Fajar pun datang dengan kemiringan yang pantas.
Pada suasana yang sedikit terang, sejumlah orang tampak bersiap untuk sebuah perjalanan lagi. Ki Semangkak mengerutkan kening. Dia pun berkata dalam hati, “Mereka tidak sedikit.”
Dua orang itu kemudian menunggu lebih lama lalu bergerak menuju bekas api unggun dinyalakan saat rombongan asing itu sudah menjauh.
“Rupanya mereka tidak lama berada di tempat ini,” kata Ki Semangkak pada temannya yang rupanya pengawal Menoreh.
“Benar, Ki Lurah,” sahut pengawal itu. Kemudian dia memandang kepergian mereka, lalu berjalan pelan di atas jalur itu seperti sedang memeriksa untuk memastikan arah.
“Jejak-jejak ini,” ucap pengawal itu lagi kemudian mengangkat pandangannya. “Agaknya menuju Gunung Kunir.”
“Yah, aku kira begitu,” tukas Ki Semangkak.
Setelah berkeliling sebentar, Ki Semangkak mengajak pengawal Menoreh tersebut kembali ke barak sambil menjemput kawan-kawan mereka. Ki Semangkak menduga kuar bahwa rombongan itu kemungkinan berasal dari orang-orang yang terusir dari lereng Kendil. Jalur yang mereka tempuh dan tempat bermalam menjadi dua keadaan yang mendukung dugaannya itu. Atas pertimbangan tersebut, dia memutuskan tidak meminta bantuan pengawal Separang karena ada bahaya di balik rombongan itu.
Sebelum Ki Semangkak tiba di Dusun Separang, dari sisi utara, Ki Wira Sentanu akhirnya dapat mencapai tempat Perguruan Orang Bercambuk yang tidak dapat tumbuh lagi. Kedatangan laskar gabungan untuk perondaan ketiga membuyarkan semua harapan banyak orang, terutama bekas anak buah Raden Atmandaru yang sedianya lebih butuh perlindungan baru.
Sorot mata Ki Wira Sentanu menyapu seluruh bagian ketika dia berkeliling. Bekas pertempuran hebat masih belum sepenuhnya dapat ditutupi oleh cahaya yang mulai temaram. Jalur selatan, sayap timur, gelanggang Swandaru dan satu tempat lagi terkesan ditinggalkan begitu saja. Ya, benar, perkelahian hebat di tempat-tempat hanya dapat dibereskan oleh waktu sendiri karena kerusakannya terlalu parah.
Pelayan istana itu memejamkan mata. Membayangkan sedikit yang mungkin dapat disentuhnya melalui bekas-bekas perkelahian. Satu tarikan napas terdengar kemudian, Ki Wira Sentanu kembali menyisir permukaan tanah. Lalu melihat jejak-jejak yang menandakan ada pergeseran yang dilakukan banyak orang dengan jarak langkah yang cukup rapat.
Terus dan terus, dia merendahkan tubuh memastikan arah perpindahan. Kadang-kadang berlutut untuk melihat lebih dekat arah dahan atau ranting, rumput atau tanaman perdu yang tersibak.
Perlahan. Tapi langkah Ki Wira Sentanu menapak mantap menyusul iring-iringan yang mungkin agak jauh darinya. Setelah mencapai satu jalan yang akan menanjak, pendengarannya yang sangat tajam dapat menangkap dengung rendah orang bercakap dan kaki-kaki yang bergesekan di antara rumput dan tumbuhan rambat.
Tanpa ragu, Ki Wira Sentanu mempercepat langkah. Dia tidak peduli dengan sekelompok orang yang berjalan agak jauh di depannya.
Menurutnya, tidak masalah jika harus bermalam di lereng atau hutan asalkan tidak sendirian. Bukan karena sepi atau ketakutan, tapi ada dua alasannya: satu, dia tidak mengenal lingkungan Gunung Kendil dan sekitarnya. Sedangkan dirinya sedang berada di bawah perintah Pangeran Purbaya. Dua, dia membutuhkan waktu agak lama untuk mengumpulkan keterangan agar dapat melemahkan Agung Sedayu ketika dia kembali ke kotaraja.
Sejumlah orang yang berjalan di baris belakang seketika menoleh ke belakang, bersikap waspada dan sedikit menahan napas. Mereka mendengar sangat jelas suara tapak kuda dan seseorang yang mendesah keras pada kudanya itu.
Salah satu dari mereka memicingkan mata, menembus suasana samar yang menghalangi pandangan lalu dia berseru, “Itu Ki Wira Sentanu.”
Satu, dua tiga orang kemudian meneriakkan nama yang sama. Ki Wira Sentanu.
Ketika sudah berada di sekitar iring-iringan itu, Ki Wira Sentanu tersenyum kemudian melompat turun dari punggung kuda.
“Jalanan menanjak ini cukup menguras tenaga hewan ini, dan aku tidak ingin tertinggal terlalu jauh di belakang,” katanya sebagai sapaan pada orang-orang yang menyongsongnya.
Rombongan kemudian melambat, memberi kesempatan Ki Wira Sentanu agar lancar mencapai barisan depan. Kedatangannya atau setidaknya perintahnya sudah ditunggu Ki Ajar Poh Kecik dan Ki Kamejing, meski mereka sebenarnya berasal dari sumber ilmu yang berbeda.
Ki Ajar Poh Kecik tampak hendak menggerakan bibir tapi Ki Wira Sentanu cepat berkata, “Aku sudah melihat bekas-bekas di permukiman lereng Kendil. Bukan masalah karena justru lebih baik kita meninggalkan tempat itu saat ini.”
Ki Kamejing dan Ki Ajar segera mengangguk.
“Nama Raden Atmandaru dan tempat yang pernah didudukinya sudah jelas akan cepat menjadi perhatian banyak orang. Mataram dan barak tentu sudah menanamkan mata di sekitar tempat itu, meski tampaknya mereka berdiam diri saja sepanjang waktu,” lanjut Ki Wira Sentanu. Kita justru dapat bergerak tenang dan senyap jika menjauh dari mereka. Percayalah.”
Seseorang tiba-tiba memapas perjalanan rombongan itu dari depan. Sambil menghadapkan wajahnya lurus pada Ki Kamejing, dia berkata, “Kita dapat bermalam di depan, Kyai.”
Untuk sesaat dia memandang pada Ki Wira Sentanu sambil mengernyitkan dahi, lalu terdengar napas panjang darinya. “Malam ini sepertinya tidak memungkinkan untuk berjalan menuju Gunung Kunir. Medan tidak begitu bersahabat.”
Ki Kamejing mengangguk lalu memandang sekilas bergantian pada Ki Ajar dan Ki Wira Sentanu.
“Anda yang putuskan,” tegas Ki Wira Sentanu kemudian.
Ki Kamejing menunduk sebentar, lalu berkata, “Baiklah, kita bermalam di sekitar sini.”
Orang itu ternyata lumayan paham mengenai daerah sekitar Gunung Kendil dan Gunung Kunir, maka dia cepat berbalik lalu kembali pada tugasnya semula sebagai penunjuk jalan.
“Agung Sedayu,” Ki Wira Sentanu mendesis. “Apakah kalian semua sempat mendengar sesuatu tentang dirinya selama berada di Kendil atau Ringinlarik?”
Ki Ajar Poh Kecik mengangguk lalu jawabnya, “Hanya nama dan pengaruhnya yang terasa hingga ke dusun-dusun terpencil.”
“Padahal dia bukan anak Ki Gede dan bukan bebahu Tanah Perdikan,” timpal Ki Wira Sentanu. “Hanya lelaki muda yang beruntung hingga dapat tempat di sebelah mendiang Ki Patih Mandaraka.”
“Bagaimana dengan ilmunya?” Ki Kamejing bersuara.
“Aku tidak tahu, apakah saat di dalam bangsal utama itu dia dapat merasakan atau sambaran itu memang luput? Sikapnya sama sekali tidak berubah. Benar-benar tidak berubah,” sahut Ki Wira Sentanu. Kemudian Ki Wira Sentanu sedikit menerangkan jarak dan kedudukan Agung Sedayu di antara Pangeran Purbaya dan Sunan Agung saat itu.
Sesaat pun berlalu, lantas dia memandang pada dua orang di sampingnya, katanya, “Di Kendil, pertarungan besar itu, siapa sajakah yang terlibat? Atau kalian sudah keluar dari lereng saat itu terjadi?”
Baik Ki Ajar maupun Ki Kamejing sama-sama menggeleng. Ki Ajar lalu berkata, “Kami sudah keluar. Yang dapat saya lihat tapi tidak seluruhnya adalah perkelahian Swandaru melawan orang yang juga bersenjata cambuk, Ki Hariman.”
“Saya menghadapi seorang perempuan,” Ki Kamejing juga memberikan keterangan. “Samar-samar, saya mendengar namanya Pandan Wangi. Nyi Pandan Wangi.”
Ki Wira Sentanu hanya bergumam tapi tidak begitu jelas ucapan yang keluar darinya.
“Berarti kita belum mendapatkan sedikit pun dari yang dimilik dan diketahui Agung Sedayu,” kata Ki Wira Sentanu terdengar lirih dan dingin tapi seolah sedang ditujukan pada dirinya sendiri.
Iring-iringan itu terus bergerak hingga tanaman mulai banyak berubah saat mereka mendekati hutan yang membentang sempit di antara lereng barat Gunung Kendil sampai lereng timur Gunung Kunir.
Jika perjalanan dilanjutkan sampai bintang-bintang mulai tampak, mereka akan tiba di tugu batas Dusun Separang.
“Kita bermalam di sini,” seru penunjuk jalan.
Dia tahu tempat itu kalau dari arah Gunung Kendil maka kedudukannya sedikit tersembunyi, tertutup oleh pohon yang berjarak rapat. Dan dia mempertimbangkan salah satu keadaan: perondaan susulan yang digerakkan dari Kendil.
Sementara jika ditempuh dari arah Dusun Benda maka tempat bermalam itu justru terbuka. Tapi itu bukan masalah karena pengawasan pengawal dusun tidak mungkin mencapai tempat itu, begitu isi dugaan penunjuk jalan.
Rombongan berhenti tepat di bawah sebuah pohon preh yang sangat besar. Di kejauhan, melalui celah di antara dahan, lamat-lamat terlihat titik-titik api obor dari arah Dusun Separang.
Ki Wira Sentanu berdiri diam, matanya menyisir kegelapan ke segala arah seperti sedang menimbang tempat itu karena cukup terbuka. Tapi sejenak dia memikirkan keadaan kelompoknya.
“Baiklah, kita berhenti di sini,” ucapnya dalam hati. Orang ini pun paham bahwa Ki Ajar dan Ki Kamejing akan mengatur penjagaan, bahkan mereka mungkin akan menyisir hingga beberapa puluh langkah ke arah yang terbuka, arah dari Dusun Benda.
Rahayu
Bagi sederek yang ingin mengoleksi novel pdf “Penaklukan Panarukan atau Toh Kuning”, dapat dilakukan dengan kontribusi Rp75.000 per judul.
Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis.
Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang membutuhkan file kemasan PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline, silakan langsung menghubungi Admin blog melalui WhatsApp di [SINI].
Matur nuwun
Pada pagi hari, seperti yang terlihat oleh Ki Semangkak, kelompok Ki Ajar Poh Kecik pun bergerak perlahan menuju Gunung Kunir.
Di malam yang sama, dua kelompok lain memenuhi tugas dari Agung Sedayu. Regu yang dipimpin oleh Punjung menyebar di sekitar pedukuhan induk, sedangkan kelompok Socah berjalan ke arah dermaga timur Kali Progo.
Mereka sudah tidak lagi menganggap malam sebagai hambaran. Tugas adalah tugas meski itu adalah mencari orang yang tidak diinginkan atau diharapkan, Ki Wedoro Anom. Tapi penekanan tumenggung mereka tidak mengizinkan adanya batasan. Bagi Agung Sedayu, prajurit adalah Mataram yang berjalan.
Kelompok Punjung bahkan meluaskan pencarian sampai mendekati embung yang dulu menjadi tempat jaga Ki Demang Brumbung dan itu cukup jauh dari pedukuhan induk. Tapi sebagaimana yang dilakukan Ki Semangkak, Punjung pun meminta bantuan pada pengawal dusun untuk menyebarkan perintah hingga dapat didengar oleh pemburu dan pencari kayu bakar. Mereka ini, pemburu dan pencari kayu bakar, seringkali melintasi jalur binatang dan sangat mengenal setiap jengkal tanah di sekitar mereka. Sementara regu Socah berjalan dengan pemeriksaan teliti sepanjang jalur menuju Kali Progo.
Tiga regu pencari dari gabungan pengawal dan pasukan khusus itu akan menempuh jalur yang berlainan dengan saat berangkat. Cara yang pantas untuk memperluas wilayah pencarian.
Demikianlah perondaan di sekitar barak sudah bergulir. Gardu-gardu jaga di banyak dusun dan pedukuhan mulai diisi oleh banyak anak muda dan pengawal yang mendapatkan giliran.
Pekan Pertama Menjelang Undangan
Beberapa bulan yang telah berlalu, Tanah Perdikan Menoreh sudah diguncang dengan kematian Ki Gede yang ternyata palsu yang menjadi bagian dari siasat Agung Sedayu.
Sehari setelah perondaan ketiga, kegemparan mulai merambat perlahan dan dimulai dari pedukuhan induk.
Suasana di sekian banyak pasar yang tersebar di dusun-dusun sekitar pedukuhan induk disesaki dengan pembicaraan yang tidak seperti biasanya. Mereka ramai membincangkan yang terjadi di lereng Kendil ketika perondaan ketiga dilepaskan oleh barak pasukan khusus.
Ada kebanggaan, ada kehormatan yang bertambah dan ada juga kegetiran yang nyaris tidak dapat disembunyikan.
Di sebuah warung wedang jahe di pojok pasar, beberapa orang pengawal yang baru selesai tugas malam tampak duduk melingkar. Masih dengan wajah tegang, mereka tak bisa berhenti berbagi tentang yang dilihat dengan mata telanjang: sesuatu yang dianggap kebenaran yang akan mencari pembuktian.
“Aku berdiri tak jauh dari sana,” bisik salah satu pengawal sambil menyesap wedangnya dengan tergesa. “Bukan cuma suaranya yang meledak, tapi tanah itu… tanah itu mengeras seperti dibakar tungku pandai besi! Lawan Ki Swandaru itu… siapa namanya? Ah, aku agak lupa, tapi dia itu orang sakti, tapi di tangan Ki Swandaru, dia terbenam setengah badan. Remuk!”
Orang-orang memandangnya dengan mata penuh isi bayangan pertempuran yang mengerikan.
“Hey,” ucap seorang bakul keliling yang singgah. “Benarkah kabar tentang Nyai Pandan Wangi? Aku mendengar itu saat berjalan ke pedukuhan ini. Orang-orang di pasar berbisik-bisik tentang itu.”
Si pengawal menghela napas, wajahnya berubah jengah. “Itu yang paling berat. Nyi Pandan Wangi sendiri yang menyebutnya: Pancuran Watu Item. Beliau bicara dengan tegas, seperti sedang menjadi seorang pengadil.”
Undangan Pancuran Watu Item segera berubah menjadi gempa yang merembet sangat cepat hingga mencapai embung, Pringtali dan beberapa tempat yang berjarak sehari berjalan kaki dari pedukuhan induk.
Bagi orang-orang sederhana di dusun dan pedukuhan, undangan itu seperti awal sebuah bencana keluarga.
“Kasihan Ki Gede,” kata mereka. “Anak dan menantunya seperti api dan air yang tidak bisa lagi berada dalam satu tempayan.”
Sebagian pemuda yang juga menyandang tugas sebagai pengawal malah sebaliknya. Mereka justru menyambut gembira kabar itu. Beberapa pengawal sudah menyusun jenis latihan yang diketahui lalu berjanji sendiri untuk mematuhi.
Udara di sejumlah pedukuhan pun seolah ikut bergerak dengan semangat menyala. Anak-anak muda itu sadar bahwa nyaris mustahil dapat mencapai ilmu Swandaru atau Agung Sedayu, tapi mereka merasa perlu demi ketertiban dan keamanan Menoreh sendiri.
Sepanjang hari itu, benak mereka penuh dengan bayangan benturan ilmu cambuk yang akan terjadi sangat dahsyat di Menoreh. Sesuatu yang mungkin tidak akan terulang lagi puluhan tahun berikutnya, begitu pikiran mereka.
Namun ada pula yang mencibir Swandaru. “Menang lawan musuh bukannya menjadi rendah hati. Huh! Eh, malah menantang saudara sendiri. Apa tidak cukup dia sudah jadi orang paling ditakuti di Sangkal Putung? Apa dia tidak kasihan melihat Ki Gede yang sudah sepuh itu? Bagaimana dia dapat menghadapi Ki Gede atau bahkan ayahnya sendiri, Ki Demang Sangkal Putung?
“Ya, benar. Apa dia juga tidak memikirkan kakak Ki Tumenggung di Jati Anom. Siapa itu? Ki Untara ya?”
Sehari itu perbincangan mengenai Pancuran Watu Item, sungguh dahsyat. Menarik perhatian banyak orang tapi sedikit yang benar-benar mengaitkan itu dengan masa lalu.
Seorang pedagang yang singgah di sebuah kedai pada jalur yang menghubungkan pedukuhan induk ke Kali Progo tampak memikirkan itu dengan sungguh-sungguh.
Desah napas darinya terdengar tidak teratur. Kadang pendek, kadang juga panjang. Matanya menerawang ke segala arah. Tapi lebih sering ke dua ujung jalan berdebu itu. Sesekali dia berkata ringan pada dua pembantunya tapi itu tidak bersinggungan dengan Pancuran Watu Item.
“Ki Jabon Seta,” katanya dalam hati. “Apakah perlu aku memberitahunya?”
Dia menjalinkan jari tangannya. Ada setangkup harapan tapi juga perhitungan matang agar orang yang dimaksudnya tidak terlambat datang.
“Ki Mahoni tentu sangat berharap, seandainya dia masih hidup, dapat bertarung kembali melawan Agung Sedayu. Tapi dia sudah tiada, yang ada di belakangnya adalah saudara seperguruan. Hanya saja, apakah Ki Jabon Seta bersedia memenuhi andaikata Ki Mahoni sendiri yang meminta? Baiklah, aku akan mencoba,” kata pedagang itu dalam hati. Tak lama kemudian, dia meminta anak buahnya bersiap melanjutkan perjalanan, menuju Pegunungan Sewu.
