anda adalah salah seorang dari orang-orang berkedudukan tinggi di Mataram? Kecerdasan Ki Patih Mandraka sepertinya telah mendapatkan ganti, saya pikir Anda memang pantas untuk menjadi patih di tanah ini.

”Berdua. Ya, berdua. Saya akan membantu dengan seluruh yang ada dalam diri ini agar Anda benar-benar berada pada kedudukan itu. Sebagai patih. Ya, sebagai Patih Mataram.”

Selintas kenangan itu memacu degup jantung Ki Garu Wesi untuk mengerahkan segenap kepandaiannya. Ia tidak mempunyai alas an yang lebih besar selain janji yang pernah diberikannya pada Panembahan Tanpa Bayangan, Raden Atmandaru. Pada saat itu ia sempat malu pada dirinya sendiri yang tergoda untuk merebut Kitab Kiai Gringsing dari tangan Ki Hariman. Namun setelah melihat tandang hebat Ki Panuju, melihat sisi yang tidak tampak dari raga Ki Panuju, maka Ki Garu Wesi memancang tekad untuk kembali pada janjinya, kesetiaan tanpa batas pada Raden Atmandaru.

“Ini adalah peluang walau harus berakhir dengan kematian. Membunuh atau terbunuh. Kehormatanku bukan pada ketinggian ilmuku tetapi janjiku, kata-kataku dan perbuatanku. Meski mereka akan mengatakan aku sebagai pengkhianat, berkata tentang aku yang berbuat jahat. Itu urusan mereka. Aku mempunyai pandangan yang tidak mungkin dapat mereka terima,” suara hati Ki Garu Wesi berkata lantang. Walau sedikit kesal dengan keputusan Raden Atmandaru yang memintanya bergabung dengan Ki Hariman untuk merebut kitab ilmu dari guru Agung Sedayu, Ki Garu Wesi merasakan sedikit ketenangan setelah kenangan itu melintasi ruang hatinya.

Aku harus dapat menyelesaikan kekacauan ini walaupun kitab itu tidak akan singgah padaku. Kepentingan Raden Atmandaru jauh lebih besar dari sebuah kitab yang mungkin hanya bermanfaat bagi yang mengerti isinya. Setelah itu? Apa yang aku lakukan setelah menguasai seluruh ilmu Perguruan Orang Bercambuk? Apakah aku akan menjadi orang yang paling diburu oleh seluruh prajurit Mataram dan orang-orang linuwih? Bodoh! Aku adalah Ki Garu Wesi, kebanggaan dan kehormatan Raden Atmandaru ada di pundakku, tekad Ki Garu Wesi semakin kuat dan membara lebih hebat.

Ketegangan meningkat tajam saat Ki Panuju mengubah dasar olah geraknya yang dipenuhi unsur ilmu Perguruan Orang Bercambuk. Ia tidak lagi terlihat seperti lurah prajurit yang berkelahi dengan ilmu bela diri yang diajarkan pada prajurit-prajurit Mataram. Dalam pandangan Ki Garu Wesi, Ki Panuju kini tak ubahnya seperti murid pertama dari suatu padepokan.

“Sepertinya tidak ada lagi jalan keluar selain membunuh orang ini. Tentu saja itu sangat disayangkan karena prajurit ini memiliki kemampuan hebat. Tetapi jika aku tidak mengalahkannya, lalu apa yang harus aku perbuat?” Ki Garu Wesi menggeram. Pikirannya dipenuhi dengan kebulatan tekad untuk segera mengakhiri perlawanan Ki Panuju. Ia harus dapat melakukannya sebelum bala bantuan Jati Anom datang ke gelanggang perkelahian.

Apabila ia mati dalam perang tanding melawan Ki Panuju, maka sebenarnya ia telah mengerti bahwa tidak akan ada orang yang kehilangan dirinya. Dan itu berarti tidak pernah ada kenangan atau segala sesuatu untuk mengingatnya sebagai orang yang pernah menjalani kehidupan. Tetapi jika ia dapat memenangkan pertarungan atau bahkan mengalahkan semua orang di situ, hasil akhir telah dapat diduga : penghargaan akan diberikan pada Ki Hariman yang berhasil membawa kitab Kiai Gringsing. Berpikir tentang itu, kemarahan dalam hatinya pun meledak! Ki Garu Wesi menelan seluruh rasa pahit, sedih, nelangsa lalu menggabungkan semua perasaannya menjadi satu kata : marah!

Namun ia telah memutuskan untuk tidak menjadikan orang lain sebagai tertuduh atau menganggapnya sebagai penyebab kemarahannya. Tidak! Ini bukan tentang Raden Atmandaru atau kesalahanku memilih jalan hidup. Ini tentang kehormatan dan kepercayaan orang meski ia tidak pernah menganggap kehadiran dan keberadaanku, geram hatinya makin memuncak.

 

Related posts

Leave a Comment