Dilihat 127 kali
Setelah menumbangkan Perguruan Waringin Kelabang bersama pasukan Kediri, Toh Kuning mengira pertempuran telah selesai. Namun di balik kekacauan dan asap kemenangan, dia justru dipertemukan kembali dengan sosok yang selama ini tinggal sebagai keraguan dalam hatinya—Ken Arok.
Pertemuan dua murid Begawan Bidaran itu tidak melahirkan pelukan hangat, melainkan pertanyaan yang lebih tajam dari senjata: tentang kesetiaan, pengampunan, dan jalan hidup yang mulai membawa mereka ke arah yang berlawanan. Di tengah percakapan yang sarat penyesalan dan keyakinan baru, Toh Kuning memilih melanjutkan pesan gurunya dengan menjadi prajurit Kediri, sementara Ken Arok menapaki jalan lain yang menyimpan rencana jauh lebih besar dari sekadar pemberontakan. Dua sahabat yang dahulu belajar di bawah langit yang sama kini berdiri pada sisi yang berbeda, tetapi masih terikat oleh rasa hormat dan kasih yang tidak pernah benar-benar padam.

Rahayu
Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli salah satu atau seluruh karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis. Kontribusi untuk versi cetakan:
Toh Kuning – Benteng Terakhir Kertajaya, hard cover, hitam putih, 124 hal, 115 rb
Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang menghendaki versi PDF agar lebih nyaman dibaca secara offline atau versi cetakan atau kisah yang lainnya silakan langsung menghubungi Padepokan Witasem melalui WhatsApp di [SINI].
Matur nuwun
Memasuki pendadaran prajurit khusus, Toh Kuning harus membuktikan bahwa masa lalunya tidak lagi menentukan dirinya. Namun langkah pertamanya di barak Selakurung langsung disambut oleh bayang-bayang dosa lama dan penolakan dari orang yang pernah menjadi korbannya.
Ikuti pula kisah sempalan Api di Bukit Menoreh dalam Semesta Kitab Kyai Gringsing di SANA
