Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 82 – Jaringan Sunyi Agung Sedayu

Di Kepatihan.

Ki Patih Mandaraka merasa lega. Dia mendengarkan penuturan Nyi Banyak Patra bahwa Agung Sedayu diperkenankan secara langsung oleh Sinuhun: dia dizinkan menggunakan orang-orangnya sendiri sebagai penghubung dengan barak pasukan di Tanah Perdikan.

“Apakah Sinuhun tahu ada sejarah yang menyimpan benih buruk di sekitar dan di dalam Keraton?” tanya Ki Patih.

Nyi Banyak Patra menggeleng. “Saya belum mengatakan itu secara terbuka maupun samar-samar, Eyang. Saya pikir, kita belum cukup kuat mendapatkan laporan, bukti maupun pengakuan yang benar-benar mendukung keterangan itu.”

Ki Patih Mandaraka menarik panjang yang terasa berat olehnya. “Nama itu cukup pantas jika akhirnya muncul sebagai hantu.”

Nama itu tidak disebut di hadapan banyak orang. Nama yang hanya tersimpan di dalam saksi sejarah dan pelaku sejarah saja.

Hari demi hari berlalu dengan tenang dan mantap.

Pada siang itu, di sudut lain bagian dalam Keraton, dua pengamatan pun bertemu di satu muara.

Ki Suralaga dan Ki Wira Sentanu bukanlah orang-orang yang sembarangan bicara. Mereka tahu bahwa tidak mudah memisahkan Agung Sedayu dengan Kepatihan.

Jika semula mereka menganggap rencana menggoyang Sedayu lebih mudah dilakukan di dalam Keraton dan barak pasukan yang mengitari Sinuhun dan Pangeran Purbaya, perkembangan selanjutnya seakan menjadi jalan buntu bagi keduanya.

Di Kepatihan, Agung Sedayu tiba-tiba menjadi orang yang tidak mudah disentuh. Semakin sulit ditemui tanpa alasan yang sangat kuat. Bahkan mereka dapat merasakan bahwa Pangeran Purbaya pun seakan sudah menyerahkan semua urusan pengembangan barak kepada Agung Sedayu.

“Satu-satunya pilihan bagi kita adalah memutus hubungan Sedayu dengan bawahannya di Tanah Perdikan,” kata Ki Wira Sentanu. “Setidaknya mengubah isi laporan mereka pada Sedayu dan sebaliknya, menambah atau mengurangi perintah Sedayu pada bawahannya.”

“Melalui cara apakah? Aku mendengar Pandan Wangi sudah bergeser tempat,” sahut Ki Suralaga. “Perempuan itu telah kembali pulang ke Tanah Perdikan tiga hari yang lalu.”

Ki Wira Sentanu menarik napas panjang, satu demi satu dikeluarkannya perlahan. Pikirannya agak terbelit: rupanya Agung Sedayu bukan lawan atau orang yang mudah dilampaui.

Gerak dan langkah Agung Sedayu tidak bergerak di jalur yang wajar, pikir Ki Suralaga. Dia tahu dan melihat sendiri bahwa tumenggung Mataram itu terbiasa berjalan kaki, memotong bidang alun-alun, kadang-kadang mengambil jalan memutar dan sama sekali tidak pernah tiba-tiba menghilang.

“Lalu, bagaimana dia dapat mengikuti perkembangan barak di Tanah Perdikan?” desisnya seakan bertanya pada dirinya sendiri.

“Adakah di antara oarng-orang yang berada di sekitar kita itu mengenal baik wajah-wajah orang di barak pasukan khusus?” bertanya Ki Wira Sentanu.

“Banyak. Ki Demang Brumbung dan Ki Rangga Sanggabaya adalah wajah lama. Mereka pernah bertugas di barak pengamanan ibukota dan pengawal raja.”

“Selain dua orang itu?”

“Glagah Putih, Ki Prana Aji dan Ki Lurah Sora Sareh pun bukan orang baru bagi banyak orang,” sahut Ki Suralaga.

Sebenarnyalah seorang perempuan yang berusia antara tiga puluh atau empat puluh tahun yang setiap hari keluar dari pintu butulan sambil membawa keanjang abkulan berisi sayuran itulah penghubung Sedayu yang sebenarnya.

Kinasih, setiap hari, menyamar keluar sebagai pelayan perempuan. Pergi ke pasar, lalu singgah di sebuah kedai yang tak jauh dari Kepatihan. Kemudian keluar sebagai pria muda belasan tahun menuju rumah keluarga Ki Rangga Sanggabaya.

Di sekitar rumah itu, Kinasih bertukar keterangan dengan Sayoga dan Sukra yang menemuinya bergantian sebagai pedagang gerabah. Dua anak muda Menoreh itu bermalam di sekitar Kali Opak dan wilayah di antara Kali Opak dan Kali Progo. Mereka bertugas bergantian menjemput keterangan di sisi timur Kali Progo yang dibawa Ki Demang Brumbung, Glagah Putih atau setiap orang yang ditunjuk Ki Rangga Sanggabaya.

Pandan Wangi benar-benar bekerja keras dan cepat dalam menyusun lalu membangun jembatan penghubung untuk Agung Sedayu. Orang-orang bergerak pula tanpa ada pertanyaan dan perasaan yang serupa saat menjalani siasat setekah kabar kematian palsu Ki Gede. Ini luar biasa hebat!

Di luar kotaraja, waktu terus berjalan menuju titik-titik yang saling bertaut: Gunung Kendil, barak di Tanah Perdikan, sekitar rumah Ki Sanggabaya, kedai dan gubug di sekitar Kali Opak dan Kali Progo.

Jika setiap orang bergerak—Ki Wedoro Anom, Ki Suralaga dan Ki Wira Sentanu— karena telah menetapkan tujuan, maka orang-orang di sekitar Agung Sedayu bergerak karena kepercayaan dan keyakinan pada senapati Mataram. Itu saja.

Swandaru Mengukur Batas

Malam turun lebih tenang seiring waktu yang kembali berjalan seperti biasa. Pertarungan Swandaru telah lewat sekitar satu atau dua pekan lalu, tapi udara dan tanah seakan masih menyimpan getarannya. Batang pohon yang terkelupas karena sabetan ujung cambuk pun masih menganga lebar.

Tidak ada yang tertinggal atau dilupakan. Percakapan tetap mengudara, perenungan mulai mengendap. Api unggun menyala lebih banyak dari biasanya karena orang-orang belum ingin tidur.

Di beberapa sudut, kelompok kecil mulai terbentuk. Mereka tidak bicara dengan suara keras, cukup didengar di antara kelompok sendiri.

“Kita melihat sendiri… cambuknya tidak lagi berbunyi tapi sepertinya setiap lecutan itu adalah pukulan yang mengarah ke dada…”

“Tenaga itu… seperti menekan dari dalam…”

“Kalau kita bisa sampai setengahnya saja…”

Harapan mereka tumbuh begitu cepat seiring dengan semangat yang menyala kuat seperti api unggun

Pada sisi lain, ada yang duduk menjauh, menatap api tanpa bicara. Pertanyaan melintas di benak mereka, apakah itu adalah gambaran ilmu yang menakutkan atau membanggakan? Yang pasti, perguruan ini tidak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.

Di tengah perkemahan, Ki Garjita duduk sambil memandangi kerumunan kecil yang menyebar seperti pikirannya yang sedang mengumpulkan bahan-bahan yang berserakan.

“Sejak pertarungan itu, orang-orang mengikuti latihan dengan semangat yang jauh berbeda,” gumamnya.

“Ya. Saya kira karena mereka sudah melihat sendiri da nada bukti bahwa latihan-latihan selama ini bukan sekedar oleh gerak saja,”  sahut suara di sampingnya. Ki Astaman.

Ki Garjita menghembuskan napas pendek. “Apakah itu dapat dijadikan pertanda yang baik?”

Ki Astaman tidak langsung menanggapi. “Mereka tidak berangkat dari kampung dan pengalaman hidup yang sama. Segala sesuatu masih dapat berubah.”

Dari kejauhan, suara tawa kecil terdengar. Ada yang mencoba menirukan gerakan cambuk, disambut ejekan ringan dari yang lain. Tegang dan kagum bercampur jadi satu.

“Sayangnya, Ki Hariman dan Swandaru belum tergerak untuk melatih mereka,” kata Ki Garjita.

Ki Astaman menatap ke arah yang lebih gelap, jauh dari api unggun. “Saya pikir mereka masih membutuhkan waktu karena jalur berangkat yang berlainan.”

Ki Garjita mengangguk. “Banyak celah yang terbuka setiap kali dia bertahan. Jika bukan karena ditutup oleh pengalaman dan penguasan ilmu dari perguruan asalnya, Ki Hariman sudah pasti tumbang pada saat pertama benturan.”

Ki Astaman mengangguk pelan. “Demikian juga Swandaru. Serangannya pun tidak begitu rapi dan tajam. Saya kira dia masih  membutuhkan petunjuk dari yang ada di dalam kitab itu sendiri.”

Di samping bangunan sederhana, Ki Hariman duduk bersandar pada dinding. Beberapa malam dia menyendiri di tempat itu.

Orang-orang masih sesekali meliriknya tapi tidak ada yang mendekat untuk mengajaknya bicara. Mereka bukan sedang mengabaikan Ki Hariman tapi itu adalah permintaan Ki Astaman dan Ki Garjita.

Ki Hariman menarik napas dalam lalu menghembuskan perlahan.

“Seimbang…,” gumamnya. Pikirannya hanya tersisa satu kata saja, imbang. Swandaru.

Dia memejamkan mata, mengulang setiap malam dan terus membayangkan setiap gerakan Swandaru. Seluruhnya hampir sama. Cara Swandaru menghentakkan tenaga, menutup celah dan membuka serangan. Yah, benar, hampir sama. Yang membedakan adalah pengalaman dan kejelian membaca lawan.

“Apakah aku gagal mendalami isi kitab?” Pertanyaan itu muncul begitu saja.

Dia sudah membaca dan mempelajari seluruh isi kitab, tapi menghadapi Swandaru, Ki Hariman bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah aku sudah berada di puncak ilmu orang bercambuk?”

Ki Hariman membuka matanya perlahan.

Jika ini puncak—mengapa dia tidak mampu menjatuhkan Swandaru dengan cepat? Mengapa pertarungan itu harus berjalan sejauh itu? Mengapa masih ada celah yang tidak dapat ditutup rapat?

Jika Swandaru sudah mencapai puncak dan hanya butuh waktu untuk menyempurnakan, maka bagaimana mungkin Agung Sedayu mampu mengungguli Raden Atmandaru?

Ki Hariman terdiam. Pertanyaan itu sulit untuk dijawab karena pertarungan Agung Sedayu saat menghadapi Raden Atmandaru berlangsung tanpa saksi mata.

Yah, jelas ini bukan saja tentang Swandaru, tapi waktu yang sedikit lebih lama.

Dia meyakini bahwa puncak ilmu Perguruan Orang Bercambuk bukanlah omong kosong meski belum pernah melihat sendiri Agung Sedayu berkelahi. Tapi itu ada.

Pertanyaan bercabang muncul dalam pikiran Ki Hariman, apakah dia memang masih membutuhkan waktu atau cara membacanya yang salah?

Ki Hariman menunduk sedikit.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 34 – Di Rumah Agung Sedayu

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 66 – Jejak Latih Ki Tumenggung Agung Sedayu

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 63 – Swandaru Bergerak ke Gunung Kendil

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.