Demak sedang berada di puncak kejayaan, tapi di balik kemegahan itu, bara penentangan terjaga diam-diam.
Para tumenggung tua, adipati wilayah timur, dan bangsawan pewaris Majapahit ternyata menyimpan satu rahasia besar: mereka tidak pernah benar-benar mengakui kekuasaan Pangeran Trenggana.
Sementara Demak bersiap menaklukkan Panarukan dan Blambangan, sebuah rencana berbahaya mulai disusun dalam pertemuan-pertemuan rahasia.
Arya Penangsang. Nama ini kembali disebut.
Di tengah pusaran politik berdarah itu, Ki Rangga Gagak Panji bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain, membangun sekutu, memancing keberpihakan, dan menyalakan api yang dapat memecah Demak dari dalam.
Namun perang tidak hanya terjadi di balik meja perundingan.
Di hutan-hutan Kendeng, di jalur para penyamun, hingga di barak para prajurit, darah mulai tumpah sebelum genderang perang benar-benar ditabuh.
Siapa sebenarnya pewaris sah Demak?
