0%
Still working...

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 26 – Benturan Antarperguruan Menjelang Perang Tanding

Dilihat 288 kali

Pengamanan akan dilakukan sebagaimana mestinya, tanpa membedakan pihak yang dekat ataupun yang sedang berhadapan dengannya. Bahkan di dalam hatinya, dia telah mengambil keputusan, bahwa apabila perang tanding itu berakhir dengan kekalahannya, maka tidak seorang pun boleh menyentuh Swandaru dengan alasan balas dendam ataupun kemarahan yang tidak terkendali.

Murid Kyai Gringsing itu pantas untuk khawatir mengenai  keselamatan Swandaru sesudah perang tanding. Perjalanan Swandaru yang pernah hampir terjerumus ke dalam gerakan makar bukan alasan untuk membiarkan Mataram, terutama pasukan khusus, menangkap Swandaru. Peristiwa itu lama berlalu dan Pangeran Purbaya pun sudah menjatuhkan hukuman bagi adik seperguruannya itu.

Boleh jadi, dan Agung Sedayu pun sudah mendengar suara orang yang ingin menangkap Swandaru tapi terhalang kedudukannya sebagai pimpinan pasukan khusus. Apalagi sekarang dia telah menjadi seorang tumenggung. Sudah barang tentu orang-orang akan mengaitkan kedudukan dan pangkatnya dengan sepak terjang Swandaru sendiri.

Di sisi lain, dia juga tidak ingin kemenangan ataupun kekalahan berubah menjadi bibit permusuhan baru. Dengan demikian, Ki Gede pun tidak perlu menanggung beban seolah-olah telah membiarkan satu pihak diperlakukan lebih rendah daripada yang lain di tanah perdikan itu.

Katanya kemudian, “Dalam beberapa hal, saya serahkan pada Ki Rangga Sanggabaya. Penyesuaian tentu kami lakukan segera setelah keterangan dari petugas sandi dan pengawal sudah memenuhi. Geger pasar induk, saya belum mendengar lengkap dari Glagah Putih maupun Ki Prana Aji.”

 Ki Gede menarik napas panjang. Pandang matanya beredar dari wajah Agung Sedayu lalu berhenti sejenak pada Mpu Wisanata yang sejak tadi lebih banyak berdiam diri.

“Saya kira cukup,” berkata Ki Gede akhirnya. “Selebihnya akan menjadi tanggung jawab kita bersama. Dan seperti kata Angger Agung Sedayu, segala penyesuaian dapat dilakukan setelah keterangan para petugas sandi benar-benar lengkap.”

Sebenarnyalah Ki Gede ingin menyampaikan banyak hal mengenai Swandaru pada Agung Sedayu. Tapi dia sadar dan sepenuhnya percaya bahwa Agung Sedayu masih tetap orang yang sama dengan anak muda yang berguru pada Kyai Gringsing di masa lalu.

Demikianlah kemudian tidak seorang pun menambahkan pembicaraan. Mereka memahami bahwa pembicaraan itu memang harus diakhiri sebelum berkembang pada persoalan-persoalan yang justru dapat menambah keruh suasana.

Agung Sedayu bangkit perlahan, memberi penghormatan lalu sambil berkata, “Jika demikian, saya mohon diri.”

Ki Jayaraga yang duduk tidak jauh darinya ikut bergerak seakan hendak berdiri.

Namun sebelum sempat mengucapkan sesuatu, Mpu Wisanata berkata padanya, “Ki Jayaraga, jika tidak berkeberatan, barangkali lebih baik Kyai bermalam di sini.”

Ki Jayaraga memandang sekilas wajah tua itu. Belum sempat dia mengucapkan sesuatu. Mpu Wisanata berkata lagi, “Keadaan belum benar-benar tenang. Orang-orang yang dihalau dari perkemahan mungkin masih dapat berbuat tanpa pertimbangan. Begitu pula yang sekarang berada di sekitar lereng Gunung Kunir.”

Ruangan itu sesaat terasa semakin dingin dan senyap.

 “Mereka mungkin tidak cukup kuat menyerang secara terbuka. Tetapi serangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab sering datang ketika perhatian mulai mengendur,” Mpu Wisanata menambahkan.

Ki Jayaraga mengangguk pelan. “Jadi ada dugaan pembalasan?”

“Bukan dugaan,” jawab Mpu Wisanata tenang. “Tapi kekhawatiran karena belakang hari kita melihat banyak kejadian yang tidak terpikirkan sebelumnya.”

Ki Jayaraga mengangguk, demikian pula dengan Ki Gede. Mereka bahkan sempat tersenyum karena ucapan Mpu Wisanata yang seakan enggan menyebut lereng Gunung Kendil dan nama Ki Kebo Surongudan.

Agung Sedayu menarik napas dalam-dalam. Nama Ki Kebo Surongudan memang belum sepenuhnya tenggelam dari ingatan orang-orang. Kekalahannya dapat menimbulkan luka harga diri yang sulit diterima oleh mereka yang selama ini setia dan hormat pada perguruannya.

Karena itu, Agung Sedayu lantas berkata, “Terima kasih, Mpu. Saya akan menyesuaikan diri dengan pertimbangan tadi.”

Sesaat kemudian dia melangkah keluar pendapa. Udara malam terasa dingin menyentuh wajahnya. Langit tampak bersih dengan gugusan bintang yang bertaburan di atas pohon-pohon randu di kejauhan.

Di belakangnya, Ki Jayaraga memandang punggung Agung Sedayu yang perlahan menjauh bersama dua pengawal regol. Malam itu dadanya terasa pepat oleh panggraita yang sukar dijelaskan.

Sedangkan di dalam rumah Ki Gede, Mpu Wisanata masih duduk diam memejamkan mata, seolah sedang mendengarkan sesuatu yang tidak terdengar oleh orang lain.

Sejumlah prajurit masih duduk berkelompok di dekat obor-obor yang menyala pendek. Sebagian baru kembali dari pasar induk, sebagian lain datang dari gardu jaga sekitar pedukuhan.

Bersama Glagah Putih, Ki Prana Aji berdiri dekat meja panjang yang berada di sisi lorong timur. Beberapa petugas sandi datang dan pergi menyampaikan laporan bergantian.

“Keributan memang sudah mereda,” kata seorang prajurit sandi. “Beberapa bergerak ke arah Pudak Lawang, Ki Lurah.”

“Pudak Lawang?” tanya Ki Prana Aji dengan kening berkerut. “Apakah sudah diketahui asal kelompok mereka?”

Prajurit sandi itu menggeleng.

Sejenak kemudian, Ki Prana Aji bicara singkat dengan Glagah Putih kemudian mencari Ki Sanggabaya yang sedang memimpin perondaan dari Benda hingga Separang. Sedangkan Glagah Putih bergeser mendekati ruang yang biasa digunakan Agung Sedayu untuk mengurai siasat.

Pada malam itu, sekitar dua hari menjelang perang tanding di Pancuran Watu Item, keributan melanda Tanah Perdikan. Kali ini menyala di sekitar bulak kering di Pringtali.

Beriringan dengan itu, bagi sedulur yang menghendaki versi PDF Kitab Kyai Gringsing 1-5 agar lebih nyaman dibaca secara offline atau versi cetakan, silakan langsung menghubungi Padepokan Witasem melalui WhatsApp di [SINI].

Sebelum itu terjadi.

Tidak ada lagi suara gaduh seperti di pasar, tetapi suasana justru terasa lebih tegang. Langit telah condong ke barat ketika rombongan Ki Ajar Ental Sewu meninggalkan Tanah Perdikan. Seperti yang dilaporkan petugas sandi pada Ki Prana Aji bahwa orang-orang itu bergerak menuju Pudak Lawang. Tapi karena merasa dibuntuti oleh sedikit orang, maka mereka mengubah arah menuju tempat lain.

Agak jauh di belakang iring-iringan itu, tiga orang pasukan khusus Menoreh tetap membayangi lekat-lekat. Kadang hanya tampak sebagai bayangan gelap di ujung pematang, kadang menghilang di balik rumpun bambu dan pohon randu.

Namun justru itulah yang membuat anak buah Ki Ental Sewu merasa tidak nyaman.

“Mereka seperti anjing pemburu,” geram salah seorang pengikutnya lirih. “Aku kira mereka berhenti setelah kita mengarah ke sekitar Gunung Kunir. Tapi aku salah mengira. Menjengkelan sekali dengan dibayangi seperti ini.”

Ki Ental Sewu tidak menoleh.

“Mereka sedang menjalankan perintah,” katanya datar. “Meski sebenarnya cukup mudah bagi kita untuk menghabisi mereka, tapi lebih baik kita tetap menahan diri. Satu kesalahan kecil dapat merusak rencana dan cita-cita yang sudah tersusun lama.”

Mereka terus bergerak hingga matahari hampir tenggelam. Cahaya senja yang kemerah-merahan masih menerangi hamparan sawah kering dan semak liar saat mereka melihat permukiman kecil di tepi jalan utara.

Beberapa orang menarik napas lega meski alis mereka bertaut. Tempat itu tidak layak dan juga tidak dapat  disebut dusun. Hanya beberapa rumah berdinding gedeg dengan tiang bambu seadanya. Atapnya rendah dan sebagian tampak ditambal daun ilalang kering. Tidak ada halaman, tidak ada gardu ronda, dan tidak ada jalan yang menghubungkan rumah-rumah itu. Bahkan tidak terdengar suara anak-anak bermain.

Permukiman itu seperti tumbuh diam-diam di pinggir hutan dan dilupakan orang.

“Kita bermalam di sini,” ujar Ki Ental Sewu.

Anak buahnya atau mungkin mereka itu murid-muridnya cepat menurunkan barang lalu duduk melepas lelah.

Tiga pengawal khusus Menoreh berhenti pula lalu menyebar dalam jarak dekat.

Malam turun terasa lebih lama dari biasanya.

Dari beberapa rumah tampak cahaya lampu sentir redup bergetar di sela anyaman bambu. Angin datang membawa udara kering bercampur bau asap pembakaran dari suatu tempat tapi bukan dari permukiman itu.

Meski sempat saling bertanya karena mengira tempat itu dihuni atau tidak, dua orang anak buah Ki Ental Sewu akhirnya berjalan masuk ke permukiman untuk mencari makanan. Rombongan itu tidak berburu. Mungkin mengira dapat mencari makanan dari permukiman atau ada sebab lain, entahlah.

“Kita beli singkong atau nasi seadanya dari penduduk,” kata salah seorang. “Perutku seperti diikat sejak siang.”

Kawannya mengangguk. Meski belum sampai terjadi benturan tapi ternyata ketegangan mempengaruhi pula daya tahan mereka.

Selanjutnya, dua orang itu melangkah melewati lorong sempit di antara rumah-rumah bambu itu. Anehnya, suasana terasa terlalu sunyi.

Tiba-tiba dari sebuah lorong gelap di samping rumah bambu terdengar teguran keras.

“Kalian siapa? Mau apa?”

Dua orang Ki Ajar Ental Sewu berhenti serentak. Cukup mengejutkan tapi salah seorang menjawab sambil menahan jengkel, “Mencari makan. Kami hanya ingin membeli nasi atau apa saja.”

“Pergilah,” suara itu menjawab cepat. “Ini bukan perkampungan penduduk.”

Dua orang itu saling berpandangan.

“Kalau begitu kenapa ada rumah dan lampu?” gerutu yang lebih muda.

Suara dalam gelap itu terdengar lagi, “Pergilah. Kalian tidak akan menjumpai satu orang pun.”

Lelaki berbadan ramping dengan ikat kepala bergaris-garis menyahut, ““Heh… lalu siapa kau sebenarnya? Demit?”

Belum habis kalimat itu terucap, terdengar makian kasar dari lorong gelap. Sebuah bayangan tiba-tiba melompat keluar dari kegelapan dengan kecepatan mengejutkan.

Satu tendangan menghantam dada orang yang bertubuh besar hingga tubuhnya terlempar membentur rumpun bambu. Terdengar suara berderak keras.

“Setan!” teriak kawannya sambil mencabut belati pendek.

Namun penyerang itu bergerak sangat cepat.

Dalam cahaya remang, tampak sosok kurus berikat kepala hitam dengan tubuh dibalut kain gelap kusam. Matanya tajam menyala.

Senjata anak buah Ki Ental Sewu menyambar, penyerang itu mengelak ke samping lalu memutar tubuh, siku kirinya menghantam rahang lawan tapi dapat dihindari.

Mereka berdua segera terlibat dalam perkelahian yang cukup seru pada awal malam itu. Sementara anak buah Ki Ental Sewu yang tadi terjatuh, kini bersiap dengan kedudukan tubuh yang lebih tertata. tetapi penyerang justru tertawa.

“Ayolah, kita bermain-main sebentar,” katanya keras.

Dari arah lain mulai terdengar langkah kaki. Satu. Dua kemudian semakin banyak. Bayangan-bayangan hitam bermunculan dari sela rumah bambu seperti keluar dari perut malam. Sebagian membawa tombak pendek, sebagian hanya membawa parang dan tongkat kayu.

Jumlah mereka cepat bertambah.

Satu dari tiga pasukan khusus ternyata sudah berada di sekitar tempat benturan. Rupanya dia memutari tempat istirahat kelompok Ki Ajar Ental Sewu lalu melihat dua orang bergerak mendekati permukiman. Dari tempatnya, keningnya berkerut ketika melihat bahwa orang-orang yang keluar dari gubug atau rumah itu tidak tampak seperti penduduk biasa. Mereka berdiri dengan sikap orang-orang terlatih.

“Siapakah mereka?” dia bertanya dalam hati pada dirinya sendiri.

 Orang-orang baru datang itu cepat melingkari arena perkelahian.

Untuk beberapa waktu mereka saling melontarkan umpatan kasar dan penghinaan. Saling merendahkan dan menyombongkan diri.

Tidak ada yang menyerukan perintah serang atau semacamnya, namun tiba tiba saja, hampir bersamaan, para pengepung itu menerjang dahsyat pada dua orang yang berada di tengah lingkaran.

Related Posts

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.