
Aku membungkuk untuk mengambil lalu memegangnya. Benar-benar terasa kenyal. Tanpa jijik, aku mengulurkannya pada seorang pelayanku sambil bertanya, “Apakah ini segumpal darah?”
Yang aku lihat adalah seluruh kegelapan berada di dalam benda itu. Kepahitan dan kegetiran terangkum indah pada setiap bagiannya. Terlihat pula sayap-sayap yang terluka dalam penjara yang berbentuk benda lunak dan kenyal itu. Jauh di dalam gumpalan, aku dapat melihat seekor burung merak memandangku dengan ekor terkulai. Mungkinkah aku tak mampu karena pikiranku yang terpenjara oleh belenggu prasangka?

Meski demikian, aku terpukau oleh kata-katanya. Itu mengingatkanku pada ucapan Surak Kelurak, tunduk tanpa syarat. Hanya kesetiaan dan pengabdian. Aku merasa jiwaku ditarik kemudian dituntun oleh kekuatan gaib yang sulit dimengerti.
Dalam keadaan itu, aku seperti sedang duduk di dalam lukisan kasar yang disiapkan untuk dipahat pada dinding batu yang sedang dirancang Rakai Panangkaran. Aku melihat diriku sedang berhadapan dengan seekor burung yang berekor api. Di bawah sayap burung yang berparuh lengkung nan tajam, aku melihat gambar hidup mengenai peperangan. Burung yang mempunyai lidah api itu memancarkan nestapa pada tatap matanya. Namun, aku hanya dapat menduga-duga ; apakah prahara akan mendatangi kerajaan ayahku?

Bab 3 – Mara Bebaya – Pertempuran yang sulit dimengerti menjadi pembuka bab. Medang terancam, bahaya sudah menjelang.
