Sementara itu, di bagian dalam perkemahan, Agung Sedayu mendapatkan perlawanan sengit dari Ki Sonokeling. Usia tidak menjadi batas yang berarti bagi kelincahan penasihat Raden Atmandaru tersebut. Kenyataan lain adalah Ki Sonokeling akhirnya membuktikan berita yang selama ini didengarnya, bahwa Agung Sedayu tidak dapat dikekang dengan sekadar ilmu kanuragan.
Sorot mata Ki Sonokeling menyiratkan sesuatu yang kemudian membayangi wajahnya. Sebagai mantan pemuka prajurit dari sebuah wilayah maju pada masa lalu, Ki Sonokeling meleburkan diri untuk pengakuan. Dalam perkelahiannya melawan Agung Sedayu, keyakinan itu tidak goyah dan tidak akan berubah.
Selanjutnya, cambuk Agung Sedayu bertahan dengan putaran pada tingkat kekuatan yang luar biasa. Serangannya benar-benar terasa menjadi badai yang hanya tertuju pada Ki Sonokeling. Sebaliknya, tata gerak dan arus serangan Ki Sonokeling menjadi tikaman yang sangat sulit ditebak arahnya. Mungkin seperti angin prahara, mungkin seperti cipratan air terjun yang ambrol sekelilingnya. Yang pasti hanya satu: memang sulit diterka karena kabut seperti benar-benar mengabaikan penglihatan seseorang meski dia menguasai ilmu Sapta Pandulu.
Tiba-tiba keris Ki Sonokeling hampir merobek pelupuk mata Agung Sedayu! Senapati Mataram itu terhalang kabut pekat yang melindungi Ki Sonokeling ketika dia menghentak kecepatan! Tanpa ada kesengajaan, karena bergerak sebagaimana mestinya, kepala Agung Sedayu seolah ditarik ke belakang, lalu membalas serangan melalui cambuk yang kemudian melingkar-lingkar.
Sekejap kemudian, dua orang berilmu tinggi itu saling menyerang dengan gerakan-gerakan yang datang beruntun seperti gelombang lautan. Setiap kali ada yang terdesak mundur setapak, maka selanjutnya dia akan berusaha menjangkau maju selangkah.
Tidak ada waktu lagi, pikir Agung Sedayu. Dia segera menggabungkan semua unsur rumit dari jalur ilmu Ki Sadewa dengan Perguruan Orang Bercambuk. Cambuknya tidak lagi mengeluarkan bunyi ledakan atau dentuman halus, tapi setiap putaran seolah menyingkap tabir kabut dan melemahkan sumber kekuatan Ki Sonokeling.
Putaran cambuk Agung Sedayu tidak lagi mengarah langsung pada tubuh Ki Sonokeling, Murid utama Kyai Gringsing ini menggerakkan cambuk untuk memotong jarak dan ruang gerak lawannya. Dengan begitu, Ki Sonokeling terus-menerus memindahkan landasan tenaga demi menjaga keseimbangan. Pada saat itulah—sekilas saja—nama Agung Sedayu yang lebih dulu tiba ke telinganya terasa seperti membuat segalanya menjadi lambat. Tidak ada waktu bagi Ki Sonokeling untuk menghimpun kekuatan. Serangan berikutnya dari pemimpin pasukan khusus Mataram malah berakhir dengan kenyataan pahit yang tidak diduga Ki Sonokeling sendiri: tenaga cadangannya kerap berbalik arah sebelum benar-benar dilepaskan melalui senjata atau telapak tangannya!
Dari lubang-lubang di wajahnya keluar cairan yang tidak seharusnya, Ki Sonokeling ambruk seketika.
Sejenak kemudian, Agung Sedayu memandang tubuh Ki Sonokeling yang cepat tertutup oleh cipratan lumpur dari segala arah. Ada rasa hormat dan ada pula rasa yang memang sepatutnya muncul, tapi dia tidak dapat merenung lebih lama lagi. Agung Sedayu mundur beberapa langkah, mengangkat wajah kemudian menebar pandangan: gelanggang tanding Nyi Banyak Patra dan lingkaran-lingkaran perkelahian yang terjangkau oleh indranya.
Seorang prajurit pasukan khusus yang berada di dekatnya sempat mengangkat tangan, hendak memberi isyarat. Namun pada saat yang sama, pandangannya terseret tubuh yang melayang tumbang. Ketika perhatian kembali tertuju ke arah semula, Agung Sedayu sudah tidak lagi berada di sana. Padahal mereka berjarak sangat dekat– mungkin tiga atau empat langkah yang terpisah kabut.
Agak jauh dari gelanggang pertarungan Agung Sedayu yang terhambat oleh keuletan Ki Sonokeling, Nyi Banyak Patra bertempur dengan beban perguruan yang memang harus tuntas.
Serupa dengan lereng barat yang menjadi pertarungan ulang antara Glagah Putih dan Ki Sor Dondong, demikian juga yang terjadi antara Nyi Banyak Patra dengan Ki Manikmaya. Mereka mematung lebih lama dari sekadar ukuran persiapan. Menakar kekuatan lawan menjadi babak yang tidak perlu lagi dijalani oleh mereka berdua. Meski demikian, kabut di sekitar mereka tampak bergerak memutar pelan.
Nyi Banyak Patra tetap diam, kakinya tak bergeser sejengkal pun. Namun tanah di bawahnya meredam getar yang tak pernah dilepaskan. Ki Manikmaya berdiri berhadapan dengan tubuh tegak sikap menunggu. Tapi mereka tanpa sikap siap yang lazim. Mereka tidak menunggu celah atau kelengahan yang mungkin saja terjadi di antara mereka.
Kabut terbelah tanpa suara. Satu lapis mengalir dari kiri ke kanan sedangkan yang lain melawan arah. Saling dorong dan menggencet seolah dua lapis itu berasal dari kehendak yang berbeda. Benturan tenaga tak kasatmata itu memaksa kabut mencari lintasan sendiri, membentuk garis edar tipis dan dua orang berilmu tinggi itu tampak berada di tengah-tengah lingkaran.
Kabut menjadi sangat rapat seperti dinding yang sulit ditembus dengan gerak biasa.
Putaran kabut semakin kuat dan dahsyat! Putaran menyapu daun, menggetarkan tanah yang berat dengan lumpur, menurun hingga mata kaki.
Nyi Banyak Patra menggerakkan lengan tanpa menggeser kedudukan. Kabut turut bergerak. Udara menggumpal, menghantam Ki Manikmaya yang cepat menjawab dengan tolakan dari tempatnya berdiri. Alur serangan terputus. Kabut berpusing sesaat, menyempit lalu memudar! Tapi itu tidak lama karena jarak dan ruang di antara mereka kembali menjadi sempit.
Ki Manikmaya mengambil keputusan cepat, mendorong tapak tangan, udara kembali menggumpal. Lengan Nyi Banyak Patra memangkas serangan yang menimbulkan gema halus itu, lalu berputar, membuka kabut yang kemudian menutup diri lebih cepat dari kedipan mata.
Ki Manikmaya mencoba sekali lagi. Masih berada di kedudukan awal, lututnya merendah, sepasang lengannya berputar dan berayun dengan kecepatan yang sulit dinalar – tiba-tiba kabut berubah bentuk seperti kepompong, membungkus tubuh Nyi Banyak Patra dengan belitan berkekuatan raksasa.
Di dalam kepompong kabut, Nyi Banyak Patra tidak mempunyai waktu untuk tersentak. Dia mengendapkan, menarik seluruh pertahanan hingga berada di lapis kulit pertama lalu merasakan denyut kabut dengan caranya sendiri. Perlahan, denyut kabut itu menegaskan keberadaanya dan juga menjelaskan sumber yang menggerakkannya. Guru Kinasih ini memutuskan untuk meleburkan diri ke dalam denyut itu. Dia tidak lagi melawan, tidak pula mencoba menyingkap kepompong tapi seluruh kesadaran dilonggarkan supaya mengendap. Dia membiarkan tubuhnya hanyut seperti serpih daun di arus tak terlihat. Kepompong kabut memanjang lalu bergerak lurus ke sumber denyut, ke pusat getar yang mengikatnya.
Sesaat, kabut kehilangan getarannya.
Ledakan terjadi.
Hentakan dari tekanan yang memecah keseimbangan. Kabut terurai, berhamburan ke segala arah seperti bebatuan yang terlontar dari puncak gunung meletus. Tapi medan tak sempat terbuka lama; serpihan kabut yang tercerai segera berbalik, menutup kembali ruang pertarungan dengan rapat, kembali pekat, kembali menyelubung dengan erat.
Ki Manikmaya terpental. Tubuhnya melayang pendek lalu jatuh menghunjam tanah berlumpur, terseret kemudian berhenti bersama napasnya.

Di sisi lain, Nyi Banyak Patra terpantul surut kemudian jatuh terduduk. Dengan napas putus-putus, guru Kinasih ini berusaha bangkit. Sekelompok prajurit yang bebas dari ikatan pertempuran segera menolongnya berdiri.
Kabut di sekelilingnya masih berdetak kuat tapi tetap diam sambil menutup medan agar terlihat tidak pernah terjadi pertarungan hebat.
