Ki Wedoro Anom lantas berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain. Dari hari ke hari berikutnya dengan cerita yang sama dan tetap mengalir ringan dengan sedikit perubahan rasa. Meski begitu, perhatiannya beralih penuh pada sikap orang-orang yang mendengarnya.
Di dekat gardu kecil di tepi jalan, dia berhenti lagi ketika tampak olehnya Ki Patra duduk di dalam gardu sambil memandang hamparan sawah yang akan meninggalkan musim panen.
Ki Wedoro Anom menyapa dengan senyum seperti biasa, “Ah, Ki Patra rupanya. Bagaimana keadaan keluarga dan ladang?”
Ki Patra mengangguk hormat. “Ki Rangga, seluruhnya di bawah pengayoman yang sangat baik oleh Yang Maha Kuasa.”
“Saya selalu berharap seperti itulah keadaan Ki Patra sekeluarga selamanya,“ kata Ki Wedoro Anom lalu duduk di samping Ki Patra. “Berada di gardu ini, sekarang, membuat saya teringat upacara penghormatan terakhir Ki Patih… berlangsung dengan sangat khidmat. Tidak semua orang dapat melihatnya dari dekat.”
Ki Patra menatapnya sejenak, lalu berkata pelan, “Itu adalah peristiwa besar bagi Matara, Ki Rangga.”
Ki Wedoro Anom menunggu tapi tidak ada lanjutan. Dia bertanya-tanya dalam hati lalu merasakan kejanggalan: tidak seperti biasanya Ki Patra bersikap sedikit dingin padanya.
Tidak ada dorongan untuk mendengar lebih jauh.
Dia mencoba lagi, “Sinuhun sendiri hadir. Banyak hal dapat dipelajari dari bagaimana segala sesuatu diatur di sana. Dan menjadi pertanda baik bagi saya adalah dapat berada di dekat beliau. Kami hanya berjarak kurang dari lima belas langkah saja.”
Ki Patra mengangguk lagi. “Di sini pun kami mendapatkan keberuntungan saat Ki Gede berkenan datang menengok keluarga yang menjadi korban kerusuhan beberapa waktu lalu.
Setelah diam sejenak, dia meneruskan, “Beliau berkeliling, melihat sendiri keadaan rumah dan ladang. Banyak yang diperhatikan… bahkan hal-hal yang tidak kami sangka.”
Ki Wedoro Anom tidak tampak terusik dan senyumnya tetap terpasang. Setelah mengangguk beberapa kali, dia menyahut, “Ki Gede memang pemimpin sejati. Antara Sinuhun dan Ki Gede sudah jelas tidak dapat dibandingkan karena beliau berdua mempunyai banyak perbedaan yang akhirnya membentuk sikap seperti yang kita terima dari beliau berdua saat ini.”
Sunyi datang sejenak untuk sekadar menyapa.
Dan percakapan itu berakhir begitu saja seperti ada sesuatu yang telah berubah.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, Ki Wedoro Anom tahu bahwa suasana Dusun Benda memang benar berubah. Meski hanya dari percakapannya dengan Ki Patra, itu sudah cukup meraba kedalaman isi pikiran bekel dusun, jagabaya dan bebahu lainnya.
Dusun ini tidak lagi berada dalam genggamannya seperti sebelumnya. Jika dibiarkan, pengaruh itu akan hilang sepenuhnya dan itu hampir pasti kembali ke Ki Gede, pikir Ki Wedoro Anom saat membuat penilaian mengenai keadaan Dusun Benda.
Oleh sebab itu, satu gerakan lagi memang dibutuhkan dalam waktu yang sangat dekat.
“Jika Dusun Benda tidak lagi mendengarkan suaraku, barak harus dapat digerakkan.” Tekadnya tertancap kuat dalam hati.
Ki Wedoro Anom Merayap Cepat
Menjelang senja, dia sudah berada di dalam bilik kerja Ki Rangga Sanggabaya.
Pertemuan itu berlangsung tenang. Ki Wedoro Anom membuka pembicaraan dengan ucapan selamat, menyentuh hal-hal ringan yang pantas diucapkan kepada seorang pemimpin barak yang mendapatkan kenaikan pangkat.
Tidak lama kemudian, pembicaraan mengalir pada persoalan-persoalan yang menyangkut keamanan dan ketertiban. Ki Wedoro Anom menanyakan pula keadaan para tahanan perang.
“Keadaan itu mendapat perhatian pula secara khusus dari Sinuhun dan Pangeran Purbaya,” katanya. “Mungkin ada baiknya kita tidak melangkahi keputusan yang sudah dijalankan. Saya kira Ki Tumenggung Agung Sedayu tidak membuat kekeliruan dalam mengambil sikap pada waktu itu.”
Ki Wedoro Anom menarik napas pendek kemudian menghembuskan teratur.
“Keadaan sudah berubah untuk saat ini dan mungkin juga untuk waktu yang akan datang,” lanjutnya kemudian dengan nada tetap tenang, “kita paham bahwa setiap keputusan selalu terikat pada keadaan. Kita juga sadar tidak ada wewenang untuk mengubah keputusan yang sudah berjalan tanpa pembicaraan dengan Ki Tumenggung.”
Pandangan Ki Wedoro Anom terangkat dan lurus memandang wajah Ki Rangga Sanggabaya.
“Ya, itu benar,” ucap Ki Sanggabaya. “Yang Ki Rangga sebutkan tadi, saya harus mengakui, itu memang ada benarnya.”
Ki Wedoro Anom menggeleng, katanya, “Tidak, sebenarnya tidak ada yang benar atau yang salah. Saya hanya ungkapkan yang selama ini menjadi pikiran. Tentu saja, kita harus menjaga Ki Tumenggung dengan rencana serta pekerjaan yang sesuai dengan arahan beliau. Di samping itu, kit ajuga wajib menjaga melindungi barak dari sentuhan orang asing.”
Nama Ki Garu Wesi dan Ki Sor Dondong memang tidak disebut langsung oleh Ki Wedoro Anom, tapi Ki Sanggabaya paham arah yang dimaksud. Meski demikian, Ki Sanggabaya tidak segera menjawab. Dia merenung sejenak dengan pandagan tunduk—menimbang segala pendapat yang hilir mudik dalam pikirannya.
Dalam waktu itu, suasana menggantung sedikit tegang.
“Teguran pertama memang telah disampaikan,” katanya setelah menghela napas pendek teratur. “Dan jika kegiatan itu masih berlangsung…”
Dia menghentikan ucapannya lalu lalu menoleh sedikit ke arah Ki Wedoro Anom.
“Bagaimana sebaiknya, Ki Rangga? Tentunya Anda sudah membuat semacam gambaran.”
Ki Wedoro Anom tidak langsung menjawab. Dia menekan pelipisnnya dengan sikap tenang tapi tidak mengingkari bahwa pikirannya sedang bekerja keras.
“Saya hanya menyampaikan keadaan,” katanya setelah cukup lama diam. “Ki Rangga tentu lebih memahami wilayah ini, serta orang-orang yang berada di dalamnya. Selain dua hal itu, Ki Rangga adalah pucuk pimpinan di barak ini.”
“Tapi Anda mempunyai pengalaman dan ketajaman nalar jauh di atas saya,” ucap Ki Sanggabaya merendah.
Ki Wedoro Anom menggeser duduk. Wajahnya tetap tenang dan sama sekali tidak tampak sedang berusaha mempengaruhi Ki Sanggabaya.
“Dalam keadaan seperti ini,” lanjutnya kemudian, “kita harus berhati-hati menempatkan sudut pandang agar tidak salah membuat pertimbangan. Pengamatan yang lebih dekat jauh lebih dibutuhkan untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu di luar jangkauan. Tapi sepenuhnya, keputusan tetap berada di tangan Ki Rangga.”
Ki Rangga Sanggabaya mengangguk perlahan. Wajahnya tidak menunjukkan dirinya berada di bawah tekanan keadaan di luar barak. Dia sadar bahwa keputusan memang harus ada.
“Baik,” katanya akhirnya, lebih mantap. “Sesuai paugeran keprajuritan, kita lakukan perondaan lanjutan. Saya segera bentuk satuan yang kiranya diperlukan untuk tahapan ini.”
Ki Wedoro Anom mengangguk. “Kita lakukan sesuai kebiasaan Mataram.”
Keesokan harinya, Ki Wedoro Anom mendatangi Ki Demang Brumbung.
Berbeda dengan pertemuannya bersama Ki Rangga Sanggabaya, pembicaraan kali ini lebih singkat dan lebih langsung. Ki Wedoro Anom tidak banyak basa-basi. Dia menyampaikan hal yang serupa bahwa lereng Kendil masih memerlukan pengawasan lebih ketat.
“Jika orang-orang itu dibiarkan terlalu lama,” katanya, “hal seperti itu sering menjalar ke tempat lain. Apalagi jika orang-orang merasa tidak ada yang mengawasi.”
Ki Demang Brumbung mengangguk pelan. Dia memahami maksud itu tanpa perlu dijelaskan lebih jauh.
Waktu tetap berjalan tanpa menoleh ke belakang.
Ki Wedoro Anom menyinggung sedikit bila ada baiknya perwakilan barak juga menyampaikan keadaan lereng Kendil pada Ki Gede Menoreh.
“Kita sudah melakukan itu beberapa waktu lalu,” kta Ki Demang Brumbung tanpa menambah lebih jelas waktu pertemuan da nisi pembicaraan dengan Ki Gede Menoreh. Sesingkat itu.
Suasana di barak mulai berubah ketika Ki Wedoro Anom bersikap seperti yang dilakukannya di Kotaraja—bicara dalam kelompok kecil di halaman, di sela latihan, atau ketika beberapa lurah muda berkumpul menjelang senja.
“Lereng Kendil,” katanya suatu kali saat mengingatkan para lurah muda dan di depan orang-orang yang baru bergabung dengan pasukan khusus, “bukan tempat yang mudah diawasi jika sudah terlanjur ramai.”
Di kesempatan lain, dia berkata pula, “Kita pernah melihat bagaimana sesuatu yang kecil dapat tumbuh, menyatu lalu membawa bahaya ketika orang merasa tidak perlu lagi memperhatikan.”
Tidak ada yang menyebut nama Raden Atmandaru atau pertempuran sebelumnya. Namun setiap lurah muda dan para prajurit sudah mengetahui nama dan peristiwa yang mengirinya. Beberapa orang mempunyai pikiran bercabang. Hanya saja, mereka tidak membicarakan itu terang-terangan. Yang pasti, setiap ucapan Ki Wedoro Anom menjadi bahan berbisik hingga diketahui pula oleh Glagah Putih.
Ketika matahari baru terangkat dari balik pepohonan, satu kelompok kecil mulai bersiap di barak. Mereka adalah regu peronda yang dikirim barak pasukan khusus menuju Gunung Kendil. Pergerakan mereka seiring waktunya dengan kesibukan petani di sawah dan pasar pedukuhan yang lebih ramai dari hari sebelumnya.
Berbeda dengan yang pertama, peronda dari barak pasukan khusus itu tidak menyertakan pengawal Tanah Perdikan dengan pertimbangan khusus.
Yang menjadi pemimpin regu adalah Ki Demang Brumbung. Sebagai lurah pendamping adalah Glagah Putih. Yang menarik, Ki Garu Wesi ternyata dilibatkan pula oleh Ki Sanggabaya.
Keputusan Ki Rangga Sanggabaya sempat menimbulkan pertanyaan kecil di antara para prajurit, meski tidak ada yang berani mengucapkannya secara terbuka.
Ki Garu Wesi berjalan di tengah barisan. Dia berdampingan dengan Glagah Putih. Langkahnya terayun tanpa keraguan. Sorot wajahnya masih menyimpan pertanyaan tapi raut wajahnya begitu tenang. Pada saat itu, dia tidak tampak seperti seorang tawanan perang.
“Jangan terlalu jauh dari saya, Kyai,” kata Glagah Putih pelan.
Ki Garu Wesi mengangguk lalu tersenyum. “Anda telah mengalahkan Ki Sor Dondong dengan cara dari ilmu yang luar biasa, perhitungan yang cermat. Dengan pengalaman dan kemampuan seperti itu, saya bisa apa?”
Glagah Putih kembali memandang kakinya yang melangkah.
Di depan mereka, Ki Demang Brumbung melihat ke belakang seakan sedang mencari seseorang—Ki Wedoro Anom berdiri di kejauhan, memperhatikan dengan sikap tenang.
“Dia tidak masuk dalam barisan,” ucap lirih Ki Demang Brumbung tapi terdengar oleh Glagah Putih.
“Apakah Ki Rangga Sanggabaya tidak memberi perintah padanya?” tanya Glagah Putih.
“Beliau tentu ada pertimbangan dengan tidak membawa nama itu untuk perondaan kali ini,” sahut Ki Demang Brumbung.
Kemudian terdengar desah perlahan dari Ki Demang Brumbung, “Yah, bisa jadi karena pengalaman di masa lalu. Jika perintah Ki Tumenggung saat masih menjadi rangga saja dapat diabaikannya, apalagi sekarang? Yang telah berlalu dengan pengabaian adalah rangga memerintah rangga. Dan sekarang terjadi pengulangan.”
Beberapa langkah kemudian, Ki Demang Brumbung pada Ki Garu Wesi, “Saya harap Kyai tidak keberatan dengan keadaan ini.”
“Keadaan?” tanya Ki Garu Wesi ringan.
“Meronda bersama kami,” jawab Ki Demang Brumbung.
Ki Garu Wesi tertawa pendek. “Lebih baik daripada duduk menunggu waktu di dalam bangsal. Ki Rangga Sanggabaya mengatakan seperti itu sebelum saya mati dalam kebosanan.”
Jawaban itu membuat Glagah Putih tersenyum, lalu memandang lurus ke depan.
“Saya mengusulkan ini pada beliau dengan segala keraguan dalam hati,” ucap Ki Demang Brumbung mengangguk kecil.
“Kemudian beliau setuju dengan pertanyaan atau jaminan?” Ki Garu Wesi menoleh sedikit.
Ki Demang Brumbung tidak cepat menjawab. Pandangannya beralih ke arah lereng Kendil yang mulai tampak di kejauhan. Tak lama kemudian, dia berkata, “Ki Tumenggung sepertinya sudah percaya pada Kyai, jadi kami mengikuti.”
Ki Garu Wesi manggut-manggut. “Kepercayaan yang diikuti dengan keyakinan yang sangat mahal. Bagaimana jika saya kemudian memilih bertempur meski dikeroyok banyak orang?“
“Pastinya kami akan tetap berusaha mengembalikan Kyai ke barak dalam segala keadaan,” timpal Glagah Putih.
Ki Garu Wesi tertawa kecil. “Tentu saja, tentu saja. Saya dapat melihat segala yang terjadi di barak dan dapat merasakan yang tidak terucap di sana.”
Lantang suara burung gagak tiba-tiba menggema di atas mereka.
Ki Garu Wesi berkata setelah beberapa saat, “Bagaimanapun, keputusan Ki Rangga Sanggabaya ini sangat berani. Sepertinya beliau sangat yakin dengan restu Ki Tumenggung.”
Ki Demang Brumbung menjawab tanpa ragu, “Begitulah keadaan kami.”
Percakapan berakhir ketika mereka sudah agak jauh dari persawahan dan memasuki lorong yang membelah hutan kecil.
Perjalanan berlanjut.
Di belakang mereka, beberapa prajurit bertukar pandang singkat. Tidak ada yang berbicara, tetapi kehadiran Ki Garu Wesi di dalam barisan itu seperti menyisipkan satu warna yang berbeda—perondaan ke lereng Kendil tidak sepenuhnya sama dengan hari-hari sebelumnya.
