Sejumlah ruangan berdampingan rapi. Suasana yang lebih sunyi dibanding bagian barak yang lain.
Ki Wedoro Anom memperlambat langkah ketika hampir sampai di pintu. Menurutnya, dari pendengarannya, ada lebih dari satu orang yang berada di dalam ruangan. Maka dia tidak langsung masuk tapi menempatkan diri pada sudut yang sulit dipandang sepintas
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka.
Seorang lelaki keluar sambil membawa mangkuk tanah liat berisi ramuan. Uap tipis mengepul dari permukaannya. Ki Wedoro memicingkan mata. “Glagah Putih,’ ucapnya dalam hati.
Langkah Glagah Putih semakin menjauh, Ki Wedoro Anom masih mengamati sambil memastikan hanya satu orang saja yang masih ada di dalam ruangan yang ditinggalkan Glagah Putih. Baru kemudian dia masuk.
Di dalam, udara terasa hangat dan pekat oleh bau obat.
Ki Sor Dondong terbaring seorang diri.
Balutan kain yang menutup sebagian tubuhnya mulai berkurang. Tidak lagi tampak banyak lapisan. Bagian perutnya sudah bersih dari kain pembalut.
Ki Wedoro mendekat beberapa langkah. Cukup untuk melihat, tanpa harus menyentuh.
“Aku tidak perlu mengenal namamu,” katanya pelan. “Karena dirimu sudah pasti orang yang sangat penting dan berasal dari kelompok Raden Atmandaru.”
Ki Sor Dondong hanya menggerakkan mulut tanpa ada suara yang terucap. Tapi sorot matanya sudah menjadi jawaban yang sangat tajam.
Kemudian Ki Wedoro Anom berkata lagi dengan suara lebih rendah, “Keselamatanmu dan hidupmu hingga saat ini, jujur, itu bukan keberuntungan. Jika kau masih hidup sampai hari ini, itu karena ada seseorang yang sengaja melakukannya. Mungkin hanya penundaan.”
Ki Sor Dondong menatap tajam Ki Wedoro Anom.
“Jika kau bangun nanti,” katanya, “jangan sia-siakan, orang itu harus mendapatkan hukuman dan itu harus kau pastikan.”
Ki Wedoro Anom berbalik, meninggalkan ruangan.
Udara di luar terasa lebih dingin dan seperti memang memberi kesempatan baginya untuk sedikit merenungi keadaan.
Glagah Putih.
Nama itu membuatnya berhitung kembali bia seandainya dia memasuki barak. Sebagai saudara sepupu Agung Sedayu dan kedudukannya sebagai salah satu pemimpin muda yang cakap, Ki Wedoro Anom merasa bahwa keadaan di barak bakal sulit dikendalikan olehnya.
Pada hari yang lain, Ki Wedoro Anom datang dan sengaja mengajak bicara sebagian prajurit sedang bertugas di samping kandang kuda.
“Dari mana kalian tadi?” dia bertanya pada seorang prajurit yang sedang yang sedang mengikat tali pelana kuda.
“Dari sisi utara, Ki Rangga.”
“Apakah kalian sempat menaiki lereng atau ada hal lain?”
Prajurit itu sedikit mengingat perondaan yang dilakukannya bersama tiga orang lain. “Naik sebentar lalu berbelok ke barat, turun sampai parit yang melingkari Kalibawang, baru kembalki ke barak. Keadaan terkendali.”
Ki Wedoro Anom mengangguk. Berpikir sebentar kemudian bertanya lagi, “Apakah daerah perondaan itu menjadi semakin luas atau tidak ada perubahaan?”
Prajurit itu menggeleng, sedangkan dua orang temannya memandang Ki Wedoro Anom dari belakang dengan mata terpicing.
Agak ragu-ragu, prajurit tadi menjawab, “Saya kurang mengerti karena jalur perondaan sudah diubah oleh Ki Demang Brumbung.”
“Bagus.” Ki Wedoro Anom menautkan tangan di balik punggung. “Mengubah jalur tanpa mengurangi wilayah penjagaan.”
Ki Wedoro Anom lantas berkata tanpa maksud ditujukan pada tiga prajurit itu. “Meski seharusnya tidak perlu ada perubahan karena yang wajib dibenahi adalah kecermatan dan kemampuan membaca keadaan.”
“Kami melakukan tugas sesuai arahan atasan,” sahut prajurit itu cepat dengan dada berdetak lebih cepat.
“Seharusnya memang seperti itu.” Ki Wedoro menatapnya sejenak. “Seharusnya memang seseorang dapat membenahi secara keseluruhan, bukan bagian per bagian tapi tidak berhubungan.”
Lagi, Ki Wedoro Anom meninggalkan barak dengan kalimat yang menuntut munculnya dugaan-dugaan di dalam benak tiga prajurit muda itu. Selanjutnya, dia melangkah meninggalkan mereka sebelum percakapan itu makin mendalam hingga dapat menimbulkan prasangku buruk terhadap dirinya.
Agung Sedayu Sadar Tekanan
Hari-hari di Kepatihan masih dalam kurun waktu yang sama dengan perubahan di Gunung Kendil. Sementara itu, kegelisahan yang mulai merayap di barak pasukan khusus di Tanah Perdikan.
Selain turut membantu Nyi Banyak Patra merawat Ki Patih Mandaraka, selain kesibukannya merancang pengembangan barak, Agung Sedayu menyempatkan diri pula memperdalam kemampuan kanuragan.
Nyi Banyak Patra pun berkenan menyisihkan sebagian waktu dan wawasan demi Agung Sedayu. Di luar itu, Nyi Banyak Patra juga menempa Kinasih di sanggar tertutup dan sekali-kali membawanya ke luar ke pinggir kotaraja untuk pengetrapan ilmu-ilmu pilihan.
Kesibukan yang hanya berhenti saat malam itu seperti bayangan pohon yang selalu memanjang lalu hilang ketika malam tiba.
Di sebuah ruang dalam Kepatihan yang dijadikan bilik kerja khusus untuk Agung Sedayu, Pangeran Selarong datang menemui tumenggung yang baru diangkat itu saat siang hendak beralih menuju petang.
Agung Sedayu menyambutnya dengan pikiran bertanya saat wajah Pangeran Selarong tidak dapat menyimpan kegelisahan.
Tanpa merasa perlu menduga, Agung Sedayu mempersilakan putra Panembahan Hanykrawati tersebut duduk di kursinya.
Pangeran Selarong menolak. “Tidak perlu Ki Tumenggung bersikap seperti itu meski saya adalah pangeran. Tidak, Ki Tumenggung pun mempunyai batasan yang tidak dapat dilanggar meskipun oleh pangeran.”
Lantas Pangeran Selarong, tanpa basa basi dan pembukaan ringan, mengungkapkan keperluannya.
Dalam waktu itu, melalui Pangeran Selarong, Agung Sedayu mengetahui bahwa sejumlah orang seakan sedang melemahkan keberadaannya di kotaraja.
“Ki Tumenggung,” ucap Pangeran Selarong pada malam dia menemui Agung Sedayu di Kepatihan. “Saya tidak tahu bagaimana seorang dapat memandang atasan lalu mempunyai keinginan untuk menggunting di dalam lipatan.”
Agung Sedayu mendengar seksama dengan wajah yang tidak memperlihatkan perubahan. Kemudian berkata tenang, “Pangeran, saya tidak bermaksud untuk mengajari atau menggurui, tapi setiap orang bebas berkehendak untuk menyatakan sikap dengan cara yang dipahaminya sendiri.”
“Meskipun itu untuk menjatuhkan orang lain atau mengangkat dirinya di atas kejatuhan itu?” Suara Pangeran Selarong seperti mengandung ketidaksabarannya terhadap tekanan yang mungkin belum diketahui Agung Sedayu.
“Benar, termasuk itu.” Singkat Agung Sedayu memberi tanggapan.
“Cukup aneh dan agak sulit bagi saya seandainya saya berada pada kedudukan Ki Tumenggung sekarang.” Pangeran Selarong berhenti sekejap, kemudian menyambung lagi dengan nada sedikit bercanda, “Lebih-lebih, dari tempat lain, ada pula orang yang ingin memancing di blumbang yang tidak keruh.”
Maka tawa kecil pun merebak di antara mereka berdua.
“Siapa yang berani berhadapan dengan seorang pangeran? Apalagi jika itu adalah Pangeran Selarong atau Pangeran Purbaya?” Agung Sedayu mengembangkan senyum usai mengucapkan itu.
Pangeran Selarong tertawa singkat, lalu diam sejenak. Dia kemudian mengungkapkan banyak hal yang didengarnya dari barak pasukan pengawal kotaraja hingga penjaga bagian dalam Keraton.
Tenangnya permukaan benar-benar tidak mencerminkan kuatnya arus di bawahnya, pikir Agung Sedayu. Di tengah pembicaraan itu, dia pun sadar bahwa dirinya berada di wilayah yang tidak tegas membuat batas.
Saat uraiannya mendekati akhir, Pangeran Selarong berpikir sebentar, bahwa jika dia menawarkan bantuan, maka besar kemungkinan Agung Sedayu akan menolaknya. Di tempat lain, semisal pasukan pengawal ibukota, dia mungkin dapat membisu. Tapi, apakah dia dapat berdiam diri melihat Sedayu selalu mnejadi bahan buruk pembicaraan di barak pasukannya, satuan pengaman raja yang dipimpinnya langsung?
Dalam persandian, penyamaran dan pemilihan serta penempatan orang-orang yang berkemampuan, menurut Pangeran Selarong, memang hanya Agung Sedayu yang dapat menandingi kejelian pamannya, Pangeran Purbaya.
Atas alasan itulah, putra Panembahan Hanykrawati itu menahan diri untuk satu atau dua usulan. Dia berkata kemudian, “Saya ada bila Ki Tumenggung membutuhkan sesuatu. Apa pun itu.”
“Itu kehormatan bagi saya, Pangeran,” ucap Agung Sedayu. “Saya akan mencari jalan yang tidak menjadikan Pangeran susah dan repot lebih banyak.”
Agung Sedayu menarik napas panjang, lalu berkata lagi, “Nyi Pandan Wangi dan Kinasih masih berada di Kepatihan. Mereka berdua akan menjadi bantuan yang tidak terduga.”
Pangeran Selarong menatap Agung Sedayu dengan mata berbinar-binar. “Nah, itu sangat bagus.”
Percakapan pun menurun hingga suasana di luar menjadi gelap.
Pangeran Selarong pun mengundurkan diri kembali memeriksa barak lalu ke Keraton. Berbeda dengan saat kedatangannya yang diketahui banyak orang, kali ini, dia tidak menempuh jalan biasa. Pangeran Selarong menggunakan kemampuannya meringankan tubuh, melompati dinding Kepatihan lalu menyelinap di antara rimbun pohon-pohon, kemudian tiba-tiba berjalan di atas ajalan yang mengarahkannya ke barak pasukan pengaman raja.
