Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 110 – Undangan Pancuran Watu Item

Kekacauan di jalur selatan berkembang ke arah yang semakin nggrigisi.

Selendang api itu kembali meraung.

Lingkaran panas yang menyertainya semakin rapat, semakin berat. Setiap kibasan tidak lagi sekadar menyambar, tapi seperti menarik udara di sekitarnya untuk ikut terbakar.

Ki Garu Wesi bergeser setengah langkah. Tubuhnya miring. Namun matanya pada bagian tertentu dari Ki Garjita. Setiap kali selendang itu memanjang, selalu ada satu tarikan kecil—hampir tak terlihat—yang mendahului ledakan berikutnya.

Serangan tetap berbalas serangan. Tidak ada yang mencoba menghindar untuk mengulur waktu. Mereka tidak mempunyai alasan kuat melakukan hal itu. Mereka bukan penakut yang menunggu waktu panggilan makan siang. Mereka adalah petarung yang menjunjung tinggi harga diri dan kebanggaan pad ajalur ilmu perguruan.

Mereka tetap berjarak sangat dekat dengan bahaya. Nyawa sepertinya menjadi sesuatu yang tidak perlu dianggap penting. Hidup sudah pasti berbeda setelah pertempuran ini. Kalah berarti mati. Menang pun tidak langsung menjadi kebanggaan.

Ki Garjita semakin meningkatkan tekanan.

Selendangnya tetap memanjang, mengeras, lalu menghantam dengan kekuatan yang semakin mendesak. Selendangnya juga berubah menjadi lentur, mengubah udara seolah menjadi benda padat yang sangat panas. Tanah di sekitar mereka retak lebih dalam, akar-akar pohon terangkat lalu pecah dalam kobaran panas.

Pertarungan meningkat lebih tajam lagi. Tenaga cadangan dilambarkan tanpa sisa. Kecepatan dilipatgandakan hingga semua gerakkan mereka semakin sulit diikuti bahkan oleh Pandan Wangi sendiri..

Mereka bergeser. Lingkar pertarungan mendekati parit purba.

Tanah di sana tidak lagi padat. Retakan lama bercampur dengan hantaman baru membuat pijakan menjadi tidak pasti.

Ki Garu Wesi melompat pendek, mengelak serangan dahsyat Ki Garjita yang benar-benar pilih tanding. Tapi satu kaki Ki Garu Wesi menginjak bagian yang rapuh.

Tanah itu runtuh sedikit.

Keseimbangan Ki Garu Wesi tiba-tiba berada di bawah incaran maut. Tubuhnya goyah.

Ki Garjita tidak menyia-nyiakan peluang yang tidak mungkin terulang lagi itu. Selendangnya membentang penuh. Dua lengannya terbuka, tenaga cadangan dihimpun tanpa sisa, lalu dihentakkan dalam satu serangan lurus yang dapat membenamkan separuh tubuh Ki Garu Wesi dalam keadaan terbakar ke dalam parit.

Api menyambar ke depan.

Ki Garu Wesi justru membiarkan tubuhnya melayang mengikuti arah jatuh, lalu menjejak tebing parit purba. Dia meluncur di bawah lengan Ki Garjita.

Kerisnya terjulur seolah menusuk lurus ke ketiak Ki Garjita.

Tapi Ki Garjita sudah bersiap untuk itu. Selendangnya mengeras. Mengunci jalur masuk.

Pergelangan tangan Ki Garu Wesi berputar sangat cepat bahkan nyaris tak terlihat. Keris berubah kedudukan. Ki Garu Wesi telah memegang ujung lancip, gagang keris dahsyat menghantam sendi ketiak yang sangat lemah.

Ki Garjita terguncang. Selendangnya tersentak. Tenaga cadangannya berhamburan ke segala arah. Selanjutnya, dia terlambat menghindar serangan susulan lawannya.

Ki Garu Wesi sudah terlalu dekat. Keris berputar lagi, ujung lancipnya lurus menembus pangkal lengan musuhnya..

Ki Garjita terhuyung mundur. Memandang Ki Garu Wesi dengan rasa tidak percaya. Ruang sempit itu? Bagaimana Ki Garu Wesi bisa menyusup lebih cepat dari gerakannya?

Matanya masih terbuka seolah mencoba memahami yang baru saja terjadi. Tidak ada lagi yang bisa ditahan. Tubuhnya roboh perlahan.

Di jalur selatan, badai itu akhirnya berhenti.

Pandan Wangi belum beranjak dari tempatnya. Dia memandang Ki Garu Wesi yang berlutut di samping Ki Garjita

 “Luar biasa…” desisnya pelan. Sejenak dia menarik napas. “Sayangnya… celah itu tidak mungkin ditutup dalam waktu yang sangat singkat.”

Pandan Wangi paham bahwa yang dilakukan Ki Garjita bukanlah kesalahan, tapi serangan itu memang tidak dapat dihentikan tiba-tiba.

Seberkas bayangan melintas dalam benaknya.

“Jika aku yang berada dalam kedudukan Ki Garu Wesi, aku mungkin juga tidak dapat melihat celah itu. Seandainya pun Ki Garjita menghindar atau mengurungkan serangannya, justru dia akan kehilangan segalanya,” ucap Pandan Wangi dalam hati.

Pada dua pengawal yang berada di dekatnya, Pandan Wangi kemudian meminta mereka agar meluangkan diri membantu Ki Garu Wesi memberi penghormatan terakhir pada lawannya.

Undangan Pancuran Watu Item

Lelaki itu berjalan tanpa kesan bahwa dirinya sebenarnya sedang memburu waktu. Agung Sedayu melangkah dengan tenang. Dia terlihat seperti orang yang berjalan biasa padahal satu langkahnya itu setara dengan sepuluh atau lima belas langkah biasa. Ini kemampuan yang luar biasa!

Agung Sedayu tidak berlari cepat seperti yang pernah dilakukan saat menjelang penumpasan kelompk pemberontak Raden Atmandaru. Waktu itu, dia seakan-akan mampu melipat ruang dan waktu. Tapi pada pagi hari itu, dengan pertimbangan dapat saja berpapasan dengan orang lain, maka dia pun mengerhkan mungkin kurang dari seperempat kemampuannya meringankan tubuh.

Dan benarlah dugaannya itu, pada tiga yang menjadi kaki dari jalan menanjak, seseorang keluar dari barisan pohon yang tidak beraturan sambil memanggul seekor kijang. Dari ikat kepala yang khas—pemburu itu berasal dari Pedukuhan Pudak Lawang.

“Ah, Ki Rangga!” sapa pemuda itu lalu berhenti dan membetulkan posisi buruannya. Wajahnya yang bermandi peluh nampak cerah. “Jarang sekali melihat Ki Tumenggung berjalan kaki sendirian sepagi ini di kegemaran para pemburu.”

Agung Sedayu tersenyum, lalu menyahut, “Selamat pagi.”

Dia berjalan mendekat lalu katanya lagi, “Bukan saya yang jarang tapi Ki Sanak yang terlalu sering berada di sekitar sini.”

Pemuda itu tertawa kecil. Yah, baginya, Agung Sedayu sama sekali belum berubah—tidak mengambil jarak dengan orang yang berbeda kedudukan. Dan pemuda itu rupanya tidak mengetahui bahwa Agung Sedayu sudah bukan lagi seorang rangga.

Namun Agung Sedayu pun tampaknya tidak peduli dengan itu. Tanpa mereka, dirinya pun tidak mungkin berada di kedudukan sekarang, pikir Agung Sedayu.

Mereka bertukar kata sejenak, lalu Agung Sedayu menyatakan bahwa dirinya masih memerlukan banyak udara segar dari pohon-pohon di lereng perbukitan.

Mereka pun berpisah dengan ramah dan hangat.

Ketika sudah dapat memperkirakan jarak pemburu tadi dengannya, Agung Sedayu kembali melejit dengan cara yang sama. Berjalan dengan ayunan yang sangat lebar. Parit dan sungai dangkal pun dilintasinya tanpa perlu mencelupkan kaki pada aliran air. Dia berlompatan dari batu ke batu, dari dahan ke dahan. Usai melewati sepasang ohon randu alas, di depannya jalur akan berubah menjadi jalan setapak.

Tiba-tiba tampak bayangan bergerak dari balik rimbun tanaman perdu. Seorang lelaki tua berjalan pelan memikul dua keranjang berisi kayu bakar. Lelaki itu adalah warga yang dikenalnya pula, tinggal di sekitar reruntuhan Candi Pringtali.

“Ki Reksa…” sapa Sedayu halus sambil berhenti sejenak.

Lelaki tua itu mendongak, matanya yang mulai lamur mengenali sosok di depannya. “Oh, Angger Sedayu. Sudah lama tidak lewat sini. Apakah sedang menilik perbatasan?”

“Begitulah, Ki. Bagaimana keadaan keluarga di rumah?”

“Oh, pamuji rahayu. Sehat dan baik, Ngger. Mari, silakan Angger berkunjung ke rumah,” ucap Ki Reksa pada Sedayu.

Agung Sedayu menolak halus sambil mengungkap alasan yang masuk akal serta tidak menyinggung perasaan lelaki tua itu.

“Baiklah, baiklah, saya bisa mengerti. Angger tentu makin sibuk saja hari-hari belakangan ini,” ucap Ki Reksa. “Biarlah, kapan-kapan saya saja yang sambang barak. Kita bisa lihat sawah hijau dari serambi timur.”

Agung Sedayu mengangguk ramah, lalu mengucapkan kata-kata yang pantas.

Mereka lantas mengarahkan langkah pada tujuan masing-masing. Agung Sedayu melesat lebih cepat. Jika sebelumnya satu langkah setara dengan sepuluh hingga dua puluh langkah dalam waktu sekejap mata. Usai perjumpaan singkat itu, lima puluh langkah ditempuhnya dalam sekejap mata dengan satu kali ayunan.

Ki Reksa baru saja memutar tubuh, bermaksud melanjutkan langkah kakinya yang berat menuju pekarangan rumahnya. Sebelum tumitnya menapak sempurna, serangkum udara tiba-tiba menghembus agak kencang padanya.

Orang tua itu mengerutkan kening, menoleh kembali ke arah jalan yang seharusnya dilalui Agung Sedayu.

“Angger Sedayu…,” gumamnya lirih sambil menyimpan rasa kagum melalui gelengan kepala.

Dia sudah mendengar kemampuan Agung Sedayu yang luar biasa tapi pagi itu, dia menjadi saksi kesaktian pemimpin pasukan khusus itu.

Sejenak kemudian sambil tetap meredakan rasa hampir tidak percaya, Ki Reksa melihat sekali lagi ke arah Sedayu bergerak. Yang terlihat olehnya hanya daun-daun yang terhempas seakan ada angin yang bergerak kuat pada jalur itu. Setelah menggut-manggut pelan, Ki Reksa memantapkan langkah kaki, pulang ke sekitar pelataran Candi Pringtali.

Ketika Agung Sedayu bercakap singkat dengan pemburu Pudak Lawang dan Ki Reksa, pertarungan Swandaru di sisi luar permukiman Kendil menjadi sangat menegangkan.

Swandaru yang tubuhnya tidak lagi gempal tapi tampak berisi tiba-tiba mengubah tata gerak.

Untuk mengimbangi Ki Hariman yang seolah-olah terbang dengan sudut-sudut tajam ketika mengubah arah serangan, Swandaru berlompatan seperti seekor katak yang sangat lincah.

Dalam satu kesempatan, dia menghentakan kaki dengan dorongan tenaga cadangan, meluncur sangat deras menerjang lawan dengan sapuan cambuk yang membadai luar biasa.

Mereka pun kembali berkelahi dalam jarak dekat.

Masing-masing bertukar pukulan dengan tangan yang tidak memegang senjata, lalu tercerai lagi tapi mengiringinya dengan lecutan sendal pancing yang sama-sama hebat dan kuat.

Ki Hariman belum mengubah cara bertempurnya. Dia masih berloncatan, melayang tinggi menghujani Swandaru dengan sambaran datar, ayunan atas ke bawah dan seterusnya. Saat mendarat, serangannya pun tidak berhenti bahkan melaju makin dahsyat.

Dalam suatu waktu, Swandaru merendahkan sepasang lututnya yang telah merenggang. Sebagian tubuh menghadap ke atas, cambuknya berputar-putar jauh lebih cepat dari gasing hingga terlihat seperti sebuah tempurung pertahanan yang sangat sulit ditembus.

Putarannya kian cepat dan rapat hingga wujud cambuk itu hilang, berganti menjadi perisai udara yang mendengung rendah.

Melihat Swandaru yang tidak lagi bergerak menghindari serangannya atau melontarkan balasan, Ki Hariman makin gencar menerjang. Kekuatannya seakan bertambah-tambah dengan kecepatan yang tiada tara.

Hawa panas yang semula terasa menyengat dan membakar, kini berubah bentuk menjadi yang lebih mengerikan.

Setiap kali ujung cambuk Ki Hariman menyambar, di udara di sekitarnya muncul bola-bola kecil yang berpijar kebiruan.  Apakah orang ini sudah menginjak tatran tertinggi dari ilmunya atau dari kitab Kyai Gringsing?

Bulatan kecil yang sangat banyak itu bukanlah bola api tetapi wujud tenaga cadangan yang sanggup melelehkan daya tahan seorang lawan. Bola-bola kebiruan itu meluncur deras, menghujani tempurung pertahanan Swandaru, terus menerus menciptakan dentuman yang sanggup meluruhkan isi dada orang yang mendekati gelanggang tersebut.

Swandaru yang masih merendah, hampir menempel dengan tanah dalam posisi ancang-ancang seekor katak, mulai melakukan sesuatu yang di luar nalar!

Putaran cambuknya yang sedemikian rapat seakan berubah menjadi penghisap raksasa—menyedot puluhan atau ratusan bulatan kecil itu masuk ke dalam pusaran tempurung pertahanannya.

Perlahan, bukan, tapi dalam waktu singkat terjadi keanehan ketika ujung cambuk Swandaru perlahan mulai berpijar kebiruan yang hampir serupa dengan lontaran Ki Hariman.

Dua kekuatan hebat itu sama-sama melepaskan hawa panas.

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 8 – Hari Kedelapan Kedatangan Agung Sedayu

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 17 – Dia Akan Datang: Ucap Raden Atmandaru

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 32 – Gema Swandaru

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.