Swandaru menempati bangunan sederhana yang lebih baik dari sekitarnya. Dia tetap berlatih di tempat yang sama dalam keadaan yang berbeda dengan sebelumnya. Sorak sorai orang-orang telah reda lalu mengendap pada salah satu lantai hatinya. Pengakuan dan harga dirinya kembali utuh.
Dia tidak lagi limbung karena pencarian.
Sejak pertarungan itu, hampir seluruh waktunya digunakan untuk menyelami kembali tata gerak dan simpul tenaga yang baru saja dicapainya.
Sejenak dia tengadah lalu kembali tunduk. Telapak tangannya menyentuh dahi. Sambil menghembuskan napas, dia berikir bahwa orang-orang akan melihatnya dengan tatap mata yang berbeda. Ada harapan yang disandarkan padanya. Itu berarti pijakannya harus semakin kuat.
Angin malam berhembus sambil membawa gemerisik percakapan orang-orang di kejauhan.
Hasil seimbang dari perkelahiannya melawan Ki Hariman sudah tentu bukan hasil akhiri yang diinginkannya. Bagaimana mungkin murid langsung Kyai Gringsing dapat tertahan oleh seseorang yang belajar dari tulisan? Swandaru berusaha keras membantah pertanyaan itu, tapi memang sulit. Memang seperti itulah adanya.
“Dia belum mencapai puncak,“ gumamnya dalam hati. Swandaru memandangi telapak tangannya yang terbuka.
Ujung cambuknya yang memerah seakan mengingatkannya pada seseorang, Agung Sedayu.
“Aku kira Kakang Sedayu pun belum tiba di bagian itu,” batinnya. Hampir tidak ada keraguan dalam nada itu. Kekuatan mata dari kakak seperguruannya sudah tentu bukan berasal dari ajaran Kyai Gringsing.
“Jika dia melampaui kemampuanku, itu bukan karena dari jalur ilmu Orang Bercambuk saja,” desisnya dengan suara sebatas pada ujung bibirnya.
Ki Sadewa, Pangeran Benawa dan Ki Waskita.adalah orang yang pernah memberi pengaruh pada kemampuan kanuragan yang dimiliki Agung Sedayu.
Petunjuk-petunjuk lain yang tersebar dari tangan-tangan besar. Swandaru mengangguk pelan.
“Jadi, apakah memang di sini batasnya?” dia bertanya pada dirinya sendiri dengan sedikit keraguan.
Geliat Ki Wedoro Anom di Barak Pasukan Khusus
Selang dua hari dari pertemuannya dengan Ki Sor Dondong, Ki Wedoro Anom datang lagi ke barak pasukan khusus. Dia cukup percaya diri setelah mendapatkan keterangan dari juru masak bahwa Agung Sedayu masih di kotaraja dan Glagah Putih sedang meronda.
Di samping lorong panjang yang menghubungkan gudang senjata dan dapur, beberapa lurah tingkat pertama duduk melingkar tanpa susunan resmi. Pembicaraan mereka terhenti sesaat ketika Ki Wedoro Anom masuk, lalu kembali mengalir.
Ki Wedoro Anom menempatkan diri pada sudut yang membuatnya tidak mudah dilihat orang, tapi dia dapat melihat semua orang. Meski tidak berkemampuan sangat tinggi seperti Agung Sedayu atau Ki Garu Wesi, tapi pendengarannya cukup tajam untuk mengikuti pembicaraan. Akhirnya dia memutuskan untuk bergabung.
“Ki Rangga,” sapa seseorang. “Apakah Ki Rangga ada rencana pindah dari Dusun Benda dalam waktu dekat?”
Ki Wedoro Anom menggeleng, lalu katanya, “Aku tidak dapat memutuskannya segera. Itu tergantung keadaan.”
“Di sana cukup tenang sekarang,” kata perwira lain.
“Tenang di permukaan,” sahut Ki Wedoro Anom pelan. “Oleh sebab itu, aku masih merasa perlu berada di sana untuk menenangkan bebahu dusun yang mudah terserang gelisah. Kabarnya, ada lagi sekelompok orang yang seperti membayangi kehidupan di Dusun Benda.”
Seseorang mengerutkan kening lalu menggeser duduknya. “Saya sudah mendengar itu, tapi perondaan melaporkan tidak ada masalah.”
Ki Wedoro Anom mengangguk mantap. “Tentu saja karena perondaan melaporkan berdasarkan penglihatan dan kesaksian, termasuk laporan kejahatan bila ada. Jika niat untuk membayangi? Tentu kita tidak dapat mengambil tindakan atau memutuskan bahwa pengintaian adalah kejahatan.”
“Tapi Ki Tumenggung Agung Sedayu sudah mengatur semua jalur pengawasan.”
“Oh, benar, itulah Ki Tumenggung yang selalu melihat lebih jauh dari kita,” sahut Ki Wedoro Anom lalu berhenti sejenak.
Kemudian melengkapi kalimatnya sendiri, “Hanya saja yang dilihat prajurit ronda dan yang dirasakan oleh orang-orang Dusun Benda pasti ada perbedaan. Maka itulah alasan saya teap berada di sana, menenangkan mereka.”
Beberapa orang saling berpandangan. Mungkin karena itu pula akhirnya orang-orang Dusun Benda menganggap Ki Tumenggung Agung Sedayu bukanlah pimpinan di barak pasukan khusus. Barangkali juga ada sesuatu yang tersimpan rapi di dalam otak Ki Wedoro Anom.
Suasana terasa sedikit berubah.
Percakapan berlanjut ke hal lain. Ronda, perbekalan, pergantian tugas. Ki Wedoro Anom tidak banyak bicara lagi. Walau begitu, dia sesekali memberi tanggapan pendek yang sesuai dengan kedudukannya. Kadang-kadang menguraikan dengan rincian yang memukau.
Ketika merasa sudah saatnya pergi, dua atau tiga orang masih memandangnya dengan dugaan yang sulit diucapkan.
Demikianlah Ki Wedoro Anom menata ulang rencananya. Dia tidak lagi datang lalu pergi, tapi juga turut dalam perondaan. Perubahan pun tampak pada dirinya. Dia tidak lagi menghindari Glagah Putih. Bahkan sesekali Ki Wedoro Anom tampak bicara dengan sepupu Agung Sedayu tersebut.
Kepergian Pandan Wangi tidak lebih dari dua pekan, tapi itu terasa begitu lama berjalan saat mendengar penjelasan dari Ki Rangga Sanggabaya mengenai keadaan di dalam barak.
“Orang itu sudah bergerak begitu jauh dan cukup dalam,” kata Ki Rangga Sanggabaya.
“Tapi kita belum terlambat,” sahut Pandan Wangi.
Ki Sanggabaya menghela napas, lalu bertanya, “Mana yang sebaiknya didahulukan menurut Nyi Pandan Wangi berdasarkan perintah Ki Tumenggung?”
“Saya belum bertemu Ki Gede sepulang dari kotaraja,” ungkap Pandan Wangi. Lantas dia mengatakan bahwa barak pasukan khusus menjadi perhatian utama darinya.
“Tapi, apakah Ki Gede akan memaklumi seandainya beberapa gelondong kayu dikeluarkan untuk mengawali pembangunan sanggar dan penunjang latihan. Saya tidak pantas karena saya bukan apa-apa di Tanah Perdikan,” kata Ki Rangga Sanggabaya yang tentu saja merasa bahwa perkenan langsung Ki Gede adalah sesuatu yang dijunjung tinggi oleh rakyat Tanah Perdikan.
Pandan Wangi merenung sejenak. Lalu ucapnya, “Saya akan bicarakan itu dengan ayah. Meski pun Ki Rangga Sanggabaya bisa saja memerintahkan penduduk bergotong royong…”
“Tapi saya tidak berkedudukan sama dengan Ki Tumenggung Agung Sedayu di dalam hati rakyat Tanah Perdikan,” potong Ki Sanggabaya sambil merendahkan tubuh.
Pandan Wangi tertawa kecil lantas berkata, “Baiklah. Yah, memang hanya Ki Tumenggung saja yang bisa mengendalikan Tanah Perdikan selain Ki Gede.”
Tatap mata Pandan Wangi tajam menghadap arah barak pasukan khusus. “Sebaiknya kita berdua bergerak cepat. Saya mohon diri.”
Ki Rangga Sanggabaya membungkuk hormat mengiringi kepergian Pandan Wangi menuju rumah Ki Gede.
Siang itu seperti menjadi tanda waktu yang bermakna lain bagi putri Ki Gede Menoreh tersebut. Dari gambaran Ki Rangga Sanggabaya, dia dapat meraba jalan yang kemungkinan bakal ditempuh oleh seseorang yang tidak disebut namanya oleh rangga pasukan khusus tersebut.
“Apa yang diinginkannya? Saat perang pecah, dia tidak ada. Saat Ki Jayaraga terluka, dia tidak menyentuhnya,” gumam Pandan Wangi saat berada di atas punggung kuda.
Tidak lama dari pertemuannya dengan Ki Rangga Sanggabaya, Pandan Wangi akhirnya tiba di ke rumah. Bayangan Ki Gede sudah tampak olehnya di dalam pringgitan.
“Ayah,” sapa Pandan Wangi lalu meraih punggung tangan Ki Gede Menoreh.
Ki Gede Menoreh memandang putrinya sejenak sebelum mempersilakan duduk. Wajahnya tenang tapi sorot matanya sudah menunjukkan bahwa dia telah memahami yang jangkauan anaknya.
“Kau datang dengan pundak yang penuh beban, Wangi,” katanya pelan.
Pandan Wangi tersenyum. “Maaf, Ayah. Saya tidak segera menuju ke rumah tapi justru menyambangi barak.”
“Aku sudah menduga.”
Pandan Wangi mengerutkan kening. Dugaan itu tentu muncul dari alasan yang tidak mungkin sama dengan pesan Agung Sedayu pada ayahnya. Jadi…?
Sejenak keadaan menjadi hening.
“Bagaimana ayah sudah mempunyai dugaan? Apakah Ki Rangga Sanggabaya sudah mengatakan sesuatu dari Kakang Sedayu?”
“Bukan, tapi Ki Lurah Sora Sareh perihal hubungan Ki Wedoro Anom dengan bebahu Dusun Benda.”
“Oh.” Pandan Wangi mengangguk. Yah, dia juga sudah mengetahuinya dari Ki Sanggabaya meski penjelasan singkat.
“Baiklah, yang pertama dulu. Apakah ada pesan dari Angger Sedayu?” tanya Ki Gede.
“Bukan pesan langsung. Tapi kebutuhan itu jelas, Ayah. Barak pasukan khusus mulai berkembang. Sinuhun memohon bantuan Ayah melalui Kakang Sedayu. Mereka membutuhkan sanggar tertutup serta beberapa perlengkapan lain untuk latihan.”
Ki Gede memandang ke halaman. Dia ingat bahwa Panembahan Senapati juga melakukan hal yang nyaris serupa.
“Kebutuhan itu bukan hal kecil,” katanya kemudian.
Pandan Wangi menunduk hormat.
“Kayu yang mereka butuhkan?” tanya Ki Gede.
“Beberapa gelondong sepertinya sudah cukup. Tapi jika membutuhkan lebih banyak, Mataram akan mengirimnya dari tempat lain. Termasuk tenaga.”
Ki Gede tersenyum lalu mengangguk. Katanya, “Barak itu bukan milik orang lain. Itu bagian dari kekuatan yang menjaga Tanah Perdikan ini.”
Pandan Wangi mengangkat wajahnya sedikit.
“Di sebelah barat banjar pedukuhan induk,” lanjut Ki Gede, “masih ada kayu yang bisa ditebang tanpa merusak keseimbangan hutan. Gunakan itu.”
“Terima kasih, Ayah.”
“Tenaga?” Ki Gede melanjutkan.
“Saya akan mengatur bersama Ki Sanggabaya jika diizinkan.”
Ki Gede mengangguk mantap. “Sampaikan pada mereka—orang-orang di Tanah Perdikan tidak akan keberatan bergotong royong, selama tujuannya jelas. Libatkan pula Prastawa.”
Sejenak suasana menjadi lebih ringan. Namun Ki Gede belum benar-benar selesai.
“Wangi,” katanya lebih pelan.
“Ayah.”
“Tetaplah bersama Ki Rangga Sanggabaya dan juga Ki Demang Brumbung. Pastikan isi barak itu tetap seperti harapan Angger Sedayu.”
Pandan Wangi paham ucapan itu. “Saya akan mengingatnya.”
Ki Gede menoleh ke samping, pandangannya melampaui jendela kecil di dinding samping.
“Ada dua hal lagi,” kata Ki Gede lagi.
Pandan Wangi menatap penuh perhatian.
“Setelah keberangkatan kalian, Ki Lurah Sora Sareh datang ke sini. Beliau menyampaikan kabar mengenai perkembangan di Dusun Benda.” Ki Gede kemudian menjelaskan gerak-gerik Ki Wedoro Anom di sana, termasuk dugaan bahwa orang itu tengah berusaha menanamkan pengaruhnya.
“Apakah Ayah sudah memanggil salah satu bebahu atau hal lainnya?”
Ki Gede menggeleng. “Bukan berarti aku membiarkan tapi lebih baik menunggu keterangan lainnya yang mungkin datang dari sumber yang berbeda.”
“Saya mengerti.” Pandan Wangi sadar bahwa keterangan Ki Lurah Sora Sareh sudah jelas bukan sembarangan tapi Ki Gede pun tidak boleh gegabah membuat kesimpulan.
“Selanjutnya adalah lereng Gunung Kendil.”
Pandan Wangi mengerutkan kening. Ada apa lagikah di sana? pikirnya
“Di bekas perkemahan Raden Atmandaru,” lanjut Ki Gede, “ada sekelompok orang yang berlatih kanuragan di sana. Menurut laporan pengawal, yang awalnya berniat untuk berburu, jumlah mereka tidak banyak tapi beberapa bangunan sudah tegak di sana.”
Pandan Wangi diam sejenak, kemudian bertanya memastikan, “Apakah mereka datang ke sini untuk meminta izin?”
“Belum,” ucap Ki Gede sambil menggeleng. “Jadi, sama halnya dengan Dusun Benda, kita belum dapat membuat kesimpulan sedikit pun karena seluruhnya masih laporan awal.”
Pandan Wangi menunduk sambil memikirkan hubungan: percakapan singkat dengan Ki Rangga Sanggabaya dan kegelisahan barak pasukan khusus, Dusun Benda, dan lereng Gunung Kendil, tampaknya bertemu pada satu titik. Tapi dugaannya pun bisa saja salah. Bukan satu titik, bisa dua atau tiga simpul pertemuan perkara.
Pandan Wangi menarik napas perlahan. “Saya akan menyampaikan permasalahan Gunung Kendil pada Ki Sanggabaya.”
“Berhati-hatilah karena Angger Sedayu sepertinya juga belum mengetahui seluruh permasalahan yang berkembang di Tanah Perdikan,” kata Ki Gede cepat. “Cukupkan sebagai perhatian saja.”
Pandan Wangi mengangguk mantap. “Dipahami.”
Percakapan itu pun berakhir tanpa tambahan kata.
Pandan Wangi mengambil waktu sebentar untuk menata diri di dalam biliknya. Pada sore hari, dia kembali menjalankan tugas-tugas yang biasa dilakukannya di rumah: membantu menyiapkan kebutuhan dapur, memeriksa persediaan bahan makanan, serta memastikan segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya. Sesekali dia berbincang singkat dengan para perempuan lain di dalam rumah, menyapa dan menjaga suasana seperti yang sudah-sudah.
Langit perlahan berubah warna, bayangan menjadi semakin panjang ketika matahari mulai tenggelam di balik punggung Pegunungan Menoreh.
Malam turun dengan tenang, memberi ruang dan waktu bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat sejenak.
