Ulangan Karang Dawa
Kekuatan dahsyat datang dari pihak Raden Atmandaru membuyarkan garis serang yang dipasang Glagah Putih. Sedikit terdesak, pasukan Menoreh menata ulang barisan sambil sekali-kali memberi perlawanan meski sekadar hanya menambah kesibukan lawan.
Laju gerak regu Glagah Putih tertahan sesaat.
Ki Sor Dondong melabrak garis serang pasukan Menoreh yang terbuka tipis. Hujan serangan dilepaskannya, mematahkan gelar dengan tujuan yang tepat; merobohkan semangat lawan. Sebagian prajurit terpukul mundur, terguling tapi mereka cepat bangkit, daya juang dan ketahanan mereka tak mudah menjadi ambyar!
Perubahan itu disadari Glagah Putih yang berada di bagian sayap. Dia mendahului pasukannya yang sudah bersiap menyerbu pemimpin kelompok lawan. Menapak kaki dengan kelincahan yang mantap. Asap yang berasal dari api unggun yang tersisa dan nyaris padam sedikit tersibak, tapi kabut tetap keras kepala!.
Glagah Putih bergeser dengan langkah yang terukur. Lumpur seolah sedang menjadi sahabatnya. Sorot matanya mengukur medan yang sedikit berubah. Perintah pendek dilantangkan, barisan mengalir deras mengikuti aliran baru yang dibuka Glagah Putih. Murid Ki Jayaraga itu membalas tekanan lawan secara serentak bersama segenap pasukannya. Mereka bergerak menyilang, memotong ruang, menggebrak balik desakan pasukan Ki Sor Dondong dengan seluruh kekuatan.
Di antara dua kubu yang saling serang, Ki Sor Dondong berhenti sekejap. Pandangannya menumbuk sosok yang pernah dikenal dan juga sangat diharapkan dapat bertemu lagi.
“Rupanya kau yang berada di sini,” katanya datar.
“Kita bertemu lagi. Di sini hanya ada pintu masuk,” sahut Glagah Putih dingin.
Gema pertarungan yang terhenti di Karang Dawa kembali hidup di Gunung Kendil. Kabut terbelah oleh dua gerakan yang sama-sama dahsyat. Dua kekuatan saling menabrakkan diri. Ketegangan yang muncul dari gelanggang perkelahian Glagah Putih dan Ki Sor Dondong meningkat sangat cepat. Dua pasang lengan berayun dan menimbulkan desir angin yang menyobek tirai kabut meski sebentar saja. Laga mereka benar-benar mendebarkan jantung.
Tidak ada lagi penjajagan untuk menakar kedalaman ilmu masing-masing orang. Tidak ada lagi jual beli serangan untuk perkenalan, Ki Sor Dondong dan Glagah Putih langsung menghentak ilmu masing-masing pada tingkat puncak.
Pertempuran lereng barat kembali menjadi tidak seimbang sepeninggal Ki Sor Dondong yang terikat oleh Glagah Putih. Meski perlawanan pengikut Raden Atmandaru masih sangat kuat, tapi yang mereka hadapi adalah sekelompok orang yang paham sangat baik dengan keadaan.
Laskar gabungan Mataram mengenal lingkungan Gunung Kendil seperti mengenal diri mereka sendiri. Kabut dan tanah berlumpur masih menjadi halangan, tetapi mereka tetap lebih unggul dalam pergerakan sehingga gelar perang dapat terjalin kuat.
Pada waktu itu, Glagah Putih menggunakan tata gerak jalur ilmu Ki Sadewa yang dimatangkan lalu berkembang dalam segala medan. Dia mampu mengubah cara bertahan menjadi serangan secara mendadak dan mematikan. Perkembangan itu menjadi peringatan keras bagi Ki Sor Dondong — yang sempat yakin bahwa Karang Dawa sudah menjadi tempat mengukur ketinggian ilmu Glagah Putih.
Namun, dengan pengalaman luas sebagai petarung yang telah menjelajah banyak gelanggang, Ki Sor Dondong tetaplah menjadi lawan yang sangat sulit ditekan. Dia mempunyai kecepatan yang cukup untuk menghindari serangan Glagah Putih. Dia juga memiliki kekuatan yang berulang kali dapat memaksa lawannya melenting jauh untuk bertahan.
Keadaan Berbalik di Medan Timur
Sepak terjang Ki Demang Brumbung dan pasukannya di sayap timur Gunung Kendil menjadi kenyataan getir yang harus dihadapi kelompok Ki Sambak Kaliangkrik. Mungkin jumlah mereka sepadan, tapi pasukan yang dipimpin Ki Demang Brumbung lebih menguasai medan sekalipun lawan mereka juga telah berada di tempat itu berbulan-bulan.
Sadar bahwa terjangan orang-orang Menoreh makin sulit dibendung, Ki Sambak Kaliangkrik bertarung dengan segenap daya hingga segera menarik perhatian lawan. Dalam sekejap, ia menjadi pusat kekuatan yang harus ditaklukkan pasukan Menoreh.
Ki Demang Brumbung menghilang sesaat dari pandang mata senapati lawan lalu muncul dari arah yang pernah dilakukan Ki Sor Dondong di lereng barat. Dia melesat dari samping barisan pasukan, dari celah sempit di antara gundukan tanah basah.
Garis serang Menoreh merangsek maju, mengubah sudut gelar melalui pergerakan senapati mereka. Benturan demi benturan terus mengikis garis pertahanan kubu Raden Atmandaru tapi Ki Sambak Kaliangkrik tidak tinggal diam. Dia menyambut lawannya dengan sapuan rendah lalu pukulan beruntun. Keuletan Ki Sambak Kaliangkrik akhirnya dapat memaksa Ki Demang Brumbung menahan laju serangannya.
Walau begitu, pertahanan pasukan Ki Sambak Kaliangkrik masih terdesak dan semakin surut hingga melewati garis akhir pertahanan. Sedangkan perkelahian dua senapati mereka meningkat sengit lalu beralih sejengkal demi sejengkal memasuki wilayah perkemahan. Selangkah demi selangkah semakin dekat dengan pusat perkemahan.
Bangunan sederhana berdinding bambu menjadi sekat yang mempersempit ruang gerak. Nyala kecil api unggun tersapu tombak lalu berhamburan hingga meninggalkan asap tebal yang bercampur dengan kabut yang ulet bertahan dalam pekat. Pertarungan menyusup ke ruang-ruang sempit di antara tiang bambu dan reruntuhan dinding.
Perkemahan timur seakan berubah menjadi perang dalam kota.
Di dalam perkemahan, keseimbangan menjadi goyah. Keunggulan medan berbalik. Pasukan Ki Sambak Kaliangkrik mampu memanfaatkan ruang perkemahan untuk mengendalikan serangan lawan mereka. Kali ini, penguasaan medan menjadi berimbang. Pasukan Menoreh unggul dalam pengenalan alam, sedangkan lawan mereka unggul pemahaman ruangan.
Pertempuran timur menjadi semakin rapat. Hanya saja keadaan itu tidak dialami oleh Ki Demang Brumbung. Jarak penguasaan kanuragan mendadak begitu jelas terbentang. Keunggulan Ki Sambak Kaliangkrik terasa benar-benar berada di atas senapati Mataram ini. Sepak terjang Ki Sambak Kaliangkrik memaksa Ki Demang Brumbung bertahan rapat. Putaran tombak pendeknya membelit geliat keris Ki Demang Brumbung sangat ketat.
Tiba-tiba dari selatan muncul Ki Lurah Plaosan — menerobos bersama dua kelompok kecil yang bergerak seperti prajurit pilihan. Dua kelompok itu langsung mengarah pada poros kekuatan; memutus alur serangan pasukan lawan.
Ki Lurah Plaosan menerjang Ki Sambak Kaliangkrik dengan pedang menyambar-nyambar datar, menyilang disertai lambaran tenaga cadangan yang tidak berhamburan liar. Ki Demang Brumbung tidak lagi sendirian.
“Licik!” umpat Ki Sambak Kaliangkrik.
Ki Demang Brumbung menggeleng. “Ini perang, bukan pembuktian tanding.”
Pertarungan sayap timur berubah bentuk. Kendali perkelahian perlahan condong. Tapi Ki Sambak Kaliangkrik tidak lagi dapat berbuat lebih banyak. Ruang geraknya terkurung oleh Ki Demang Brumbung yang dibantu Ki Lurah Plaosan. Sekalipun dua senapati Mataram itu berada di bawah tingkatannya, tapi mereka tetaplah dua orang yang sama-sama menyimpan ilmu dan pengalaman yang cukup. Hingga kemudian Ki Sambak Kaliangkrik hanya dapat memilih – sesuatu yang belum pernah dialaminya dalam banyak pertarungan. Dia harus memastikan; mengalahkan dua musuhnya atau membiarkan medan timur terlibas oleh kekuatan gabungan Menoreh.
Ki Lurah Sanggabaya
Pilihan Ki Sambak Kaliangkrik terbelit kepekatan kabut. Medan timur masih berkubang pada genangan pertempuran yang menunggu hasil akhir.
Dari selatan, tekanan datang dengan bentuk lain.
Gerak pasukan gabungan Mataram makin mempersempit ruang gerak. Yah, mereka unggul dalam pengenalan medan. Prajurit Mataram dari pasukan khusus mampu melapis kekurangan pengawal Tanah Perdikan. Gelar Cakrabyuha mungkin bukan gelar perang yang sempurna tapi ketika selapis demi selapis bergerak sebagai satu kesatuan, maka lawan harus memaksa diri untuk melawan keadaan.
Di pusat kekuatan selatan, Ki Prana Aji berhadapan langsung dengan Ki Garu Wesi.
Gelanggang pertarungan mereka sangat keras, cepat, dan penuh tekanan sekalipun Ki Prana Aji pernah dipukul mundur oleh Ki Suta Jaladri tapi itu pada waktu yang berbeda. Ki Prana Aji ditopang dengan sangat kuat oleh sejumlah orang yang benar-benar paham cara memaksakan keadaan.
Ki Garu Wesi yang menguasai ilmu kanuragan tingkat tinggi,kini menemui hambatan yang luar biasa. Setiap langkahnya meski sangat cepat tapi ujung-ujung senjata laskar gabungan tetap menjadi pertahanan yang membahayakannya. Pada waktu itu, hampir tidak ada ruang baginya untuk berkembang ketika Ki Prana Aji tetap sengit memberi tekanan. Salah satu pemimpin pasukan khusus ini mampu menjadi pelapis pertama yang menahan, gempuran, sedikit menekan lalu menyerahkannya pada gelar yang terus berputar di sekeliling mereka.
Itu pertunjukan yang luar biasa untuk kepatuhan dan ketaatan tingkat tinggi dari pengawal Tanah Perdikan dan prajurit Mataram.
Empat pasukan khusus tiba-tiba turut masuk memperkuat lapisan Cakrabyuha tanpa mengoyak tatanan yang sudah berjalan.
Sekelebat bayangan menyeruak masuk menembus kabut yang pekat! Dengan kecepatan mengagumkan Ki Lurah Sanggabaya masuk ke dalam gelanggang. Dia tidak bermaksud untuk menambah tekanan, tapi memastikan bahwa pasukan Ki Prana Aji tidak kehilangan keseimbangan perang. Orang yang sudah dianggap bayangan Agung Sedayu itu menempel ketat pada sisi Ki Prana Aji, berdampingan, saling menutup sudut yang sebelumnya masih terbuka.

Tidak ada umpatan atau caci maki yang keluar dari mulut Ki Garu Wesi. Agaknya dia sadar arah pergerakan yang mulai menemukan bentuk. Walau demikian, dia masih menyerang dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Tapi yang menjadi lawannya adalah dua orang yang juga berkepandaian cukup meski masih berada di bawahnya. Seandainya bertarung satu lawan satu, baik Ki Prana Aji maupun Ki Lurah Sanggabaya, tidak akan sanggup mengatasinya.
Gelar Cakrabyuha terus melibas segala hambatan. Pasukan Ki Garu Wesi terpukul mundur semakin dekat dengan pusat perkemahan. Keadaan yang serupa di medan timur juga terjadi, tapi kendali masih berada di tangan pasukan gabungan Mataram. Selatan meledak sebagai pemicu sekaligus yang pertama mereda.
Dalam waktu itu, ketika tidak tersisa ruang untuk melepaskan segala kesaktian yang dimiliki. Ki Garu Wesi makin gigih bertarung sampai batas yang tidak dapat ditentukannya sendiri.
