Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 81 – Jejak Senyap di Balik Kereta Kepatihan

Dua hari setelah pertemuan di Kepatihan, sebuah kereta khusus milik Kepatihan tampak melintas di bawah regol. Di dalamnya duduk Nyi Banyak Patra, Pandan Wangi, dan Kinasih.

Sesuai rencana yang disusun Agung Sedayu, tiga perempuan tangguh dari lintas usia itu berangkat bersama menuju Keraton. Nyi Banyak Patra membawa permohonan khusus dari Agung Sedayu untuk disampaikan kepada Sunan Agung, sementara Pandan Wangi dan Kinasih tetap berada di dalam kereta, menunggu hingga pembicaraan penting itu usai.

Beberapa pasang mata tampak lekat mengawasi arah kepergian kereta Ki Patih Mandaraka itu. Mereka juga tahu bahwa di dalam kereta itu adalah seorang putri negara—bangsawan tinggi— dari lambang yang disematkan di bagian depan dan samping kereta. Tapi mereka tidak tahu bahwa ada dua orang dekat Agung Sedayu duduk tenang di dalamnya.

Keadaan itu tidak menarik banyak perhatian orang yang berlalu lalang di sekitar Keraton dan Kepatihan. Itu adalah pemandangan yang biasa dan sekali-kali Nyi Banyak Patra melihat keluar, melambaikan tangan pula pada orang-orang yang tahu lalu menyapa.

“Agung Sedayu belum berubah,” ucap seseorang yang mengamati. “Dia masih setia berjalan kaki jika ada keperluan di Keraton.”

“Tapi aku mendengar bahwa Ki Patih sedang sakit, jadi siapa yang mewakili beliau untuk menemui Sinuhun?” sahut seorang pengamat yang mengenakan ikat kepala putih bercorak batik dengan nada datar.

“Bisa siapa saja dan sebaiknya kau tahu sejak sekarang ini bahwa Nyi Banyak Patra memilih tinggal di Kepatihan,” kata orang pertama.

Dalam waktu itu, saat matahari sudah melebihi bagian tengah, kereta Ki Patih Mandaraka tiba di beranda utama Keraton. Nyi Banyak Patra tampak turun perlahan, lalu kereta pun bergeser tempat ke bagian belakang.

Tidak banyak yang mengetahui atau mendengar pembicaraan Sunan Agung dengan salah satu sesepuh Mataram yang putri Panembahan Senapati, Nyi Banyak Patra. Tidak seorang pun dari pelayan dalam yang diizinkan mendekat atas permintaan Nyi Banyak Patra. Bahkan Pangeran Purbaya pun tidak memperolah perkenan untuk bergabung di dalamnya.

Sunan Agung akhirnya mengabulkan seluruh permintaan Agung Sedayu yang disampaikan melalui Nyi Banyak Patra. Tanpa banyak pertanyaan, berlandaskan kepercayaan tinggi kepada senapati Mataram yang baru saja dianugerahinya kenaikan pangkat, Sunan Agung dapat menangkap maksud di balik permintaan tersebut—sebuah urusan yang memang patut dijaga dari pendengaran orang lain.

Sementara itu, di dalam kereta Ki Patih Mandaraka, Pandan Wangi dan Kinasih juga terkesan sangat tenang. Bahkan mereka memanfaatkan waktu tunggu itu untuk melatih pernapasan, membuka simpul-simpul tenaga cadangan, mengalirkan ke bagian-bagian yang belum pernah terjangkau sebelumnya. Tampaknya mereka berdua mendapatkan limpahan wawasan yang lebih dalam dari Nyi Banyak Patra.

Yang Terhormat Pembaca Setia Blog Padepokan Witasem.

Kami mengajak Panjenengan utk menjadi pelanggan yang lebih dulu dapat membaca wedaran Kitab Kyai Gringsing serta kisah silat lainnya dari Padepokan Witasem. Untuk mendapatkan kelebihan itu, Panjenengan akan mendapatkan bonus tambahan ;

Buku Kitab Kyai Gringsing (PDF) dan Penaklukan Panarukan. Caranya? Berkenan secara sukarela memberi kontribusi dengan nilai minimal Rp 25 rb/bulan melalui transfer ke BCA 822 05 22297 atau BRI 31350 102162 4530 atas nama Roni Dwi Risdianto. Konfirmasi transfer mohon dikirimkan ke WA 081357609831

Cara yang demikian juga turut menjaga keberlangsungan pengembangan blog Padepokan Witasem.

Demikian pemberitahuan. Terima kasih.

Matahari sudah memancarkan sinarnya dari kemiringan yang nyaris tenggelam ketika kereta Ki Patih Mandaraka tampak meninggalkan lingkungan Keraton. Mengambil jalur yang berbeda dari keberangkatan.

Di dalam kereta pun tidak banyak berlangsung percakapan. Mereka sadar bahwa pengawal berkuda dan kusir dapat menyebarkan isi pembicaraan tanpa niat tersembunyi dan kesengajaan.

Pada saat mendekati hutan kecil di barat Kepatihan, dua bayangan berkelebat sangat cepat dari dalam kereta lalu memasuki pekarangan sebuah rumah sederhana.

Sehari sebelumnya, Agung Sedayu berjalan kaki seorang diri mendatangi rumah milik keluarga Ki Rangga Sanggabaya. Hubungan baik di antara keduanya telah lama terjalin, bahkan merembet ke lingkungan keluarga mereka.

Seorang kerabat Ki Sanggabaya menyatakan kesediaannya memenuhi permintaan—menyediakan dua ekor kuda yang kelak akan digunakan untuk keperluan yang menyusul kemudian.

Maka, pada senja yang semakin meredup itu, Pandan Wangi dan Kinasih melanjutkan perjalanan mereka dengan menunggang kuda, meninggalkan kereta yang terus bergerak seolah tanpa perubahan. Mereka melaju cepat menuju Jati Anom, menembus jalanan sepi, berkejaran dengan bayang malam.

Malam telah turun ketika mereka tiba di Jati Anom.

Sedikit terkejut, Ki Tumenggung Untara menyambut kedatangan Pandan Wangi dan Kinasih.

“Marilah, silakan,” kata Ki Untara pada dua perempuan tersebut.

Setelah Pandan Wangi mengemukakan keperluannya, Kinasih menyerahkan gulungan rontal pada Ki Untara.

Tumenggung Mataram itu menerimanya dengan hati-hati, lalu membuka gulungan itu perlahan. Sorot matanya menjadi semakin dalam saat membaca setiap baris yang tergores di permukaannya. Tidak ada kata yang terucap: isi pesan yang penting dan mendesak.

Sejenak mengendapkan pikiran dan persoalan, Ki Untara memandang dua perempuan di hadapannya itu, kemudian berkata, “Permintaan yang tidak terlalu rumit dan sulit tapi memang membutuhkan kehati-hatian tinggi.”

Malam itu, Pandan Wangi dan Kinasih beristirahat di rumah Ki Untara. Tidak banyak percakapan yang terjadi; suasana lebih dipenuhi ketenangan yang menyimpan kesadaran pada tugas masing-masing.

Keesokan paginya, saat embun masih menggantung di ujung daun, keduanya bersiap melanjutkan perjalanan dengan arah yang berbeda. Pandan Wangi memacu kudanya menuju Sangkal Putung sebelum kembali menuju Tanah Perdikan, sementara Kinasih berbalik menuju Kepatihan.

Ki Untara melepas mereka dengan cara yang hangat. Nyi Untara, seperti biasa, selalu membawakan bekal bagi orang-orang yang berasal dari keluarga suaminya meskipun tidak mengenalnya secara pribadi.

Permintaan Agung Sedayu pun ditindaklanjuti oleh kakaknya dengan memanggil Ki Lurah Plaosan, Ki Lurah Panuju dan Ki Lurah Sabungsari. Di depan tiga petinggi itu, Ki Untara menjelaskan rinci sesuai pendapatnya atas permintaan Agung Sedayu. Pembagian tugas juga diputuskannya pada waktu itu. Sabungsari dan Ki Lurah Panuju akan menjadi penghubung dan pengganti bila utusan dari barak pasukan khusus datang menemui mereka di tempat yang telah ditentukan oleh Sedayu. Kata sandi juga diterapkan agar gerak rahasia itu dapat berjalan aman.

Sinar matahari mulai menggatalkan kulit kepala ketika Sabungsari membedal kuda meninggalkan barak prajurit Jati Anom. Sementara Ki Lurah Panuju akan mengisi sebagian tugas Sabungsari dan Ki Lurah Plaosan akan menghubungkan Kepatihan dengan Jati Anom.

Menjelang tengah hari di Sangkal Putung.

Sekar Mirah menerima kedatangan Pandan Wangi dengan kening berkerut. Setelah mendengar penjelasan putri Ki Gede Menoreh, dia menyiratkan wajah lega.

“Jadi, Kakang Sedayu sudah sedemikian itu?” dia bertanya tanpa perlu jawaban.

Pandan Wangi mengangguk.

Sukra dan Sayoga datang tak lama setelah Pandan Wangi menyampaikan pesan kepada Sekar Mirah. Mereka ternyata belum kembali ke Tanah Perdikan.

Sebelum pelantikannya sebagai tumenggung, Agung Sedayu sempat berbicara panjang dengan Kyai Bagaswara. Saat itu, sang sesepuh menyatakan keinginannya menurunkan sebagian ilmunya kepada Sukra dan Sayoga.

Agung Sedayu tidak keberatan lalu meneruskan keinginan Kyai Bagaswara itu pada dua pengawal Tanah Perdikan tersebut. Maka  dalam waktu beberapa hari yang singkat, Sukra dan Sayoga menerima tempaan keras dari Kyai Bagaswara. Membenahi gerakan, menata pernapasan, mengungkap tenaga cadangan dan banyak sentuhan yang harus mereka serap dalam waktu yang terbatas.

Di dalam pringgitan, dengan singkat dan lugas, Sekar Mirah meneruskan pesan Agung Sedayu pada dua pemuda Tanah Perdikan itu.

Sukra mengepalkan tangan. Geramnya gemas, “Ki Lurah.”

“Kita lakukan permintaan Ki Lurah,” ucap Sayoga datar sambil menyentuh pundak Sukra lalu terdiam sejenak sambil menutup mulut. Tiba-tiba dia terbawa cara Sukra menyebut Agung Sedayu.

Dan selanjutnya mereka bergerak di atas rencana Agung Sedayu.

Namun Pandan Wangi justru tidak merasa tenang dan nyaman dengan isi pesan Agung Sedayu meski tidak menyinggung Tanah Perdikan secara langsung. Oleh sebab itu, dia memutuskan untuk tidak menginap dan terus bergerak ke barat. Dusun Benda yang disebut Agung Sedayu dalam laporannya untuk Ki Gede dan diterangkan senapati Mataram itu secara terbuka padanya. Panggraitanya seolah menyatakan bahwa bahaya baru sedang mengintai Tanah Perdikan. Buruknya, bahaya itu dapat diawali dari barak pasukan khusus.

Sepanjang waktu itu, tidak banyak yang mengetahui pergerakan yang disusun Agung Sedayu. Bahkan di lingkungan satuan sandi yang dipimpin Pangeran Purbaya dan di dalam Kepatihan sekalipun.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 18 – Agung Sedayu – Raden Atmandaru: Nyaris Tanpa Jarak

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 46 – Ketika Kesetiaan Agung Sedayu Dipertanyakan

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 72 – Telah Ditetapkan sebagai Pemimpin Perguruan: Swandaru

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.