Bab 8 - Hari Bising di Bukit Menoreh

Hari Bising di Bukit Menoreh 111 – Swandaru vs Agung Sedayu! Duel Tak Terhindarkan!

Benturan yang berulang-ulang membuat hawa panas itu berhamburan dengan kecepatan yang sulit dimengerti. Rambatan hawa panas itu mampu mencapai  Ki Demang Brumbung dan Sayoga. Bahkan dua orang ini dan pengiring yang berada di sekitarnya pun sampai menutup wajah karena saking panasnya.

Di bawah mereka, pada gelanggang itu, tiba-tiba, Swandaru meledakkan tenaga yang terpusat pada pusaran itu.

Tersalurkan sangat cepat mencapai ujung cambuk, melsat keluar dengan kekuatan yang sangat mengerikan. Udara yang memuai seketika, getarannya sanggup mengahncurkan segala yang di sekitarnya.

Ki Hariman—yang tidak menyangka Swandaru begitu cepat melakukan serangan balik yang sangat cepat— masih melayang di udara ketika getaran hebat menghantamnya dengan cara yang tidak dapat dimengerti. Seketika tubuh Ki Hariman terdorong, melayang tanpa kendali di udara. Tapi Ki Hariman adalah petarung tangguh dengan penguasaan ilmu yang sangat hebat, apalagi sejak mempelajari sebagian isi kitab Kyai Gringsing. Maka dia masih dapat memecah kekuatan Swandaru dengan putaran cambuk yang masih dapat dikatakan hebat.

Namun Swandaru tidak memberinya kelonggaran sdikit pun. Dengan dorongan kaki yang menghantam tanah hingga merekah, Swandaru meluncur deras lebih cepat dari panah, menghantamkan cambuknya berulang-ulang—satu, dua, tiga— lalu Ki Hariman terkulai ketika tubuhnya masih di udara.

Orang yang menerobos rumah Swandaru di Sangkal Putung demi mengambil kitab Kyai Gringsing itu bernasib malang. Tubuhnya terbanting ke bawah dengan kecepatan tinggi. Sabetan Swandaru begitu dahsyat hingga tubuh Ki Hariman terbenam hingga setengah bagian ke dalam liang tanah yang berlubang  akibat hantaman tubuhnya sendiri.

Ketika dia mendarat, Swandaru melompat ke arah tubuh Ki Hariman. Tangannya bergerak cepat seperti sedang mencari sesuatu. Yah, tentu saja Swandaru berusaha mengambil kitab dari gurunya itu. Tapi dia tidak menemukannya. Pandang matanya memancarkan kekecewaan yang mendalam sekaligus seolah ada kepuasan bercampur kebanggaan di sana.

“Kau telah mati,” desis Swandaru memandang jasad Ki Hariman. “Aku tidak mungkin bertanya padamu, di mana kau taruh kitab guruku. Tapi kematian ini adalah hukuman yang pantas untukmu.”

Swandaru mengangkat wajah lalu memandang sekitarnya. Tampak olehnya beberapa orang melihat padanya dari tempat yang lebih tinggi. Dia dapat mengenali salah satu dari mereka: Sayoga. Pada jurusan yang lain, Swandaru melihat kedatangan dua orang yang meluncur dengan sangat cepat.

“Agung Sedayu… Pandan Wangi,” desisnya dalam hati. Agak lama, tiba pula sekelompok pengawal dan pasukan khusus yang kemudian menghentikan langkah pada jarak yang agak jauh.

Sebelum perkelahian itu selesai.

Agung Sedayu tiba di sebuah tanah terbuka di lereng Gunung Kendil. Pandangan pertama adalah Pandan Wangi yang berdiri bersama sekelompok orang, memutari Ki Garu Wesi yang masih berjongkok di samping Ki Garjita.

“Bagaimana keadaan seluruhnya?” tanya Agung Sedayu pada salah seorang prajurit yang agak bingung melihatnya.

Itu bisa dimaklumi karena saat itu adalah untuk pertama kali dia bertemu muka dengan Agung Sedayu. Seseorang maju memberi jawaban, “Seluruhnya sudah terkendali, Ki Tumenggung.”

Prajurit yang tadinya bingung itu kemudian dapat menguasai diri, katanya, “Mohon maaf, Ki Tumenggung. Saya terlambat menjawab.”

Agung Sedayu mengangguk lalu berjalan mendekati Pandan Wangi. “Sisa pertarungan yang sudah dapat memberikan bagaimana perkelahian itu berlangsung.”

Pandan Wangi mengangguk, lalu berkata, “Gunung Kendil rupanya masih cukup kuat menampung orang-orang yang memilih jalan yang berbeda.”

Agung Sedayu akan menggerakkan bibir tapi diurungkannya ketika dua orang pengawal dengan napas memburu datang berlari dari arah yang berlawanan.

“Nyi, pertempuran di belakang permukiman masih berlangsung sangat hebat,” lapor salah seorang pengawal lalu sepintas melihat lelaki yang berdiri di samping Pandan Wangi. Tangannya kemudian terangkat, memberikan arah.

“Kakang,” kata Pandan Wangi cepat lalu memberi tanda agar Agung Sedayu bergegas menuju arah yang ditunjuk oleh pengawal tersebut. Dalam pikirannya, Pandan Wangi menduga perkelahian itu sudah hampir pasti melibatkan Swandaru. Seperti itulah yang muncul di benaknya ketika merangkai ucapan orang-orang yang ditahan.

“Kyai,” ucap Agung Sedayu pada Ki Garu Wesi.

Ki Garu Wesi mengangguk dalam-dalam kemudian bangkit berdiri.

Mereka berdua, Agung Sedayu dan Pandan Wangi, melesat secepat kilat, menembus batas, melompat semak terakhir lalu berhenti tepat di pinggir gelangganng yang tidak kalah kacau dengan jalur selatan.

Di sana, mereka melihat Swandaru berdiri tegak di samping Ki Hariman yang telah tewas dalam perang tanding.

Pertempuran telah selesai, pikir Agung Sedayu.

“Sedayu, kau datang tepat waktu,” suara Swandaru terdengar agak payah saat Agung Sedayu berjalan mendekatinya tapi belum berhenti.

Agung Sedayu menatap sekeliling gelanggang, sekali lagi.

“Kau telah bekerja sangat keras, Swandaru.”

Mendengar pujian itu, Swandaru justru tertawa getir. Terselip nada pedas di antara napasnya yang memburu. 

“Bekerja keras? Ya, memang begitu adanya, Kakang. Selama ini, aku bersusah payah menyisir jejak, mengikuti orang, hidup dalam kepalsuan agar dapat mendekati pencuri kitab. Lalu di sinilah aku berdiri sekarang,” kata Swandaru dengan rasa bangga yang sudah mempunyai bukti.

“Sementara seorang murid yang lain, Agung Sedayu, tampaknya terlalu sibuk dengan urusan barak. Pada akhirnya memang berbuah manis dan pasti menjadi kebanggaan Guru, Ki Tumenggung Agung Sedayu. Adakah yang dapat menandingi kebanggaan dan kehormatan sebagai tumenggung?” Swandaru menggeleng sendiri.

Dia menghela napas, kemudian meneruskan ucapannya. “Untuk apa seorang tumenggung bersusah payah mencari atau bahkan memikirkan warisan Kyai Gringsing?”

Pandan Wangi tersentak mendengar kata-kata Swandaru yang tajam. “Cukup. Kakang Sedayu datang ke sini untuk—”

“Aku tahu alasannya datang, Wangi,” potong Swandaru tanpa mengalihkan pandangan dari Sedayu.

Dia mengangkat cambuknya yang ujungnya dengan gerakan perlahan seperti sedang mempertimbangkan sebuah tantangan.

“Sedayu, aku ingin tahu sejauh mana pangkat tumenggung itu telah mendorong kemampuanmu. Bagaimana jika sekali lagi saja, kita bertanding? Bukan sebagai senapati dan pengawal, bukan pula untuk memperebutkan kitab. Kita bertanding dengan ilmu yang benar-benar berasal dari Guru. Dulu, aku kalah darimu karena penguasaanmu pada ilmu yang bukan dari jalur Perguruan Orang Bercambuk. Tapi, saat ini, aku ingin tahu, kita bertanding dengan satu-satunya jalur yang sama kita kenal dari Kyai Gringsing.”

Suasana di lereng Gunung Kendil itu mendadak menjadi lebih panas daripada saat pertarungan tadi berlangsung hebat.

Ki Garu Wesi yang dapat mendengarnya dari jarak yang cukup tampak mengerutkan kening. Ki Demang Brumbung dan Sayoga pun tiba-tiba menahan napas lagi tanpa sadar.

Namun mereka hanya dapat diam mematung. Merasakan tekanan yang jauh lebih menyesakkan daripada pertempuran maut para pendekar sakti.

“Pancuran Watu Item,” ucap Pandan Wangi. Suaranya datar dan dingin. “Aku mewakili Kakang Sedayu untuk memberi jawaban padamu. Dua pekan agar pertandingan berlangsung dengan adil karena kalian sama-sama membutuhkan waktu untuk memulihkan diri.”

“Penetapan yang sangat bagus,” sahut Swandaru dengan sikap seolah-olah sudah tidak mengenali Pandan Wangi, seperti orang lain yang tidak pernah berhubungan padahal mereka, sebelumnya, adalah satu keluarga. “Pilihan yang tepat dan aku yakin Sedayu pasti setuju dengan ucapanmu itu.

Di belakang mereka, beberapa pengawal yang tahu perjalanan tiga orang itu saling pandang dengan perasaan jengah. Ada rasa sesak yang merayapi dada mereka melihat seorang pemimpin seperti Swandaru justru memicu pertikaian keluarga di saat darah musuh belum mengering.

Namun mereka diam bukan karena hormat, tapi muak yang tertahan melihat tabiat Swandaru yang tidak berubah.

Agung Sedayu menghela napas panjang. Dia menatap Pandan Wangi, sadar mengenai kepedihan yang mendalam di mata perempuan itu yang terkesan sedang mengucapkan selamat tinggal pada pernikahannya sendiri.

Lalu mata Sedayu beralih ke Ki Garu Wesi dan berturut-turut Ki Demang Brumbung serta yang lain. Mereka sudah melihat dan mendengar, apalagi yang dapat disembunyikan?

Agung Sedayu kemudian menatap Swandaru. “Jika itu yang kau inginkan untuk menenangkan hatimu, Swandaru… aku akan datang ke Pancuran Watu Item.”

Swandaru menggeram tapi bukan karena perkataan Pandan Wangi. Dia makin geram karena sikap Agung Sedayu yang justru, menurutnya, menganggap sepi semua yang tampak. Kerusakan gelanggang, Ki Hariman yang melintang, udara yang mengedarkan bau hangus dan sebagainya. Semua itu, punya arti apa di mata Sedayu?

“Baik,” sahut Swandaru sedikit dengan bentakan. “Pancuran Watu Item. Hari ini, sejarah akan ditulis ulang dengan darah dan ilmu yang selama ini kau abaikan demi jabatanmu.”

Tanpa mempedulikan tubuh Ki Hariman yang masih terbenam di tanah, Swandaru memutar tubuhnya dan melangkah kasar menuju bagian lain Gunung Kendil, meninggalkan keheningan yang menyakitkan di antara Agung Sedayu dan Pandan Wangi.

Tidak ada yang bersuara setelah Swandaru melangkah pergi dengan sisa-sisa hawa panas yang masih mengepul dari tubuhnya.

Agung Sedayu tetap berdiri diam, matanya menatap punggung adik seperguruannya yang kian menjauh. Pandan Wangi di sampingnya masih menatap lurus ke depan dengan tangan bergetar hebat. Sedayu paham bahwa Pandan Wangi sudah mencapai batas kesabaran yang sulit diucapkan dengan kata-kata.

“Kakang,” panggil Pandan Wangi dengan suara agak lemah tapi masih bergetar. “Beri waktu pada semua orang. Saya kira dua pekan itu sudah cukup.”

Agung Sedayu mengangguk lalu memanggil Ki Demang Brumbung dan Sayoga. Perintah baru disusulkan. Laskar gabungan terbagi dua kelompok yang anggotanya langsung dicampurkan oleh Agung Sedayu. Tidak ada perbedaan antara pengawal dan pasukan khusus, Ki Demang Brumbung dapat memberi perintah langsung pada pengawal Menoreh. Sayoga pun demikian.

Mereka kembali ke bentuk semula, menyatu tanpa perbedaan dan jarak.

Satu kelompok bergerak ke Gunung Kunir. Kelompok yang lain menyisir jalur yang terhubung dengan Ringinlarik. Dua kelompok itu mempunyai tujuan yang sama: mencari jejak kelompok Ki Kamejing—yang dilaporkan seorang pengawal—sedang mengarah lereng Gunung Kunir. Meski demikian, karena tipu daya Ki Kamejing sebelumnya, Agung Sedayu pun mengirim satu regu ke arah Ringinlarik. Meskipun dia mengetahui dari keterangan Pandan Wangi, Sukra telah berjaga di jalur itu.

Sebentar lagi matahari akan turun dari jalurnya tapi lingkungan Gunung Kendil telah menjadi sunyi. Orang-orang telah menapakkan kaki kembali ke pedukuhan induk.

Hanya Swandaru yang bertahan di lereng Kendil tapi bukan di bekas permukiman. Dia menuju tempat yang biasa digunakannya berlatih. Mengurung diri di dengan tekad membaja.

Swandaru akan memusatkan perhatiannya ke Pancuran Watu Item dengan menyusun latihan-latihan yang beragam. Dia akan menyempurnakan seluruh yang diketahui dan dikuasainya dari kitab Kyai Gringsing.

Ketika orang-orang sudah tiba di pedukuhan induk lalu meneruskan langkah pada tujuan masing-masing, dari balik padatnya pepohonan pisang yang berdaun lebar, Ki Wedoro Anom muncul. Dia melihat semua peristiwa di gelanggang Swandaru tapi tak cukup dapat mendengar percakapan di sana.

Itu bukan masalah, pikirnya.

Ki Wedoro Anom berdiri sambil mengibaskan tangan, membersihkan kainnya dari rumput kering yang menempel. Sejenak kemudian dia berjalan menuju pedukuhan induk dari sisi utara tapi berbeda jalur dengan Agung Sedayu yang bergerak bersama.

Pada dasarnya, Ki Wedoro Anom tidak mengenal lingkungan Tanah Perdikan Menoreh. Awanya dia mengarah ke utara, itu benar. Selanjutnya dia mengikuti jalan setapak yang kerap menghilang setelah mencapai sisi parit atau sungai. Ki Wedoro Anom pun mengira-ngira arah tapi ternyata justru kembali menuju Kendil. Berhenti sejenak, lalu bergerak lagi lebih berhati-hati sampai menuruni jalan yang bagian atasnya ada daun-daun yang seakan tersambung hingga seperti atap beranda.

Langkah kaki Ki Wedoro Anom terhenti di bawah naungan dedaunan yang rimbun seperti atap beranda. Di depannya, seorang lelaki berumur berjalan sambil menuntun kuda.

Ki Wedoro Anom tersenyum . Dengan gagah, dia mencegat jalur setapak yang sempit itu.

“Berhenti!” bentak Ki Wedoro Anom. “Sudah jauh dari Kendil, lalu apa lagi yang kau inginkan? Kelompkmu telah dibubarkan oleh pasukan khusus Mataram.”

Dia sengaja tidak menyebut peran pengawal Tanah Perdikan. Buat apa? Mereka hanya sekumpulan orang dusun yang kebetulan berada di dekat Agung Sedayu, pikirnya.

Orang itu, Ki Wira Sentanu berhenti. Pendengarannya yang tajam sudah menangkap gerak langkah seseorang. Hanya saja dia tidak menduga bahwa orang itu memperlihatkan sikap aneh di depannya.

Dengan bahunya merendah dan wajah dipasang cemas, Ki Wira Sentanu berkata, “Ampun, Ki Sanak. Saya sedang tersesat. Tidak tahu jalan menuju Kendil atau pedukuhan induk. Barangkali Ki Sanak berkenan memberi tahu?”

Ki Wedoro Anom malah merasa orang itu sedang berbohong padanya, padahal Ki Wira Sentanu mengatakan sebenarnya: dia memang tersesat meski mulanya menempuh jalan sesuai petunjuk sebelum pedukuhan induk.

“Tersesat atau tidak, kau ini adalah sisa Kendil yang berpura-pura agar selamat!” Ki Wedoro Anom mendengus.

Dengan gerakan meremehkan, dia mengangkat tangan,  mengayunkan tamparan keras ke Ki Wira Sentanu.

Pelayan Keraton itu cepat menggeser langkah, tamparan Ki Wedoro Anom pun mengenai udara saja.

Merasa dipermalukan oleh kegagalan tamparannya, mata Ki Wedoro Anom pun geram. Ini sebenarnya sisa Kendil atau orang dusun sampai berani mengelak? Jika orang dusun dan mengenali pakaiannya, maka dia akan menerima begitu saja tamparan itu. Berarti orang ini adalah sisa Kendil.

Yakin dengan pemikirannya, Ki Wedoro Anom meloloskan keris. Terbayang sudah laporan manis yang dapat disajikan saat kembali ke barak nanti.

Ki Wedoro Anom merenggangkan kaki, bersiap dengan tata gerak yang mematikan ketika keris sudah berada di tangan.

Ki Wira Sentanu tetap dengan sikapnya tapi matanya berubah waspada. Saat senjata Ki Wedoro Anom tinggal seujung kuku dari kulitnya, Ki Wira Sentanu bergeser selangkah ke samping, mengangkat kaki, menabrakkan tumitnya pada dada Ki Wedoro Anom secepat kilat pada jarak yang sangat dekat.

Seketika, prajurit Mataram itu terhenti lalu roboh dengan tubuh telungkup. Dia mati dengan mata membelalak.. Tulang dadanya remuk sebelum dirinya tumbang.

“Kau salah pilih lawan,” ucap pelan Ki Wira Sentanu.

Dia berdiri mematung sejenak di samping kuda yang bahkan tangannya masih menggenggam tali kekang.

Kemudian, dengan gerakan tenang, dia berlutut di samping jasad Ki Wedoro Anom. Jemarinya meraba lipatan kain dan sabuk kulit prajurit itu dengan teliti. Hingga tersentuh olehnya sesuatu yang keras di balik lapisan kain terdalam dekat dada.

Ki Wira Sentanu menarik benda itu keluar. Cahaya matahari yang masih sanggup menerobos celah-celah daun meski cukup lemah tapi cukup bagi orang itu untuk mengenali logam kecil di telapak tangannya.

Di telapak tangannya, tergeletak lencana dengan ukiran yang khas. Sebuah lambang yang sangat dikenalnya. “Lencana keprajuritan sandi Pangeran Purbaya,” desisnya rendah.

Lintasan-lintasan di ruang pikirannya tiba-tiba penuh bermuatan dugaan. Perkiraan yang menghubungkan titik-titik kemungkinan seorang prajurit sandi berpangkat rangga dari lingkaran Pangeran Purbaya bisa berada di sini, di balik rimbun pepohonan Menoreh tanpa mereka saling mengenal.

“Pangeran… jadi mata dan telinga Pangeran sudah menjulur sampai ke sela-sela parit pedukuhan ini? Selain aku lalu orang ini, adakah yang lain lagi?” gumamnya dalam hati.

Ki Wira Sentanu segera menyembunyikan lencana itu di balik pakaiannya. Rahasianya kini bertambah berat. Jika lencana ini ditemukan pada mayat Ki  Wedoro Anom oleh orang lain, keadaan akan menjadi sangat rumit

Namun begitu, dia belum merasa aman karena Tanah Perdikan adalah wilayah yang mempunyai mata dan telinga yang terhubung dengan Agung Sedayu. Ki Wira Sentanu sangat memahami keadaan itu.

Setelah menyembunyikan mayat Ki Wedoro Anom, tanpa menoleh lagi ke rimbun tanaman, Ki Wira Sentanu cepat meninggalkan jalan setapak yang rimbun itu. Dia bergerak kembali sambil meraba dalam ketidaktahuan menuju lereng Kendil melalui jalur yang tadi dilewati Ki Wedoro Anom.

Bersambung Buku 6 – Bab 9

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh

Sampai berjumpa di lingkar pertarungan yang berbeda.

Hormat kami – Ki Banjar Asman

Kisah Terkait

Hari Bising di Bukit Menoreh 67 – Persiapan Agung Sedayu

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 110 – Undangan Pancuran Watu Item

kibanjarasman

Hari Bising di Bukit Menoreh 18 – Agung Sedayu – Raden Atmandaru: Nyaris Tanpa Jarak

kibanjarasman

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.