0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 17 – Perubahan Dramatis

Sejauh jarak sepuluh langkah, Sayoga yang agak pendiam telah bergumul seru dengan lawannya. Mereka tidak banyak bicara meski lawan Sayoga berusaha memanaskan hati lawannya yang sedikit lebih muda darinya.

Musuh Sayoga mengerutkan kening melihat senjata lawannya yang berupa tongkat kayu. Dia sempat sekilas memandang ke arah lawan kawannya, Sukra, yang ternyata memegang pula benda tumpul. Jadi, seperti apa kira-kira anak-anak Menoreh itu mendapatkan ilmu kanuragan? Mengapa senjata tajam hanya dipegang oleh mereka yang menunggang kuda? Dia masih bertanya-tanya dalam hati sehingga perhatiannya tidak tercurah penuh pada Sayoga.

Meski dia masih membagi perhatian, ternyata Sayoga masih belum dapat menembus benteng pertahanan lawannya. Itu bukan semata-mata ilmu Sayoga lebih rendah tapi karena dia kadang-kadang melompat ke samping, menangkis serangan yang mengarah bagian terbuka dari salah satu penunggang kuda di dekatnya. Sayoga cukup sibuk tapi dia tidak keberatan.

“Bagaimanapun, Ki Lurah Sora Sareh juga butuh waktu untuk mengembalikan keseimbangan tempur pasukannya,” kata Sayoga dalam hati.

Dari sisi timur tampak dua bayangan berkelebat cepat, berlompatan ringan dan seperti tidak mempunyai bobot tubuh turun sangat deras ke arah perkemahan.

Pandan Wangi, saat kedudukannya lebih dekat dengan perkemahan, dapat menilai lawan dari pergerakan sembilan orang yang sebenarnya cukup acak. Tapi perempuan yang pernah mendapat mandat dari Pangeran Purbaya sebagai panglima Pedukuhan Jagaprayan itu memiliki ketajaman penilaian. Dia sudah mengincar lawan dan Kinasih akan diarahkan pada sasaran yang lain. Sukra dan Sayoga pun telah menyedot kekuatan lawan.

“Cah Ayu,” ucap Pandan Wangi lalu menoleh ke samping.

Tapi—

Kinasih ternyata sudah menghentak kecepatan menjadi berlipat-lipat. Menyambar sangat dahsyat, tepat mengarah pada Mliwis Logrok alias Ki Sanumerta!

Pandan Wangi menggeleng, ucapnya lirih, “Selalu begitu…”

Maka putri Ki Gede ini pun akhirnya mengalihkan perhatiannya pada seorang lelaki berpakaian batik gelap yang tampaknya terlalu tangguh untuk dihadapi Ki Lurah Sora Sareh.

Dalam waktu itu, salah satu pemimpin pasukan khusus itu masih dapat bertahan dari tekanan hebat orang berbatik gelap. Tapi Pandan Wangi sadar bahwa laskar berkuda akan menjadi anak ayam yang kehilangan induk, akan menjadi sekumpulan harimau ompong tanpa kehadiran Ki Lurah Sora Sareh.

“Silakan, Ki Lurah,” seru Pandan Wangi sambil menebas datar pedangnya ke arah lambung lelaki berbatik itu.

“Terima kasih, Nyi,” sahut pendek Ki Lurah Sora Sareh lalu mengarahkan kudanya ke jurusan lain.

“Demit! Siapa kau ini?” bentak orang itu sambil mendelik pada Pandan Wangi.

“Anak demit,” sahut Pandan Wangi lalu mencecar orang itu dengan tusukan-tusukan maut.

Ki Lurah Sora Sareh, dari bibirnya kemudian terdengar aba-aba yang sudah ditunggu oleh laskar gabungan Menoreh dan barak pasukan khusus.

Napas para penunggang kuda pun terasa agak longgar. Tekanan sangat berat yang semula datang dari Ki Sanumerta telah diambil alih oleh Kinasih. Sedangkan orang berbatik yang bertarung dengan brutal hingga mampu mengurung Ki Lurah Sora Sareh telah disapa oleh Pandan Wangi. Barisan berkuda yang sempat porak-poranda karena tekanan sembilan orang asing itu pelan-pelan dapat memperbaiki diri.

Ki Lurah Sora Sareh kembali memperlihatkan kecakapan memimpin gelar pertempuran pasukan berkuda. Lawan mereka adalah empat orang yang mungkin berada dalam tingkatan yang sama atau merata dalam kemampuan tempur. Penunggang yang terluka atau tampak kesulitan diperintahkan segera menepi. Gelanggang penuh dalam kendali Ki Lurah Sora Sareh yang sekali-kali harus melayang, berlompatan dari kudanya ke kuda lain demi keseimbangan gelar yang cukup rumit tapi mulai menampakkan hasil.

Pandan Wangi.

Dia bertempur dengan cara yang berlainan dengan hari-hari sebelumnya ketika sepasang pedangnya seolah berubah menjadi dua ekor luar yang lincah mematuk mangsa. Menghadapi orang berbatik itu, Pandan Wangi justru lebih sering menempatkan satu pedang sejajar dengan lengannya. Tapi tiba-tiba membelit lawan dalam serangan yang tidak terduga dan seakan menjadi semacam senjata rahasia.

Berulang-ulang terdengar orang itu mengumpat kasar. Mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Sungguh, sangat bertolak belakang dengan sandangan yang dipakainya.

“Aku, Ki Centhong Slobog, pasti mendapatkan malu besar jika kalah dengan demit sepertimu, wanita jalang!” semprot Ki Centhong Slobog pada Pandan Wangi.

 “Demit atau wanita jalang? Pilih satu!” seru Pandan Wangi diringi dengan kelebat pedang yang luar biasa. Begitu hebat pedang itu bergulung-gulung hingga menyerupai perisai cahaya ketika tubuh Pandan Wangi seolah terselubung sinar putih berkilauan.

Ki Centhong Slobog berusaha mematahkan serangan itu dengan tusukan maut dari kerisnya yang lumayan panjang. Hingga saat itu, orang ini masih kesulitan menembus perisai rapat Pandan Wangi. Terpikir kemudian olehnya untuk meningkatkan kecepatan serang sebelum membenturkan kekuatan. Rupanya itu pun juga tidak mudah dilakukan karena Pandan Wangi selalu dapat mengimbangi setiap geraknya.

Pertempuran mereka pun meningkat sangat cepat.

Ki Sanumerta yang sedang menikmati barisan berkuda yang porak-poranda akibat gempurannya tiba-tiba terkejut, melompat surut seketika saat desing angin terdengar dari samping.

Belum penuh matanya memandang ke arah serangan datang, dia harus berlompatan lagi, tapi tidak untuk meneruskan gempuran karena tekanan Kinasih datang seperti angin prahara!

Ki Sanumerta yang mendapat julukan Mliwis Logrok itu memang dikenal dengan tata gerak yang tidak wajar. Dia jarang menyambut serangan dengan benturan tenaga atau mengimbangi lawan dengan kecepatan. Dia justru lebih banyak menghindar sambil memancing lawan larut dalam tata geraknya yang sempoyongan tapi penuh tipu daya. Tubuhnya berayun ke kanan dan kiri seperti orang kehilangan keseimbangan, tapi ketika lawannya lengah maka saat itulah serangan mematikan dilepaskan olehnya.

Tetapi menghadapi Kinasih, tata gerak andalan Ki Sanmuerta seperti kehilangan arti dan harga diri.

Murid Nyi Banyak Patra itu memang masih muda, tapi kematangan tata geraknya membuat setiap tipu daya Ki Sanumerta seperti sudah terbaca sebelum benar-benar dilancarkan. Kinasih tidak terpancing oleh ayunan tubuh lawannya, tidak pula tertipu gerakan tangan dan kaki yang seolah tak bertulang. Perhatiannya tetap jernih, terpusat mengikuti pusat tenaga musuhnya.

Pada dasarnya, tata gerak Mliwis Logrok memang tidak bertumpu pada kuda-kuda yang kukuh, tapi pada tekanan tubuh yang dibuat limbung dan berubah-ubah. Dalam banyak pertempuran, lawan biasanya akan kehilangan ukuran arah serangan karena terjebak oleh gerakan sempoyongan itu. Namun di hadapan Kinasih, semua kelebihan itu berubah menjadi kenyataan pahit yang harus ditelan bulat-bulat oleh Ki Sanumerta.

Ketika Ki Sanumerta mencoba menyesatkan arah geraknya, Kinasih justru mendobrak sisi yang lain. Depan atau belakang, kiri atau kanan, dari depan lalu ke kanan dan sebagainya bahkan Ki Sanumerta sendiri kesulitan menebak arah serangan Kinasih berikutnya.

Itulah sebab Ki Sanumerta harus berpikir dua kali sebelum melontarkan serangan yang biasanya manjur pada lawan-lawan sebelumnya.

Pada gelanggang perkelahian yang lain, Sukra dan Ki Warujayeng benar-benar terlibat dalam saling serang yang sangat sengit. Serangan berbalas serangan datang beruntun dan bergantian, bertubi-tubi.

Sukra yang semakin kaya kembangan gerak dapat memaksa musuhnya lebih sering membenturkan kekuatan. Olah gerak Sukra ternyata lebih menggetarkan perasaan lawannya ketika dia melakukan serangan melalui putaran-putaran yang tidak masuk akal. Kadang dia bertumpu pada ujung tongkat lalu memutar tubuh untuk melancarkan serangan balasan. Bila itu terjadi dalam jarak dekat, Ki Warujayeng pun tidak mempunyai pilihan selain membenturkan kekuatan. Kadang dia tampak menjauh lalu berbelok tajam kemudian menyerang dengan sabetan tongkat yang dibenturkan ke tanah terlebih dahulu. Itu jelas mengacaukan perhatian Ki Warujayeng yang akhirnya melindungi diri dari butiran-butiran debu yang terlontar ke matanya.

Sukra bukan lagi lawan yang sebelumnya dianggap remeh tapi sangat menyulitkan musuhnya yang berpengalaman jauh lebih banyak daripada dirinya.

Arena samping yang sebelah menyebelah dengan Sukra, Sayoga bertarung seperti biasa: dingin.

Lawan Sayoga masih juga belum sanggup memecahkan pertahanan pengawal Menoreh yang kerapatannya tidak kalah dengan anyaman sarang manyar di pucuk bambu. Sebentar-sebentar dia menggeram kesal dan semakin penasaran.

Orang ini pun melipatgandakan tekanan dengan tusukan dan sabetan pedang dengan kekuatannya yang sangat besar. Namun Sayoga telah melambari pedang kayunya dengan ilmu Serat Waja yang diserapnya dari ayahnya, Ki Wijil. Ditambah bimbingan Kyai Bagaswara semasa di Sangkal Putung, maka pedang kayu Sayoga seakan berubah sifat.

Kayu yang dipegangnya kadang menjadi sekeras baja saat menyerang, tapi seketika menjadi seempuk kasur randu saat menerima serangan.

Semakin lawan Sayoga meningkatkan kekuatan, semakin sulit pula dia memahami cara bertarung pengawal Menoreh tersebut. Setiap benturan keras yang seharusnya mampu mematahkan pedang kayu justru seperti lenyap tanpa bekas seolah kekuatannya diserap masuk ke dalam lapisan kapas yang tebal. Namun pada saat berikutnya, pedang kayu di tangan Sayoga mendadak memantul dengan daya yang tajam dan berat seperti batang besi tempa.

Beberapa kali dia terhuyung oleh pantulan tenaga pukulannya sendiri. Hal itu membuat napasnya mulai memburu. Di sisi lain, Sayoga masih berdiri dengan wajah dingin, bahkan langkah kakinya nyaris tidak berubah sejak benturan pertama terjadi.

Keadaan itulah yang perlahan membuat lawannya yang benama Jaka Awa-awar merasa sedang bertarung melawan sesuatu yang tidak mempunyai watak tetap.

 “Masih begini muda, mungkinkah orang-orang berkata benar bahwa Menoreh selalu menyimpan kejutan?” ucap Jaka Awar-awar dalam hati.

Rahayu

Bagi para budiman dapat mengoleksi salah satu novel pdf “Penaklukan Panarukan, Toh Kuning, Langit Hitam Majapahit, Bara di Borobudur“, dengan investasi Rp75.000. Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis.

Tata gerak perolehan:

BCA 822 05 22297

BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto.

Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke Padepokan Witasem di SINI.

Kami akan mengirimkan link pustaka yang juga berisi kisah legendaris lainnya. Jadi kontribusi Anda tidak hanya untuk satu judul, tapi lebih dari itu.

Matur nuwun

Di tengah perkemahan yang porak-poranda.

Serangan-serangan yang terus dilontarkan Agung Sedayu dan Ki Kebo Surongudan semakin pelik dan sulit dimengerti. Betapa pertarungan jarak dekat itu serupa dengan bola kecil penuh gumpalan angin padat dan lepasan liar dari tenaga cadangan. Begitu dahsyat hingga serpihan tanah yang terhantam jejak kaki mereka pun dapat membuat kulit kayu terkelupas.

Pada perkelahian sengit tersebut, antara serangan dan pertahanan sudah tidak dapat lagi dibedakan. Seluruhnya nyaris tampak sama. Serangan tangan dan kaki dari dua orang itu bergerak beruntun tanpa putus.

Lingkaran kecil penuh desakan tenaga itu bergerak mengikuti setiap tolakan tubuh mereka. Ketika Agung Sedayu menangkis dengan tangan kiri lalu memutar tubuhnya ke kanan, pusaran rapat itu ikut bergeser deras searah ayunan tubuhnya. Namun Ki Kebo Surongudan tetap melekat seperti bayangan, tidak memberi sejengkal pun jarak untuk memecah irama lawannya.

Sebaliknya, saat Ki Kebo Surongudan menepis serangan dengan lengan kirinya lalu melontarkan tubuh ke belakang, Agung Sedayu meluncur majau secepat bayangan sehingga jarak tetap rapat.

Mereka berdua seperti terikat oleh satu lingkaran gaib yang terus bergerak, bergeser, melenting, lalu membentur kembali dengan ledakan-ledakan pendek yang memekakkan telinga.

Ketika pada saat yang berbeda, ketika waktu yang dimiliki kurang dari seperempat kedipan mata, Ki Kebo Surongudan mencoba mengambil jarak—menyiapkan aji Panglimunan— Agung Sedayu justru menggila, menghujani lawan dengan serangan yang cukup brutal melalui siku dan lutut. Itu seperti bukan Agung Sedayu yang selama ini dikenal dengan cara bertempur yang anggun dan berwibawa.

Sebenarnyalah senapati Mataram itu telah menduga bahwa orang yang mengaku saudara seperguruan Raden Atmandaru tersebut memiliki kelebihan yang serupa: aji Panglimunan. Ingatannya melayang pada pertarungannya melawan Raden Atmandaru di jalur utara Sabuk Ular. Pada saat itu, aji Panglimunan ternyata tidak dapat bekerja sepenuhnya di tengah kabut yang terlalu padat dan kacau.

Karena itulah Agung Sedayu sejak awal memperkirakan Ki Kebo Surongudan tentu akan mencoba menerapkan ilmu yang sama untuk menghadapinya. Bahkan senapati Mataram itu merasa lawannya sedang menunggu saat yang tepat untuk mulai mengaburkan pancaindra dan memecah pengamatan lawan-lawannya. Maka bertarung dalam jarak sangat dekat, untuk sementara, menjadi pilihan bagi Agung Sedayu.

Namun ternyata Ki Kebo Surongudan rupanya sedang mencoba ilmunya yang lain. Di sela-sela benturan cepat itu, Agung Sedayu melihat tubuh lawannya mulai diliputi getaran aneh yang timbul tenggelam.

Tidak jarang, di sisi kiri dan kanan tubuh Ki Kebo Surongudan tampak bayangan wujud lain yang berkelebat sesaat muncul bersamaan. Dan pengungkapan ilmu itu akhirnya dilakukannya meski masih muncul bergantian seakan ada dua salinan dirinya sedang berusaha melepaskan diri dari tubuh aslinya. Bayangan itu belum benar-benar utuh tapi sudah memberi peringatan keras pada Agung Sedayu.

“Luar biasa,” puji Agung Sedayu dalam hati ketika sadar bahwa lawannya sedang berusaha membuka diri dengan ilmu yang mungkin sama dengan miliknya, Kakang Kawah Adi Ari-ari. Tapi dimunculkan dalam pertarungan ketat dalam ruang yang sangat sempit?

Jelas dan pasti, itu penguasaan ilmu yang sangat dahsyat karena tidak terguncang dengan ketatnya pertempuran jarak dekat.

Beberapa kali getaran aneh seperti itu datang melanda pertahanan batin Agung Sedayu. Bahkan pada suatu saat, bayangan-bayangan wujud di sisi kiri dan kanan Ki Kebo Surongudan hampir berhasil melepaskan diri sepenuhnya.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.