Keesokan harinya, Pandan Wangi berkuda menuju barak pasukan khusus. Udara pagi masih menyisakan kesejukan ketika dia datang membawa pesan yang telah dipercayakan kepadanya.
Ki Rangga Sanggabaya menerima kedatangannya di dalam bilik kerjanya. Setelah saling memberi salam, Pandan Wangi segera menyampaikan maksudnya—izin dari Ki Gede bahwa pasukan khusus diperkenankan menggunakan kayu-kayu di dekat banjar. Termasuk pula kegiatan orang-orang yang berada di lereng Gunung Kendil.
Ki Sanggabaya mengangguk perlahan, sorot matanya menunjukkan pertimbangan matang, memanggil beberapa orang lalu perintah pun disebarkan.
Sejak hari itu, kesibukan baru pun dimulai.
Orang-orang Tanah Perdikan yang dikerahkan Prastawa dan pasukan khusus bergotong royong dengan kebersamaan yang luar biasa. Sekali-kali mereka menyelipkan candaan, sapaan hangat sehingga hampir tidak ada batas dalam pergaulan itu.
Sebagian orang memilih pohon-pohon yang dianggap layak ditebang. Kayu-kayu yang terpilih pun tumbang, sebagian kemudian dipotong sesuai kebutuhan. Beberapa diangkat beramai-ramai, dipikul oleh beberapa orang, lalu dipindahkan ke sisi barak. Banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh mereka maka hidangan pun mengalir demikian deras dari rumah-rumah penduduk pedukuhan induk.
Hari demi hari berlalu dengan irama kerja yang hampir serupa, tetapi tidak pernah terasa sama. Ada hari ketika pekerjaan berlangsung lebih cepat, ada pula saat mereka harus berhenti sejenak karena hujan turun atau karena tenaga perlu dipulihkan.
Ki Rangga Sanggabaya tampak sekali-kali turut mengulurkan tangan dalam pekerjaan besar itu. Dengan bekal kain yang berisi gambar dari Agung Sedayu, Ki Sanggabaya cukup teliti dan berhati-hati melakukan pengawasan.
Pandan Wangi dan Ki Gede juga beberapa kali datang dan menyaksikan perkembangan itu. Kadang-kadang turut pula dalam percakapan ringan sebagai penyemangat. Kehadiran mereka seperti menjadi tanda bahwa Tanah Perdikan dan barak pasukan khusus sudah menjadi kesatuan yang utuh.
Kadang-kadang terlihat pula bocah-bocah hilir mudik untuk membantu pekerjaan ringan atau sekadar membawa air minum bagi yang bekerja. Meski demikian, tingkah laku mereka yang menggemaskan kadang menjengkelkan tapi kadang juga menyenangkan.
Secara keseluruhan, semua bagian dari rakyat Tanah Perdikan benar-benar padu bersama Ki Gede dan para pemimpin barak pasukan khusus.
Pada hari-hari pengembangan barak, di dalam bangsal terselip percakapan itu tidak lagi sekadar soal kayu dan tenaga. Mereka mengemukakan kegelisahan dan pikiran di antara derap kaki orang-orang yang bekerja.
Seorang lurah muda, Punjung, sedang bersandar pada tiang kayu. Tangannya terlipat dengan mata memandang orang-orang yang bergantian lewati di depannya.
“Menurutmu?” dia bertanya pada lurah lain di sampingnya. “Apakah Ki Rangga Wedoro Anom sedang menyimpan maksud tertentu pada Ki Tumenggung?”
Lurah itu, Socah, tidak langsung. Matanya menerawang jauh. “Aku kira ucapannya dapat diartikan seperti itu tapi tidak semuanya begitu karena memang tidak ada yang salah.”
Punjung mengangguk meski tidak sepenuhnya setuju. “Ya. Penilaian yang sama dengan yang biasa kita lakukan.” Dia menghela napas panjang.
“Ki Tumenggung pun bukan orang yang selalu sempurna tapi beliau tahu jika dirinya dituntut untuk sempurna,” kata Punjung.
Sejenak mereka diam.
Di samping banjar, pada hari yang berlainan, seorang lurah yang lebih tua, Ki Semangkak berkata, “Sebenarnya Ki Rangga Agung Sedayu sudah memberi batas yang jelas. Lalu, apa maksud orang itu?”
“Benar,” sahut yang lain cepat. “Aku kira dia malah menambah ruwet saja.”
“Tapi…” kata Ki Semangkak. “Sebagai orang yang diutus langsung oleh Pangeran Purbaya untuk bertugas di sini, tentu penilaiannya tidak bersayap.”
Sejumlah prajurit, yang berbeda kepangkatan, yang beristirahat siang itu, segera menoleh pada Ki Semangkak.
“Itu bisa saja benar,” ucap seorang lagi dari pinggir kerumunan yang setengah lingkaran, Ki Sapeni. “Ki Tumenggung sudah membagi tugas. Perintah beliau pun dibawa Nyi Pandan Wangi dan dilaksanakan oleh Ki Rangga Sanggabaya. Jadi, keberadaan Ki Rangga Wedoro Anom sebagai peninjau dari sisi lain pun ada benarnya meski kita menganggapnya malah membuat ruwet.”
Ki Semangkak lantas berkata dengan nada lebih dingin, “Kita adalah prajurit bawahan. Mungkin Ki Tumenggung telah memberi perintah tersendiri pada Ki Wedoro Anom. Perintah yang kita tidak tahu isinya dan cara menjalankannya. Tugas kita hanyalah mematuhi atasan dan taat paugeran. Tidak ada yang perlu diubah.”
Beberapa orang saling berpandangan. Pemikiran Ki Semangkak dan Ki Sapeni sama-sama benar.
Sepanjang waktu yang sudah berhari-hari itu, Ki Wedoro Anom tampak pula di beberapa tempat. Kadang dia mengesankan sedang mengawasi pembangunan sanggar tertutup.
Di lain waktu, dia ada di sekitar pemasangan tonggak-tonggak latihan yang disusun sesuai arahan Agung Sedayu. Beberapa kata pun sudah pula diucapkan untuk memberi penilaian atau sekadar pendapat ringan.
Barak pasukan khusus, untuk pertama kalinya, tidak lagi berdiri pada satu garis yang sama.
Suasana di bilik kerja Ki Lurah Sanggabaya terasa panas. Udara di sepanjang lorong pun seolah menebar gelisah yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Bahkan Ki Garu Wesi dan beberapa tahanan perang dapat merasakan itu tapi mereka sadar tidak ada kepantasan untuk membicarakan urusan dalam pasukan.
Saat sanggar tertutup sudah hampir mendekati sempurna, Ki Rangga Sanggabaya mengajak beberapa orang untuk bicara di tempat yang agak jauh dan tersembunyi.
“Apakah hanya saya seorang diri yang merasakan sesuatu yang janggal sedang berkembang di dalam barak?” Ki Sanggabaya bertanya pada semua orang yang duduk setengah lingkaran di balik tanaman perdu.
Ki Demang Brumbung mengangguk, katanya, “Socah dan Ki Sapeni mengatakan beberapa pada saya.”
Sejenak dia memandang satu per satu wajah di sekitarnya.
“Perondaan, batas dan jalur ronda. Bahkan mereka pun heran mengapa ada orang yang mencampuri wewenang Ki Sanggabaya?”
Ki Prana Aji lantas bertanya pada Ki Sanggabaya, “Ki Rangga, apakah Ki Tumenggung juga mengetahui keadaan di barak?”
Ki Sanggabaya mengangguk dalam. “Beliau mengetahui yang di dalam dan di luar. Bahkan mungkin yang sedang berkembang di Gunung Kendil.”
Sambil mencabut sebatang rumput kering, Ki Lurah Sora Sareh menautkan alis kemudian berkata, “Gunung Kendil, Gunung Kendil, ada apa lagi denganmu?”
Orang-orang yang mendengarnya pun tersenyum tipis lalu seakan serempak menarik napas panjang pula.
“Glagah Putih saat ini mungkin sudah tiba di kotaraja,” ucap ki Sanggabaya kemudian, “mungkin nanti dia membawa perintah baru.”
“Jika perintah itu berupa penggerebekan, saya kira itu terlalujauh untuk dilakukan,” kata Ki Demang Brumbung. “Ki Tumenggung tidak bakal melangkah di dalam wewenang Ki Gede, meski Ki Gede pasti mengizinkan tanpa perlu pemberitahuan.”
Sejenak suasana menjadi hening.
“Berat,” berkata Ki Prana Aji.”Ini keadaan yang berat bagi Ki Tumenggung.”
Orang-orang memandang wajahnya.
Seperti terkejut, Ki Prana Aji berkata lagi, “Bukankah kita sudah membahasnya? Kenaikan pangkat Ki Agung Sedayu tentu saja pasti diiringi keberatan beberapa orang. Meski itu hanya dugaan bersama, tapi kemungkinan itu ada. Nah, seandainya benar itulah kenyataan di kotaraja, bukankah memang berat bagi Ki Tumenggung?”
Kalimat itu berangkat dari pembahasan sederhana beberapa waktu sebelumnya, tapi terdengar seperti lecutan yang mengusik ingatan.
Ki Sanggabaya mengangguk kecil. “Benar.”
Tidak ada yang merasa disalahkan. Tapi tidak ada pula yang berani melanjutkan pembicaraan tadi.
“Ki Wedoro Anom,” kata Ki Demang Brumbung tiba-tiba. “Dia tidak berbicara banyak, tapi selalu ada untuk membuat kelonggaran dari setiap celah yang terbuka di matanya.”
Tak lama setelah Ki Demang Brumbung mengatupkan bibirnya, pecakapan menjadi lebih sungguh-sungguh dan dalam.
Ki Sanggabaya pun menyusun langkah pencegahan yang harus diawali dari kesatuan masing-masing, lalu beberapa hal penting juga disampaikannya secara rahasia.
Matur Nuwun, Sedulur Padepokan Witasem!
Terima kasih sudah berkenan menjadi penyokong utama langkah kami.
Lebih dari sekadar angka, dukungan ini adalah bentuk kepercayaan yang membuat jari-jari kami tetap mampu mengalirkan tenaga cadangan di tengah lingkaran pertarungan.
Donasi Panjenengan adalah alasan blog Padepokan Witasem dapat terus berkarya, terus mengwedar, dan terus menjaga tradisi kisah silat agar tidak hilang ditelan zaman. Tanpa dukungan pembaca setia seperti Panjenengan, perjalanan kami tentu akan jauh lebih berat.
Matur nuwun telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan cerita silat.
Rahayu
Gesekan Halus di Ruang Nyata dan Pikiran
Di lorong-lorong panjang yang menghubungkan bangsal prajurit, suara langkah kaki masih sesekali terdengar, diselingi percakapan pendek yang cepat hilang ditelan dinding batu.
Keraton pun tidak pernah benar-benar sunyi meski waktu sudah masuk dini hari.
Pada salah satu sudut yang menjadi batas dapur dan bangsal pelayan, Ki Panji Suralaga menghentikan langkah. Dia merasa perlu beristirahat barang sejenak setelah menyelesaikan tugas perondaan. Di dekatnya ada Ki Wira Sentanu yang duduk di atas bangku pendek sambil memegang tatakan.
“Jadi, dia tetap di dalam Kepatihan,” kata Ki Suralaga pelan.
Ki Wira Sentanu mengangguk. “Sejak Ki Patih jatuh sakit, Ki Tumenggung Agung Sedayu tidak pernah terlihat meninggalkan Kepatihan selain urusan pekerjaan. Dia juga jarang terlihat berjalan lenggang di taman-taman Kepatihan. Cukup mengherankan tapi sepertinya orang-orang Kepatihan sendiri sudah terbiasa dengan keadaan itu.”
“Bagaimana maksud Kyai?”
Ki Wira Sentanu menghembuskan napas pendek. “Orang itu sering terlihat duduk atau berada di dalam ruang tengah. Bila merasa perlu keluar dari Kepatihan, dia pasti berjalan kaki lalu kembali ke tempat yang sama. Kawanku yang bekerja di Kepatihan mengatakan itu padaku.”
“Yah, mungkin karena dia sendiri sudah dianggap sebagai bagian dari Kepatihan sendiri. Saya dengar Ki Tumenggung sudah akrab dengan Kepatihan sejak Ki Patih diangkat oleh Panembahan Senapati. Maka tak heran dia dapat berlama-lama di ruang tengah atau ruangan lain di sana.”

Keadaan menjadi hening sesaat ketika seorang prajurit melintas lalu menyapa mereka. Meski merasa aneh karena melihat seorang panji bercakap dengan pelayan dalam di waktu sunyi dan hanya berdua, prajurit itu tetap melangkah biasa.
Setelah prajurit itu sudah tampak jauh, Ki Wira Sentanu berkata, “Tapi, bagaimanapun, keputusan Sinuhun tepat. Orang seperti Sedayu memang seharusnya berada di dekat Ki Patih. Apalagi Ki Patih sedang dalam yang kurang baik, jadi, yah, tidak semua orang dapat memahami persoalan kesehatan sedalam Sedayu.”
Ki Panji Suralaga tersenyum dan bernapas lega, katanya, “Dan itu berarti dia terikat. Tidak bisa bergerak sebebas sebelumnya.”
Dalam pikiran mereka, keadaan Agung Sedayu adalah simpul yang sangat longgar dan rapuh. Terasa longgar untuk pergerakan mereka di dalam Keraton dan rapuh karena akan mudah dibidik dari samping Sunan Agung atau Pangeran Purbaya. Agung Sedayu, yang selama ini bergerak bebas dan bekerja tenang di antara kotaraja dan Tanah Perdikan, kini seolah dipakukan pada satu tempat, Kepatihan dengan alasan yang sangat kuat: kesehatan Ki Patih semakin memburuk.
“Jika dia tetap di sana,” lanjut Ki Suralaga, “maka barak pasukan khusus dapat berjalan tanpa kendalinya. Maka saya kira orang yang berpangkat rangga itu dapat menjalankan rencana, meraih cita-cita.”
“Dan Tanah Perdikan…” Ki Wira Sentanu menambahkan, “akan mudah ditaklukkan ketika Ki Gede tinggal seorang diri.”
Ki Suralaga menggeleng, ucapnya sedikit bernada bantahan, “Ada Pandan Wangi dan keponakan Ki Gede.”
“Mereka hanya anak muda saja dengan pengaruh yang pasti tidak sekuat Ki Gede sendiri,” kata Ki Wira Sentanu tapi nada suaranya sedikit mengandung keraguan. Sesuatu tampaknya masih samar dalam pikirannya.
Lalu dia berkata lagi seakan ingin membuang keraguan itu, “Setidaknya Sunan Agung telah mengangkatnya pada kedudukan yang tinggi tapi dibebani juga dengan tanggung jawab yang justru dapat membatasi ruang geraknya. Itu langkah halus dari Sinuhun.”
“Jika Ki Wedoro Anom tetap pada rencananya,” kata Ki Panji Suralaga sambil menatap ke arah lorong yang sepi. “kita hanya perlu bersabar sambil menunggu akibatnya.”
Mereka berpisah kemudian dengan kesepakatan yang tidak terucapkan.
Hari berganti.
Matahari kadang tampak enggan bersinar ketika dua orang prajurit lewat sambil berbicara pelan di samping pendapa kecil yang terletak di halaman barat Keraton. Mereka tidak memperhatikan keberadaan Ki Suralaga dan Ki Wira Sentanu yang berada antara bayangan bangunan.
“…katanya dari Tanah Perdikan langsung dikirim lewat orang kepercayaannya.”
“Ah, kau salah. Bukan orang biasa. Itu lewat jalur yang sudah diatur Ki Tumenggung sendiri.”
“Jadi meski di Kepatihan…?”
“Ya, sudah tentu beliau masih bisa mengatur banyak urusannya. Bahkan, aku dengar dari seorang kawan yang bertugas saat meronda sampai Kali Progo. Dia mengatakan bahwa pembangunan di barak itu atas perintah Ki Tumenggung berdasarkan gambar yang tertera di lembaran kain yang dipegag Ki Rangga Sanggabaya.”
“Bagaimana dia tahu?”
“Hey, perondaan dari kotaraja itu sampai sisi timur Kali Progo, sedangkan pasukan khusus bertugas di barat Kali Progo. Yah, tentu saja mereka dapat bertukar kabar, menikmati wedang di bagian dangkal atau menyeberang sebentar saja.”
“Oh, ya ya, benar. Aku ingat sekarang,” sahut prajurit yang berusia pertengahan tiga puluh tahun lalu tertawa kecil.
Langkah kaki mereka pun terdengar menjauh, tapi perbincangan mereka tertinggal di dalam pikiran Ki Wira Sentanu dan Ki Suralaga.
Ki Wira Sentanu menarik napas panjang dengan wajah geram.
Ki Suralaga tidak segera bergerak. Tatapannya lurus ke depan, tapi sorot matanya membayangkan kegusaran.
