0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 19 – Tiga Langkah Menjelang Babak Akhir

‘Dalam pada itu’, Agung Sedayu masih tetap bertahan di dalam himpitan.

Ketenangan dan kedalaman nalarnya belum bergeser sedikit pun. Maka dua keadaan itu mampu membawa dirinya menyelinap di antara serangan-serangan bertumpuk yang datang hampir bersamaan.

Namun keadaan itu ternyata tidak berlangsung terus.

Datanglah kemudian waktu yang sangat ditunggu dan diharapkan Ki Kebo Surongudan ketika kaki dari salah satu wujud di sisi kanan menyapu rendah, meluncur deras memburu pergelangan kaki musuhnya. Dia menyusulkan kemudian tinju ke batang leher pemimpin pasukan khusus itu.

Agung Sedayu meloncat surut setapak untuk menghindari dua serangan itu. Hanya setapak. Tetapi itulah celah yang sejak tadi ditunggu Ki Kebo Surongudan.

Tubuh orang itu tiba-tiba bergetar sangat cepat.

Gelombang tenaga cadangan yang masih tertahan di sekitar tubuhnya mendadak pecah menyebar. Dua bayangan wujud di sisi kiri dan kanannya serentak bergerak menjauh, lalu dalam sekejap menjadi semakin padat dan jelas.

Kini tampak dua wujud yang benar-benar terlepas dari tubuh asli Ki Kebo Surongudan lalu bergeser mundur dua atau tiga langkah lantas berlompatan acak—bertukar tempat, mengecoh pikiran dan perasaan murid Kyai Gringsing itu.

Agung Sedayu merasakan perubahan yang sangat tajam ketika saat berikutnya, tiga sosok Ki Kebo Surongudan telah mengepungnya dalam ruang yang sangat sempit.

Dan sebelum senapati Mataram itu sempat mengubah pijakan, ketiga-tiganya bergerak bersamaan dengan serangan yang berbeda-beda.

Agung Sedayu ternyata tidak bergeser lebih jauh.

Bahkan ketika tiga wujud Ki Kebo Surongudan semakin dekat. menyerangnya dari jurusan yang berbeda, senapati Mataram itu justru meluncur maju memasuki ruang sempit di antara mereka.

“Gila…” desis salah seorang pengawal yang menyaksikan dari kejauhan.

Ki Lurah Sora Sareh bahkan hampir menutup mata karena tidak percaya atasannya seakan rela untuk dijebak!

Dalam keadaan seperti itu, orang lain barangkali justru akan berusaha membuka jarak untuk menghindari kepungan. Tetapi Agung Sedayu malah memilih masuk semakin rapat ke dalam pusat serangan lawannya. Akibatnya kemudian adalah benturan-benturan keras pun meledak bertubi-tubi.

Ki Kebo Surongudan, entah yang asli atau tidak karena mempunyai kehendak dan tenaga yang terpisah, menghantam dengan dorongan telapak tangan lurus ke dada. Pada saat hampir bersamaan, wujud di sisi kirinya menyambar dengan pukulan pendek memburu lambung, sedangkan wujud di sisi kanan melontarkan tendangan rendah ke arah lutut.

Serangan itu datang nyaris tanpa sela. Tanpa jeda. Yang lebih parah: dilakukan serentak kurang dari seperempat waktu mata terbuka dari kejapan!

Namun Agung Sedayu masih mampu bergerak di tengah jepitan maut tersebut. Tubuhnya memutar pendek. Satu tangan menabrak pukulan lurus di depan, lututnya terangkat menahan tendangan rendah, sementara siku kirinya menghantam pendek ke arah wujud lain yang mencoba menyusup dari samping.

Ledakan-ledakan pendek segera bertaburan. Pertarungan pun berubah jauh lebih mengerikan. Tandang Agung Sedayu benar-benar brutal!

Agung Sedayu benar-benar dikeroyok tiga orang berkepandaian tinggi dalam ruang yang bahkan tidak cukup luas bagi satu orang untuk bernapas lega. Itu bukan satu orang dengan dua bayangan tapi tiga orang dengan kemampuan yang sama tapi kehendak yang berbeda.

Sangat rumit!

Namun cara bertarung Agung Sedayu menjadi semakin tajam belum tampak berubah atau bergeser dari sebelumnya. Senapati Mataram ini tetap menjaga jarak dengan keberanian dan perhitungan yang sangat matang.

Tidak ada langkah kaki panjang yang memberi ruang bagi lawan untuk membaca lintasan serangan. Seluruh sambaran tangan, siku, lutut, dan kakinya bergerak pendek-pendek namun padat. Seluruh bagian tubuh Agung Sedayu, mungkin termasuk kepala, seakan berubah menjadi senjata mematikan dalam jarak sejengkal.

Ki Kebo Surongudan akhirnya sadar bahwa musuhnya itu sama sekali tidak berniat keluar dari tekanan rapat tersebut. Meski semula dia mengira Agung Sedayu masuk dalam kepungan itu akan membuat perkelahian menjadi lebih mudah, tapi anggapan itu harus diubah. Nyata sudah bahwa Agung Sedayu justru sedang memaksa ketiga wujud lawannya bertempur dalam jarak yang terlalu sempit.

Beberapa kali dua serangan dari wujud berbeda bahkan hampir saling berbenturan sendiri karena Agung Sedayu terus bergerak menusuk ke pusat himpitan dengan cara yang sukar dimengerti.

Tetapi kehebatan Agung Sedayu tetaplah bukan sesuatu yang tidak mempunyai batasan. Kedahsyatan serangan dan tekanan dari tiga wujud itu bukan sesuatu yang memang mudah dihadapi.

Pada satu serangan Ki Kebo Surongudan, Agung Sedayu berhasil menangkis sapuan tangan dari depan. Namun sebuah pukulan pendek lawan dapat menjangkau bahunya dari samping hingga tubuh Sedayu terguncang surut setengah langkah.

Ketika kakinya belum mantap menapak tanah, satu tendangan lain segera menyambar dari arah belakang. Namun Agung Sedayu terdorong tapi tidak menyerah!

Tiba-tiba kakinya berputar menyapu tanah ketika dadanya sudah rata dengan tanah, debu dan serpihan tanah beterbangan,  tiga wujud Ki Kebo Surongudan cepat meloncat berpencar ke tiga jurusan untuk menghindarinya.

Dan sebelum lawannya sempat menata kuda-kuda, Agung Sedayu telah melenting bangkit sambil menghujankan siku dan lutut secara brutal ke arah salah satu wujud Ki Kebo Surongudan.

Satu wujud Ki Kebo Surongudan yang lain tiba-tiba melenting jauh ke belakang. Gerakannya sangat cepat. Dalam satu tarikan napas, bayangan itu telah berada beberapa tombak dari pusat perkelahian sambil membentangkan dua tangannya perlahan.

Udara di sekitarnya segera tampak bergetar tipis.

Tetapi Agung Sedayu ternyata tidak terpancing. Malah sepertinya dia tidak peduli dengan keadaan, tidak memberi perhatian pada wujud yang mengambil jarak tersebut.

Sesaat kemudian, dua wujud lain datang lagi menghimpit dari kanan dan kiri, Agung Sedayu justru bergerak semakin rapat.

Tubuhnya meluncur rendah di antara keduanya.

Satu pukulan menyambar pendek ke arah ulu hati satu wujud Ki Kebo Surongudan sementara kaki kirinya menghentak ke samping memburu lutut wujud lain yang mencoba memotong geraknya.

Ki Kebo Surongudan terkejut.

Dia semula mengira Agung Sedayu akan memecah perhatian untuk mengawasi wujud yang mulai mengambil jarak di belakang gelanggang. Tetapi ternyata senapati Mataram itu tetap bertarung dengan cara semula—memaksa perkelahian berlangsung dalam jarak sedekat mungkin.

Bahkan kini Agung Sedayu seperti sengaja menekan dua wujud yang tersisa agar tidak sempat membuka ruang.

Serangan-serangannya menjadi semakin rapat dan tajam.

Siku, lutut, telapak tangan, dan sapuan kaki bergerak berturut-turut tanpa memberi kesempatan bagi lawannya mengatur napas atau jeda. Dua wujud itu seolah berada sedikit di bawah kemampuan Agung Sedayu. Salah satu wujud Ki Kebo Surongudan terpaksa bergeser untuk menghindari benturan keras yang datang sangat deras, sedangkan wujud lain di sisi kirinya pun dipaksa terus bertahan dalam tekanan cepat yang melelahkan.

Dua wujud Ki Kebo Surongudan itu tiba-tiba bergerak berpencar, kemudian cepat membentuk sudut lebar di kanan dan kiri gelanggang. Dalam sekejap, senapati Mataram itu seperti telah berada di tengah kepungan tiga arah yang siap menutup bersamaan.

Namun Agung Sedayu ternyata berhenti bergerak di tempatnya. Membeku dengan pandangan menghunjam permukaan tanah.

Dalam hati Ki Kebo Surongudan justru mulai tumbuh kegelisahan lain: Agung Sedayu dapat menebak maksudnya. Orang itu tidak terpancing oleh wujud yang mengambil jarak. Tidak. Bahkan semakin menggila dan seolah tanpa perhitungan.

Kepungan Ki Kebo Surongudan mulai bergerak untuk membentuk tekanan baru, menerjang Agung Sedayu dari tiga jurusan. Yang terjadi malah sesuatu yang di luar dugaan Ki Kebo Surongudan!

Pada saat kaki mereka masih melayang sesaat dari tanah, Agung Sedayu langsung meluncur deras dengan kecepatan sulit dinalar—memburu salah satu wujud yang ada di sisi kanan.

Ki Kebo Surongudan terkejut.

Karena Agung Sedayu sama sekali tidak mencoba memecah perhatian menghadapi ketiga wujud sekaligus. Dia justru menghantam satu titik dengan segenap kekuatan yang dimilikinya.

Wujud di sisi kiri Ki Kebo Surongudan dipaksa bertahan rapat oleh sambaran tangan dan kaki Agung Sedayu yang datang berturut-turut tanpa jeda. Pukulan pendek, siku, lutut, lalu sapuan kaki rendah menghujani dari jarak yang nyaris tidak memberi ruang bernapas.

Beberapa kali wujud itu bahkan terhuyung surut.

Padahal selama ini, ketiga wujud Ki Kebo Surongudan bergerak dengan kekuatan yang hampir seimbang.

“Licik…” desis Ki Kebo Surongudan dalam hati tapi mulai mengerti. Dugaannya, Agung Sedayu sengaja memilih salah satu wujudnya lalu menyerang sangat kuat sehingga keseimbangan gelarnya terguncang. Dan itu berhasil!

Karena pada saat wujud di sisi kiri mulai benar-benar terdesak, dua wujud lainnya tidak mempunyai pilihan lain selain bergerak maju, menyerang sekaligus memecah tekanan Agung Sedayu.

Mereka datang hampir bersamaan.

Satu menyambar dari belakang dengan pukulan berat ke tengkuk, sementara satu lagi menghantam lurus dari samping dengan kaki menyusup ke bagian dada.

Aneh, keanehan terjadi setelah Agung Sedayu sedikit bergeser. Olah geraknya semakin sulit dipahami.

Saat itu, usai menghindari serangan dari belakang, tangan kiri Agung Sedayu masih menahan pukulan di depan tapi satu hantaman pendek darinya tiba-tiba menghentak dada wujud lawan di sampingnya.

Ki Kebo Surongudan terkejut. Menurut penglihatannya, tangan Agung Sedayu masih berada dalam benturan pertama tapi pukulan kedua itu nyata. Menyusul sangat cepat adalah ketika satu tendangan dari Agung Sedayu menyambar pangkal paha wujud yang lain dari sudut yang mustahil.

Dalam sekejap, Ki Kebo Surongudan merasa seperti melihat satu tubuh Agung Sedayu bertarung dalam beberapa lintasan gerak sekaligus.

Setiap tangkisan senapati Mataram itu seakan masih menyimpan serangan lain. Setiap putaran tubuhnya seperti meninggalkan sambaran yang belum benar-benar lenyap.

“Jadi begitu…” desis Ki Kebo Surongudan dalam hati ketika satu kesadaran mulai menghentak benaknya. Dia mendengar bahwa sebenarnya Agung Sedayu menguasai pula Kakang Kawah Adi Ari-ari dengan cara membelah wujud sebagaimana dirinya. Itu pula alasannya mengadu ilmu yang sama, tapi ternyata seluruh pelepasan ilmu dari Agung Sedayu justru tetap berada di dalam satu tubuh.

Rahayu

Ketika ilmu-ilmu dahsyat tak lagi bisa disembunyikan. Dari amukan badai Mpu Badandan hingga keris Kyai Brongot Gaharu yang haus darah. Saksikan keruntuhan sebuah era dalam pertempuran paling mencekam di pesisir utara!

Dengan menjadikan Penaklukan Panarukan,sebagai koleksi pustaka karena nilai sejarah dengan kontribusi 75 ribu, Anda dapat pula menikmati kisah legendaris lainnya.

Tata gerak perolehan:

BCA 822 05 22297

BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto.

Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke Padepokan Witasem di SINI.

Matur nuwun

Saat dia menyerang Agung Sedayu dari belakang, tiba-tiba muncul sepasang tangan dan kaki serta wajah yang lurus menghadap padanya.

Saat wujud yang lain membadai dari samping, tampak pula Agung Sedayu sudah membelit wujud itu dalam perkelahian jarak dekat.

Agung Sedayu, di mata Ki Kebo Surongudan, saat itu seolah mempunyai tiga wajah, tiga pasang kaki dan tiga pasang tangan dan semuanya berasal dari satu tubuh saja.

Dan karena itulah, setiap tangan dan kaki Agung Sedayu menjadi jauh lebih sulit dibaca.

“Meskipun sama-sama menguasai Kakang Kawah Adi ari-ari, tapi pelepasan ilmu Sedayu jauh lebih rumit dimengerti,” kata Ki Kebo Surongudan dalam hati. Dia makin paham alasan Agung Sedayu yang berusaha keras menjaga jarak agar tetap rapat dan bahkan semakin rapat.

“Panglimunan…”

Suara itu meluncur pelan dari bibir seorang anak buah Ki Kebo Surongudan. Hampir seperti harapan yang sedang dipanjatkan. Matanya membesar ketika melihat pemimpinnya melompat sangat jauh. “Tampaknya benar-benar Ki Kebo Surongudan akan  mengeluarkan aji Panglimunan…” katanya lagi.

Orang lain yang terikat pada batang pohon mengangkat kepala perlahan. Sorot matanya yang sejak tadi muram mulai menyala.

“Selesai sudah.”

“Sedayu memang sedikit terlambat untuk mati.”

“Tidak ada orang yang mampu lolos jika Ki Surongudan sudah menapak ilmu pamungkasnya.”

Salah seorang yang wajahnya penuh luka bahkan terkekeh lirih. “Tumenggung Mataram itu akan mulai bergetar lututnya, lalu menyembah-nyembah mohon ampun.”

Mereka tidak sedang berbicara keras. Tapi seluruhnya terasa mengganggu—seperti keyakinan yang sudah pasti menjadi kenyataan tanpa halangan.

Di lingkar luar, seorang pengawal Menoreh berbisik pada kawannya, “Kalau benar Ki Tumenggung kalah, aku minta jangan ada yang menembang sedih tentang diriku.”

Prajurit berkuda di sampingnya mendengus pendek. “Tenang. Wajah dan dirimu tidak cukup bagus untuk dikenang.”

Beberapa orang tertawa pendek.

“Aku malah baru sadar belum punya simpanan uang.”

“Itu benar, mati dulu baru memikirkan uang.”

Mereka tertawa pelan seolah pertaruhan nyawa Ki Tumenggung Agung Sedayu tidak mempunyai arti mendalam di perasaan. Tapi bukan itu sebenarnya. Perbincangan antara pengawal dan pasukan berkuda itu lebih ditujukan untuk mengimbangi keyakinan anak buah Ki Kebo Surongudan. Selain itu, mereka belum pernah mendengar tumenggung Mataram itu unggul dari orang yang menguasai aji Panglimunan. Keunggulan Sedayu dari Bango Lamatan sudah terjadi jauh di masa lalu dan lenyap tanpa jejak.

Sedangkan isi hati dan pikiran mereka sama terguncangnya dengan lawan.

Namun suara Ki Lurah Sora Sareh segera memotong seluruh seloroh itu. “Rapatkan kembali lingkaran!”

Nada suaranya tidak keras, tetapi seperti cambuk yang langsung meluruskan punggung para penunggang. Ki Lurah Sora Sareh memutar tombak pendeknya sekali lalu menunjuk lurus ke arah pertempuran. “Jangan lengah dengan pertarungan.”

Orang-orang segera bergerak. Sesaat kemudian, derap kuda kembali teratur. Rantai kembali menegang.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.