Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 93 – Benturan pada Perondaan Kedua

Matahari sudah menggatalkan kulit kepala ketika kelompok peronda berada lebih dekat dengan permukiman yang ditempati Ki Astaman dan kawan-kawannya.

Mereka tidak lagi berhenti di batas tapi masuk, melewati regol halaman kemudian berbaris gagah di sana.

Di lereng Gunung Kendil, suasana di permukiman itu belum berubah. Orang-orang tetap berlatih dan bersenda gurau bagi yang mendapatkan kelonggaran waktu.

Tatap mata mereka tiba-tiba berubah ketika sekelompok orang mendadak menutup pintu gerbang dengan barisan yang kokoh.

Beberapa orang menghentikan gerakan.

Ki Demang Brumbung melangkah ke depan lalu berhenti sekitar lima langkah dari tempat latihan. Sikap tubuhnya sama sekali  Tidak pula memberi kesempatan bagi pihak luar untuk bertanya. lain untuk membuka percakapan.

“Kalian berada di wilayah Tanah Perdikan Menoreh,” dia berkata lantang tanpa basa –basi.

Beberapa orang dari perkemahan saling berpandangan. Dua orang melangkah maju, tetapi belum sempat membuka mulut—

“Kalian datang tanpa izin. Membuka lahan tanpa sepengetahuan Ki Gede Menoreh,” lanjut Ki Demang Brumbung tanpa memberi ruang. “Kalian harus meninggalkan tempat ini.”

Kata-kata itu terdengar seperti geledek menyambar pada siang hari.

Sejenak suasana membeku dan tegang.

Orang-orang dari perkemahan itu jelas tidak menduga sikap seperti itu. Dari bahasa tubuh sebagian orang malah seperti menganggap remeh peringatan Ki Demang Brumbung.

“Apakah itu perintah?” seru seseorang dari balik dinding bambu.

Glagah Putih dan Ki Garu Wesi mengerutkan kening. Suara itu jelas disertai tenaga cadangan.

Ki Demang Brumbung memandangnya lurus. “Itu bukan perintah, tapi pengusiran.”

Tidak ada tambahan kata.

Di belakang Ki Demang Brumbung, Glagah Putih sudah bersiap dengan segala kemungkinan termasuk jika Ki Garu Wesi tiba-tiba menikam dari belakang.

Sementara itu, Ki Garu Wesi tetap mematung sambil berhitung setiap kemungkinan yang dapat meledak sewaktu-waktu.

Orang yang masih belum menampakkan diri kemudian berkata keras, “Kami tidak berniat membuat masalah.”

“Kalian sudah membuatnya,” sahut Ki Demang Brumbung cepat.

Beberapa orang di belakang tampak bergerak. Suasana menjadi semakin tegang.

Seseorang muncul dari arah suara itu dilantangkan. Usianya mungkin sedikit di bawah Agung Sedayu atau Ki Demang Brumbung—tiga puluh atau mendekati empat puluh tahun. Wajahnya tampak tenang, dengan sikap yang menyimpan wibawa yang tidak dibuat-buat. Penampilannya pun berbeda dari kebanyakan orang di sekitarnya.

Orang-orang lereng Kendil pun tersibak seakan memberinya ruang dan waktu untuk menunjukkan diri.

Tak lama kemudian, dari samping tempat lelaki itu muncul, sekelompok orang bergerak mendekat ke halaman depan. Langkah mereka teratur, sikap mereka siaga, tetapi tidak menunjukkan ingin membuat atau mencari permusuhan terbuka.

Lelaki itu berhenti beberapa langkah di depan kelompoknya. Pandangannya menyapu halaman. Bergantian menatap Ki Demang Brumbung, Glagah Putih, sebelum akhirnya berhenti pada Ki Garu Wesi.

Kemudian dia berseru, “Sejak kapan tanah ini tidak boleh dipijak oleh orang yang tidak berbuat apa-apa?”

Ki Demang Brumbung bergeser setapak maju. Tatap matanya cukup tajam mengarah langsung pada lelaki yang berdiri tegak di depannya—mereka terpisah sekitar delapan atau sepuluh langkah.

“Kami tidak datang untuk bertanya,” katanya datar. “Kami datang untuk memberi batas. Hari ini adalah batas akhir untuk kalian. Seepatnya kalian keluar dari Tanah Perdikan.”

Orang yang ditanya tidak segera menjawab tapi malah mengangkat sedikit wajahnya. Dadanya sedikit terangkat sebelum melangkah lebih maju. “Batas?” ulangnya pelan kemudian dia tersenyum. “Sejak kapan batas itu ditegakkan setelah orang-orang datang dan tinggal berhari-hari tanpa gangguan?”

 “Sejak kami memutuskan untuk menegakkannya,” sahut Ki Demang Brumbung tegas. “Lihatlah diri, Ki Sanak. Bahkan engkau pun tidak mengenalkan diri, dari mana dan bertujuan apa. Itu sudah cukup bagi kami untuk memaksa kalian pergi.”

“Ah,” sahut lelaki itu pendek. “Jadi ini bukan soal salah atau benar.”

Beberapa orang di belakangnya tampak saling berpandangan.

Pendatang yang tampaknya tidak datang sendirian itu lalu menambahkan, suaranya tetap tenang, namun kini lebih jelas arahnya.

“Hanya karena kami tidak mengenalkan diri, kalian usir kami? Kalian datang dengan pakaian resmi dan panji keprajuritan Mataram, sedangkan kami tidak merampas, tidak juga mengganggu. Bahkan tidak pula mengambil sesuatu yang bukan milik kami.”

Dia berhenti sejenak, lalu menatap lurus pada Ki Demang Brumbung. “Kalau begitu, apa yang kami langgar?”

“Tanah ini punya pemilik, punya paugeran, punya hak dan kewajiban yang sudah berlangsung di atasnya,” jawab senapati Mataram yang diperbantukan khusus di Tanah Perdikan itu. “Dan kalian tidak berada di dalamnya.”

Lelaki itu mengangguk perlahan. “Baik, jika kami sudah mengenalkan diri, maka itu berarti kami telah mendapatkan izin tinggal secara resmi.”

Kemudian dia menyebut namanya dengan lantang, “Namaku, Ki Kamejing.”

Sejenak kemudian, dia menyapu setiap wajah di belakang Ki Demang Brumbung. “Kalian segeralah pergi dari halaman ini. Ajak serta pemimpin kalian iyang sepertinya sudah ingat dengan paugeran dan segala macam hak serta kewajiban. Enyahlah.”

“Aku ulangi sekali lagi,” desis Ki Demang Brumbung.

Dua lurah muda di belakangnya paham keadaan. Mereka memberi tanda secara rahasia pada pasukan di belakang mereka.

“Aku datang sebagai tamu,” sahut Ki Kamejing. Sejenak dia berhenti, kemudian berkata lagi, “Dan sejauh yang aku pahami adalah seorang tamu tidak datang untuk merendahkan tuan rumahnya.”

Ki Demang Brumbung merendahkan pandang matanya. “Maka jangan bertingkah seolah kalian berhak atas tempat ini.”

“Justru sebaliknya,” sahut Ki Kamejing cepat “Kami tidak mengambil hak siapa pun. Tapi jika seorang tamu melihat tuan rumahnya dipaksa tunduk oleh orang lain, apakah dia harus diam?”

Beberapa prajurit barak mulai menggeser posisi kaki mereka.

Ki Demang Brumbung melangkah lagi, kali ini lebih dekat.

“Kami bukan orang lain,” katanya keras. “Kami adalah orang-orang Tanah Perdikan.”

Ki Kamejing menatapnya lurus. “Orang-orang Tanah Perdikan wajib tunduk pada Ki Gede Menoreh. Nah, apakah kalian sudah seperti itu? Mengapa menggunakan pakaian dan membawa lambang keprajuritan Mataram?”

Ketegangan mencengkeram halaman.

Tanpa ada perintah, baik orang-orang perguruan maupun pasukan khusus, sama-sama bersiap untuk benturan yang mungkin akan terjadi sangat keras.

“Aku tidak akan membiarkan kalian menguasai halaman atau mengusir tuan rumah kami,” tegas Ki Kamejing.

Namun di antara orang-orang yang berdiri di halaman itu, beberapa wajah yang biasanya menjadi penentu arah tidak tampak hadir.

Swandaru tidak terlihat di antara mereka. Dia, bersama Hariman, sejak beberapa waktu terakhir lebih banyak berada di bagian lereng yang agak terpencil, menjalani latihan yang tidak lagi melibatkan banyak orang.

Swandaru hanya datang di permukiman saat menjelang senja Memberi sedikit sentuhan pada orang-orang yang datang untuk berguru.

Latihan kanuragan dengan dasar yang sama dengan Perguruan Orang Bercambuk di Jati Anom itu diambil alih sepenuhnya oleh Ki Hariman. Ki Astaman dan Ki Garjita. Pengajaran yang utama menjadi beban Ki Hariman karena dia terikat dengan keberadaan kitab Kyai Gringsing. Oh ya, Ki Hariman memilih menjalani peran sebagai guru dengan pertimbangan daripada dikeroyok oleh Ki Astaman dan Ki Garjita yang hampir pasti akan mudah membakar pula Swandaru.

Sementara itu, Ki Astaman dan Ki Garjita pun tidak berada di tempat. Mereka sedang menemui sekelompok orang lain yang beberapa waktu sebelumnya datang memperkenalkan diri dan menyatakan keinginan untuk bergabung.

Kelompok itulah yang kini sebagian anggotanya tampak berada di halaman, berdiri tidak jauh di belakang lelaki yang menyebut dirinya Ki Kamejing.

Beberapa waktu sebelumnya, atas persetujuan Astaman dan Garjita, orang-orang itu diperkenankan singgah untuk melihat-lihat keadaan perguruan. Tidak ada penolakan, tidak pula penerimaan sepenuhnya—hanya ruang yang dibuka dengan sikap berjaga.

Pada saat yang hampir bersamaan, Ki Astaman dan Ki Garjita meninggalkan lereng Kendil. Keduanya melawat ke tempat  kelompok itu menunggu kabar, Ringinlarik. Mereka menganggap penting untuk memastikan kelompok itu bukan boneka Mataram.

Dengan demikian, Ki Kamejing berada di lereng Kendil bukan sebagai orang yang sama sekali asing. Dia berdiri di antara dua keadaan—diterima secukupnya, tapi belum terikat oleh peraturan. Hanya saja, dia merasa perlu melakukan sesuatu untuk menanamkan pengaruh dan menjaga harga diri kelompoknya di Ringinlarik.

“Usir.” Perintah Ki Demang Brumbung terdengar unik tapi sepenuhnya itu adalah pengerahan segenap tenaga dan kemampuan prajurit dari barak pasukan khusus. Regu peronda yang dipimpin oleh Ki Demang Brumbung tidak hanya terdiri dari orang-orang lama, tapi ada sejumlah prajurit Mataram yang sedang ditempa agar mempunyai kemampuan khusus.

Tidak ada teriakan susulan. Dua lurah muda di belakang Ki Demang Brumbung bergerak hampir bersamaan. Isyarat yang telah mereka siapkan sebelumnya mengalir cepat ke barisan pasukan khusus di belakang mereka.

Beberapa orang bergeser ke depan. Sebagian bergerak membentuk sayap di samping kiri dan kanan. Serempak.

Orang-orang di belakang Ki Kamejing tidak mundur. Mereka juga tidak seluruhnya adalah orang-orang mantan anak buah Raden Atmandaru tapi juga dari kelompok Ki Kamejing.

Gabungan Kendil dan tamu mereka seolah tidak gugup dengan teguran keras laskar Mataram. Mereka gagah berani merapatkan barisan.

Ki Kamejing sendiri tidak bergerak. Sorot matanya tetap tenang, menunggu Ki Demang Brumbung atau lelaki muda yang berada sedikit jauh di barisan belakang, Glagah Putih.

Yang terjadi kemudian adalah kejutan yang sangat menghentak hampir segenap pasukan khusus yang berjumlah kurang dari tiga puluh orang itu.

Mereka melihat orang-orang lereng Kendil bersenjata sama dengan cantrik-cantrik Perguruan Orang Bercambuk. Bahkan sebagian tata gerak mereka pun nyaris serupa.

Orang-orang lereng Kendil bertempur dengan gelar yang rapi. Tidak ada kekacauan dalam barisan seakan mereka begitu terlatih dan paham cara bertempur secar aberkelompok. Tapi tidak dengan tamu mereka yang sepenuhnya berkelahi sebagaimana wajarnya orang-orang dunia persilatan—bertarung satu lawan satu dan kadang-kadang bertukar lawan.

Glagah Putih, yang berada di dekat regol, memandang sekilas Ki Garu Wesi. Sorot matanya menyiratkan pertanyaan.

Ki Garu Wesi mengangguk. “Saya mengenali sebagian orang, maka tidak perlu heran jika mereka juga menguasai sedikit gelar perang.”

“Oh,” gumam Glagah Putih.

Dalam waktu itu, Ki Demang Brumbung pun tidak segera melabrak Ki Kamejing. Agaknya dia sedang menahan diri dari sesuatu yang menurutnya janggal. Benar, dia berpikiran sama dengan Glagah putih: bagaimana orang-orang Kendil juga paham cara bertarung dalam kelompok? Jika bukan berlatar belakang atau pernah menempa diri dalam latihan-latihan yang serupa dengan prajurit, gelar pertempuran semacam itu jelas tidak mungkin dapat mengalir dan luwes.

“Apa yang Ki Sanak tunggu?” tanya Ki Kamejing dengen nada merendahkan.

“Aku sedang memperkirakan korban yang jatuh dari pihakmu,” sahut Ki Demang Brumbung.

Ki Kamejing memandang sekilas pertempuran yang terjadi di sekitar mereka, lalu katanya, “Baiklah, aku tidak melarangmu bermimpi.”

Tiba-tiba Ki Demang Brumbung memutar kerisnya. Aliran serangannya  sangat deras tapi sepenuhnya itu menggunakan tenaga wadag. Ujung keris Ki Demang Brumbung seakan mempunyai banyak mata sehingga setiap patukan selalu tepat pada bagian tubuh yang membahayakan lawannya.

Ki Kamejing ternyata cukup terkejut dengan serangan senapati pasukan khusus itu. Meski hanya mengerahkan kekuatan wadag tapi setiap desir senjata itu bergerak sangat cepat. Jauh lebih cepat daripada burung sriti yang tiba-tiba berbelok arah. Tapi orang ini dapat menghindar, melompat ke samping-belakang-samping lalu tiba-tiba membuat serangan balasan.

Di tangan Ki Kamejing telah terhunus pedang yang sangat tipis dan lentur. Tata geraknya begitu hebat sehingga dalam waktu yang cukup pendek, dia dapat mengembalikan keseimbangan. Selain itu, karena sangat lentur maka senjata itu menjadii benar-benar berbahaya. Tiba-tiba dapat membelit keris Ki Demang Brumbung lalu mengarah lurus tepat pada pangkal lengan.

Peperangan cepat berkobar meski belum menjalar ke bagian dalam permukiman.

Pasukan khusus tampak sedang tidak berusaha menekan lebih jauh ketika kelompok lawan memilih tempat pertempuran di sela-sela bangunan. Bahkan itu seakan menjadi uji ketangguhan jiwani mereka yang kerap mendapat ejekan sebagai pengecut karena tidak mengejar lawan.

Melihat pasukan khusus yang cukup tenang bertempur dan juga berhenti saat menerima ejekan, Ki Kamejing mengerutkan kening. Dia segera berpikir cepat di sela perkelahiannya menghadapi Ki Demang Brumbung.

“Kurang ajar!” teriaknya dalam hati. Dia pantas untuk cemas karena prajurit Mataram itu dapat saja telah mempunyai rencana lain. Sementara itu dia juga melihat ada dua orang di dekat regol yang sama sekali belum bergerak. Apakah mereka itu pemimpin prajurit yang sedang menyamar atau sedang menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan permukiman?

Ki Kamejing membuat keputusan yang mengejutkan banyak orang, terutama bagi orang-orang Kendil dan kelompoknya sendiri.

“Tahan! Hentikan perkelahian!” dia berseru. Teriakan itu meluncur nyaring, menghantam bunyi benturan senjata dan kata-kata kasar orang-orang yang sedang bertarung.

Perkelahian pun mereda lebih cepat dari perkiraan. Yang  terdengar kemudian hanyalah suara kaki-kaki yang bergeser, lal pandangan mata ragu dari beberapa orang dari lawan pasukan khusus.

Ki Demang Brumbung pun melompat surut tapi dia tidak segera menyimpan kerisnya. Sorot matanya cukup tajam saat bertanya, berkata, “Apa maksudmu?”

Ki Kamejing menarik napas dalam-dalam. Pedangnya yang tipis dan lentur perlahan-lahan masuk ke dalam selongsongnya yang membelit pinggang. “Aku tidak ingin ada darah yang sia-sia.”

Ki Demang Brumbung mendengus pendek. “Kehadiranmu di sini sudah sia-sia. Jadi, sejak kapan kau memikirkan itu?”

“Sejak aku melihat bahwa kami tidak akan mendapat keuntungan bila pertempuran diteruskan,” jawab Ki Kamejing mantap. “Kami akan mundur.”

Glagah Putih yang masih berdiri dekat regol memicingkan mata. Ki Garu Wesi hanya menatap lurus dengan pikiran yang penuh dengan dugaan.

Ki Demang Brumbung bertanya, “Kami? Siapa yang kau maksud dengan kami?”

Ki Kamejing menjawab tanpa ragu, “Aku dan mereka. Kami  akan meninggalkan tempat ini.”

Beberapa orang Kendil saling pandang, tapi Ki Kamejing tidak melihat pada kerumunan. Dia masih memusatkan pandangan pada Ki Demang Brumbung.

“Aku tidak perlu mengatakan apa-apa lagi di depanmu. Kau sudah melihat sendiri semuanya,” sahut Ki Kamejing. “Aku kira kau cukup cerdas untuk memahami keadaan ini, bukan? Kau dapat perintahkan anak buahmu untuk mengawasi pergerakan kami.”

Ki Demang Brumbung menatap tajam wajah lawannya. Dalam ketegangan itu, dia berkata, “Baiklah, aku terima penyerahan ini.”

“Penyerahan?” ulang Ki Kamejing. Sejenak dia berpikir lalu mengangguk. Kemudian dia memutar tubuh, menghadap pada orang-orang Kendil dan kelompoknya. Sebuah isyarat pendek tampak dari gerakan tangan dan perubahan wajahnya.

Demikian pula Ki Demang Brumbung yang tanggap lalu mengeluarkan perintah, “Tarik barisan. Susun penjagaan. Pastikan tidak ada orang yang tertinggal.”

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 42 – Pagi yang Sunyi di Jantung Mataram

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 20 – Agung Sedayu dan Raden Atmandaru: Saling Mengintai di Dalam Kabut

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 26 – Menjelang Laga Pamungkas Gunung Kendil

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.