0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 16 – Sebuah Pertemuan

“Aku orang bebas dan kau tidak dapat berbuat sekehendak hatimu,“ kata Ki Kebo Surongudan.

Agung Sedayu mengangkat bahu. Dia berkata kemudian, “Yah, saya tahu Ki Sanak orang bebas. Bebas memaki di halaman barak kami dan juga bebas bermalam di wilayah kami. Jadi, katakan, kebebasan seperti apa lagi yang Ki Sanak inginkan?”

Ki Kebo Surongudan sebenarnya sedang berhitung kemungkinannya untuk selamat. Dia sadar sudah tidak mungkin dapat berharap Ki Gede datang lalu membebaskan mereka. Agung Sedayu telah hadir di tengah-tengah mereka. Keputusan Ki Gede mungkin tidak akan sejalan dengan Agung Sedayu, tapi, bukankah lebih baik dia mencoba terlebih dulu?

“Ki Gede membiarkan kami pergi ketika anak buah Ki Tumenggung hendak menyerang,” ucap Ki Kebo Surongudan. “Apakah Ki Tumenggung akan melawan perintah Ki Gede?”

“Cerdas,” sahut Agung Sedayu. Dia diam sejenak, memilih dan menimbang kata yang akan diucapkan.

“Setelah menyebut nama secara langsung, Ki Sanak menggunakan kedudukan untuk memohon kemurahan dari Ki Tumenggung. Izinkan kami untuk tahu, siapakah yang Ki Sanak maksudkan sebagai Ki Tumenggung itu? Apakah orangnya ada di sekitar sini? Cepatlah panggil lalu berharap dia akan membebaskan kalian.”

Ki Kebo Surongudan semakin geram ketika tahu Agung Sedayu sedang mempermainkan dirinya melalui kata-kata. “Sedayu, aku percaya dengan ucapan Ki Gede, jadi kami tetap bebas keluar dari tempat ini. Sebaiknya kau juga tunduk pada perintahnya.”

“Ki Sanak, yang dibebaskan Ki Gede adalah lingkungannya. Beliau jelas tidak ingin ada orang-orangmu yang membujur lintang dengan kepala terpenggal di sekitar halaman rumah,” sahut Agung Sedayu. “Tapi di sini, saya katakan bahwa Agung Sedayu adalah perpanjangan tangan Ki Gede Menoreh, bukan Ki Tumenggung yang Ki Sanak harapkan untuk datang supaya membela kalian.”

Ki Kebo Surongudan tidak dapat menahan marah. Dia berkata, “Kau ini, benar-benar tidak punya harga diri. Ingat baik-baik, tidak akan ada penyesalan setelah pertemuan ini, Sedayu. Kau akan mati.”

“Aku tidak peduli dengan harga diri,” kata Agung Sedayu, ”apalagi saat mengetahui Ki Sanak masih satu jalur perguruan dengan Raden Atmandaru. Maka, demi membalaskan dendam, Ki Sanak pasti datang dengan harga diri yang tinggi.“

Napas Ki Kebo Surongudan agak terganggu.

“Setan, orang ini benar-benar…,” ucapnya dalam hati. Namun begitu, dia sadar bahwa bertarung melawan Agung Sedayu maka itu berarti harus dapat menutup babakan hawa sanga. Sekali dia melakukan kesalahan, maka senapati Mataram itu dapat mengubah kebocoran sebesar ujung jarum menjadi ledakan besar pada sebuah bendungan. Ki Kebo Surongudan paham bahwa kemarahan harus ditekan. Bayangan untuk selamat pun wajib disingkirkan. Hanya satu yang perlu dipikirkan: Agung Sedayu.

Di bagian lain, dari randu alas yang terletak di jalur barat, Pandan Wangi memperlambat langkah saat semakin dekat dengan perkemahan kelompok asing tersebut. Dari puncak gundukan, dia dapat mengenali prajurit dan pengawal Menoreh mengelilingi banyak orang yang ditahan. Sementara di bagian tengah perkemahan tampak dua orang saling berhadapan.

Kinasih yang berjalan di sampingnya terus melangkah sampai mencapai tepian ilalang liar setinggi pinggang.

Pasangan—yang menyimpan kemampuan tempur sangar—itu dapat mengawasi dua jalan setapak yang paling mungkin ditempuh untuk keluar dari perkemahan.

Dari tempat itu pula, mereka dapat melihat dua orang saling berhadapan dengan tempat sebelah menyebelah dengan prajurit berkuda yang melingkari para tawanan.

Namun pemandangan itu ternyata cukup menganggu Pandan Wangi. Dia merasa ada kejanggalan ketika melihat beberapa orang asing duduk tanpa daya dengan tangan terikat pada sejumlah pohon. Tapi, tetap saja, ada sesuatu yang lain. Putri Ki Gede Menoreh itu bergeser tempat, mendekati Kinasih.

“Cah ayu, mari mendekat,” bisik Pandan Wangi. Kinasih mengangguk pendek.

Di tengah gelanggang, Ki Kebo Surongudan memandang berkeliling dengan dada yang sedikit tersentuh perasaan getir. Orang-orangnya telah berada dalam kepungan laskar gabungan Menoreh dan pasukan khusus. Tombak-tombak pendek terarah mantap, sementara derap kuda yang melingkar perlahan seperti sedang menutup pintu terakhir bagi mereka.

Tatap matanya kemudian membentur wajah Mliwis Logrok. Orang itu menundukkan kepala sejenak, bahkan mengesankan sedang tidur karena matanya terpejam. Ki Kebo Surongudan segera tahu dan sadar meski mulanya kecewa ketika sembilan orang pilihannya begitu mudah takluk pada prajurit berkuda.

“Mliwis Logrok sengaja menyerahkan diri…” desisnya dalam hati. Keyakinan Ki Kebo Surongudan segera merayap cepat mengisi rongga-rongga dalam hatinya yang sempat dipenuhi keraguan. Ki Sanumerta atau Mliwis Putih ini adalah orang yang paling sukar menerima kekalahan terang-terangan. Bila dia menyerah atau tampak kalah, maka orang itu sedang menunggu celah yang dapat dimanfaatkan untuk menyerang balik, lalu menguasai keadaan.

Apabila celah itu muncul, dan dia dapat melihat maka delapan orang pilihannya tentu sudah menangkap tanda yang sama. Sembilan orang itu adalah kelompok orang yang dapat disebut telah mencapai tataran yang disegani dalam perguruannya, Cucuk Maruta.

Semburat rasa kepercayaan diri yang meningkat pun memenuhi sorot mata Ki Kebo Surongudan. Meski begitu, dia harus dapat menahan bibirnya yang hampir saja bergerak untuk mengembangkan senyum.

“Satu tarikan saja, Sedayu akan mendapatkan bahan perhitungan lagi,” ucapnya dalam hati.

Pada yang sempit itu, Ki Kebo Surongudan melihat kemungkinan yang lain di tengah kepungan rapat itu: benturan mendadak yang liar dan berdarah.

Ki Kebo Surongudan tidak memberi waktu lebih panjang bagi keadaan untuk membeku. Begitu perasaannya telah penuh dengan keyakinan, rasa percaya diri pada kemampuannya cepat meningkat tajam. Adik seperguruannya—Raden Atmandaru—boleh saja tumbang dan mati terbunuh oleh Agung Sedayu, tapi pada hari itu, dia akan membayar lunas semua kekecewaan di masa lalu. Benar, perguruannya masih satu sumber dengan orang yang juga pernah dikalahkan Agung Sedayu, Bango Lamatan. Dengan demikian, dua kekalahan sangat kuat untuk menjadi alasan menghukum sekaligus membalas dendam.

Rahayu

Bagi para budiman dapat mengoleksi salah satu novel pdf “Penaklukan Panarukan, Toh Kuning, Langit Hitam Majapahit, Bara di Borobudur“, dengan investasi Rp75.000. Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis.

Tata gerak perolehan:

BCA 822 05 22297

BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto.

Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke Padepokan Witasem di SINI.

Kami akan mengirimkan link pustaka yang juga berisi kisah legendaris lainnya. Jadi kontribusi Anda tidak hanya untuk satu judul, tapi lebih dari itu.

Matur nuwun

“Ki Bango Lamatan kalah ketika guru Agung Sedayu masih hidup. Mungkin saja ada kecurangan yang dilakukan guru dan murid itu. Sedayu masih terlampau mudah untuk menundukkan ilmu Panglimunan yang menjadi andalan perguruannya,” katanya dalam hati.

Pikiran Ki Kebo Surongudan kembali ke perkemahan. Benturan sudah mustahil untuk dihindari. Lari bukan satu-satunya jalan yang tampak. Menghancurkan pusat kendali lawan adalah hal terpenting yang harus segera dilakukan!

Dan pusat itu adalah Agung Sedayu.

Sepasang mata Ki Kebo Surongudan menyala. Sebelum tuntas satu tarikan napas, dia menerjang deras. Tanah kering di bawah kakinya pecah berhamburan ketika tenaga kakinya menghentak bumi.

Orang itu tidak lagi bergerak dengan sikap hati-hati dan tidak lagi menakar. Tidak pula mencoba membaca kedalaman lawan.

Buat apa? Menghadapi Agung Sedayu masih butuh penjajagan?

Maka dia menyerang dengan seluruh kenangan masa silam, kemarahan dan lapisan ilmu yang selama ini tersimpan rapi dalam dirinya.

Tubuhnya seakan lenyap dari pandangan biasa. Hanya bayangan gelap yang meluncur memotong udara pagi. Ranting pendek di tangannya berdesing keras, lalu berubah seperti tongkat baja yang mengandung tenaga cadangan di balik ayunannya.

Udara meledak.

Beberapa prajurit berkuda bahkan tersentak ketika gelombang tekanan menyapu wajah mereka. Kuda-kuda mengangkat dua kaki depan, meringkik, bergerak gelisah lalu mundur setapak. Prajurit berkuda dan pengawal Menoreh mulai sibuk menenangkan kuda.

Ki Lurah Sora Sareh berubah wajah—menoleh cepat pada  tahanan ketika merasakan getaran udara berubah dari dalam lingkaran tahanan.

Mliwis Putih atau Ki Sanumerta ternyata meledakkan ilmunya pula! Dia melompat dengan kekuatan penuh, menyambar seorang prajurit yang berjarak lima langkah darinya. Pasukan khusus itu cepat menjatuhkan diri dari kuda demi menghindari serangan yang mematikan dari Ki Sanumerta.

Delapan orang lainnya turut pula bergerak. Mereka sebenarnya terikat tapi ternyata mampu meloloskan diri dari simpul jerami yang cukup liat. Aroma benda terbakar menyeruak, memenuhi lingkaran para tahanan.

Pertempuran kembali pecah!

Dalam waktu itu, Agung Sedayu tidak terlihat bergeser untuk menghindari serangan musuhnya. Senapati Mataram itu berdiri tegak dengan kaki menapak mantap. Tatap matanya lurus menantang datangnya serangan Ki Kebo Surongudan.

Mata beradu mata.

Ranting di tangan Ki Kebo Surongudan menyambar kepala Agung Sedayu dengan suara melengking yang memekakkan telinga. Tepat sebelum hantaman itu tiba, sebelah tangan Agung Sedayu bergerak naik, tubuhnya merendah.

Telapak tangan Agung Sedayu menempel pada ranting itu, membetotnya, lalu dia melepaskan serangan balik.

Ledakan tenaga mengguncang udara di sekitar mereka. Debu dan daun-daun kering terangkat berputar liar. Dua orang itu sama-sama terdorong setengah langkah.

Wajah Ki Kebo Surongudan berubah.

Dia merasa seperti menghantam dinding yang lunak. Tenaganya tidak memantul liar, tetapi seakan terserap atau musnah saat terjadi benturan. Ini sulit dimengerti.

“Setan!” geramnya dalam hati.

Agung Sedayu bergerak maju, menyerang dari jarak yang sangat dekat. Boleh dikatakan dia berusaha melekatkan diri pada musuhnya. Jangkauan serang mungkin kurang dari setengah langkah.

Bila ada orang yang menyaksikan pertarungan Sedayu dengan Raden Atmandaru, mungkin dia akan terkenang perkelahian yang menyerupai bola yang memantul liar, membentur dinding cadas hingga menyebabkan tanah longsor.

Jarak pertarungan sudah lenyap saat itu. Terlihat jelas betapa Agung Sedayu mengerahkan seluruh keunggulan tata gerak dari jalur ilmu ayahnya, Ki Sadewa. Tangan Agung Sedayu lurus menghantam dada Ki Kebo Surongudan.

Udara terbelah, terdengar desing yang mengerikan ketika serangan Sedayu seolah tidak dapat terbendung.

“Jancuk!” umpat tertahan Ki Kebo Surongudan.

Hanya satu jalan baginya: melepaskan ranting yang digunakannya sebagai senjata lalu melenting cepat, menjauh dari  Agung Sedayu.

Hampir saja dadanya hancur dan mungkin berlubang!

Ki Kebo Surongudan merasakan bulu kuduknya meremang. Serangan itu sederhana—tetapi mengandung tekanan dan keberanian senapati Mataram itu sungguh, sangat siluman. Sangat siluman, ini mungkin menjadi kata yang tepat untuk menggambarkan daya hancur Agung Sedayu.

“Aku meremehkannya,” desis Ki Kebo Surongudan kemudian.

Ki Kebo Surongudan menggeram keras lalu menggebrak lagi. Batang pohon di sampingnya hancur teremas jarinya saat menahan geram karena serangan dahsyat pemimpin pasukan khusus itu.

Perkelahian dua orang yang sama-sama telah mengungkapkan sebagian ilmu yang selama ini jarang diperlihatkan. Kengerian segera menabrak orang-orang yang ditahan oleh ikatan di batang pohon. Bagaimana seandainya tenaga cadangan dua orang itu berhamburan ke arah mereka? Jarak yang jauh bukan jaminan kekuatan akan memudar lalu habis.

Yah, pada akhirnya muncul anggapan bahwa kematian pasti datang menjemput mereka dalam keadaan paling sial. Mereka merutuki diri saat mendapati bahwa sebenarnya kemampuan mereka berada di bawah tingkat kebanyakan orang-orang yang bertarung dari perguruan yang sama.

Sebagian berpikir, andaikan Sedayu tidak datang lebih cepat maka mereka sudah tentu tidak dalam keadaan terikat. Beberapa berkata pada diri sendiri, andaikan Ki Kebo Surongudan mendengar saran untuk berpindah tempat, maka serangan fajar itu tidak akan terjadi.

Maka perkelahian yang berlangsung sangat ketat dan rapat karena hanya terpisah jarak kurang dari selangkah itu semakin menyulitkan keduanya.

Ki Kebo Surongudan merasa hampir tidak punya waktu untuk merapal ilmu andalannya, Panglimunan. Demikian pula yang terjadi pada Agung Sedayu yang kesulitan melebarkan jarak sehingga dia tidak cukup waktu untuk menyalurkan kekuatan pada sepasang bola matanya.

Beralih ke gelanggang prajurit berkuda.

Ki Lurah Sora Sareh benar-benar sibuk menyusun gelar perang yang mapan untuk meredam perlawanan sembilan orang anak buah Ki Kebo Surongudan. Barisan sempat morat marit, kuda-kuda bergerak liar dan butuh waktu untuk dikendalikan.

Namun demikian, kecakapan pasukan khusus dan pengawal Menoreh masih mampu menghambat lawan-lawan mereka. Apalagi ketika Sukra dan Sayoga sudah melibatkan diri secara langsung dan mengikat lawan dalam satu pertarungan, maka beban berat yang dihadapi gabungan pasukan berkuda pun berkurang.

“Kau ini masih begitu muda dan punya masa depan panjang, mengapa harus mati untuk membela Sedayu?” kata lawan Sukra merendahkan.

“Justru karena aku masih muda, aku ingin menghajarmu di sini, lalu kau cium lututku,” sahut Sukra seenaknya.

“Oh ya? Baguslah itu. Mari sebut namamu agar aku dapat mencarimu setelah kau terkapar nanti,” ucap laki-laki yang usianya sepantaran dengan Glagah Putih. “Namaku Ki Warujayeng.”

Sukra tertawa. Anak ini hampir-hampir tidak ada takutnya padahal tandang Ki Warujayeng nyaris merobohkan seorang prajurit berkuda.

“Nama yang tak cukup buruk didengar meski memang nama yang cukup jelek, aku kira,” kata Sukra dengan suara keras.

Ki Warujayeng menyerang Sukra dengan kekuatan penuh. Dia tidak kepalang tanggung karena setiap orang yang sudah berada di kancah pertempuran, itu artinya sudah siap dengan segala keadaan dan juga siap mati.

Tongkat bambu Sukar berputar-putar seperti gasing, menimbulkan gaung yang dahsyat. Dia tidak bergeser menghindar tapi justru pergeseran untuk membalas serangan. Dua orang itu hampir sama dengan yang dilakukan Agung Sedayu dan Ki Kebo Surongudan: tidak ada tahap penjajagan.

Turut bertempur berarti bekal sudah matang dan mumpuni.

Maka tata gerak mereka pun menjadi semakin cepat. Ki Warujayeng sama sekali tidak menganggap remeh senjata Sukra. Dari cara Sukra memegang dan memainkan senjatanya, Ki Warujayeng sudah dapat menakar kemampuan ilmu pengawal Menoreh tersebut. Sekalipun itu adalah bambu, tapi kekuatannya dapat mematahkan tulang lengan atau meremukkan seluruh tulang rusuk. Ujungnya pun mampu menembus batang pohon tua.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.