Dilihat 129 kali
Di tengah malam yang sunyi di Pajang, Ki Kebo Kenanga datang diam-diam ke rumah Pangeran Parikesit dengan ilmu meringankan tubuh dan kabut tenaga inti yang menyelimuti seluruh lingkungan rumah. Pertemuan itu bukan sekadar kunjungan seorang kerabat lama, melainkan percakapan para sesepuh yang merasakan pertanda besar sedang bergerak di tanah Demak. Bahkan sebelum kata-kata diucapkan, mereka telah saling memahami bahwa angin perubahan sedang mendekat dan dapat mengguncang tatanan yang selama ini dijaga.
Baca lengkap kisah di Gandok
Percakapan kemudian bergeser pada generasi berikutnya, terutama Jaka Wening yang diam-diam menunjukkan bakat luar biasa dalam ilmu Jendra Bhirawa. Ki Kebo Kenanga mengakui bahwa anak muda itu mempelajari ilmu tua tersebut tanpa bimbingan langsung dan tanpa memperlihatkan kesalahan berarti. Bagi mereka, kemampuan itu bukan sekadar bakat, tetapi tanda bahwa masa depan Pajang dan Demak mungkin akan berada di tangan orang-orang yang berjalan dengan jalan berbeda dari para pendahulunya.
Namun inti pertemuan malam itu adalah kekhawatiran atas rencana Raden Trenggana untuk menggerakkan angkatan perang ke wilayah timur. Pangeran Parikesit mengungkapkan bahwa tujuan utama Demak tampaknya bukan sekadar penaklukan, melainkan memperoleh pengakuan politik atas wilayah-wilayah yang belum sepenuhnya tunduk. Meski tetap menghormati takhta Demak, para tokoh sepuh itu mulai mempertanyakan apakah perang akan menjadi jalan yang benar atau justru membuka kembali luka lama yang belum sembuh.

Kerelaan Anda memberikan kontribusi dengan cara membeli salah satu atau seluruh karya kami berarti turut menjaga keberlangsungan blog ini tetap dapat diakses secara gratis. Kontribusi untuk versi cetakan:
Penaklukan Panarukan, 566 hal, 175 rb, hard cover, hitam putih
silakan langsung menghubungi Padepokan Witasem melalui WhatsApp di [SINI].
Rahayu
Menjelang akhir pertemuan, lahirlah keputusan yang penuh risiko: mencoba memengaruhi Adipati Hadiwijaya agar tidak terlibat terlalu jauh dalam rencana penyerangan dan membuka peluang perdamaian sebelum darah tertumpah. Ki Kebo Kenanga diminta berbicara langsung kepada pihak yang berwenang, sementara Pangeran Parikesit memilih bertahan sebagai penyeimbang di tengah pusaran ambisi dan sejarah. Ketika para tamu berpamitan dan lenyap bersama kabut dan pusaran angin, yang tertinggal hanyalah kesadaran bahwa zaman sedang bergerak menuju titik yang sulit dihentikan
