Bab 9 Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh

Kerusuhan Besar di Bukit Menoreh 1 – Ancaman Baru Mengguncang Tanah Perdikan

Dusun Separang, Lereng Gunung Kunir

 

Malam itu, barak seakan berubah menjadi ruang berbagi rasa yang jauh berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Para prajurit yang baru saja pulang dari tugas berat—perondaan lalu menyisir hingga lereng Gunung Kunir dan batas Dusun Ringinlarik —banyak bercerita kejadian-kejadian hebat.

Decak kagum, sinar mata berbinar memenuhi banyak ruangan. Mereka tidak merayakan keberhasilan itu dengan api unggun atau semacamnya, hanya berbagi kisah dan menggambarkan suasan pertempuran di lereng Kendil.

Beberapa yang terluka pun masih sempat melontarkan ucapan-ucapan yang membanggakan kawan-kawannya yang tidak turut dalam perondaan.

Namun, di atas semua, di setiap bilik dan ruangan, tetap ada kendali dari lurah-lurah atau prajurit yang terlebih dulu bergabung di barak pasukan khusus. Dengan begitu, kebanggaan itu tidak bergulir terlalu lama dan tidak melebihi batas.

Ketika salah satu dari mereka menyentuh kehadiran pengawal, yang lain segera diam. Bukan untuk yang pertama kali, mereka mendengar bahwa kemampuan pengawal Tanah Perdikan tapi siang tadi adalah kesaksian. Beberapa berkata pelan bahwa itu mungkin sebuah kebetulan karena sikap lamban Ki Wedoro Anom. Seorang yang lain segera membantah bahwa keputusan Sayoga itu dapat diterima bukan sebab lamban tapi keharusan.

“Pengawal Menoreh tidak dapat menunggu lebih lama karena hanya dua kemungkinan yang  bisa terjadi saat itu,” kata prajurit yang berasal dari Mangir. “Pertama, lawan akan melabrak mereka terlebih dulu sementara persiapan atau gelar belum terpasang. Kedua, yah, pengawal harus bergerak lebih cepat.”

Seseorang menyela, ”Bukankah ada Ki Demang Brumbung? Mengapa Sayoga tidak menunggu beliau?”

Perwakilan Mangir kemudian berkata dengan nada rendah,  jelasnya, “Ki Demang Brumbung adalah pendamping. Dia tidak dapat membuat keputusan bebas selama Ki Wedoro tidak memerintahkan atau keadaan sudah mendesak. Seharusnya kita dapat pahami itu.”

Dari tepi pembaringan, prajurit yang terluka—dia ini yang sebut pertama kali peran pengawal— berkata, “Aku melihat sendiri, ya, setelah Sayoga dan pengawal lainnya menyerang, prajurit yang lebih dulu berada di sini daripada kita semua, langsung menempel dalam jarak yang sangat rapat. Tak lama setelah itu, benturan terjadi dan Ki Demang Brumbung cepat mengendalikan pertempuran.”

“Lalu, Ki Wedoro Anom?” tanya prajurit yang tampaknya berusia paling muda di antara semua orang yang ada di dalam bilik perawatan itu.

Dari tepi pembaringan yang lain, seseorang menyahut dengan suara dipelankan, “Aku, mungkin juga yang lain, tidak melihatnya lagi sampai semuanya selesai.”

Terkejutlah prajurit-prajurit yang sudah dinyatakan berhasil menjalani penempaan sebagai pasukan khusus itu.

Pikiran mereka dipenuhi segala macam prasangka—baik, buruk maupun abu-abu. Yang terkesan dengan sikap Ki Wedoro kemudian bergumam membela. Yang biasa saja juga berkata lirih. Tapi ada juga yang tidak berkata sedikit pun.

Seorang prajurit lama yang awalnya lebih banyak mendengarkan, kemudian berkata, “Pastinya adalah kita tidak dapat mengabaikan kemampuan para pengawal. Mereka juga berlatih di barak atas izin Ki Tumenggung. Mereka memahami gelar perang dengan banyak kembangan meski tidak sebaik prajurit tapi sudah cukup sebagai pelapis dalam keadaan tertentu.”

Dia berhenti sejenak lalu berdiri, menuangkan ramuan cair ke dalam mangkuk kemudian berkata lagi, “Mereka mungkin jauh lebih berpengalaman daripada kita semua. Kita tidak tahu berapa pertempuran yang pernah terjadi di Tanah Perdikan, tapi mereka pasti sudah terlibat. Dan itu sesuatu yang sangat berharga yang patut diingat.”

Beberapa prajurit tampak mengangguk-angguk. Sebagian menghela napas setelah dapat mencerna perkataan prajurit itu.

 

Di bagian lain.

Pada saat percakapan banyak prajurit terdengar seperti dengung lebah di banyak tempat, Agung Sedayu duduk bersama Ki Rangga Sanggabaya, Glagah Putih, Ki Demang Brumbung dan Ki Lurah Sora Sareh. Sementara Ki Prana Aji sedang menjalankan perondaan di pedukuhan induk dan sekitarnya.

Pokok persoalan pertama yang ditanyakan Agung Sedayu adalah segala yang terkait dengan perkembangan barak sebagai pusat pendidikan calon pasukan khusus. Dia menanyakan itu pada Ki Rangga Sanggabaya.

Ki Rangga Sanggabaya pun menerangkan dengan ringkas dan langsung mengarah pada tujuan Mataram.

“Tidak seluruhnya berjalan dengan baik, Ki Tumenggung,” ucap Ki Sanggabaya menutup laporannya. “Ada yang terpaksa kami minta kembali ke barak sebelumnya. Tapi secara umum, setiap pemberangkatan prajurit tetap disertai oleh lurah yang mengantarkan mereka ke tempat ini dari kotaraja.”

Agung Sedayu menarik napas panjang, mengatakan beberapa hal pada Ki Sanggabaya yang kemudian mengangguk dalam-dalam.

Lantas tumenggung yang sempat menunggui Ki Patih Mandaraka pada saat-saat terakhir itu, berpaling pada Ki Demang Brumbung, menanyakan keadaan Ki Wedoro Anom.

“Dia tidak tampak dalam pertempuran hingga semuanya selesai,” ucap Ki Demang Brumbung setelah memaparkan seluruh kegiatan yang berhubungan dengan perondaan ketiga. Termasuk ketika Ki Sanggabaya memutuskan orang yang memimpin perondaan.

“Ki Rangga?” tanya Sedayu pelan sambil menoleh pada wakilnya itu.

Setelah mengusap wajah lalu menarik napas panjang, Ki Sanggabaya berkata, “Pada dasarnya, saya ingin penetapan ketua regu peronda itu tetap dilakukan seperti yang sudah berjalan. Ada pembahasan singkat setelah penyampaian maksud dan tujuan, lalu penentuan. Tapi orang itu tiba-tiba menyela di hadapan prajurit. Dan saya harus menjaga wibawa Mataram dan pasukan khusus.”

Tidak ada perubahan pada air muka Agung Sedayu mendengar pernyataan Ki Sanggabaya. Hanya mengangguk sekali lalu berkata, “Saya tidak akan mempersoalkan itu karena segalanya sudah berlalu dengan segala akibat yang mengikuti.”

Sejenak kemudian dia meminta Ki Rangga Sanggabaya menyusun kelompok khusus untuk mencari Ki Wedoro Anom. Agung Sedayu berpikir demikian: di Dusun Benda, Ki Wedoro Anom dilaporkan tidak terjun dalam bentrokan. Di lereng Kendil pun dia juga tidak tampak saat penumpasan kelompok Raden Atmandaru.

Ketika Ki Sanggabaya meninggalkan bilik Agung Sedayu, Ki Demang Brumbung tampak memandang penuh ke atas permukaan meja. “Sejujurnya, saya ada keberatan untuk pencarian ini, Ki Tumenggung,” katanya kemudian dengan nada sungguh-sungguh.

Agung Sedayu mengatur napas meski masih terlihat sangat tenang. “Saya hanya khawatir dia jatuh ke tangan kelompok orang yang mundur atas perintah Nyi Pandan Wangi. Bagaimanapun, Ki Wedoro Anom adalah prajurit Mataram yang sudah seharusnya kita lindungi.”

“Tapi, dia—,” kata cepat Glagah Putih.

Agung Sedayu mengangkat tangan, ucapnya, “Yah, aku tahu kau akan mengatakan dia merepotkan, dia tidak memberi manfaat di barak selain obrolan yang kemudian menguap. Mungkin ada dari kita juga berpikir bahwa dia dapat saja menularkan rasa takut pada prajurit-prajurit baru.”

Sejenak ruangan menjadi hening.

“Saya juga mendapatkan laporan lain dan itu cukup mengejutkan,” sambung Agung Sedayu. “Ki Wedoro Anom hanya mengetahui dua jalur saja dari pedukuhan induk ke lereng Kendil. Jika dia tersesat lalu berhadapan dengan hewan buas, kemampuannya masih memadai untuk menolong dirinya sendiri. Tapi bertemu bekas pemberontak atau sekumpulan orang-orang tadi, itu sudah pasti menjadi tanggung jawab barak dan saya pribadi.”

Meski dia juga ada kecondongan pada pendapat Glagah Putih, tapi kedudukan Agung Sedayu jelas melarang pencampuran antara kewajiban dengan hubungan pribadi. Sebenarnyalah Agung Sedayu juga banyak menahan laporan, termasuk sikap pribadi Ki Wedoro Anom padanya.

Dalam waktu itu, dia sudah memutuskan untuk tidak mengungkap sikap dan pikiran Ki Wedoro Anom yang berkembang di seputar Keraton dan Kepatihan. Itu adalah gesekan yang cukup terjadi padanya, demikian isi pikiran Agung Sedayu yang tidak dimunculkan ke permukaan.

 

Di deretan meja dan kursi yang ada di lorong yang menghubungkan lurus antara bilik kerja Agung Sedayu dengan bangsal prajurit, Ki Sanggabaya pun memanggil Ki Semangkak, Punjung dan Socah yang sedang berada di bangsal prajurit.

Ketika sudah berhadapan dengan tiga lurah itu, Ki Sanggabaya berkata, “Ki Lurah sekalian. Malam ini, Anda bertugas khusus mencari Ki Wedoro Anom. Di Dusun Benda, pedukuhan induk sampai dermaga timur Kali Progo. Tidak ada perintah dari Ki Tumenggung untuk membawanya kembali ke barak. Hanya ikuti. Seandainya dia terlihat menuju kotaraja, berbagilah tugas seperti biasa.”

Dia berhenti sejenak, mendekat kemudian mengatakan sesuatu agak pelan.

Ki Sanggabaya mundur lagi selangkah sambil mengamati wajah-wajah lurah yang berdiri dengan sikap sungguh-sungguh, lanjutnya, “Kelompok Ki Lurah harus berisi juga pengawal Menoreh yang tidak ikut dalam perondaan pagi tadi. Dan saya kira cukup jelas semuanya.”

Pesan itu segera dijalankan, mereka bertiga kembali masuk ke bangsal lalu keluar dengan disertai sekitar sembilan atau sebelas prajurit lain. Selanjutnya, mereka pun berbagi tugas sesuai rincian yang disampaikan oleh Ki Sanggabaya. Salah satu yang ada di dalam rincian itu adalah regu pencari harus melibatkan pengawal Menoreh.

Demikianlah, pada wayah sirep bocah, tiga kelompok yang sudah berisi gabungan antara prajurit dengan pengawal Tanah Perdikan, menyebar ke Dusun Benda, pedukuhan induk dan dermaga timur Kali Progo.

Sepeninggal tiga regu pencari, suasana di barak terasa seakan makin penuh dengan tekanan ketika pikiran banyak orang merambah ke Pancuran Watu Item. Persoalan yang mengisi ratusan kepala itu sudah beralih dari kisah-kisah perondaan ketiga, lalu tindak tanduk Ki Wedoro Anom, lantas yang paling mengguncang—pertarungan di Watu Item.

Sebagian berharap bahwa  tantangan itu tidak dapat terjadi karena alasan yang luar biasa. Beberapa malah tidak sabar menunggu waktu dua pekan berlalu. Kebanyakan mereka ini adalah prajurit yang sudah mengenal Agung Sedayu sejak menjadi lurah atau saat barak dibangun pertama kali.

Sedikit orang berpikiran undangan itu adalah kisah yang terpaksa diulang demi keinginan seseorang.

Ucapan yang dilontarkan Swandaru benar-benar membawa pengaruh bagi orang-orang yang baru bergabung dan tidak mengetahui latar belakang dua murid Kyai Gringsing. Buat mereka itu sangat janggal. Selain itu, mereka juga menilai tantangan Swandaru pada pemimpin pasukan khusus dapat dianggap pula sebagai bahaya yang mengancam barak itu sendiri.

Sejak menginjak kaki pertama memasuki barak, pemahaman pertama yang harus ditelan mentah-mentah pada mereka adalah setiap prajurit Mataram adalah Mataram itu sendiri. Maka tak heran sejumlah prajurit berbisik-bisik ketika membicarakan itu.

“Dia dapat saja ditangkap lalu dihukum mati karena sikapnya dapat dianggap ancaman pada Mataram,” kata prajurit muda yang datang dari Ganjur. “Yang menjadikan sulit adalah kedudukannya sebagai menantu Ki Gede. Pangeran Purbaya tentu tidak akan gegabah memutuskan hukuman padanya.”

Orang di sampingnya menggeleng. “Tidak sesederhana itu. Kedudukannya sebagai menantu Ki Gede itu dapat diabaikan. Yang membuat keadaan sulit di Keraton, mungkin, orang itu mempunyai peran besar. Peran yang tak kalah besarnya dengan Ki Tumenggung sendiri pada masa lalu.”

“Tapi kita juga mendengar keterlibatannya di sisi berlawanan,” timpal seseorang dengan nada ketus.

Seketika prajurit muda itu semua diam. Keheningan cepat menyergap mereka lalu menenggelamkan masing-masing ke dalam pikiran yang bercabang-cabang.

Namun pikiran mereka sebenarnya berisi pula sedikit pertanyaan, terutama prajurit yang sudah ada sebelum barak dikembangkan.

Dapatkan Fasilitas Premium dengan akses penuh ke pustaka digital Padepoan Witasem. Iuran bulanan minimal 25 ribu. Info WA

Malam itu udara di seluruh wilayah Tanah Perdikan, terutama di Dusun Benda dan pedukuhan induk, pun tiba-tiba menjadi tegang.

Baik pengawal Tanah Perdikan maupun pasukan khusus yang tergabung dalam regu pencari sedikit merasa heran dengan keputusan yang diucapkan oleh Ki Tumenggung Agung Sedayu. Walau sebagian mencoba membuka perbincangan dengan alasan masuk akal di balik keputusan itu, tapi tetap saja tidak mampu mengubah rasa janggal itu menjadi biasa.

Bukankah sudah kebiasaan Ki Wedoro Anom tidak masuk ke dalam barak jika ada Ki Tumenggung Agung Sedayu?

Bukankah Ki Wedoro Anom juga pernah meninggalkan barak ketika keadaan cukup genting?

Pertanyaan lain bermunculan tapi sejauh kaki mereka melangkah, pertanyaan itu tidak pernah terungkap ke permukaan.

Dalam perondaan malam dengan tugas khusus yang dibebankan padanya, Ki Semangkak memutuskan untuk membawa kelompoknya melanjutkan pencarian hingga sekitar lereng Gunung Kunir. Oleh sebab itu, untuk wilayah Dusun Benda dan sekitarnya, dia meminta bantuan pengawal dusun yang berada di gardu jaga dan mendatangi bekel dusun. Hanya satu pesan permintaan pada mereka semua: laporkan keberadaan Ki Wedoro Anom.

Sinopsis Toh Kuning. Dapatkan Kisahnya dalam PDF. Kontribusi 75 ribu Bonus 5 Buku Kitab Kyai Gringsing

Regu Ki Semangkak melanjutkan pencarian hingga tiba di batas wilayah Pedukuhan Separang. Langkah mereka mendadak terhenti. Tangan Ki Semangkak bergerak sebagai tanda agar kelompoknya sedikit merunduk ketika dia melihat beberapa nyala api unggun kecil di kejauhan. Dia tahu itu bukan kebiasaan orang-orang Separang dengan bermalam di sisi hutan, sekalipun pemburu. Pikirnya saat itu, perondaan pengawal Separang mungkin juga sudah tahu tapi membiarkan karena letaknya yang cukup jauh dari permukiman.

“Aku akan berjaga di tempat ini sampai pagi,” kata Ki Semangkak pada kelompoknya yang berjumlah lima orang itu. Dia pun membagi tugas pada setiap anggotanya—mereka akan berpisah tapi tetap terhubung melalui tempat-tempat yang diterangkannya. Orang terakhir harus cepat melaporkan ke barak pasukan seandainya sesuatu yang buruk terjadi di Dusun Separang.

Sejenak kemudian, Ki Semangkak bersama seorang lagi bertahan di tempat itu. Benar, dia menduga bahwa nyala api unggun itu mungkin dibuat oleh orang-orang yang terusir dari lereng Kendil.

Malam berlalu tanpa kejadian yang menggetarkan.

Baca Sebelumnya: Kitab Kyai Gringsing

Leave a Comment

error: Anda tidak diperkenakan menyalin tanpa izin.